
"Iya sih, tapi kalau keseringan pusing juga liatnya! mana ujung-ujungnya pada ngadu sama aku, aku kan jadi bingung mau memihak ke siapa! kalau memihak kakakku, pacarku yang ngambek, kalau memihak pacarku, kakakku yang ngambek!! duhhh pusing deh pokoknya!" ucap Shiren curhat.
"Hahaha, lucu sekali ya mereka!" ucap Anisa tertawa hingga menangis.
"Sayang, baby Brian nangis nih, kayaknya haus deh!" ucap Arul yang datang sambil menggendong baby Brian yang tengah menangis.
"Duh, tanganku kotor nih, kamu aja ya yang susuin!" ucap Anisa.
"Aku?! mana bisa aku menyusui, sayang!" ucap Arul bingung.
"Ishhh, bukan gituu! itu ada ASI di dalam tas, kamu taroh di botol terus minumin ke baby Brian!" ucap Anisa.
"Oh yang aku kira susu itu?" tanya Arul.
"Hemm!! tapi jangan kamu minum yaa! itu buat Brian! aku cuma bawa sedikit soalnya!" ucap Anisa memperingati.
"Ya....yaaa!!" ucap Arul lalu pergi.
"Emangnya kenapa kok nggak boleh diminum suamimu?" tanya Shiren penasaran.
"Jadi tuh gini, kemarin dia bilang haus terus aku bilang ambil aja sendiri di kulkas. Nah kulkas dirumah kan ada tiga, yang satu khusus buat buah-buahan, yang satu buat sayuran sama daging, dan satu lagi buat stok susu ASI baby Brian. Nah mungkin dia lupa atau bagaimana bisa-bisanya dia buka kulkas yang isinya stok susu, diambillah sama dia."
"Hahahaaa...terus....terus?! kamu tahunya gimana?" tanya Shiren mulai mengerti alur cerita Anisa.
"Yah, karena baby Brian haus dan di botol habis akhirnya aku mau ngambil di kulkas. Pas sampek sana aku kaget dong liat Arul minum ASI Brian, aku tanya dong. "kamu ngapain disini?". Terus dia jawab "Minum! eh ini minuman apa sih sayang, kok aneh banget rasanya? tawar?!"."
"Terus...terus?"
"Ya aku saat itu tepuk jidat aja nggak tau lagi kau ngomong apa saking gemesnya sama dia! habis itu aku bilang deh kalau itu stok ASI buat anaknya, ehhh malah dimuntahin sama dia, hahahaaa!!!"
"Emangnya dia nggak berasa yaaa? bukannya tiap hari emm...." ucap Shiren memainkan alisnya.
"Nggak! dia nggak nyentuh itu selama aku menyusui! soalnya Brian suka bangun kalau papanya pegang-pegang sumber makanannya, hahahaa!" ucap Anisa tertawa.
"Duhh kasiannn!!! tapi lucu sih, heheheee!" ucap Shiren yang ikut tertawa.
Di sisi Mentari, dia dan mama Daniar tengah membuat beberapa kue favorit Daniar. Pie mangga dan brownies coklat. Mereka fokus pada tugas masing-masing. Daniar yang melihat semua orang sibuk juga ingin ikut membantu, tapi baru saja melangkah dari duduknya Zanu menghentikan dia.
"Mau kemana?" tanya Zanu yang berdiri di belakang Daniar.
"Ehh, aku mau....emmm..."
"Udah kamu duduk aja! lagian kata dokter kamu nggak boleh terlalu capek! ingat kandunganmu masih sangat muda, sayang!" ucap Zanu kembali membawa Daniar duduk.
"Tapi aku nggak enak sama yang lain! masa aku cuma duduk-duduk disini sedangkan mereka bekerja!" ucap Daniar.
"Kamu beneran mau bantu?" tanya Mentari.
"Iya-iya!" ucap Daniar bersemangat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau begitu kamu bantu aku habisin ini yaaa!" ucap Mentari sambil memberi semangkuk sambal mangga muda.
"Kamu kok tau sih aku pengen makan ini?" tanya Daniar yang sudah ngiler melihat sambal mangga itu.
"Kau ini sahabatmu! jadi aku tahu apa yang kamu mau!" ucap Mentari.
"Tapi Tari, Daniar kan...." ucap Zanu terpotong.
"Tidak pedas kok! aku hanya pakai satu cabai saja! kamu tenang aja!" ucap Mentari.
"Syukurlah! terimakasih, Tari!" ucap Zanu.
"Emmm....enak bangettt!!!! tangan kamu emang ajaib banget deh, Tari! semua makanan yang kamu buat selalu enakkk!!!" ucap Daniar terus melahap sambal mangga muda.
"Hahaha, kamu bisa aja! ya sudah habiskan ya! aku mau buat kue kesukaan kamu nih!" ucap Daniar.
__ADS_1
"Brownies?" tanya Daniar dengan mata berbinar.
"Iya dong!!"
"Hiks....hiks...hiks..."
"Loh, kamu kenapa nangis, Niar? sambalnya nggak enak yaa? atau kepedesan? hah?" tanya Mentari panik.
"Sayang kenapa nangis? ada yang sakit? bilang sama aku apanya yang sakit?" tanya Zanu ikut panik.
Semua orang yang melihat Daniar tiba-tiba menangis menjadi berkumpul karena khawatir.
"Aku....aku....kalian kenapa baik sekaliiii!!!!" ucap Daniar terus menangis.
"Ohhhh...." ucap semua orang lega.
Mereka pikir terjadi sesuatu kepada Daniar makanya mereka panik dan langsung berkerumun di dekatnya.
"Kami kan sayang sama kamu! juga calon keponakanku ini!!!" ucap Mentari mengelus perut Daniar yang masih rata.
"Ya sudah jangan nangis lagi! nanti kalau brownies nya udah mateng aku kasih kamu coba yaa!" hibur Mentari.
"Janji yaa!" ucap Daniar dengan suara yang masih menangis.
"Iyaaa, janji!" ucap Mentari tersenyum tulus.
"Oke deh!! makasih ya Tari!!!" ucap Daniar kembali ceria sambil memeluk Mentari.
"Wanita hamil cenderung hormonnya berubah-ubah. Jadi kamu harus sabar saja menghadapinya, karena ini belum seberapa!" bisik papa Daniar kepada Zanu.
"I...iya, pa!" ucap Zanu.
********
"Selamat atas kehamilan Daniar, bu besann!!!" ucap nyonya Ardi mengulurkan tangannya hendak memeluk mama Daniar.
"Terimakasih sudah datang! ayo-ayo silahkan!" ucap mama Daniar.
Mereka semua mulai duduk di kursi masing-masing.
"Minggir lo, ini tuh kursi guee!!" ucap Tomi berebut kursi yang berada didekat Shiren.
"Apa sih orang gue dulu yang pegang! lo aja sana yang minggir!" ucap Jo tidak mau kalah.
"Gue yang liat dulu! lo aja sana yang minggir, ini tempat gueee!!!" ucap Tomi masih kekeh mempertahankan kursi itu.
Semua yang melihat adegan berebut kursi itu pun menahan tawa, sedangkan Shiren hanya bisa menutup mukanya sambil menunduk karena malu oleh tingkah konyol kakak dan pacarnya itu.
"Gue kakaknya jadi gue yang harus duduk di dekat diaa!!" ucap Jo.
"Enak aja! gue lebih berhak duduk didekat dia karena dia calon istri guee!" ucap Tomi tidak mau kalah.
"Lo duduk di tempat lain aja sana, ngganggu banget!!!" ucap Jo kesal.
"Lo aja sana, tuh kursi masih banyak tuh! cari yang lain sana!" ucap Tomi.
"Sudahhhh!!! kalian ini yaaa. Sini!" ucap Shiren berdiri.
Shiren berdiri dari duduknya dan kembali duduk di kursi sampingnya sehingga kursi di samping kanan dan dirinya kosong.
"Dah, kalian duduk disini!" ucap Shiren.
"Gue dulu!!"
"Nggak gue dulu!! gue mau duduk di situuu!!!"
__ADS_1
Tomi dan Jo kembali berebut tempat duduk yang berada di sebelah kanan Shiren. Hingga akhirnya Tomi sudah berhasil menduduki kursi itu. Namun Jo tidak terima dan tetap berdebat dengan Tomi. Tomi yang tidak mau kehilangan tempat duduk ini berpegangan erat dengan kursi agar tidak bisa tergeser oleh Jo.
"Sudah lahhh!!! kan ini ada satu lagii! kakak duduk aja disini!" ucap Shiren mulai jengah.
"Huuuuu!!!!" ucap Jo menyoraki Tomi sebelum akhirnya dia berjalan menuju kursi di samping kiri Shiren.
"Wlekkkk!!!!" ledek Tomi sambil menarik matanya ke bawah lalu lidahnya dijulurkan hingga sukses membuat Jo kesal.
"Sudah-sudah! ayo kita makan!" ucap mama Daniar.
Mereka mulai menyantap berbagai hidangan yang tersedia di atas meja. Begitu pula dengan Shiren. Namun baru saja hendak meraih daging rendang, Tomi yang peka langsung mengambilkannya untuk kekasihnya itu.
"Makan yang banyak ya sayangg!!" ucap Tomi dibuat-buat semanis mungkin untuk memanas-manasi Jo.
"Cih! belagu!" cibir Jo.
Tidak mau kalah, Jo pun mengambil seekor lobster berukuran sedang lalu meletakkannya di atas piring Shiren.
"Makan yang banyak ya adikku!" ucap Jo sambil memainkan alisnya mengejek Tomi.
"Ini, kamu suka banget sama udang kan!" ucap Tomi mengambilkan beberapa udang yang besar.
Jo memainkan mimik wajahnya kesal melihat Tomi yang tidak mau kalah dengannya. Tidak kehabisan akal, Jo pun mengambilkan brownies yang sudah dipotong ke piring Shiren yang lain.
"Ini desert buat adikku tersayang!!" ucap Jo sambil meletakkan brownies ke piring Shiren.
"Ini Pie mangga buat calon istriku tersayangggg!" ucap Tomi mengambilkan pie mangga lalu meletakkannya disamping brownies.
Semua orang yang ada disana menyantap makanannya sambil melihat perseteruan calon kakak ipar dan calon adik ipar yang Cukup menghibur menurut mereka.
"Apa-apaan sih lo! ngikutin mulu dari tadi! Shiren mau makan brownies bukan pie! Shiren juga mau makan lobster bukan udang!" ucap Jo.
"Shiren tuh suka udang, dia nggak begitu suka lobster dod*l!" maki Tomi.
"Apa lo bilangg?!!!" ucap Jo berdiri dari duduknya.
"Apa mau bertarung lo!! sini gue ladenin!!" ucap Tomi ikut berdiri dari duduknya dengan gerakan hendak meninju.
"Sudahhh!!!" ucap Shiren menarik lengan Jo dan Tomi agar kembali duduk.
"Kita ini disini mau makan buat merayakan kehamilan Daniar! kenapa dari tadi ribut terus sih?" ucap Shiren memarahi kakak dan pacarnya.
Tomi dan Jo hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya mendengar Shiren memarahi mereka. Namun di detik berikutnya mata mereka saling beradu pandang. Jo mengisyaratkan melalui matanya bahwa Tomi lah yang salah dan sudah membuat adiknya marah. Begitu juga sebaliknya, Tomi melemparkan isyarat yang mengatakan bahwa semua itu ulah Jo sampai membuat Shiren marah.
"Dengar tidak!" ucap Shiren dipenghujung marahnya.
"Dengarrr!!" ucap Tomi dan Jo pasrah.
"Dah!" Shiren mengambil piringnya yang telah penuh dengan makanan yang diambil kakak dan pacarnya.
"Kakak makan rendang, sama udang aja yaaa!!! terus desert nya pie mangga! nah kakak makan itu!" ucap Shiren menyerahkan makanan itu dari piringnya ke piring Jo.
"Loh...loh...kok..." Jo hendak protes.
"Nggak usah protes!" ucap Shiren langsung memotong ucapan Jo membuat Jo kesal.
"Nah, untuk sayangkuu!! cintakuuu!!! kamu makan lobster sama desert brownies ini yaa!!! selamat makannn!!!" ucap Shiren menatap ke arah Tomi dan Jo secara bergantian.
"Terus kamu makan apa?" tanya Tomi.
"Aku? aku ambil aja sendiri!" ucap Shiren mengambil daging rendang secukupnya lalu ayam bakar dan beberapa udang besar.
"Ayo-ayo dimakan!" ucap Shiren mempersilahkan kakak dan pacarnya untuk makan.
Semua orang yang melihatnya hanya bisa menahan tawa. Sosok Tomi yang gagah dan kekar, dan Jo yang sangar bisa takluk oleh seorang wanita, yaitu Shiren.
__ADS_1