Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 149


__ADS_3

Setelah menghabiskan banyak waktu bersama sahabatnya, Darel dan yang lain akhirnya kembali kerumah masing-masing.


Didalam perjalanan, Tomi dan Shiren hanya terdiam seribu bahasa. Entah apa yang ada dipikiran mereka saat ini.


"Enak ya punya sahabat seperti tuan Darel, tuan Zanu, tuan Arul, tuan Bagas, dan tuan Rohan?" ucap Shiren setelah begitu lama hening mendera mereka.


Tomi menoleh kearah Shiren yang menatap pemandangan diluar mobil.


"Apa kau tidak punya sahabat?" tanya Tomi.


Shiren menoleh sebentar lalu kembali menatap ke luar jendela.


"Ada!"


"Tapi itu dulu, setelah kepergianku terakhir kali bersamanya aku tidak bisa menghubunginya lagi. Mungkin dia diancam oleh Bram atau bagaimana aku tidak tahu!" jelas Shiren.


Mendengar penuturan Shiren membuat Tomi sedikit tersentuh.


"Kau bisa menganggap ku sahabatmu! aku akan melindungi mu dari siapapun yang ingin menyakitimu! kau bisa cerita apapun kepadaku!" ucap Tomi.


Shiren menatap Tomi tidak percaya. Seorang pria dengan postur tubuh menakutkan seperti Tomi saja memiliki hati selembut ini? bahkan kepada orang asing saja dia sebaik ini apalagi dengan orang yang dia sayang? pikir Shiren saat itu.


"Aku..."


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang kau jalani saja masa depanmu. Lupakan mereka yang pernah menyakiti perasaanmu, okey!"


Shiren mengangguk patuh. Perjalanan kali ini terasa sangat panjang bagi mereka. Baik Shiren maupun Tomi hanya terdiam. Hening, hanya suara laju kendaraan yang sesekali melewati mobil mereka.


********


Zanu tidak langsung mengantar Daniar pulang ke rumahnya. Mereka mampir untuk menemui Galih yang masih ditahan. Proses pengadilannya akan berlangsung dua hari ke depan, dan sebelum sidang dimulai Galih harus tetap berada di dalam jeruji besi.


"Kamu yakin mau kesana?" tanya Zanu diperjalanan menuju kantor polisi.


"Bagaimanapun dia kakakku!" ucap Daniar.


Mereka terdiam sesaat.

__ADS_1


"Aku bingung harus bagaimana." ucap Daniar menatap lurus ke jalanan.


"Bingung kenapa?"


"Bingung harus berpihak ke mana? disatu sisi ada kakak kandungku dan disisi lain ada sahabatku! memang aku tidak setuju dengan cara kak Galih yang seperti itu, tapi....." terhenti.


"Tapi apa mungkin aku bisa memutus tali persaudaraanku dengan kak Galih?"


"Kalau kamu disuruh jadi memilih salah satu dari mereka kamu harus lihat dari kedua sisi, siapa yang lebih banyak dirugikan. Kak Galih mungkin dirugikan karena dia akan masuk penjara, tapi kan itu karena ulahnya sendiri. Sedangkan Mentari yang tidak tahu apa-apa dan anaknya yang tidak berdosa harus menanggung akibat dari obsesi kak Galih." ucap Zanu.


Daniar terdiam sesaat mencerna setiap kata yang diucapkan kekasihnya.


"Kamu benar, dalam hal ini Mentari yang lebih banyak dirugikan. Dia harus kehilangan calon anaknya, bahkan dia harus dirawat beberapa hari karenanya." ucap Daniar setelah terdiam cukup lama.


"Kau memang wanita yang pintar!" mengelus pucuk rambut Daniar.


"Terimakasih ya, Zanu! kamu sudah membantuku!" ucap Daniar tersenyum manis.


Daniar menatap ke depan dan tanpa sengaja kedua matanya fokus pada sosok yang sangat dia kenal.


"Wanda yang bersama pak Broto waktu itu?" tanya Zanu.


"Eh, iya! kamu masih ingat?"


"Sebaiknya kamu peringati dia deh agar menjauh dari orang bernama Broto itu. Aku takut kekayaan yang didapat oleh pak Broto itu hasil dari menipu dan bisa saja seniormu terbawa-bawa nanti karena ikut menikmati uang itu." ucap Zanu.


Sebenarnya Zanu sudah mulai menyelidiki pak Broto saat dia bertemu dengannya waktu itu. Beberapa bukti hasil kejahatan pak Broto sudah ada ditangan Zanu namun masih belum cukup kuat. Saat ini anak buah Zanu masih mencari bukti yang kuat agar bisa melaporkan kejahatan pak Broto.


Selang beberapa lama akhirnya Zanu dan Daniar sampai juga di kantor polisi. Mereka menunggu diruang besuk, dan tidak lama dari itu Galih datang bersama polisi dengan tangan yang diborgol.


"Niar, ka...kamu datang sendirian?" celingak-celinguk seolah mencari seseorang.


"Aku bersama Zanu kak, kekasihku!" ucap Daniar.


"Mentari juga tidak ikut tadi, karena selain tidak diperbolehkan oleh suaminya, dia juga terlihat kelelahan saat makan siang tadi. Lagian kalau pun boleh aku rasa Mentari tidak akan mau menemui kakak lagi!" ucap Daniar sembari menekankan kata suami.


"Kak, aku tahu kau bukan pria seperti ini! apa kau tidak melihat pancaran kebahagian diwajah Mentari ketika dia tahu bahwa dia hamil?" tanya Daniar lagi.

__ADS_1


Zanu duduk di samping Daniar dan hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kenapa kau tega merenggut kebahagian wanita yang kau cintai? bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa cinta adalah keikhlasan? kenapa kau tidak ikhlas menerima kenyataan bahwa Mentari bukan untukmu?"


Daniar mengeluarkan semua unek-uneknya. Kemarin dia hanya diam karena ada Mentari bersamanya. Selain ingin membiarkan Mentari menyelesaikan urusannya lebih dulu bersama Galih, Daniar juga tidak ingin menambah kesedihan Mentari dengan pertanyaan-pertanyaannya ini yang pasti akan membuka kembali sayatan luka lama dihati Mentari.


"Aku tidak bisa menerimanya! aku....aku gelap mata! yang ada di pikiranku saat itu hanya akulah yang pantas untuk Mentari. Lagi pula pria brengsek seperti Darel tidak pantas mendapatkan Mentari sebagai pendamping hidupnya!" ucap Galih.


"Kak, aku setuju dengan ucapanmu bahwa Darel bajingan! aku akui itu! tapi dia sudah berubah, kak! dia bukan lagi Darel yang bajingan dan suka main perempuan!"


"Kalau kau lihat betapa bahagianya Mentari dan betapa perhatiannya Darel kepada Mentari tadi, mungkin mata hatimu bisa terbuka. Mentari bahagia sekarang, dan bahagianya Mentari ada pada Darel! jadi tolong, relakan Mentari bahagia dengan pilihannya kalau kakak memang mencintai Mentari!" ucap Daniar.


Galih terdiam membisu. Daniar tidak pernah berbicara dengannya sedalam ini. Sekilas Galih menatap wajah Daniar, mencari kebenaran tentang apa yang dia katakan.


"Jam besuk sudah habis!" ucap salah seorang polisi.


"Aku pulang dulu kak! kalau ada waktu aku akan mengunjungimu lagi nanti!" ucap Daniar kemudian melangkah pergi meninggalkan Galih.


********


Hari sudah berganti senja. Sejak kepulangannya dari restoran, Darel dan Mentari belum keluar dari kamar mereka. Para pelayan, anak buah Darel, bahkan Adi dan Harri tidak berani mendekati kamar mereka karena takut mendengar suara-suara yang bisa membuat otak mereka traveling kemana-mana.


Cup. Sebuah ciuman mendarat di kening Mentari. Keringat membasahi tubuh keduanya. Mentari yang kelelahan memejamkan matanya dengan selimut menutupi tubuhnya yang polos.


"Makasih honey! kau benar-benar membuatku tidak bisa lepas darimu!" ucap Darel kemudian mencium gemas wajah Mentari.


"Ihhh, kamu nih ya emang nggak bosan apa gitu terus? aku kan capek!" masih dengan mata tertutup.


"Mana bisa aku bosan kalau kau selalu membuatku ketagihan!" terkekeh.


"Dasar tuan muda mesum!" menutupi kepalanya dengan selimut.


"Ya, sudah aku mau mandi dulu. Kamu tidur aja ya honey!" ucap Darel.


Sebuah kecupan mesra kembali mendarat di pucuk kepala Mentari sebelum akhirnya Darel masuk kedalam kamar mandi.


Mentari melirik sebentar dari ujung selimut, memastikan bahwa Darel benar-benar mandi lalu dia pun tidur dengan pulas.

__ADS_1


__ADS_2