Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
SEASON 2 episode 63


__ADS_3

Alvaro turun menuju street food untuk membeli dimsum yang diinginkan Naruka. Area ini memang semakin malam semakin ramai oleh pedagang kaki lima.


"Pak, dua porsi dibungkus ya." pesan Alvaro.


Tanpa menunggu lama, penjual itu memberikan pesanan Alvaro. Alvaro mengambil dompet yang ada di saku celananya lalu mengeluarkan selembaran uang tunai berwarna merah.


"Waduh, maaf mas. Uang pas saja ada tidak? Soalnya saya kehabisan uang kembalian." sahut bapak itu dengan tidak enak.


"Yaudah nggak apa-apa buat bapak aja kembaliannya." ucap Alvaro sembari memasukkan kembali dompetnya kedalam saku celananya.


"Alhamdulillah, makasih mas. Ngomong-ngomong mas tinggal dia apartemen ini juga?" tanya bapak penjual dimsum.


"Iya." sahut Alvaro sekenanya.


"Hati-hati mas, soalnya beberapa hari kemarin ada seorang model yang hendak bunu* diri. Itu loh model yang lagi terkena skalda* anak hara*!" sahut bapak itu.


"Saya permisi ya pak." ucap Alvaro langsung pergi.


Entah mengapa Alvaro merasa geram saat bapak itu menceritakan mengenai Naruka. Walau tidak disebutkan namanya, Alvaro langsung mengerti kalau model yang dimaksud itu adalah Naruka. Karena takut hilang kendali, Alvaro pun memilih meninggalkan tempat itu dan langsung menuju apartemen Naruka.


"Naru, ini dimsumnya!" ucap Alvaro saat telah memasuki apartemen Naruka.


Alvaro terbengong saat melihat Naruka yang duduk di sofa dengan melahap sepiring penuh buah semangka yang telah dipotong-potong. Alvaro semakin heran dengan tingkah aneh Naruka ini. Setahunya, Naruka tidak suka dengan buah semangka, Naruka juga tidak menyukai mangga yang rasanya masam, lalu ini?! Apa ini?!!


"Naru, lo makan buah semangka?" tanya Alvaro keheranan.


"Iya, kenapa?! Ternyata rasanya enak juga, kriyuk-kriyuk manis gitu." jawab Naruka sambil memasukkan empat potong buah semangka kedalam mulutnya.


Mulut Naruka sampai menggembung karena terlalu penuh dengan buah semangka itu. Tiba-tiba Alvaro salah fokus. Dia menatap bibi* ranum milik Naruka. Bibi* yang pernah dia cicipi.


Glekk...


Alvaro sampai menelan salivanya. Untuk kesekian kalinya, Alvaro menggelengkan kepalanya menghempaskan pikiran kotor itu dari otaknya.


Kenapa gue jadi mesu* gini sih?! batin Alvaro.


"Oh ya, ini dimsumnya!" ucap Alvaro menyodorkan dimsum yang tadi dia beli.


Alvaro meletakkannya diatas meja, lalu membuka satu untuk Naruka dan yang satu untuknya.


"Kayaknya pedes lebih enak deh, iya nggak?" tanya Naruka.

__ADS_1


Alvaro kembali terkejut. Belum sempat dia memulihkan rasa terkejutnya itu, Naruka lebih dulu berjalan ke dapur mengambil sambal ayam suwir yang Hyuna beli beberapa hari lalu. Setelah mengambil sambal itu, Naruka kembali duduk di samping Alvaro. Dan kalian tebak apa yang Naruka lakukan dengan sambal itu?! Naruka menuang hampir separuh sambal itu kedalam wadah dimsumnya. Alvaro sangat terkejut sampai dia tidak bisa berkata-kata.


Melihat cara Naruka menikmati dimsum dengan sambal itu membuat rasa terkejut juga heran Alvaro semakin menjadi-jadi. Apalagi saat Naruka kembali menuangkan setengah sambal itu kedalam wadah dimsumnya lagi.


"Cukup, Naru!!!" tahan Alvaro.


Naruka yang hendak kembali melahap dimsum ditambah sambal itu pun menghentikan makannya dengan mulut terbuka dan dimsum yang berada tepat di depan mulutnya.


"Lo...aneh!" ucap Alvaro keheranan.


"Aneh?!" tanya Naruka.


Naruka mengecek sekelilingnya, menoleh ke belakang, samping kiri kanan, namun dia merasa tidak ada yang aneh. Lalu kenapa Alvaro mengatakan dirinya aneh?!


"Gue nggak aneh!" ucap Naruka kesal karena Alvaro mengatainya aneh.


"Yaudah kalau nggak aneh nggak usah makan sambal ini lagi!" ucap Alvaro yang merebut wadah dimsum Naruka lalu menyodorkan dimsum miliknya yang tidak tercampur sambal.


"Balikin dimsum gue!!! Balikinnn!!!" teriak Naruka sembari berusaha merebut dimsum miliknya ditangan Alvaro.


Alvaro meninggikan tangan kirinya yang memegang dimsum lalu tangan kanannya menahan tubuh Naruka agar tidak bisa menggapainya.


"Balikinnnn!!! Hiks...hiks...hiks..."


"Naru, diem ya! udah jangan nangis!" bujuk Alvaro.


Alvaro panik karena tiba-tiba Naruka menangis.


"Yaudah balikin dimsum gue!!!" ucap Naruka dengan air mata yang masih mengalih ke pipinya.


Alvaro terdiam sejenak lalu memberikan dimsum Naruka padanya. Tidak ada pilihan lain bukan, daripada Naruka menangis kan dia juga yang repot pikir Alvaro.


Tanpa pikir panjang, Naruka langsung melahap dimsum itu begitu Alvaro mengembalikannya.


"Nggak pedes?" tanya Alvaro.


"Nggak kok!" sahut Naruka dengan polosnya.


Benar-benar mengherankan.


"Lo mau nggak?" tunjuk Naruka pada dimsum milik Alvaro yang belum disentuh sama sekali.

__ADS_1


"Lo makan aja kalau mau." ucap Alvaro menyodorkan dimsumnya.


"Yeyyyy!!!" sorak Naruka.


Dalam sekejap, dimsum milik Alvaro pun habis dimakan Naruka.


"Udah?" tanya Alvaro.


"Udah! yaudah gue ke kamar dulu, ngantuk." ucap Naruka yang pergi begitu saja.


"Naru, lo kenapa sih? Apa jangan-jangan dia..." lirih Alvaro saat Naruka telah masuk ke kamarnya.


"Nggak, nggak, nggak!!! Nggak mungkin kan dia hamil?! Kita aja baru ngelakuin itu sekali, masa langsung jadi?!" pikir Alvaro.


Alvaro mencoba menghempaskan pikiran buruk tentang keanehan Narukani ini. Tapi semakin dipikirkan, hanya ada satu jawaban yang kembali hadir di pikirannya. Hamil. Tapi kembali lagi, Alvaro mencoba positif thinking, mungkin saja sekarang Naruka jadi suka pedas dan buah semangka. Bisa saja bukan?


********


Pagi harinya pukul delapan pagi, Alvaro sudah berada di halaman rumahnya. Rumah milik keluarga Daniar. Begitu Alvaro memasuki rumah, Daniar dan seluruh keluarganya yang telah menunggu kepulangannya itu langsung menghampirinya.


"Varo, kamu kemana aja semalam?! Kenapa nggak pulang? Di telpon juga nggak diangkat, dikirimin pesan juga nggak bisa. Kamu kemana sih?! Mama cemas banget tau!!!" cerca Daniar.


Semalaman penuh Daniar sampai tidak tidur karena khawatir dengan keberadaan putra semata wayangnya itu.


"Aku di apartemen Naruka, ma!" jawab Alvaro.


"Naruka?! Ngapain kamu di apartemen Naruka?! Kamu punya rumah, Varo! Harusnya kamu pulang dulu! Kamu juga punya orang tua, harusnya kamu ijin sama orang tua kamu!" ucap Zanu sedikit membentak.


"Maaf, pa, ma! Semalam aku di apartemen Naruka karena dia lagi sakit. Aku nggak tega buat ninggalin dia sendirian." jelas Alvaro membuat Daniar dan Zanu saling bertatapan.


"Sejak kapan kamu jadi care sama Naruka?! Kalian ini kan dari dulu nggak akur. Jangankan peduli begini, saling tegur sapa pas ketemu aja jarang banget." heran Zanu.


"Iya, semalam mama juga denger kamu gendong Naruka pas di acara pertunangan Hyuna. Kamu...dan...Naruka...." ucap Daniar terpotong.


"Nggak kok, ma! Udah ya, aku ke kamar dulu ngantuk!" ucap Alvaro langsung pergi.


Alvaro takut mama dan papanya bertanya macam-macam kalau dia terus ada disana. Sedangkan mama dan papa Daniar hanya diam menyimak. Sama seperti Daniar dan Zanu, orang tua Daniar juga merasa heran dengan sifat Alvaro. Pasalnya sejak dulu Alvaro dan Hyuna seperti kucing dan tikus, mereka akan berkelahi saat bertemu. Saat menginjak dewasa, Alvaro dan Naruka bahkan jarang sekali berinteraksi. Saat ada acara kumpul-kumpul pun mereka memilih saling acuh karena memang seasing itu mereka. Makanya Daniar, Zanu dan orang tua Daniar keheranan saat mendengar Alvaro menggendong Naruka bahkan sampai tidur di apartemennya.


"Kenapa aku merasa ada hal yang aneh ya dengan putra kita?" lirih Daniar menatap suaminya.


"Jangan terlalu dipikirkan. Mungkin dia sudah berdamai dengan Naruka." ucap Zanu.

__ADS_1


Zanu tidak ingin istrinya itu banyak pikiran. Padahal apa yang dirasakan Daniar juga dirasakan oleh Zanu namun dia memilih tidak mengutarakannya. Dia menaruh kepercayaan penuh pada putranya itu.


__ADS_2