
Mentari baru turun pukul tujuh malam setelah menghabiskan hampir satu jam di kamar mandi, bersama dengan Darel tentunya.
"Iwang.....Iwang....." panggil Mentari berjalan menuju kamar Iwang.
Tok...tok...tok....
"Iwang? kamu didalam nak? Iwang?? kakak masuk yaa?!"
Tidak ada sahutan dari dalam kamar.
Ceklekk....
Kosong?! Iwang tidak ada didalam kamar itu.
"Iwang?!! Iwangg?!!" panggil Mentari berjalan menjauhi kamar Iwang.
"Loh Iwang kamu kok disini?" tanya Mentari yang menemukan Iwang di dapur.
"Iya kak, Iwang nggak enak aja kalau cuma duduk dan melihat. Makanya Iwang bantu-bantu, mbok Tini! dia mirip nenek ya kak!" ucap Iwang.
Iwang dan mbok Tini terlihat sudah sangat dekat meski baru mengenal beberapa waktu saja.
"Ah, syukurlah! kakak pikir kamu kemana tadi! Malam ini kita makan apa?" tanya Mentari basa-basi kepada Iwang.
"Ada sate lilit, puyuh oseng kacang panjang, dan ada ayam goreng! ini Iwang yang masak loh, kak!" jawab Iwang dengan semangat.
"Wahh, hebat banget!! pasti rasanya enakk!" ucap Mentari.
"Pasti dong kak! kan biasanya Iwang yang masak buat nenek!" ucap Iwang bersemangat namun di detik berikutnya wajahnya tampak sedih.
"Ada apa Iwang?" tanya Mentari.
"Iwang jadi kangen nenek!" ucap Iwang lirih namun masih bisa didengar oleh semua orang.
"Den Iwang jangan sedih! kan ada, mbok! anggap saja mbok sebagai neneknya, den!" hibur mbok Tini.
"Wahh, beneran mbok?! asikkkk!!! makasih ya mbokkk!!! Iwang sayaaanngggg sama, mbok!!" ucap Iwang memeluk mbok Tini dengan sangat erat.
"Ada apa?" bisik Darel yang baru saja turun.
"Itu!" ucap Mentari menunjuk ke arah Iwang dan mbok Tini dengan menggunakan dagunya.
"Mereka..."
"Iya! mbok Tini bilang Iwang boleh menganggap dia sebagai neneknya sendiri! kamu cepat-cepat urus hak asuh yaa! kasian Iwang nya kalau kelamaan!" ucap Mentari menatap memohon kepada suaminya.
"Iyaa!! besok aku urus yaa! ayo kita makan dulu, aku udah lapar nih!" ucap Darel menggosok perutnya lapar.
"Iwang ayo makan dulu, mbok sekalian makan sama kita aja!" ajak Mentari.
"Eh, nggak usah non, saya makan sama yang lain saja di dapur!" tolak mbok Tini halus.
__ADS_1
"Nggak apa-apa! mbok kan sudah seperti orang tua bagi Darel! ya kan sayang?!" menatap ke arah Darel.
"Iya, ikut makan saja sama kami mbok! lagian biar rame juga!" ucap Darel.
"Iya mbok, ayo makan sama Iwang!"
"Baiklah, tuan, nona, den! makasih sudah mengajak saya!" ucap mbok Tini.
"Nggak usah sungkan!" ucap Mentari.
Mereka berjalan menuju meja makan. Berbagai masakan yang sudah dimasak Iwang tadi terhidang diatas meja. Dari aromanya saja sudah sangat menggiurkan apalagi rasanya. Mereka mencoba masakan Iwang.
"Wah, Iwang, ini enak banget! kamu pinter deh masaknya!" puji Mentari.
"Makasih kak!" ucap Iwang bangga.
"Oh iya Iwang! mulai besok kamu pindah sekolah ke sekolah ternama yaa! udah di urus sama kak Adi. Jadi besok kamu tinggal masuk ke sekolah baru kamu!" ucap Darel.
"Emm, tapii...." Iwang ragu.
"Kenapa Iwang? kamu nggak suka?" tanya Mentari.
"Bukan....bukan itu! nanti kalau Iwang rindu sama teman-teman Iwang disana bagaimana? Iwang sudah sangat nyaman sekolah disana, ada banyak teman." ucap Iwang.
"Mereka boleh kok main disini kapanpun Iwang mau! nanti tinggal bilang sama om Lukas biar dijemput sama om Lukas dan kalian bisa main deh disini!!" ucap Mentari.
"Oh iya Iwang, mulai sekarang kamu panggil kak Darel dan kak Mentari, ayah dan ibu yaa! panggil kak Lukas, kak Adi, kak Harri, jadi om Lukas, om Adi, om Harri!" ucap Darel lembut.
"Karena kakak berencana angkat kamu jadi anak kami. Kamu mau kan jadi anak kami?" tanya Mentari.
Iwang tidak menjawab namun air matanya jatuh begitu saja. Dia terharu. Sangat terharu!
"Terimakasih yah, bu! Iwang janji akan jadi anak yang berbakti dan bisa membanggakan kalian!!" ucap Iwang mengusap kasar air matanya.
"Ouhhh, sini sayang peluk ayah sama ibu!" ucap Mentari merentangkan kedua tangannya.
Iwang turun dari kursinya lalu menghampiri Mentari dan memeluknya dengan erat disusul Darel yang juga ikut memeluk dua orang yang kini menjadi harta paling berharga miliknya. Mbok Tini yang melihat itu tersenyum haru. Dia tidak pernah menyangka anak laki-laki yang dulunya sangat keras dan dingin bisa berubah menjadi sosok yang lembut dan penyayang. Itu semua karena sisi positif Mentari sehingga membawa Darel menjadi pribadi yang positif pula.
********
Dirumah Daniar.
"Sayang, aku mau ituu!!!" ucap Daniar.
Saat ini Daniar tengah menonton film drama Korea. Di sana terdapat sebuah adegan dimana pemeran utamanya tengah memakan mie ramen, kimbab roll, dan juga corn dog. Daniar menjadi ngiler karena melihat makanan yang menggoda itu. Rasanya dia sangat ingin memakan makanan itu saya ini juga.
"Kamu mau itu?" tanya Zanu.
"Iyaa, aku mauuu!!!" ucap Daniar menatap suaminya.
"Tapi batagor sama nasi gorengnya aja belum kamu habiskan loh! baru dimakan lima sendok aja!" ucap Zanu.
__ADS_1
"Tapi kan aku maunya ituuu...." ucap Daniar hendak menangis.
Entah Daniar yang jahil atau memang bawaan hormon, dia jadi lebih sensitif dari sebelum hamil. Misalnya detik ini dia nangis, di detik berikutnya marah-marah, di detik berikutnya lagi beda lagi. Dan itu sudah terjadi berulang kali di hari ini.
Seperti tadi saat Daniar meminta dibelikan batagor karena tidak sengaja melihat orang makan batagor saat pulang melayat. Terus lagi saat tidak sengaja melewati gerobak abang-abang nasi goreng dan tercium aroma nasi goreng. Sekarang Daniar ingin dibelikan makanan tadi karena melihat di film drama Korea.
"Iya...iyaa!! aku beliin ya sayang! bentar, tunggu dulu!" ucap Zanu yang kelabakan keluar dari rumah.
"Loh, Niar! suamimu mau kemana itu kok buru-buru banget?" tanya mama Daniar tidak lama setelah terdengar suara mobil Zanu pergi dari pekarangan rumah.
"Beli ini!" tunjuk Daniar kepada makanan yang dia pengen tadi.
"Lahh, ini kan belum dihabisin! kok pengen lagii?" tanya papa Daniar menggelengkan kepalanya bingung.
"Biar dimakan, Zanu aja nanti!" ucap Daniar enteng.
Daniar kembali melihat ke drama Korea sedangkan papa dan mamanya hanya bisa saling pandang tidak mengerti.
Tidak sampai tiga puluh menit, Zanu sudah mendapatkan makanan yang diidamkan istrinya itu. Dia bergegas untuk pulang, takut istrinya nanti tidak ingin makan makanan ini lagi.
"Assalamualaikum!! sayang....aku pulangg!!! lihat nih apa yang aku bawa!!" teriak Zanu.
"Ma, pa, kak, Niar mana?" tanya Zanu yang melihat mertua dan kakak iparnya di kursi ruang tamu.
"Tuhhhh....." tunjuk mereka bertiga menatap ke arah Daniar yang tengah tertidur di depan ruang televisi.
"Hahhh?! kok tidur si!? terus ini, siapa yang makan?!" tanya Zanu melihat bungkus makanan yang tadi dipesan Daniar.
"Hahaha, sabar nak Zanu! wanita hamil emang begitu!" ucap papa Daniar terkekeh melihat ulah Daniar yang dulunya juga pernah dialaminya saat mama Daniar tengah mengandung Galih dan Daniar.
"Huhh, ya sudah kita aja yang makan bagaimana?" tanya Zanu.
Ekkk...eekkk....
Mereka bertiga mengeluarkan suara bersendawa sambil memegang perutnya.
"Maaf nak Zanu, kami habis makan tadi, jadi masih kenyang! kamu aja ya yang makan! mama pergi dulu ke dapur!" ucap mama Daniar pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Ehh, papa juga udah kenyang nih tadi habis makan! kamu ajalah yang makan! papa mau ke rumah pak RT dulu!" ucap papa Daniar pergi.
Kini tinggal Zanu dan Galih.
"Eh, maaf ya adik ipar! tapi aku juga udah kenyang. Aku masuk ke kamar dulu yaa!! selamat menikmati makananmu!" ucap Galih yang kemudian ikut pergi.
Tinggalah Zanu seorang diri. Dia menatap plastik makanannya dan juga piring batagor dan nasi goreng yang belum tersentuh di atas meja di depan televisi.
"Huh..." Zanu menghela nafas panjang.
Dia terpaksa memakan semua makanan itu seorang diri.
"Nasibbb....nasibbb...." keluh Zanu sembari memakan satu persatu makanannya.
__ADS_1