
Iwang dan Ana sampai disebuah tempat. Tempat yang begitu sunyi. Mereka berjalan menuju gapura, bertuliskan "Pemakaman Umum Melati". Mereka melewati puluhan kuburan, hingga sampailah disebuah pusara.
"Hai, nek! maaf Iwang lama tidak kesini! ini Iwang bawakan bunga untuk nenek. Oh ya, hari ini Iwang datang bersama Ana lagi. Nenek ingat dengan Ana bukan? dia teman sekaligus sahabat Iwang!" cerita Iwang disamping pusara itu.
Itu adalah pusara neneknya. Iwang sering berkunjung kesini, entah sendirian atau bersama teman. Biasanya Darel juga adik-adik ikut kesini jika sedang tidak sibuk.
"Hai, nek! aku sudah berjanji sama nenek akan menjaga Iwang! Iwang sekarang sudah jadi idaman cewek-cewek kampus loh nek, tapi sayang, dia malah ditolak sama cewek incarannya!" ucap Ana.
Tidak banyak orang yang tahu mengenai kehidupan pribadi Iwang. Hanya Ana dan juga Hyuna lah yang mengetahui semuanya tentang Iwang. Iwang memang sempat ingin mengutarakan perasaannya kepada seorang gadis namun ditolak karena menurut si gadis Iwang terlalu kaku. Banyak yang berubah dari Iwang, contohnya saja sekarang ini dia jadi jarang tersenyum. Senyumnya itu hanya ditujukan untuk beberapa orang saja.
Ana memang sering diajak ke makam nenek Iwang. Waktu pertama kali diajak kesini waktu masih SMA, Ana berjanji akan selalu ada disamping Iwang, menemaninya karena Ana tahu sebenarnya Iwang kesepian.
"Ayo, kita pulang!" ajak Iwang.
"Nek, kami pulang dulu ya, kapan-kapan kami kesini lagi!" pamit Iwang.
Mereka pun berjalan menuju motor yang terparkir di depan.
********
Nakala terus memikirkan perkataan Lukas tadi. Hatinya bimbang sekarang. Apakah dia harus bersatu dengan Adi? Nakala sampai tidak fokus berjaga di pintu belakang bersama anak buah lain, termasuk Aqis anak buah Lukas.
"Eh, ayo kita kesana!!"
Terdengar keributan dari depan membuat Aqis dan Nakala kebingungan.
"Ada apa?" tanya Nakala.
"Tidak tahu! ayo kita lihat!" ajak Aqis.
Mereka pun berjalan ke rumah utama. Terlihat oleh mereka para anak buah yang berjaga berlarian ke luar rumah. Pakaian serba hitam itu menyita perhatian Aqis dan Nakala.
"Hai!!! ada apa? kenapa mereka pada lari-larian?" tanya Aqis setelah menghentikan salah satu anak buah yang ikut berlari.
"I....itu....t...tuan Adii!!!" ucap anak buah itu tergagap.
"Adi?!"
"Nakala tunggu!!!" teriak Aqis.
Nakala berlari secepat mungkin, entah mengapa jantungnya berdetak sangat kencang saat anak buah tadi mengatakan nama Adi. Nakala takut terjadi sesuatu terhadap Adi. Nakala tidak bisa membayangkan itu. Oh Tuhan!!! Nakala mohon!!! jangan ambil Adi-nya!!!
Nakala terus berlari. Dilihatnya anak buah Darel yang berlarian tadi berkerumun di persimpangan jalan. Mereka terlihat tengah mengelilingi sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang.
"Permisi!!! permisi!!" ucap Nakala saat melewati kerumunan orang itu.
Dapat dilihat olehnya sekilas sebuah kaki tergeletak dijalanan. Nakala semakin takut. Takut apa yang ada di pikirannya menjadi kenyataan.
"ADIIIIIII!!!!" teriak Nakala histeris.
Nakala dapat melihat dengan jelas sekarang. Pria yang begitu dicintai dengan hebat olehnya tergeletak lemah dengan darah dimana-mana. Nakala bersimpuh, memposisikan kepala Adi berada di pangkuannya. Dia menangis, berteriak seperti orang gila.
"ADI BANGUN ADIIIII!!!! BANGUNNN!!!" teriak Nakala.
"KENAPA KALIAN DIAM SAJA?! BAWA ADI KE RUMAH SAKITTT!!!" teriak Nakala pada anak buah Darel yang berkerumun.
__ADS_1
Tidak ada dari mereka yang bergerak sedikitpun. Nakala terus menangis sambil memegang kepala Adi yang berada di pangkuannya. Tidak dia hiraukan tubuhnya kini berlumuran darah milik Adi.
"Adi jangan pergi!!! aku mohon!!! jangan tinggalkan akuuu!!!" tangis Nakala.
"Aku juga tersiksa dengan jarak ini, Adi! tapi setidaknya aku bisa melihatmu!! aku bisa memandangmu walau dari jauh. Jangan jauhkan aku lebih dari itu, Adi!!!! ku tidak akan sanggup!!!" ucap Nakala dengan derai air mata.
Nakala takut. Adi sama sekali tidak meresponnya. Matanya yang tetap setia terpejam membuat Nakala semakin takut.
"Adi, ku mohon! jangan tinggalkan aku!!!!" isak Nakala.
"KENAPA KALIAN BERDIAM DIRI DAN MENONTON SAJA?!!! CEPAT TELFON AMBULANCE!!!!" teriak Nakala pada anak buah Darel yang masih menatap kearahnya seolah mendapat tontonan gratis.
Nakala menatap tajam sekelilingnya. Seolah siap mengibarkan bendera perang jika hal buruk terjadi pada kekasihnya.
"Miguela....." lirih Adi.
"Adi!!! syukurlah kamu sadar, Adi!!! jangan banyak bicara dulu ya!! kita ke rumah sakit!" ucap Nakala.
Nakala takut Adi kehabisan energi sebelum sampai dirumah sakit.
"Miguela...." lirih Adi lagi.
"Sstttt!!! jangan bicara lagi Adi, kau harus menghemat energi mu!" ucap Nakala.
Adi mengusap air mata yang mengalir ke pipi Nakala. Nakala semakin menangis karenanya.
"M... Miguela....mau...kah.....k...kau...menikah......dengan....ku...." tanya Adi terbata.
"Ya!!! aku mau, Adi!!!! aku mau menikah dengan mu!!!! aku mau menua bersamamu! memiliki banyak anak denganmu!!! aku mau cintaku berakhir padamu!!!!" jawab Nakala spontan.
Duarrrr.....
Nakala terkejut. Dia bengong, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi saat ini.
"Hai, sayang!" panggil Adi.
Nakala syok saat Adi tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Suaranya juga tidak selemah tadi. Apa mungkin Adi mengerjainya? pikir Nakala.
"A... Adi...apa maksud semua ini?!" tanya Nakala masih kebingungan menatap semuanya lalu menatap ke arah Adi.
"Biar aku ceritakan, sayangkuuu...." ucap Adi membuat jantung Nakala berdetak tidak karuan.
# FLASHBACK ON #
Pagi itu, setelah kepergian Nakala dari kamar Adi. Adi langsung terduduk dari tidurnya.
"Kamu mendengarnya bukan?" tanya Lukas.
"Ya!" jawab Adi singkat.
"Menurutmu, apa dia akan takluk dengan cinta kami, atau tetap kekeh dalam pendiriannya?" tanya Adi menatap nanar ke arah Lukas.
"Keyakinan ku tetap sama! dia akan luluh pada cintamu! binar matanya tidak bisa menipu. Cinta itu masih begitu besar untukmu!" ucap Lukas lagi.
Ya! binar itu masih bisa Adi lihat dari mata Nakala. Binar mata yang selalu dia rindukan. Nakala....kenapa begitu besar pengaruh mu dalam hidupku? bahkan aku rela mati jika kamu memutuskan untuk pergi! batin Adi saat itu.
__ADS_1
"Adi, kau dipanggil ke ruangan tuan!" ucap Harri.
Harri mendengar semuanya. Dia sudah berulang kali berbicara dari hati ke hati dengan Nakala untuk memberikan kesempatan pada cintanya dengan Adi namun sia-sia. Sebagai rekan Adi, Harri juga pasti ingin yang terbaik untuk sahabatnya ini. Hari berdoa agar Adi juga mendapatkan kebahagiannya sama seperti dirinya. Dan bahagia itu ada pada Nakala. Gadis yang tidak terlalu Harri tahu asalnya namun berhasil memiliki tahta tertinggi dalam hati Adi.
Adi pun berjalan menuju ke ruangan Darel. Langkahnya seperti tidak terjadi apa-apa padanya walau sebenarnya dia masih belum sembuh total.
Setelah mengetuk pintu ruangan Darel sebanyak tiga kali, barulah Darel menyuruhnya untuk masuk.
"Apa ada tugas untuk saya tuan?" tanya Adi saat dia telah berdiri dihadapan Darel.
"Ada!" jawab Darel.
"Apa perintah anda, tuan?" tanya Adi.
Jujur, Adi merasa takut jika dia gagal menjalankan tugas kali ini karena pikirannya yang tengah kacau meski dia belum tahu apa tugas yang hendak Darel berikan padanya.
"Adi, kau telah menemaniku semenjak kau menginjak remaja. Kau menemani suka duka, bahagia dan lara ku! kini kau pun juga telah melihatnya, aku telah bahagia dengan putra dan putriku meski tanpa Mentari disisiku." ucap Darel.
Adi terdiam cukup lama.
"Tuan, apa maksud tuan? saya tidak mengerti!" tanya Adi.
"Adi!" Darel berdiri dari duduknya menghampiri Adi yang menatapnya bingung.
"Kini, sudah saatnya untukmu berbahagia juga! kejarlah bahagiamu, aku memberimu restu!" ucap Darel sembari menepuk pelan pundak Adi.
Senyum tulus di bibir Darel membuat Adi tersenyum haru. Entahlah, dia menangis begitu saja dihadapan pria yang telah dia abdikan hidupnya selama ini.
"Tuan..." panggil Adi dengan air mata bahagianya.
"Aku tahu kisahmu bersama Nakala! kejarlah dia! sejatinya wanita ingin diperjuangkan! buktikan padanya bahwa cintamu jauh lebih besar dari apapun ketakutannya! buktikan padanya bahwa kau lah nahkoda yang telah lama dia tunggu untuk mengarungi bahtera bersama!" ucap Darel.
"Tuan!!! terimakasih!!! terimakasih banyak, tuan!!" ucap Adi.
"Kau juga perlu bahagia, Adi! lihatlah, Lukas dan Harri bahkan sudah menemukan tambatan hatinya. Kini giliran dirimu! katakan jika kau butuh bantuan, aku akan selalu sedia untukmu!" ucap Darel.
# FLASHBACK OFF #
"begitu ceritanya!" ucap Adi mengakhiri ceritanya.
"Aku meminta tuan Darel untuk membuat scenario ini, agar kau mau mengungkapkan isi hatimu! dan yaa!!! ini berhasil!!" ucap Adi gembira.
"Kau jahat, Adi!!! kau membohongi ku!!! aku tidak suka kau bermain-main dengan keselamatanmu!!! jangan sentuh aku!!! lepas!!!" teriak Nakala.
Adi ingin memeluk Nakala namun gadis itu terus saja menolaknya. Hingga tiba-tiba....
"Miguela....Will you marry me?!" tanya Adi sembari berlutut dengan sebuah cincin ditangannya.
Entah kapan cincin itu dibawanya, yang jelas saat ini dia tengah memegangnya. Nakala terharu. Mungkin inilah saatnya untuk memberi kesempatan pada cintanya. Nakala menyerah pada hatinya, dia kalah pada cintanya.
"Yes!! I Will!!" ucap Nakala mantap.
Semua anak buah Darel bersorak bahagia. Salah satu orang kepercayaan Darel telah menemukan pasangannya meski sebenarnya banyak dari mereka yang masih jomblo wkwkwk.
Adi memasangkan cincinnya ke jari manis milik Nakala. Pas. Cincin itu tampak indah saat berada di jari Nakala. Nakala menangis bahagia. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi untuk mengungkapkan perasaannya saat ini. Dia pun memeluk Adi dengan begitu eratnya seolah tiada lagi hari esok untuk melakukannya.
__ADS_1
"I love you, Adi!!" ucap Nakala lirih tepat disamping telinga Adi sembari memeluknya.
"I love you more, Miguela!" balas Adi.