
"Ma?" menatap mamanya.
"Sayang, papa punya janji hutang Budi pada temannya itu, karena papa, dia harus menjalani kehidupan yang keras ini sendirian. Jadi tolong ya, kamu mau dijodohin dengan dia, demi mama." ucap mama Darel memohon.
Darel yang meskipun bersikap dingin dan angkuh kepada orang lain, namun didepan mamanya dia tidak bisa menolak apapun keinginan mamanya itu.
"Ma, tolong jangan begitu. Bagaimana mungkin kalian menikahkan ku dengan wanita yang tidak aku kenal? ini tidak adil!" ucapnya kekeh tidak setuju.
"Papa lebih tau apa yang terbaik untuk mu!" ucap papanya datar.
Darel hanya menahan emosi. Ingin berteriak sekencang-kencangnya, ingin marah, ingin memukul dan melampiaskan kekesalannya.
"Sayang, mama mohon, kamu mau ya?" jurus yang selalu digunakan papanya, kelemahan terbesar Darel, mamanya.
Bagaimana mungkin dia menolak permintaan mamanya?
Aku menyukai orang lain! kenapa mesti mama yang dijadikan umpan agar aku mau? kenapa?
Darel tidak menjawab, dia langsung berlalu pergi.
Diluar rumah Harri, Adi dan beberapa pengawal sedang berbincang ketika mereka melihat Darel pergi dengan penuh amarah.
"Tuan?! tuan?!" panggil Harri dan Adi bersahutan.
Darel berlalu meninggalkan rumah utama dengan naik mobil miliknya meninggalkan Adi dan Harri yang masih mengejarnya sampai gerbang depan.
"Haahhhh....hhaaahhh... bagaimana ini, tuan sepertinya sangat marah, kita kemana sekarang?" tanya Harri ngos-ngosan.
"Bentar!" mengatur nafasnya.
"Kita ke bar tuan Arul!" kata Adi setelah pernafasannya kembali normal.
Adi hendak melangkah mencari taxi, namun terhenti dan melihat kearah Harri yang mematung ditempatnya berdiri.
"Woi! ayo! kalau tidak aku tinggal nih!" ucapnya.
"Eh, tunggu dulu nj*r!" menghampiri Adi.
Mereka berdua memberhentikan sebuah taxi yang melintas didepan rumah utama.
"Pak ke bar XXX jalan XXX ya, cepat!" ucap Adi setelah mereka memasuki taxi.
"Kenapa kita ke bar tuan Arul?" tanya Harri masih bingung.
"Haih kau ini!" menepuk dahinya sendiri.
Harri terlihat masih kebingungan.
"Apa kau lupa kalau tuan sedang marah atau frustasi dia pasti akan kesana. Dasar kau ini, makan saja yang ada di otak mu yang kecil itu!" ejek Adi.
__ADS_1
"Enak saja, aku hanya lupa saja. Jadi tidak ada hubungannya dengan otak ku ya!" jawab Harri sewot.
"Dasar cengeng!" ejek Adi lagi.
Harri tidak terima dikatai cengeng meskipun itu kebenaran. Sepanjang perjalanan mereka hanya melontarkan ejekan demi ejekan satu sama lain. Pak sopir hanya melihat tersenyum kearah mereka.
Mereka ini sudah dewasa tapi tingkah lakunya seperti anak-anak saja. Huhhh, jadi kangen anak-anak!
Untuk sekian menit mereka pun tertawa bersama, tidak ada ejekan yang keluar dari mulut keduanya, hanya tawa bahagia.
"Tuan, kita sudah sampai ditempat tujuan!" ucap pak sopir.
"Oh iya, ini uangnya pak. Kembaliannya bapak ambil saja." memberikan uang seratus ribuan 5 lembar.
"Alhamdulillah, terimakasih tuan!" ucap sopir itu kemudian Harri dan Adi turun.
"Hei, kalian sudah datang rupanya!" ucap Arul.
Arul juga merupakan salah satu sahabat Darel. Dia, Darel, Tomi, Zen,Bagas, dan Rohan sudah bersahabat sejak masuk SMP. Persahabatan mereka semakin kuat saat mereka dewasa, hingga pada akhirnya salah satu dari mereka membuat kesalahpahaman hingga membuatnya terpaksa meninggalkan keempat sahabatnya yang lain dan negara ini.
#Oh ya untuk tokoh Rohan dan Zen akan keluar di episode selanjutnya ya, jadi ikuti terus kelanjutan ceritanya😊
********
*Flashback on*
Citttt........
"Selamat sore tuan!" sapa anak buah Arul yang berjaga didepan bar.
Darel hanya melewatinya tanpa menatapnya dan membalas sapaannya.
Sepertinya mood tuan Darel sedang tidak bagus. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang memerah seperti ingin meledak! ucap anak buah itu.
"Berikan aku minuman biasa!" ucapnya pada bartender.
Karena sudah sering kemari, bartender itu tahu apa yang diinginkan Darel. dengan sigap dia mengambilkan sebotol bir.
Darel menghabiskan bir itu dalam satu tegukan.
Dia seperti Darel? kenapa dia minum seperti itu? apa dia sedang frustrasi? tanya Arul yang melihat sahabatnya meminum bir dengan sekali teguk.
"Hei, ada apa ini? kenapa kau minum seperti ini?" tanya Arul mengambil bir sari tangan Darel.
Brukkkkkk......
"Berikan bir itu kalau kau masih sayang nyawa mu!" bentak Darel tidak suka.
"Baiklah-baiklah, ini!" memberikan lagi minumannya.
__ADS_1
Sudah kuduga dia sedang ada masalah! jika tidak, tidak mungkin dia minum seperti ini seperti orang sedang kesetanan! upss.. emang dia setan kan hahahaha, tidak-tidak dia bukan setan, tapi iblis hahahahaha.... batin Arul.
"Apa kau belum puas aku pukul, ha? jangan berani membicarakan ku ya!" ucap Darel setengah sadar.
Cih, dia sedang mabuk juga masih saja tau apa yang aku pikirkan! dasar tuan muda es!
*Flashback off*
Adi dan Harri mendengar cerita Arul dengan seksama.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?" tanya Arul setelah selesai bercerita.
"Saya juga tidak tau tuan, mood tuan jadi begini setelah bicara dengan tuan dan nyonya besar." ucap Adi.
Harri hanya mengangguk membenarkan ucapan Adi.
"Om dan tante? kenapa?" ucap Arul lirih.
"Kami juga tidak tahu tuan, saat tuan Darel keluar rumah dia sudah kesal begini!" ucap Harri jujur.
Mereka bertiga menatap Darel yang sudah tertidur pulas dan disampingnya sudah ada kira-kira 16 botol kosong dan 1 botol hampir habis berada digenggaman Darel.
Sepertinya ini bukan masalah yang biasa, sampai-sampai dia minum sebanyak ini! batin Arul menerka.
"Baiklah biarkan dia tidur disini malam ini, kalian bawa dia ke kamarnya saja!" perintah Arul.
Adi dan Harri menuruti perintah Arul, membawa tubuh Darel yang sudah penuh dengan aroma minuman ke kamarnya dilantai atas.
Sahabat Arul memang memiliki kamar sendiri di bar itu. Bahkan dulu tempat itu mereka jadikan basecamp. Mereka juga sering tidur dikamar lantai 2 itu, sedangkan lantai satu mereka jadikan tempat cerita, curhat, bahkan mabuk bersama.
********
"Dokter Angel, apa luka saya belum sembuh?" tanya Mentari memegang perutnya yang terkena pisau.
"Hahaha, belum nona, luka ini masih basah. Jadi butuh waktu agar bisa sembuh total. Lagian ini baru beberapa jam anda dirawat disini, masa sudah tidak betah?" jawab Angel sedikit meledek.
"Oh masih lama ya. Saya ingin cepat-cepat pulang, saya tidak betah disini, baunya obat!" ucap Mentari jujur.
Hal itu membuat seisi ruangan tertawa lucu, bahkan Bagas.
"Nona-nona, ya jelas lah baunya obat, kan ini rumah sakit, kalau baunya makanan enak itu namanya restoran, hahahhaha!" ucap Bagas tertawa lepas.
"Loh, apanya yang salah. Emang bener kok!" ucap Mentari polos.
"Begini saja nona, kalau kesehatan anda membaik dalam 3 hari saya akan ijinkan anda rawat jalan bagaimana?" tawar Bagas.
"Baiklah aku setuju!" Mentari bersemangat.
"Sekarang anda istirahat saja dulu,nona!" ucap Angel.
__ADS_1
Mentari mengikuti perintah Angel, dia juga tidak betah lama-lama dirumah sakit.