
Sudah aku duga, dia bukan wanita yang baik seperti yang dikatakan Dwi! aku harus menghentikan niat buruknya itu kepada Dwi!
Zanu menghabiskan kopi capuccino nya kemudian menuju rumah Rohan. Butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai dirumahnya Rohan.
Sesampainya di rumah Rohan, penjaga disana tidak perlu menanyainya lagi karena sudah sering kesini.
"Selamat siang, tuan Zanu!" sapa pak penjaga.
"Siang! apa Rohan ada dirumah?" tanya Zanu.
"Ada, tuan. Silahkan masuk saja!" jawab penjaga dengan senyum ramahnya.
"Baiklah!"
Zanu melajukan mobilnya menuju parkiran rumah Rohan. Setelah memarkirkan mobilnya, Zanu langsung memasuki rumah Rohan. Ruangan pertama yang didatangi Zanu adalah perpustakaan yang tersedia disana dan benar saja, Rohan sedang sibuk membolak-balikkan halaman buku.
"Sudah kuduga kau ada disini!" ucap Zanu langsung duduk disofa dekat Rohan.
"Ada apa kau mencariku?" masih fokus pada tulisan dihalaman buku.
"Si Pretty, dia merencanakan sesuatu untuk Dwi, dan aku yakin kalau itu adalah hal buruk!" ucap Zanu serius.
Mendengar kata Dwi disebut, Rohan langsung mengingatkan kepalanya menatap Zanu.
"Darimana kau tahu?" tanya Rohan penasaran.
Zanu pun menceritakan bagaimana dia tanpa sengaja bertemu dan mendengar obrolan Pretty dalam ponsel.
"Aku sudah sering memperingati Dwi kalau Si bang*at itu bukan wanita yang baik untuknya, tapi dia sudah sangat dibutakan cintanya pada si Pretty tu! dasar tuan muda bucin!" menyenderkan kepalanya dikursi dengan kasar.
"Kau tahu kan sifat Darel, Zen! lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Rohan.
Buku yang semula ada ditangannya dia letakkan dimeja sebelahnya. Rohan menjadi fokus pada Zanu dan khawatir dengan apa yang akan dilakukan Pretty pada Darel.
"Aku rasa Dwi tidak boleh tahu soal ini!"
"Apa kau yakin, Zen?"
"Ya, aku sangat yakin. Karena jika kita memberitahu hal ini padanya dia tidak akan percaya. Jadi lebih baik dia tidak tahu saja."
"Lalu apa rencanamu sekarang?"
"Aku sudah memikirkan semuanya. Kita biarkan Pretty menjalankan rencananya dulu dan..."
"Apa kau gila? bagaimana kalau dia melukai Darel?" sedikit emosi.
"Kau tenang saja dulu, aku punya rencana yang bagus, kita biarkan Pretty menjalankan permainannya dan kita akan mengalahkannya dalam permainannya sendiri!" ucap Zanu yakin.
__ADS_1
"Apa kau yakin? apa ini tidak terlalu beresiko?" Rohan Khawatir.
"Tidak! aku sangat yakin, Pretty itu memang cantik, body nya bagus, tapi hatinya tidak secantik wajahnya. Cih wanita murahan!" ucap Zanu
"Aku sendiri bahkan sebelumnya pernah 2 atau 4 kali melihatnya keluar masuk hotel ku dengan pria yang berbeda." tambahnya kesal mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.
"Oh, apa karena itu kau tidak menyukainya? kau dan Bagas yang sama sekali tidak suka dengan hubungan Darel dan Pretty bukan? apa Bagas juga.."
"Tidak, Bagas tidak tahu soal ini. Aku juga tidak tahu kenapa dia tidak menyukai si Pretty, tapi aku yakin dia tahu sesuatu yang buruk tentang wanita jal*ng itu!"
Zanu pun menceritakan rencananya pada Rohan.
"Tidak! aku tidak setuju! ini terlalu beresiko padamu! bagaimana kalau terjadi perkelahian antara kau dengan Darel nanti? kau tahukan Darel, kalau sudah menyangkut orang yang dia sayang seperti apa sikapnya? apalagi baginya Pretty lebih dari hidupnya! tidak, aku tidak akan setuju!" ucap Rohan berdiri dari sofa nya.
Zanu ikut berdiri.
"Hanya ini satu-satunya rencana yang paling baik untuk kita! apa kau mau Darel yang terluka? kalau aku sih tentu saja tidak! ayolah, hanya kau yang bisa aku andalkan sekarang, please!" bujuk Zanu dengan tangan disatukan didepan memohon.
"Kau tahu aku tidak bisa mendengar sahabatku mengatakan itu, dan kau gunakan kelemahan ku itu ya?" menatap tajam Zanu.
Zanu hanya cengengesan dilihat Rohan. Akhirnya Rohan mengikuti rencana Zanu meski itu akan sangat beresiko untuk Zanu. Bukan karena nyawanya yang dalam bahanya namun perselisihan yang kemungkinan terjadi, mungkin akan lebih buruk dari itu.
*Flashback off*
"Tunggu! jadi kau sudah tahu Rohan?" tanya Arul dengan menatap Rohan.
Rohan merasa gagal menjaga persahabatan mereka. Meskipun dia tahu kebenarannya, dia tetap tidak bisa melakukan apa-apa ketika Darel mengusir Zanu dari kota ini.
Maafkan aku Zen, seharusnya aku tidak mendengarkan mu dulu! seharusnya aku tidak mengikuti rencanamu dulu. Maafkan aku!
"Dan Bagas?" tanya Tomi.
"Setelah 3 tahun kejadian itu, Rohan menghubungiku dan menceritakan semuanya. Saat peristiwa itu, aku tidak yakin kalau Zen tega melakukan itu pada Darel makanya aku ikut memberi penjelasan padanya, tapi itu tidak membantu!" jelasnya.
"Jika kalian sudah tahu kenapa tidak memberitahu kami sebelumnya? setidaknya kami akan ikut membantu membujuk Darel saat itu dan kami tidak akan salah paham pada Zen!" kesal Tomi.
Zanu hanya diam saja.
"Apa kalian mendengar ucapan ku waktu itu? jangankan mendengar penjelasan ku, kalian bahkan tidak ingin mendengar nama Zen disebut!" ucap Rohan sedikit kesal.
Bagaimana aku tidak marah pada Zen? aku berpikir dia sudah melukai hati Darel, dan dia sudah memecah belah persahabatan kita, tapi ternyata! batin Tomi.
********
Mentari merebahkan tubuhnya dikasur kamarnya.
Sesaat bayangan Darel muncul dikepalanya.
__ADS_1
"Kenapa? kenapa wajah tuan sombong itu selalu terlintas dikepalaku?" kesal Mentari.
Dia mengingat kembali ketika Darel menolongnya dari para pencopet dan merupakan awal pertemuan mereka. Lalu ketika dia bersikap lembut padanya waktu dirumah sakit.
Tidak terasa Mentari tersenyum sendiri mengingat hal itu. Kemudian Mentari teringat bagaimana Darel mengatainya, menghinanya, dan menjatuhkan harga dirinya.
Kenapa kau sangat melukaiku tuan, aku sangat yakin padamu kalau kau memiliki sifat baik dalam dirimu meskipun wajahmu menyeramkan, tapi kenapa kau menghinaku tanpa aku tahu apa salahku? apa kau marah seperti itu hanya sebagai pelampiasan? apa kau marah pada seseorang dan kau melampiaskan kekesalanmu padaku?
Tanpa dia sadari butiran air mata mengalir dipipinya. Dengan cepat Mentari mengusap air mata itu. Dia memutuskan untuk menuju didapur dan membeli bahan-bahan yang sudah habis untuk persediaan dirumahnya.
Jarak rumah Mentari dengan supermarket tidak terlalu jauh. Dia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Lagi pula luka diperutnya sudah lebih baik dari sebelumnya.
Mentari memilih apa saja yang dia butuhkan. Mie instan, makanan kaleng, beberapa macam buah, dan masih banyak lagi, termasuk pembalut wanita. Barang terakhir yang dia beli adalah eskrim. Dia membeli sangat banyak karena dia sangat menyukainya.
"Totalnya XXX, mau pakai uang cash atau pakai kartu kredit?" tanya mbak kasir.
"Pakai ini saja mbak!" ucap Mentari menyodorkan kartu kredit.
Setelah transaksi berhasil Mentari keluar dari supermarket. Karena barang belanjaannya yang banyak dia memutuskan untuk menunggu taxi.
"Aduh, panas banget, taxi nya mana lagi kok nggak ada satupun!" ucap Mentari sambil mengusap keringat dikeningnya.
Tiba-tiba ada sebuah mobil hitam mewah berhenti didekatnya. Awalnya Mentari mengacuhkannya, namun ada suara memanggil namanya dari dalam mobil.
"Mentari!!" panggil orang itu dari dalam mobil.
Mentari menengok sebentar, lalu menatap jalanan lagi sambil tangan kirinya digunakan sebagai payung untuk menutupi wajahnya.
Seseorang dari mobil itu turun dan menghampiri Mentari.
"Biar aku kami saja yang mengantarmu!" tawar Adi.
Ya, mobil itu adalah milik Darel. Mereka baru dari markas Tomi dan hendak kembali ke rumah Darel yang kebetulan melewati jalan ini.
"Ah, kau ternyata!" ucap Mentari celingukan.
Dia melihat ada Darel didalam mobil itu.
"Tidak apa-apa kok, Mentari! tuan itu sebenarnya baik. Mungkin waktu itu mood nya sedang jelek makanya dia memakimu seperti itu!" jelas Adi.
Baik? baik darimana! mana mungkin dia baik orang dia mengatakan hal kasar begitu kok padaku!
"Tidak usah, aku menunggu taxi saja!" tolak Mentari.
Mentari masih marah pada Darel.
"Tidak akan ada taxi yang lewat hari ini!"
__ADS_1