
Darel melihat raut wajah Adi. Sepertinya Adi tahu sesuatu mengenai kisah asmara Lukas ini.
"Adi!" panggil Darel membuyarkan lamunan Adi.
"I...iya, tuan?" tanya Adi terkejut.
"Apa kau tahu mengenai wanita bernama Amira ini?" tanya Darel.
Semua mata langsung mengarah kepada Adi, begitu pula Harri yang menatapnya dengan tatapan aneh. Sorot mata Harri memang tajam ke arahnya, namun ekspresi wajahnya membuat Adi ingin tertawa saking lucunya. Untung saja dia bisa mengendalikan diri dihadapan Darel, atau jika tidak pasti dia akan langsung tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi rekannya itu.
"Emm, sepertinya begitu tuan!" ucap Adi ragu.
"Jadi kau sudah tahu kalau Lukas pernah menghamili seorang gadis? kenapa kau tidak memberitahuku tentang masalah ini?!!!" tanya Darel penuh emosi.
"Sayang, jangan marah-marah dongg! aku takutt!" rengek Mentari dengan mata berkaca-kaca.
Meski bukan Mentari yang dimarahi oleh Darel, tetap saja suara tinggi dan ekspresi menakutkannya itu berhasil membuat Mentari ketakutan.
"Iya-iya maaf ya, sayang!!! ululuuu, anak ayah takut yaa!! maaf yaa!" ucap Darel dengan gemasnya mengelus perut Mentari.
Kalau sama kitaaa aja mode reog! kalau sama nona aja mode hamster!! dasar tuan!! batin Harri.
"Jadi! sejak kapan kau tahu mengenai masalah Lukas, Adi?" tanya Darel datar namun tatapan tajam dari matanya tidak bisa lepas dari Adi.
"S...satu tahun yang lalu tuan! saya tidak sengaja menemukan foto Lukas bersama seorang wanita muda! saya hanya mengetahui kalau Lukas mempunyai seorang mantan dan Lukas telah mengenal karena membiarkan mantannya pergi, hanya sebatas itu saja tuan!" ucap Adi yang memang begitu adanya.
"Lalu kenapa Lukas bisa memutuskan hubungannya? mengapa dia tidak langsung datang padaku dan meminta ijin untuk menikah? tentu aku akan langsung menyetujuinya!" ucap Darel bingung.
"Anda kan saat itu masih mode reog tuan!! mana berani dia meminta ijin untuk menikah?!" celetuk Harri begitu saja.
"Coba ulangi sekali lagi, Harri!!!" tatapan mata Darel mengarah pada Harri.
"Kan benar tuan!! Anda sebelum bertemu dengan nona itu orang yang sangat kaku. Apa anda lupa waktu ada salah satu pengawal meminta ijin untuk menikah dahulu? lalu anda membuat pilihan dia bisa menikah asalkan berhenti dari pekerjaan ini atau tetap bekerja disini?" ucap Harri mengingatkan Darel.
"Apa benar itu?" tanya Mentari.
"Benar, nona! seperti itulah tuan Darel saat setelah ditinggalkan oleh wanita berbisa itu!" ucap Harri.
"Tuan juga pernah bilang kalau dia tidak menikah maka anak buahnya juga tidak ada yang boleh menikah! maka dari itu kami masih jomblo sampai sekarang! dan mungkin Lukas juga melakukan hal yang sama!" ucap Harri.
"Harri! husttt...husttt...husttt!!!" Darel meminta Harri diam agar tidak terlalu banyak bicara lagi.
Adi yang disebelahnya pun langsung membungkam mulut rekannya agar tidak nyerocos terus.
__ADS_1
"Kau itu jahat sekali!!! kau memisahkan dua orang yang saling mencintai terlebih wanita itu tengah mengandung anak Lukas! bahkan hingga keguguran!!!" ucap Mentari melotot ke arah Darel.
Sepertinya tuan akan kena hukuman lagi!! kasian yaa, selama nona hamil tuan Darel selalu dihukum tidur di luar hehehe! batin Adi.
"Nggak gitu loh sayang!! aku kan nggak tau kalau Lukas punya pacar! Lukas juga nggak bilang kok!" ucap Darel membela diri.
"Dia tidak bilang karena sudah tahu jawabannya!! kamu nih jadi orang kejam banget sih!! aku nggak mau tau yaa, pokoknya kamu harus bisa memperbaiki hubungan mereka yang telah retak karenamu!!" ucap Mentari.
"Tapi bagaimana bisa?! hubungan mereka telah berakhir bertahun-tahun lamanya! mana bisa aku memperbaikinya?"
"Masa bodo!! kamu yang menghancurkan kamu juga yang harus memperbaiki! jangan sentuh aku kalau kamu belum memperbaiki apa yang telah kamu rusak!" ancam Mentari.
Tentu saja mendengar jatah hariannya dalam bahaya membuat Darel tidak bisa berkutik lagi. Bisa-bisa dia stress karena tidak mendapat jatah dari istrinya.
"Iya-iya!! aku coba nanti! tapi jangan dipotong ya jatahku!" ucap Darel.
"Nggak! usaha sana dulu baru minta jatah!" dengus Mentari lalu keluar dari ruangan itu.
Adi dan Harri yang mendengarkan keributan pasal jatah itu pun memandang kearah Mentari yang keluar dari ruang kerja Darel. Ketika mereka berbalik menatap Darel, terlihat oleh mereka ekspresi tertekan dan membuat mereka ingin tertawa saking lucunya.
"Buahahahahhaaaaa, suami takut istri!! baru diancam jatah saja anda sudah langsung loyo, tuan!!" ejek Harri dengan tertawa keras.
"Kalian belum menikah!! lihat aja nanti kalau udah menikah, pasti juga akan takut istri!" ucap Darel.
"Oh aku tahu! Adi, bukannnya kita memiliki beberapa rumah kosong yang tidak dihuni?" tanya Darel.
"Hemm, begini...."
********
Esok harinya. Adi dan Harri menjalankan perintah Darel dimana mereka diminta untuk membawa anak-anak di Panti Asuhan Kasih Bunda ke salah satu rumah milik Darel.
"Hallo, adik-adik!!" sapa Adi dengan senyum manisnya.
"Hallo omm!!" sahut mereka semua.
Anak-anak itu terlihat tengah bermain bersama.
"Oh ya, apa kalian tahu dimana kak Amira? om ada perlu dengannya?" tanya Adi.
"Oh, kak Amira yaa! mari saya antar! biasanya jam segini dia tengah membaca buku di dalam tengah membaca buku." ucap seorang anak laki-laki.
"Oke, makasih yaaa!" ucap Adi.
__ADS_1
Anak itu pun mengantarkan Adi dan Harri ke dalam. Mereka melihat-lihat tempat yang mereka sebut dengan rumah itu. Sangat jauh dari kata layak. Kursi pun masih seadanya dengan lantai yang masih cor-coran. Meski kecil dan sederhana, tempat ini teras sangat nyaman dan damai.
"Kak, ada yang nyariin kakak!" ucap anak laki-laki tadi kepada Amira.
"Dimana?" tanya Amira meletakkan bukunya.
"Itu!" tunjuknya ke arah Adi dan Harri.
"T...tuan Adi?! tuan Harri?!" tanya Amira.
Adi dan Harri bingung mengapa Amira bisa mengenali mereka? apa mereka pernah bertemu sebelumnya?
"Kau mengenal kami?" tanya Harri.
Pertanyaan macam apa itu?? dia saja tahu namamu, pasti dia tahu siapa kamuu!!! batin Adi merutuki kebodohan Harri.
"Tentu saja! kalian salah satu kaki tangan tuan Darel, putra dari tuan Ardi Sanjaya, pemilik perusahaan Sanjaya Group!" ucap Amira.
"Wahhh, kau tahu banyak rupanya!" ucap Adi.
"Mari silahkan duduk! maaf kursinya kurang layak!" ucap Amira merendah.
Adi dapat melihat apa yang Amira baca. Dari sampulnya tertulis "MERAIH CINTA MENUJU RIDA NYA".
"Anda ingin minum apa, tuan?" tanya Amira ramah.
"Air putih saja!" ucap Adi.
Amira pun pergi lalu kembali membawa nampan berisi dua gelas air putih. Adi dan Harri meminumnya hingga habis.
"Jadi, begini!" ucap Adi mulai membuka percakapan.
"Tuan Iwang bilang, dia sering bermain kesini. Dia sedih karena kondisi tempat tinggal ini yang jauh dari kata layak untuk dihuni oleh anak-anak ini. Maka dari itu tuan Iwang meminta untuk tuan Darel agar memboyong anak-anak ini dan juga anda untuk tinggal disalah satu rumah milik tuan Darel. Semua persediaan akan ditanggung oleh perusahaan." ucap Adi.
"Iwang? putra tuan Darel?" tanya Amira terkejut.
Tidak menyangka Iwang adalah anak dari orang kaya. Selama ini saat Iwang berkunjung selalu mengenakan seragam. Tau jika tidak dia hanya memakai pakaian sederhana dan tidak menunjukkan bahwa dia adalah anak orang kaya.
"Iya! putra sulung tuan Darel! bagaimana apa anda menerima tawaran kami?" tanya Harri.
"Memang rumah ini tidak layak untuk perkembangan mereka. Aku memiliki cita-cita untuk menampung anak-anak yang tidak beruntung, anak-anak yang dibuang, dan lain sebagainya. Mungkin disini mereka telah bersyukur karena masih mendapatkan tempat untuk berteduh meskipun yah, seperti ini kondisinya!"
"Anda tenang saja! disana juga anak-anak akan diberikan pendidikan sehingga mereka tetap bisa meraih cita-cita mereka." ucap Adi.
__ADS_1
Cukup lama Amira diam. Mungkin dia menimbang-nimbang keputusan apa yang akan dia ambil.
"Aku.....memilih...."