
Dirumah Surti. Rumah minimalis berlantai dua itu hanya ditinggali oleh tiga orang saja yaitu Abdul, Surti, dan Aziz yang masih kuliah semester dua jurusan hukum. Surti selalu membangga-banggakan jurusan anaknya itu ke para tetangga. Tidak lupa juga beberapa perhiasan emas yang selalu dia pamerkan kepada tetangga walaupun aslinya perhiasan itu hanyalah imitasi saja dengan harga kurang dari seratus ribu rupiah.
Memang Surti memiliki perhiasan asli, tapi hanya berupa dua cincin emas, tiga gelang emas dan satu kalung emas yang harganya juga tidak seberapa. Sebelum ini juga Surti selalu membanggakan pekerjaan suaminya yang bekerja di salah satu kantor cabang perusahaan Sanjaya Group sebagai office boy dengan gaji lima juta perbulan.
Tentu saja uang itu masih kurang mengingat gaya hidup Surti yang terbilang mengedepankan gengsi itu.
"Mas, gimana nih kalau kamu dipecat dari perusahaan itu? secara dimana lagi kamu bisa dapat kerja dengan gaji lima juta?" ucap Surti bimbang.
"Duhh, aku juga pusing ini mikirnyaa!! kamu sih pakai acara fitnah si Tari segala! kan yang repot jadi kita juga sekarang!!" omel Abdul.
Kepalanya sangat pusing sekarang karena telah dipecat oleh pemilik perusahaan Sanjaya Group. Kemana lagi dia harus mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari yang besar itu? belum lagi uang untuk kebutuhan kuliah Aziz yang lebih dari satu juta rupiah sendiri.
"Eh, mas! gimana kalau kita bujuk Tari biar masukin kamu lagi ke perusahaan itu! kalau bisa yang jabatannya bagus biar gajinya juga lebih besar! tuh anak kan gampang di bodohin dari dulu!!" ucap Surti memberi ide.
"Tapi...."
"Ihh, tapi apa sih mas? Tari pasti bakal mau kok!! kita temuin dia pas sendiri saja! soalnya kalau pas dia lagi sama pak Darel pasti langsung diusir kita!" ucap Surti.
"Hemm, kita pikirkan ajalah nanti!" ucap Abdul lalu pergi menuju kamar.
"Biar aja! aku sendiri yang bakal nemuin Tari dan minta buat memasukkan kamu lagi ke perusahaan itu! lagian sudah kepalang tanggung aku bicara sama tetangga kalau kamu itu kerja di perusahaan ternama di Indonesia masa sekarang malah dipecat! kan malu aku nanti!!" ucap Surti lirih.
Dari wajahnya terlihat senyum penuh arti. Dia tengah merencanakan sesuatu didalam otaknya itu. Yang jelas dia tidak akan membuat Mentari tenang selamanya.
********
Persiapan sudah hampir selesai. Kue ulang tahun juga sudah dihias dengan sangat cantik dengan buah strawberry dan anggur sebagai pemanis kue itu.
"Ayo, kita bersiap-siap! habis maghrib kita rayakan ulang tahunku ini!" ucap tuan Ardi.
Mereka semua masuk ke dalam kamar masing-masing, mandi lalu bersiap untuk pesta kecil-kecilan itu.
"Selamat ulang tahunn papa..... omm......besann....." ucap mereka bersamaan.
"Wahh terimakasih... terimakasih!!!" ucap tuan Ardi.
Randita, Juna, dan Darel membawa kue yang cukup besar itu dari dalam rumah lalu meletakkannya di atas meja tepat di tengah-tengah hidangan lain.
"Hemmm, kelihatannya lezatt!!" ucap tuan Ardi ngiler.
"Tiup lilinnya....tiup lilinnya....tiup lilinnya sekarang juga....sekarang....jugaa...sekarang...jugaa!!!" nyanyi semua orang.
"Hufftttt!!!!" tuan Ardi meniup lilin dengan angka sesuai umurnya hari ini setelah mengucapkan keinginannya didalam hati.
"Yeeeee!!!! horeee!!!" sorak semua orang.
__ADS_1
"Potongan pertama ini untuk istriku terrcintaa!!" ucap tuan Ardi memberikan potongan kue pertama kepada istrinya.
"Terimakasih, pa!" ucap nyonya Ardi mencium pipi suaminya dengan mesra.
"Ini untuk putri pertamaku dan menantu pertamaku!!" ucap tuan Ardi memberikan potongan ke dua untuk Randita dan Rangga.
"Terimakasih, papa! ini kado untuk papa!" ucap Randita sembari memberikan sebuah kado.
"Terimakasih sayangg!!" ucap tuan Ardi menerima kado dari putri dan menantunya.
"Ini untuk, Darel dan juga Mentari!!" ucap tuan Ardi memberikan potongan ketiga untuk mereka.
"Terimakasih, pa! ini kado spesial untuk papa!" ucap Darel memberikan kado yang sangat besar.
"Wahhh apa ini isinya?!" ucap tuan Ardi penasaran ingin membuka kado itu.
"Eittt!!! bagikan dulu kuenya! baru dibuka!" peringati Darel kepada papanya.
"Cih, dasar anak durhaka!!" dengus tuan Ardi kesal.
"Durhaka-durhaka gini kadonya paling istimewa lohh!!" bangga Darel membuat Mentari tersenyum malu.
"Benar, Tari?" tanya tuan Ardi yang dibalas anggukan kepala oleh Mentari.
"Oke!! selanjutnya untuk putra sulungku yang masih jomblo ini!! semoga setelah ini segera mendapatkan pasangan, aminnn!!" ucap tuan Ardi sembari memberikan potongan kue selanjutnya kepada Juna.
"Kamu nggak pengen apa kayak kakak-kakakmu? semuanya sudah punya pasangan! umurmu dengan Mentari itu kan sama, kenapa kamu tidak segera mencarikan papa menantu lagi? atau jangan-jangan kamu tidak laku yaa?!" omel tuan Ardi.
"Enak aja bilang aku yang ganteng ini nggak laku!! kalau aku mau, seribu wanita bakal ngantri buat dinikahi sama aku!! akunya aja yang nggak mau!" kilah Juna.
"Ahh, terserahlah!!" ucap tuan Ardi.
"Ini untuk kedua besanku!" ucap tuan Ardi memberikan potongan selanjutnya kepada mama dan papa Daniar.
"Terimakasih, tuan! ini kado dari kami! memang harganya tidak seberapa tapi saya membuatnya sendiri!" ucap mama Daniar memberikan sebuah kado kepada tuan Ardi.
"Sungguh?! boleh aku buka? aku sangat penasaran dengan kado dari besanku!" tanya tuan Ardi.
"Silahkan!" ucap papa Daniar.
Karena mendapatkan ijin dari orang tua Daniar, tuan Ardi dengan bersemangat membuka bungkusan kado itu.
"Sweater?!" ucap tuan Ardi yang telah membuka kado itu yang ternyata berisi sebuah sweater rajutan sendiri.
"Iyaa! kenakanlah!!" ucap mama Daniar.
__ADS_1
"Wahh, pas! sangat hangat! terimakasih, ini adalah kado berharga di ulang tahun saya ini!!" ucap tuan Ardi.
"Syukurlah kalau tuan suka!" ucap mama Daniar.
"Oh ya, ini untuk ketiga cucuku!! Andre, Iwang, dan Aryaa!" ucap tuan Ardi membagikan kue kepada tiga anak itu.
"Terimakasih kakek!" ucap Arya, Andre dan Iwang bersamaan.
"Yang lain silahkan ambil sendiri yaa!! saya mau membuka kado ini!!" ucap tuan Ardi.
Mereka mengambil sepotong kue secara bergantian lalu memberikan kado mereka kepada tuan Ardi. Setelah semuanya kebagian kue, tuan Ardi mulai membuka kado pertama. Kado yang sudah sangat menarik perhatian dirinya, yaitu kado dari Darel dan Mentari.
"Wahh, apa isinya ini?!" tanya tuan Ardi sambil mengguncangkan kado dari Darel.
"Buka...buka...buka...bukaa!!!" teriak semua orang.
Tuan Ardi mulai membaik bungkus kado itu.
Loh?!
Ada bungkusan lagi didalam kado itu. Darel hanya tersenyum tatkala mendapati tatapan tajam dari sang papa sedangkan semua orang semakin keras meneriaki dirinya untuk membuka kado itu. Berbungkus-bungkus kado telah dibuka tuan Ardi namun belum juga dia menemukan hadiahnya. Kado yang semula besar kini semakin lama semakin kecil.
"Heii, bocah tengik!! kau mau main-main yaa?! tidak ada ini isinya!!" kesal tuan Ardi karena sedari tadi belum menemukan hadiah spesial dari Darel.
"Buka terus aja!! nanti juga ketemu!! kalau langsung aku berikan nggak seru dongg!!!" ucap Darel santai.
"Awas saja ya kalau sampai ini nanti hadiahnya jelek! bahkan tidak ada isinya ku coret kau dari KK!!" ancam tuan Ardi.
"Silahkan!! setelah papa menemukan hadiahnya aku jamin papa akan tersenyum dengan sangat cerah secerah matahari!!" ucap Darel seolah menantang.
Ucapan Darel itu membuat tuan Ardi semakin penasaran dengan isi kado ini. Dia kembali membuka bungkusan kado itu dan lagi-lagi terdapat bungkusan lagi didalamnya. Tidak putus asa, tuan Ardi semakin mempercepat sobekannya pada bungkusan itu. Yang lain melihat berpuluh-puluh bungkusan yang membungkus kado Darel dan Mentari pun semakin bersemangat meneriaki tuan Ardi.
Srekk....
"Sudah ketemu!!! hadiahnya sudah ketemuuu!!!" teriak tuan Ardi girang saat melihat sobekan terakhir kado itu.
"Tapi kenapa tipis sekalii?! kau main-main yaa!!" keluh tuan Ardi.
"Lihat saja sendiri!" ucap Darel lalu merangkul pinggang istrinya dengan mesra.
Tuan Ardi memicingkan matanya menatap Darel lalu kembali menatap hadiahnya. Dibukanya lagi bungkusan itu dengan pelan-pelan.
Foto?! apa hadiahku sebuah foto?! tanya tuan Ardi yang melihat ujung hadiahnya seperti sebuah foto.
Srek...
__ADS_1
Bungkusan terakhir sudah dia buka memperlihatkan kado istimewanya.
"I....ini....b...benarkah?!" tanya tuan Ardi gemetaran menatap hadiahnya.