Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
SEASON 2 episode 52


__ADS_3

Didalam rumah Darel. Darel dan semua anggota keluarganya telah menunggu kedatangan keluarga Kaj. Senyum merekah nampak di bibir Darel kala melihat kedatangan Kanaya dan Aditya juga Kaj yang ditangannya terdapat banyak paper bag untuk seluruh anggota keluarga Darel.


"Selamat datang di kediaman saya, tuan Aditya dan nyonya Aditya!" sambut Darel.


Darel merentangkan tangannya menyambut kedatangan calon besannya itu. Aditnya menyambut rentangan tangan Darel. Untuk sesaat kedua pria dewasa itu saling berpelukan.


"Saya sering mendengar tentang anda, tuan Darel dan baru kali ini saya bertemu langsung dengan anda. Rupanya anda lebih kharismatik dari yang saya dengar di berita!" gurau Aditnya setelah melepas pelukan mereka.


"Hahaha, anda bisa saja! Oh ya kenalkan ini putra-putra saya. Iwang, Shaki, dan Kaivan." ucap Darel memperkenalkan ketiga putranya.


"Wahh selain mempunyai putri yang cantik, anda juga mempunyai putra yang tampan dan gagah, tuan Darel!" ucap Aditnya memuji ketampanan ketiga putra Darel.


Iwang dan Shaki yang dipuji hanya diam saja berbeda dengan Kaivan yang langsung menyugar rambutnya. Hyuna yang melihat ketengilan Kaivan itu merotasi matanya dengan malas. Kakak laki-laki beda beberapa menit dengannya itu memang sangat narsis. Tidak bisa mendengar orang-orang memujinya tampan atau yang lainnya.


"Oh ya, ngomong-ngomong anda memangnya sudah mengenal putri saya?" tanya Darel karena seingatnya tadi Aditnya memuji kecantikan Hyuna.


"Tentu saja, tuan Darel! Putri anda benar-benar sangat cantik!" ucap Kanaya menatap ke arah sampingnya dimana seorang wanita berdiri tepat ditengah-tengah antara Kanaya dan Hyuna.


"Tuan, makanan sudah siap!" ucap pelayan.


"Ah, baiklah! Mari tuan Aditya, nyonya Aditnya, kita makan malam dulu sambil berbincang-bincang." ajak Darel.


Darel berjalan berdampingan dengan Aditnya menuju meja makan. Dibelakangnya ada Kanaya dengan seorang gadis. Dibelakangnya lagi ada Hyuna dan Kaj, lalu ada ketiga putra Darel, kemudian ada keluarga Randita dan yang paling belakang ada Juna dan Zoe.


Mereka semua duduk dengan posisi Darel duduk di meja paling ujung, lalu samping kanannya ada Aditnya, Kanaya, Naruka, Zoe, Juna, Randita, dan Rangga. Lalu disamping kirinya ada Hyuna, Kaj, Iwang, Shaki, Kaivan, dan Arya.


"Saya sangat setuju dengan perjodohan ini, tuan Darel. Kami sangat tidak sabar membawa Hyuna masuk kedalam keluarga besar kami!" ucap Kanaya menatap Naruka.


Kaj dan Hyuna bingung kenapa Kanaya lebih dekat dengan Naruka daripada Hyuna. Sebenarnya tidak hanya Kaj dan Hyuna saja yang merasakan itu, namun Shaki dan Juna juga merasakan hal yang sama.


"Tentu saja! Setelah dua minggu putriku akan menjadi bagian dari keluarga mu, nyonya Aditya!" sahut Darel.


"Aku punya ide, tuan Darel! Bagaimana kalau pertunangan ini kita majukan menjadi lusa depan lalu pernikahannya satu minggu setelahnya? Sepertinya Kanaya tidak sabar untuk membawa menantu kami ke rumah. Bagaimana, ma?" tanya Aditnya.


"Aku sangat setuju! lebih cepat lebih baik bukan?" tanya Kanaya.


Darel menatap ke arah Hyuna. Gadis itu hanya diam saja sambil menyantap makan malamnya.


"Kalau itu yang tuan dan nyonya Aditnya mau, kami hanya mengikuti saja." ucap Darel.


Kanaya dan Aditnya terlihat girang. Mereka sudah tidak sabar membawa menantu mereka pulang. Selama ini Kanaya hanya mampu mendengar teman-teman sosialita nya berbicara buruk mengenai menantu mereka. Selama ini juga Kanaya hanya diam saja karena putra semata wayangnya itu belum menikah. Jangankan menikah, memiliki kekasih saja tidak. Kanaya juga sudah sering menjodohkan putranya dengan putri temannya. Namun Kaj selalu menolak. Kanaya sampai pusing sendiri. Maka dari itu saat mendengar Kaj akan melangsungkan pertunangan dengan Hyuna, Kanaya syok juga sangat senang.

__ADS_1


"Kalau begitu besok kita beli perlengkapan untuk acara pertunangan ya? Bagaimana?" tanya Kanaya.


"Aku sih terserah mommy saja." jawab Kaj.


Acara makan malam ini menjadi lebih ramai karena kedatangan keluarga Kaj. Darel dan Aditnya sesekali membahas mengenai perusahaan yang mereka geluti. Juna Dan Rangga juga sesekali menimpali percakapan bapak-bapak itu. Sedangkan Kanaya. Dia berbicara hangat dengan Naruka bahkan mengacuhkan Hyuna yang duduk di sampingnya juga.


Setelah puas bercengkrama, Aditnya, Kaj, dan Kanaya pun pulang dari rumah Darel tepat pukul sepuluh malam.


"Kamu merasa aneh nggak sih, dek?! Kok mommy nya Kaj lebih dekat dengan Naruka. Mereka bahkan berbicara dan terlihat sangat dekat." bisik Shaki.


Saat ini Shaki dan Hyuna ada di dapur. Hyuna tadi niatnya ingin membuat cookies. Resep baru yang Hyuna pelajari.


"Jangan berburuk sangka. Siapa tahu mereka memang saling mengenal. Lagi pula Naruka kan model terkenal di Belanda, jadi mungkin tante Kanaya sudah kenal Naru." sahut Hyuna sambil sibuk membuat cookies.


Rencananya cookies ini sebagian akan Hyuna berikan untuk Raisa besok pagi karena besok adalah hari ulang tahun sahabat tersayangnya itu. Hyuna sebelumnya juga sudah membuat kue red velvet. Raisa sangat menyukai makanan atau minuman rasa red velvet, bahkan cookies yang saat ini Hyuna buat juga rasa red velvet. Hyuna bisa saja membeli atau mengambil dari toko kue peninggalan ibunya, tapi karena Hyuna sekarang sudah lebih mahir memasak. Jadi Hyuna akan mencoba membuat saja.


"Tapi aneh aja, dek! Kamu yang calon menantu mereka aja sama sekali nggak disana. Ya, walaupun mereka sering kali memuji kamu dalam kata yang mereka ucapkan. Tapi tatapan mereka ke kamu itu kayak asing banget gitu loh. Kayak mereka nggak kenal sama kamu." ucap Shaki.


"Udahlah, kak! Jangan negatif thinking gitu. Nih, cobain cookies aku yang udah jadi aja dari pada ngejulid!" ucap Hyuna sambil menyodorkan sebuah cookies.


Shaki mencoba cookies buatan adiknya itu.


"Gimana?" tanya Hyuna penasaran.


"Nggak enak tapi habis tiga cookies!" sindir Hyuna karena Shaki telah menghabiskan tiga cookies di atas loyang.


"Karena kakak laper aja!" ucap Shaki.


"Gengsi amat sih bilang enak aja!" gerutu Hyuna.


"Kalian ngapain disini?" tanya Iwang.


Setelah kepergian keluarga Kaj tadi, Iwang ijin langsung masuk ke kamarnya karena besok dia ada pelatihan operasi bersama Bagas dan tim lainnya. Jadi Iwang harus belajar. Iwang turun ke dapur karena air minum di kamarnya telah habis, jadi dia berniat mengisinya lagi.


"Eh, kakak! Ini lagi buat cookies!" sahut Hyuna.


"Tumben buat cookies sendiri? Ada acara apa nih?" tanya Iwang mendekat.


"Besok Raisa ulang tahun, kak! Hyuna mau coba bikin cookies buat dia terus tadi pagi kan Hyuna juga udah buat kue untuk dia." ucap Hyuna.


"Ini cookies buatan kamu, dek?" tanya Iwang menatap cookies Yanga masih mengeluarkan kepulan asap berbau harum.

__ADS_1


"Iya, cobain deh!" ucap Hyuna menyodorkan loyang berisi cookies-cookies buatannya yang baru saja keluar dari oven.


"Wahh!!! Ini enak banget, dek!!! Kamu jago deh bikin cookies, tapi...." Iwang berhenti mengunyah cookies buatan Hyuna lalu menatap cookies itu dengan lekat.


"Tapi kenapa kak?" tanya Hyuna penasaran.


"Ini...." terhenti.


Hyuna harap-harap cemas menanti apa yang akan Iwang katakan. Dia menatap ke arah Shaki, namun pemuda itu justru menggedikkan bahunya tanda tidak tahu.


"Cookies ini....rasanya....mirip banget dengan buatan ibu!" ucap Iwang menatap Hyuna.


Matanya telah berkaca-kaca. Rindu! Iwang rindu dengan rasa ini. Walaupun toko kue milik Mentari masih berjalan sampai sekarang namun rasanya sedikit berubah walau dengan resep yang sama.


"Boleh kakak minta buat dibawa ke kamar kakak? Kakak kangen banget sama kue bikinan ibu!" ucap Iwang.


"Boleh kok, kebetulan Hyuna buat banyak." ucap Hyuna.


Hyuna memasukkan cookies yang sudah dingin kedalam toples lalu memberikannya pada Iwang.


"Makasih, dek! Kamu memang jelmaan ibu!" ucap Iwang.


Tiba-tiba setitik air mata mengalir begitu saja ke pipi Iwang.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Hyuna khawatir.


"Kakak baik-baik aja kok! Kakak hanya kangen aja sama ibu!" ucap Iwang sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


"Yaudah kakak balik ke kamar kakak dulu ya! kalian jangan tidur larut malam!" ucap Iwang setelah mengisi botol minumnya.


"Iya kak!" sahut Hyuna dan Shaki.


Iwang pun keluar dari dapur. Tepat saat Iwang hendak menaiki tangga, dirinya dikejutkan dengan kehadiran Darel. Rupanya Darel mendengar semua percakapan Iwang, Hyuna dan Shaki tadi.


"Cepat naik lalu tidur ya! Ini sudah malam!" ucap Darel.


"Iya, yah! Selamat malam, ayah!" ucap Iwang.


"Malam!" jawab Darel.


Begitu Iwang telah menaiki tangga, Darel masih diam ditempatnya.

__ADS_1


"Aku juga sangat merindukanmu, sayang! Sangat-sangat rindu! Namun rinduku sedikit terobati dengan kehadiran Hyuna. Dia begitu mirip denganmu!" lirih Darel.


__ADS_2