
Darel yang terus uring-uringan dikantor membuat karyawan merasa takut dan bingung dengan sikap tuan mudanya ini, termasuk Wisnu.
Banyak simpang siur yang mengaitkan kemarahan Darel ini dengan tidak mendapatkannya jatah Dari istrinya, Mentari.
"Eh, tadi bagian keuangan disemprot lagi loh sama tuan muda!" ucap seorang karyawan wanita pada rekannya saat di pantry.
"Ah, masa? duh kayaknya udah ke tiga ini deh bagian keuangan kena marah sama tuan muda, kenapa ya?" tanya rekan wanita itu.
"Kata anak-anak lain sih tuan muda nggak dikasih jatah semalam makanya dilampiaskan sama kita." ucap wanita itu sambil berbisik.
"Apa yang kalian lakukan ha!" ucap Wisnu yang mendengar obrolan dua karyawan itu.
Dua karyawan wanita itu langsung gugup dengan kedatangan Wisnu yang tidak mereka sadari.
"Ma..maaf tuan Wisnu, kami....kami cuma ini...emmm...anu...itu ...!" ucap kedua wanita itu gelagapan.
Wisnu yang sibuk dengan proposal barunya memilih untuk ke pantry untuk membuat secangkir kopi panas, namun tidak terduga dia malah mendengar perkataan yang mengotori telinganya.
"Keluarlah!" bentak Wisnu dengan wajah memerah karena emosi.
Baru kali ini Wisnu terlihat semarah itu, membuat dua karyawan wanita pun segera meninggalkan pantry.
"Ingat, jangan sampai aku dengar hal ini lagi jika tidak kalian tanggung sendiri akibatnya!" ancam Wisnu sebelum dua karyawan itu pergi.
"I...iya tuan, permisi!" ucap kedua karyawan bersamaan lalu berlari pergi.
Ada-ada aja, masa iya cuma gara-gara tidak dikasih jatah bisa marah-marah gitu? apa mungkin mereka sedang bertengkar ya? batin Wisnu.
********
Mentari kembali kerumah saat menjelang jam makan malam. Dia langsung menuju kekamarnya setelah bertanya pada pelayan mengenai keberadaan Darel.
"Huuhhh, kenapa sih itu orang? aneh banget. Kadang baik kadang jahat. Kadang sombong kadang menyedihkan. Kadang lembut, kadang kasar. Dan sekarang malah marah-marah nggak jelas! dasar cowok nyebelin...nyebelin ..nyebelin......!" ucap Mentari sambil meremas dan memukul guling seolah guling itu adalah Darel.
__ADS_1
Karena badannya gatal dan berkeringat, Mentari pun lekas mandi dan bersiap untuk makan malam.
Saat dimeja makan Mentari celingukan, tidak melihat Darel yang dia pikir akan pulang untuk makan malam.
"Mbok Tini, apa Darel belum pulang?" tanya Mentari pada mbok Tini.
"Enggak nona, tadi tuan Adi menelpon kalau tuan tidak pulang malam ini." jawab mbok Tini.
Nggak pulang? terus mau tidur dimana? kenapa sih sama tuh orang? batin Mentari.
Mentari pun terpaksa makan malam sendiri lagi. Setelah mengambil makanan untuknya, Mentari menyuruh pelayan untuk membawa kembali makanan itu dan dinikmati bersama dengan yang lain.
********
Disisi lain Darel...
Darel saat ini sedang berada dibar untuk bertemu dengan anak buah pimpinan kelompok, Yudha, Sandra, Margaretha, Dan Iyan.
Keempat pimpinan kelompok itu merasa bingung dengan pertemuan mendadak dan rahasia yang diadakan Darel, terlebih dua pimpinan kelompok yaitu Erik dan Ozan tidak diikut sertakan dalam pertemuan ini.
"Benar tuan!" ucap keempat pimpinan kelompok itu serentak.
Darel menyunggingkan senyumnya.
"Apa kalian tidak merasakan hawa penghianat didalam kelompok kita?" tanya Darel sambil menyenderkan bahunya dikursi.
Keempat pimpinan kelompok itu saling menatap. Mungkinkah yang dimaksud pengianat oleh Darel adalah Erik dan Ozan? batin mereka berempat.
"Yah, kalian benar! Erik dan Ozan sudah menghianati kelompok kita. Mereka menjual obat-obatan terlarang dan barang-barang yang aku larang untuk mereka jual. Dan bukan hanya sampai disitu, mereka juga sudah bersekutu dengan musuh bebuyutan kita, Drago Mark!" jelas Darel.
Ketiga pimpinan itu terkejut. Namun ada seorang yang tidak terkejut, dia adalah Iyan.
"Sudah kuduga!" ucap Iyang yang sontak membuat semua mata tertuju kepadanya.
__ADS_1
Iyan memang menyuruh Yoga untuk mengawasi Erik dan Ozan beserta kelompoknya, namun tidak disangka mereka juga bersekutu dengan Drago Mark.
"Kau sudah tahu hal ini, Iyan?" tanya Sandra.
Iyan menatap semua mata yang tertuju padanya satu-persatu seolah meminta jawaban dari perkataan Iyan tadi.
"Mungkin sebaiknya hari ini aku beritahu kalian!" ucap Iyan.
Iyan langsung menekan nomor diponselnya dan menelepon seseorang. Tidak lama kemudian ada suara ketukan pintu, Harri membuka pintu dan Yoga sudah berdiri dibalik pintu membawa sebuah koper.
Yoga pun masuk, dan menunjukkan isi koper itu dimana itu adalah bukti penghianatan Erik dan Ozan. Meskipun tahu kalau Erik dan Ozan berkhianat, Iyan tidak mengetahui kalau mereka juga bersekutu dengan Drago Mark, dia pun menyayangkan hal itu.
"Apa ini?" tanya Darel yang melihat foto-foto Erik dan Ozan yang tengah bertransaksi ilegal.
"Ini bukti yang sudah saya kumpulkan sejak terakhir kita berkumpul dua bulan yang lalu tuan! saya sudah curiga pada Ozan sejak lama, namun saya malah juga menemukan bukti lain yaitu keterlibatan Erik disini." ucap Iyan.
Ketiga pimpinan kelompok lain ikut melihat isi koper yang dibawa Yoga.
"Lalu apa langkah kita selanjutnya tuan?" tanya Yudha.
"Pertanyaan bagus, Yudha! besok aku akan pergi ke Paris, kalian awasi pergerakan mereka bertiga jangan sampai ada kekacauan saat aku pergi selama seminggu nanti!" ucap Darel.
"Bertiga?" tanya Sandra.
"Ckckck, Erik, Ozan, dan Drago Mark! itu saja tidak tahu!" ejek Yudha.
"Enak aja kamu ya! mau belatiku menusuk jantungmu ini ha?" Sandra sudah mengacungkan belati kesayangannya kearah dada Yudha.
"Sudah-sudah, kalian ikuti saja perintahku, jangan membuat Erik dan Ozan curiga pada kalian. Dan kau Iyan! mereka pasti sudah curiga padamu, jadi hentikan investigasi mu terhadap mereka!" ucap Darel menatap Iyan tajam.
"Baik tuan!" ucap keempat pimpinan kelompok serentak.
Setelah berbincang cukup lama mereka akhirnya mabuk bersama. Darel meminta Adi untuk menyiapkan seorang wanita untuknya.
__ADS_1
Darel diservis oleh kupu-kupu malam selama semalaman penuh. Keringat dan erangan keluar dari mulut wanita pe****r itu. Namun lain halnya dengan Darel, meski dia sudah keluar beberapa kali, namun pikirannya tetap tertuju kepada Mentari hingga membuatnya menyudahi permainan saat menjelang pagi.
Sialll! dia tidak bisa membuatku tenang! kenapa aku terus membayangkan dia, sialll!!! apa mungkin aku sudah...? batin Darel.