Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
SEASON 2 episode 40


__ADS_3

Kedua manik Darel menatap orang kepercayaan dengan tatapan penuh arti. Namun berbeda dengan Adi dan Nakala, genggaman tangan mereka semakin erat. Takut! Mereka takut jika Darel tidak mengijinkan mereka bersama. Mereka terlalu takut untuk kemungkinan-kemungkinan terburuk yang mungkin bisa saja terjadi.


Darel berdiri dari kursi kebanggaannya, berjalan dengan penuh kharisma namun tatapan tajam seperti saat masih muda. Tatapan itu mengingatkan Adi kala tuannya itu masih menjadi seorang bos mafia. Tatapan tajam mengintimidasi yang mampu menguliti setiap musuh walau tanpa senjata.


Adi tersentak. Tidak percaya rasanya. Apa ini mimpi?! Darel memeluk tubuh Adi yang hampir setara dengannya namun masih tinggi dan kekar Darel walau usianya terbilang tidak muda lagi.


"T..tuan?!"


Darel melepas pelukannya, dia menyeka setitik air yang berada di ujung matanya.


"Ini yang aku tunggu-tunggu dari mu, Adi! Lihatlah teman-teman mu!" ucap Darel menunjuk ke belakang Adi dan Nakala.


Adi dan Nakala menoleh ke belakang mereka dimana telah berdiri Lukas dan Harri beserta keluarga kecil mereka. Ya, mereka berdua telah menemukan pulang yang paling nyaman. Rumah yang begitu teduh dan penuh kehangatan.


"Lihatlah kebahagiaan mereka? mengapa selama ini aku harus menunggumu mengatakan ini?! Kau orang kepercayaanku, aku juga menginginkan kebahagiaan untukmu. Kau pantas mendapatkan pendamping yang mencintaimu dan juga kau cintai." ucap Darel.


Walau kata-kata yang diucapkan Darel terkesan biasa saja, namun ucapan Darel barusan mampu membuat haru seorang Adi. Dia bahkan menangis bahagia karena ternyata tuannya ini juga menginginkan kebahagiaan untuknya.


"Dan untukmu Nakala!" ucap Darel beralih menatap Nakala.


"Tolong jaga Adi. Dia memang tidak romantis, dia juga cuek, tapi aku yakin cintanya padamu begitu besar hingga dia berani membawamu ke hadapanku sebagai seorang kekasih. Aku sudah menyiapkan kado untuk kalian. Menikahlah! Rencanakan pernikahan impian kalian. Aku yang akan membayar semua tagihannya!" ucap Darel.


Tak terbendung lagi air mata Adi. Dia langsung memeluk erat tubuh tuan yang selama ini dia mengabdikan hidup padanya. Nakala juga sama. Dia merasa terharu dengan apa yang Darel katakan. Begitu juga dengan yang lain, Lukas, Harri dan istri-istri mereka ikut terharu dan bahagia dengan kebahagiaan Adi dan Nakala.


"Pergilah, rencanakan pernikahan kalian." ucap Darel.


"Lukas! Harri!" panggil Darel.


"Ya tuan!!" sahut keduanya.

__ADS_1


"Kalian ikut urus pernikahan Adi. Buat acara semeriah mungkin dan semewah mungkin untuk mereka. Pastikan tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. Dan ini, belilah cincin dan mahar yang mewah. Jika aku melihat kalian berdua begitu irit dalam membelanjakan black card ku, akan aku hukum kalian!" ucap Darel sambil menyodorkan black card miliknya.


"Tidak perlu sampai begitu tuan. Uang ku juga sudah lebih dari cukup untuk mewujudkan pernikahan impian kami!" ucap Adi menolak.


"Ini bukan permintaan tapi perintah, Adi!" ucap Darel.


Mendengar kata perintah keluar dari mulut Darel, membuat Adi mau tidak mau menerima kartu black card milik Darel.


"Pergilah!" ucap Darel.


"Terimakasih tuan!" ucap Adi.


Mereka semua pun pergi dari ruangan Darel menyisakan Darel sendirian. Darel berjalan ke dekat kaca. Memang di ruangan Darel salah satu sisinya sengaja di pasangkan kaca yang besar yang dapat melihat pemandangan dari luar.


Darel menghirup dalam-dalam oksigen agar masuk ke dalam tubuhnya. Senyumnya terus mengembang dengan mata yang tertutup seolah membayangkan seseorang didalam otaknya. Perlahan matanya terbuka kembali melihat pemandangan dibawahnya.


"Kau lihat itu sayang?! Wajah mereka terlihat begitu bahagia. Semoga Nakala adalah cinta sejati Adi. Aku melihat cinta yang begitu besar di mata mereka. Kau tahu sayang, andai kau ada disini, pasti akan jauh lebih membahagiakan." ucap Darel seolah-olah tengah berbicara kepada Mentari.


"Putra putri kita juga telah tumbuh dewasa. Iwang, dia bahkan telah menjalin hubungan dengan seorang gadis. Dasar anak nakal! Dia bahkan tidak mengatakan apapun padaku, ayahnya!!! Lihatlah dia sayang, dia sangat nakal. Datanglah ke dalam mimpinya dan marahi putra sulung mu itu!" ucap Darel tertawa.


Tawa yang berubah menjadi sendu. Darel begitu merindukan sosok istrinya. Istri yang begitu dia sayangi. Bahkan sampai saat ini pun Darel tidak terpikirkan untuk menikah lagi walau kakak, adik, dan sahabatnya memintanya untuk menikah lagi namun Darel tetap menolak. Hatinya masih utuh sepenuhnya untuk Mentari. Nama Mentari masih setia bersemayam dan menduduki tahta tertinggi di hati dan pikirannya.


********


Keesokan harinya. Hyuna keluar dari rumah mengendarai mobil miliknya. Beberapa barang juga telah dia siapkan. Agendanya hari ini adalah datang ke daerah X, tempat anak-anak kurang mampu berada.


Sepulang sekolah tadi, Hyuna pulang lebih dulu lalu pergi lagi menuju daerah kurang mampu itu. Begitu mobil Hyuna keluar dari rumahnya, Kairo yang telah menunggu di persimpangan jalan menunggu Hyuna pun ikut melajukan mobilnya kala Hyuna mengkode untuk diikuti. Kedua mobil itu pun melaju memecah arus lalu lintas yang cukup ramai.


Sesampainya di daerah X, Hyuna dan Kairo turun dari mobil. Bertepatan dengan dua mobil pick up yang berisi bahan pangan yang telah Hyuna pesan sebelumnya datang.

__ADS_1


"Kak Hyunaaaa!!!" teriak anak-anak antusias.


Selalu seperti itu. Anak-anak itu selalu ceria di setiap kedatangan Hyuna. Namun tidak lama kemudian sebuah mobil pick up lain datang ke tempat itu. Hyuna bingung karena dia hanya menyewa dua pick up saja, lalu dari mana datangnya mobil pick up ke tiga itu?!


"Tolong turunkan disini saja, pak!" instruksi Kairo.


Hyuna menatap ke arah Kairo dengan tatapan bingung. Kairo yang menyadari ada yang memperhatikannya pun menoleh dan mendapati tatapan bingung dari gadis incarannya itu.


"Aku juga boleh berbagi kan?!" tanya Kairo.


"Itu kamu yang pesan?" tanya Hyuna.


"Iya, Hehehe!" ucap Kairo sambil cengengesan.


"Terimakasih, Kai!" ucap Hyuna tersenyum manis ke arah Kairo.


Desir di dada Kairo meledak melihat senyum manis Hyuna. Jantungnya berdetak begitu kencang bahkan bisa saja jantungnya itu melompat keluar dari tempatnya.


"Terimakasih telah berbagi pada mereka yang membutuhkan!" ucap Hyuna lagi.


Kairo hanya mampu tersenyum ke arah Hyuna. Bersama, mereka mulai membagikan sembako pada orang-orang disana. Tidak lupa juga mereka mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada Kairo dan Hyuna karena telah membantu mereka. Hyuna bukan hanya membawa sembako namun juga beberapa buah-buahan seperti jeruk, mangga, dan Apel untuk setiap orang masing-masing satu kresek tiap buah. Sedangkan Kairo sendiri membawa beras, beberapa makanan frozen dan bahan sembako lainnya.


Masih ingat dengan aula yang dulu sempat terbengkalai? tempat itu telah direnovasi dan diperluas sehingga selain untuk berkumpul para warga, tempat itu juga digunakan semacam gudang oleh warga. Beras dan bahan sembako lainnya yang diberikan Hyuna mereka kumpulkan jadi satu dan diletakkan ditempat itu. Hyuna juga telah membelikan dua buah kulkas ukuran besar untuk menampung makanan-makanan beku agar tetap awet. Setiap hari, dua atau tiga orang warga akan menjaga tempat itu. Jika malam hari, para pria yang akan berjaga hingga pagi hari.


Untuk biaya, mereka memaksa Hyuna untuk membayar sendiri tagihan dari dua buah kulkas tersebut. Mereka tidak ingin terus bergantung pada Hyuna. Mereka sudah sangat bersyukur karena Hyuna mau membantu mereka dengan memberikan sembako dan lain-lain. Hyuna pun mengiyakan permintaan mereka. Setiap minggu, mereka akan mengumpulkan uang kas kepada ketua RT yang nantinya uang itu digunakan untuk membayar tagihan listrik kulkas. Hasil dan kolam ikan dan ladang sayuran juga mereka masukkan ke dalam kas untuk menyejahterakan warga.


Warga disana juga sangat tertib, mereka mengambil seperlunya saja, tidak tamak. Itu yang membuat Hyuna salut pada warga di daerah ini. Tidak henti-hentinya rasa syukur dia panjatkan karena masih bisa menikmati makanan enak setiap hari, tempat tinggal yang layak, kesehatan, bisa bersekolah.


Setelah membagikan sembako, Hyuna dan Kairo mengajari anak-anak di daerah itu untuk membaca dan menulis. Rutinitas Hyuna sekarang, dia akan menjadi guru untuk anak-anak kurang mampu itu. Walaupun uang mereka pas-pasan, namun pendidikan mereka harus tetap berjalan. Bagaimana nasib bangsa ini jika masih banyak anak-anak muda yang putus atau bahkan tidak pernah mengenyam bangku sekolah hanya karena keterbatasan dana? meski sekarang telah banyak bantuan yang pemerintah lakukan agar anak-anak muda tetap bersekolah, namun nyatanya bantuan itu tidak tepat sasaran. Masih banyak anak-anak yang buta huruf.

__ADS_1


__ADS_2