Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 13


__ADS_3

Mereka sudah berada didepan ruangan Bagas. Saat henda membuka pintu, mereka mendengar curhatan Bagas pada Angel.


"*Aku tahu kalau wanita jal*ng itu tidak baik untuk Darel, tapi Darel dengan bodohnya percaya padanya dan melupakan persahabatan kami*!"


Apa benar yang dikatakan Bagas? Pretty tidak sepolos yang aku pikirkan? tidak. Itu tidak mungkin! Pretty bilang dia masih perawan, belum berubah berhubungan dengan laki-laki lalu bagaimana bisa Bagas menyebutnya wanita pel***r?


Sebenarnya apa yang Bagas ketahui? kalau dia memang tahu sesuatu, kenapa dia menyembunyikan hal itu dari kami semua selama ini? batin Tomi.


Darel pun membuka pintu ruangan itu, dan mendapati dia pasang mata menatap kearahnya.


"Kau?!" Bagas berdiri.


"Jawab aku dengan jujur Bagas! apa yang kau ketahui tentang peristiwa itu?" Darel penasaran.


"Bukankah kau bilang tidak peduli lagi? kenapa kau menanyakan hal itu lagi?" sindir Bagas sinis.


"Gas, ayolah! kalau kau tahu sesuatu katakan saja! kami kesini untuk menyelidiki kasus itu lagi, dan kami yakin kau tahu sesuatu!" bujuk Tomi.


"Benar, Gas! kita ini sahabat! mungkin kami salah sangka selama ini, tapi sekarang kami mau menyelidikinya lebih dalam!" tambah Arul.


Jack dan Angel hanya diam, melihat keempat sahabat itu berdiskusi.


"Sepertinya ini akan sangat melelahkan,ya?" ucap Jack membuka obrolan sambil melipat tangannya didepan dan mata masih fokus kearah keempat sahabat itu.


Angel melihat kearah Jack, kemudian mengalihkan pandangannya lagi kedepan.


"Iya! aku rasa juga begitu!" ucap Angel menarik nafas panjang lalu dihembuskan.


********


"Hallo, nona!" sapa Harri memasuki ruangan Mentari.


"Harri bisakah kau memanggilku dengan nama saja? aku sedikit tidak nyaman mendengarnya! kau juga Adi?" ucap Mentari.


"Emm, baiklah non..eh Mentari!" hampir keceplosan.


Mentari hanya menggelengkan kepalanya.


Em, apa aku tanyakan saja ya pada mereka, mungkin mereka tau! batin Mentari.


"Apa ada yang ingin anda tanyakan, Mentari?" tanya Adi.


"Sebenarnya aku cuma penasaran, apa kalian tahu kenapa dokter Bagas terlihat sangat marah tadi? soalnya aku tahunya dia pergi dengan mu Harri, jadi aku pikir pasti ada sesuatu yang terjadi saat kalian pergi tadi?" jelas Mentari.

__ADS_1


Adi dan Harri saling memandang.


Memangnya apa yang dilakukan dokter Bagas? batin Adi.


Apa dokter Bagas melampiaskan amarahnya dirumah sakit ini? batin Harri.


"Kalian tahu tidak? jawab dong!" Mentari kesal karena diabaikan.


"Emmm, maafkan kami no... Mentari. Kami tidak bisa mengatakan hal ini, lebih baik kau tanyakan saja langsung pada dokter Bagas atau tuan Darel." ucap Adi.


Tuan Darel? apa hubungannya dia dengan dokter Bagas yang marah? apa mereka bertengkar?


"Ya sudahlah nanti aku tanya langsung pada mereka saja." ucap Mentari getir.


********


"Emmm sebaiknya aku beli yang ini? atau yang ini ya?" ucap Daniar bingung.


Daniar kini berada di toko buku "Mari Baca" langganannya bersama Mentari. Dia sedang memilih beberapa judul buku yang terlihat menarik.


Yang ini bagus sih, tapi kok ceritanya gini?tidak menarik! kalau yang satu ini lumayan sih! aku ambil sajalah! batin Daniar.


Ditangan Daniar sudah ada 4 buah bulu yang lumayan tebal. Dia pun menuju tempat pembayaran untuk membayar buku-bukunya.


Ada seseorang yang menabraknya dari samping.


"Maaf-maaf, aku tidak sengaja!" ucap orang itu membantu Daniar mengambil buku-bukunya.


"ini!" ucap laki-laki itu sambil memberikan 2 buah buku kepada Daniar.


Tampan sekali dia!


"Hei?! hallo!! hallo! apa kau baik-baik saja?" tanya laki-laki itu.


"Eh, iya! aku tidak apa-apa kok." mengambil bukunya dan berdiri.


"Perkenalkan namaku Frans, dan kau nona?" ucap Frans memperkenalkan dirinya.


"Aku Daniar, bisakah kau memanggilku dengan namaku saja?" ucap Daniar.


Dia sangat cantik.


"Ehem, tentu!" ucapnya sedikit canggung.

__ADS_1


"Oh ya, maafkan yang tadi ya, aku sedikit tidak fokus, hehehe!" menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak masalah, aku juga tidak fokus tadi!" tersenyum ramah.


Senyumannya sangat manis. Benar-benar wanita yang sempurna.


"Em, baiklah aku pergi dulu!" Daniar Henda berlalu kemudian dihentikan Frans.


"Bagaimana kalau aku saja yang bayar bukumu? sebagai permintaan maaf ku saja, tidak lebih!" bujuk Frans.


"Tidak, tidak usah. Aku...." terpotong.


"Ayolah, aku memaksamu!" Frans mengambil buku Daniar dari tangannya dan membawanya kekasir untuk dibayar.


Daniar hanya menggelengkan kepalanya. Dia ingin merebutnya lagi tapi Frans sudah berada di meja kasir dan membayarnya.


"Ini!" Frans memberikan buku Daniar padanya.


"Terimakasih! seharusnya kau tidak usah begini, aku bisa bayar sendiri kok!" ucap Daniar.


Daniar dan Frans berjalan keluar toko buku.


"Tidak apa-apa, kan aku yang memaksamu. Dan aku tidak suka dibantah. Jadi?"


Daniar menghentikan langkahnya, berbalik dan menatap wajah Frans.


"Jadi?" ucap Daniar mengernyitkan dahinya.


"Jadi bagaimana kalau kita makan malam?" tawar Frans.


To the point banget deh nih cowok! pasti bukan hanya aku yang dia ajak makan malam, dan mungkin semua cewek dia ajak makan malam.


"Bagaimana?" tanya Frans lagi.


"Aku pikir-pikir dulu ya, aku pergi dulu!" ucap Daniar berlalu meninggalkan Frans.


Daniar menghentikan sebuah taxi dan melaju meninggalkan toko buku.


Dia sangat berbeda dari cewek-cewek yang aku temui sebelumnya. Dia bahkan tidak tertarik pada ketampanan dan uangku. Aku sangat penasaran padanya.


Sebuah panggilan masuk diponsel Frans.


"Iya,Tante? oh oke, aku akan segera kesana!" ucap Frans mematikan sambungan telepon. Untuk sekejap dia masih menatap jalanan, kemudian berlalu meninggalkan toko buku itu juga.

__ADS_1


__ADS_2