
Mendengar celotehan Tomi, membuat Darel merasa kesal dan malu. Apalagi semenjak berhubungan dengan Mentari malam itu, dia berhenti dari aktivitasnya dengan para wanita pel***r.
"Aku rasa kau yang harusnya kerja extra. Aku kan sudah menikah, Arul, Zanu sudah punya pasangannya masing-masing. Nah, kau kapan?" sindir Darel yang seketika membuat wajah Tomi menjadi masam.
"Kau ini tidak seru sekali!!! kau tahu kan aku masih belum menemukan yang cocok." ucap Tomi memperlihatkan wajah sedihnya.
"Nah, kenapa tidak bersama wanita yang kau temui di taman waktu itu aja. Siapa namanya?? emmm......siapa??" ucap Arul berusaha mengingat nama seseorang.
"Shiren maksudmu?" tanya Tomi.
"Nah, ya Shiren! kenapa tidak dengannya saja? dia kelihatan baik, cantik lagi, apalagi kau kurang?" tanya Arul.
"Aku rasa akan sulit untuk wanita itu. Lihat saja tampang menyeramkannya ini, hahahaha!" ledek Darel diikuti gelak tawa semua orang.
"Hei, kalian ini benar-benar ya! sudahlah aku tidak mau bicara lagi dengan kalian!" ucap Tomi pura-pura marah.
Pyar.............
Terdengar suara pecahan kaca dilantai atas tempat Mentari berada yang membuat Darel langsung berlari menghampiri sumber suara dan diikuti semua orang.
"Mentari, ada apa?" tanya Darel ketika sudah sampai di kamarnya dengan Mentari.
Mentari melihat bingung suaminya ini yang datang dengan tergesa-gesa ditambah lagi semua orang juga ikut tergesa-gesa.
"Aku cuma ingin mengambil minum karena haus eh malah tanpa sengaja menumpahkan gelasnya. Kalian kenapa lari-larian gitu?" tanya Mentari.
"Kau ini ya Mentari, kebiasaan sekali! suka bikin orang lain jantungan aja!" omel Daniar.
"Ya sudah kau istirahat saja!" ucap Darel menuntun istrinya menuju ranjang.
"Tapi pecahan gelasnya?" tanya Mentari menatap gelas yang sudah menjadi kepingan-kepingan kecil itu.
"Biar mbok saja yang bereskan." ucap Darel.
"Emm, yasudah Darel kayaknya kita juga mau pulang aja, takut mengganggu waktu suami istri soalnya!" ucap Arul kemudian berlalu pergi diikuti Tomi dan Rohan yang tersenyum penuh arti sebelum meninggalkan kamar.
"Mentari, aku pulang dulu ya. Kalau kamu butuh temen curhat, tlfn aja aku ya? aku siap 24 jam buat kamu." ucap Daniar.
"Iya, makasih ya Niar udah bantu aku tadi." ucap Mentari tersenyum.
Zanu menggandeng tangan Daniar dan berlalu pulang mengantarkan Daniar.
"Hanya ada kita berdua sekarang." ucap Darel mulai genit.
__ADS_1
Entah mengapa melihat Darel menatapnya seperti itu membuat Mentari malu hingga wajahnya memerah. Darel mendongakkan wajah Mentari agar menatapnya. Kini tidak ada jarak diantara keduanya. Penyatuan yang sesungguhnya pun tercipta ditengah dinginnya angin malam. Penyatuan yang didasari oleh rasa cinta dan kali ini Mentari melakukanya, dalam keadaan sadar.
Mereka melakukan penyatuan itu selama beberapa jam, hingga mereka kelelahan dan tertidur pulas. Mentari tertidur didalam pelukan Darel yang hangat.
********
Pagi itu, Mama dan papa Darel datang mengunjungi Mentari. Mereka masih khawatir dengan kondisi Mentari yang belum sembuh total. Kemarin mereka disuruh pulang oleh Darel agar Mentari bisa memenangkan diri dulu, dan mereka menuruti perkataan Darel dan membiarkan Mentari sendiri dulu.
Tuan dan nyonya Ardi datang pagi-pagi sekali, dan tanpa pemberitahuan. Mentari dan Darel yang saat itu tengah mandi dibuat kalang kabut ketika seorang pelayan memberitahu bahwa mama dan papanya ada dibawah menunggu sarapan bersama. Mereka pun mempercepat mandinya.
"Kamu sih, ngapain juga pagi-pagi ngajak gitu. Kan jadi lama nih mama sama papa nunggunya." omel Mentari sembari menyisir rambutnya yang basah.
"Tapi kamu suka kan?" goda Darel yang berhasil membuat rona merah di pipi Mentari.
Belum sempat Mentari dan Darel mengeringkan rambut mereka, nyonya Ardi mengetuk pintu kamar menanyakan keadaan mereka karena hampir satu jam mereka belum keluar kamar juga.
"Sayang, Mentari? Darel? kalian baik-baik saja? kenapa lama sekali turunnya? kami semua sudah menunggu lama loh." ucap nyonya Ardi sembari mengetuk pintu.
"Iya ma, bentar lagi!" ucap Darel.
"Ayo cepatan, mama udah nungguin tuh!" ucap Darel kepada Mentari dengan suara yang pelan.
"Iya-iya bentar tinggal nyisir ini doang kok!" ucap Mentari.
Darel dan Mentari membuka pintu kamar dan terlihatlah nyonya Ardi sudah berdiri dengan sangat anggun didepan pintu.
Nyonya Ardi menahan tawa melihat rambut anak dan menantunya yang masih basah ini. Terlintas adegan nakal dipikirannya saat ini.
"Ayo semua orang sudah menunggu tuh!" ucap nyonya Ardi berjalan lebih dulu.
Dimeja makan, tuan Ardi, Frans, Juna, dan Randita sudah menunggu sedari tadi melihat kearah Mentari dan Darel dengan menahan tawa. Randita dan juga Arya langsung kembali ke Indonesia ketika mendengar Mentari keguguran, tapi karena tugas yang menumpuk membuat Rangga tidak bisa ikut kembali ke Indonesia.
"Ayo semuanya kita sarapan!" ucap nyonya Ardi ketika semuanya sudah duduk dikursi masing-masing.
"Mama, mama! kok tante sama om rambutnya basah?" tanya Arya dengan polosnya.
Hal itu sontak saja mengundang gelak tawa semua orang, namun mereka berusaha menahannya. Sedangkan Darel dan Mentari yang mendengar celotehan anal kecil itu tersedak dibuatnya.
"Ya karena paman sama tante baru aja main sayang!" ucap Randita tersenyum kearah Mentari dan Darel yang membuat mereka malu.
"Kok aku nggak diajak sih, kan aku juga mau main!" rengek anak kecil itu.
"Ehem, emm, ya nanti paman ajak main!" ucap Darel.
__ADS_1
Mentari menatap kearah Darel begitu juga dengan Darel, sedangkan Randita, nyonya Ardi, tuan Ardi, Frans, dan Juna terkekeh lirih melihat mereka berdua.
Papa benar-benar tidak salah pilih menjodohkan kalian berdua! batin tuan Ardi.
Selesai sarapan, Darel dan Mentari kembali ke kamar mereka. Sebenarnya hari ini Darel ada jadwal menemui klien penting namun karena dia sedang ingin bermanja-manja dengan Mentari, akhirnya Wisnu lah yang disuruh menemui klien itu.
"Bagaimana rasanya?" tanya Darel tiba-tiba.
Saat ini Darel tengah memeluk Mentari dari belakang sembari melihat pemandangan pagi yang sangat indah.
"Apanya?" tanya Mentari tidak mengerti.
"Semalam? dan pagi tadi?" ucap Darel.
Entah mengapa Mentari menjadi malu mendengar pertanyaan Darel.
"Kau sepertinya sudah terbiasa melakukannya? seberapa sering kau melakukannya dulu?" tanya Mentari mengingat video Darel tengah bercinta dengan wanita lain.
"Tidak terlalu sering! hanya ketika ada perkumpulan anggota mafia saja." ucap Darel.
"Apa kau tidak takut padaku?" tanya Darel lagi.
"Tidak, kenapa aku harus takut?" ucap Mentari sembari menggelengkan kepalanya cepat.
"Ya karena aku seorang mafia, aku terbiasa membunuh seseorang, apa kau tidak takut?"
"Tidak! kau suamiku sekarang, apapun pekerjaanmu aku akan tetap patuh padamu! emm, apa kau tidak pernah sholat? sepertinya aku tidak pernah melihatmu sholat?" tanya Mentari.
Yah, semenjak dewasa Darel sangat jauh dari agama. Inilah yang membuatnya tidak gemetar ketika menghabisi nyawa seseorang. Beberapa kali Darel melihat Mentari yang tengah khusyuk bersujud kepada-Nya. Hal itu membuat hati Darel seolah bergetar, dan berkeinginan untuk tobat. Namun apakah Tuhan akan mengampuni dosanya yang sudah tak terhitung jumlahnya?
"Dia akan memaafkan hambanya yang mau bertobat!" ucap Mentari tiba-tiba.
"Bisakah kau menuntunku? aku yang jauh dari agama dan tubuh yang penuh dosa ini mana mungkin bisa diampuni?"
"Jika taubatmu adalah taubat nasuha, kenapa tidak? aku akan membantumu kembali ke jalan-Nya!" ucap Mentari menatap sang suami.
Mulai hari itu, Darel sudah bertekad untuk berhijrah.
********
Disebuah cafe.
"Aku dengar mantanmu sudah menikah! ceweknya kayak sederhana nggak selevel lah sama kamu!" ucap seorang wanita dengan memakai baju yang kurang bahan.
__ADS_1
"Benarkah? bisa move on juga dia ternyata!" ucap wanita dengan baju ketat diatas paha dan belahan dada yang sedikit terlihat.