Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 138


__ADS_3

Pagi itu, Tomi sedang bergulat dengan alat dapur di apartemennya. Semalaman dia berada disini karena tidak tega meninggalkan Shiren sendirian apalagi Shiren masih takut jika saja Bram berhasil menemukannya disini. Akhirnya Tomi bermalam di kamarnya, dan Shiren dikamar sebelahnya.


"Selamat pagi! maaf aku telat bangun, harusnya aku yang menyiapkan ini." ucap Shiren baru bangun dan melihat Tomi sudah menata menu terakhir dimeja.


"Sudahlah, santai saja!" ucap Tomi.


"Ayo cobalah, dan katakan bagaimana rasanya!" ucap Tomi antusias.


Dengan semangat dia menyajikan berbagai menu yang dia buat pagi ini ke piring Shiren. Shiren pun mulai menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya. Begitu makanan itu masuk ke mulutnya, Shiren terdiam beberapa saat membuat Tomi berpikir bahwa makanannya tidak enak.


"Ada apa? makanannya tidak enak ya? kalau tidak enak tidak usah dimakan, aku buatkan yang lain ya?" ucap Tomi hendak membuang makanan itu.


Ketika hendak meraih piring makanan, tangan Tomi dihentikan oleh Shiren.


"Makanan ini sangat enak! aku bahkan kehabisan kata-kata untuk mengungkapkannya! " ucap Shiren tersenyum manis.


"Sungguh? kau tidak sedang berbohong kan?" tanya Tomi memastikan.


"Tentu saja, apa kau melihat aku sedang berbohong?" tanya Shiren menunjukkan ke arah wajahnya.


"Baiklah, ayo habiskan!"


"Oh iya, bagaimana lukamu semalam?" tanya Tomi lagi.


"Sudah agak mendingan kok, terimakasih ya! kamu sudah mau menolongku yang orang asing ini, bahkan mau menampungku di apartemenmu ini!" ucap Shiren tidak enak hati.


"Sudahlah, jangan dipikirkan itu. Lebih baik fokus saja pada kesembuhan mu dahulu. Untuk masalah Bram, biarkan aku yang mengurusnya!" ucap Tomi.


Suasana hening sesaat, hanya terdengar dentingan piring dan sendok dari keduanya.


"Tomi!" yang dipanggil menatap bingung.


"Aku takut!"


"Takut? kenapa?" tanya Tomi bingung.


"Kau sama sekali tidak mengenal Bram! dia bisa nekat melukai siapapun yang ikut campur urusannya. Aku tidak mau kau sampai terluka hanya karena aku." ucap Shiren.


Shiren masih berusaha menyadarkan Tomi bahwa Bram adalah orang yang berbahaya. Dan sebaiknya Tomi menjauh saja dari Shiren karena Shiren tidak mau orang sebaik Tomi terluka karena menolongnya.


"Aku mohon mengertilah, aku tidak bisa mengorbankan nyawa orang lain hanya untuk menyelamatkan nyawaku sendiri!" ucap Shiren masih berusaha memberi pengertian.


"Aku sudah berulang kali mengatakannya padamu bukan, dia sama sekali bukan tandinganku! jangankan satu, seribu Bram pun bisa aku kalahkan dengan mudah!" ucap Tomi sombong sekaligus menenangkan Shiren bahwa dia akan baik-baik saja.

__ADS_1


"Jika aku menyerah hanya karena aku takut kepadanya dan menyerahkan wanita tidak berdaya sepertimu kepadanya, bisa kau bayangkan betapa menjijikkannya diriku! aku menolongmu, itu adalah keputusanku dan akan tetap aku lakukan walaupun harus berhadapan dengan orang yang bernama Bram sekalipun!" ucap Tomi.


Shiren merasa tersentuh dengan kalimat Tomi. Baru kali ini ada pria yang melindungi wanita yang bahkan tidak dia kenal sepertinya. Sungguh sangat bahagia wanita yang menjadi pendamping Tomi nantinya.


"Sudahlah, jangan khawatirkan aku! makan saja sarapanku sekarang!" ucap Tomi sembari memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.


Shiren pun juga ikut menyantap masakan Tomi. Ada kagum bercampur bahagia karena dia masih bisa menemukan pria seperti Tomi.


********


Didalam perusahaan, Daniar kini berada di ruangan Wisnu. Ada berkas penting yang harus di tandatangani oleh Wisnu selaku orang kepercayaan Darel untuk mengatur perusahaan.


Banyak gosip miring beredar diantara karyawan. Mulai dari jarangnya Darel datang ke kantor karena sibuk berbulan madu, atau Darel yang memiliki bisnis lain diluar bisnis turun temurun ini, dan lain sebagainya. Namun nyatanya Darel memang enggan meneruskan bisnis perusahaan ini, itulah mengapa Darel tidak pernah datang ke perusahaan jika itu masih bisa dihandle Wisnu.


"Okey Daniar tugas kamu sangat bagus! selamat ya! tidak sia-sia kamu lembur selama beberapa hari ini!" ucap Wisnu.


"Ah, tidak juga kok pak! saya kan juga dibantu bu Nurul makanya bisa cepat selesai." ucap Daniar.


"Baiklah mulai sekarang kerjasama ini kamu yang handle ya!" ucap Wisnu.


"Wah, beneran pak?" tanya Daniar tidak percaya.


Wisnu membalas dengan anggukan mantap membuat Daniar semakin bersemangat.


"Bagaimana Daniar?" tanya Nurul


Nurul baru saja selesai membuatkan kopi untuknya dan juga Wisnu dan tidak sengaja bertemu Daniar yang tengah bergembira.


"Berhasil kak!!!" ucap Daniar gembira.


"Wahhh, selamat ya! kamu memang pantas mendapatkan kontrak kerjasama ini!" puji Nurul.


"Ah, kakak bisa aja! ini kan juga berkat bantuan dari kakak!" ucap Daniar.


"Alah, palingan juga dia nyogok!" sirik senior Daniar, Wanda.


"Ya, iya lah senior! apalagi kan Daniar punya dukungan dari teman tuan muda, tuan Zanu! pasti dia yang ngomong sama klien buat setuju sama rancangan Daniar!" ucap Santi, wanita penjilat yang mendekati Wanda hanya karena Wanda salah seorang senior ditempatnya.


"Apa-apaan sih! harusnya tuh kata-kata itu cocoknya sama senior! kan senior yang punya bakingan orang dalem, makanya klien senior mau-mau aja disuruh tanda tangan kontrak kerjasama, pdhl aslinya mah nggak tau bener apa enggak tuh file nya!" ucap Daniar membuat Wanda kalah telak.


"Kamu tuh ya! aku ini senior disini, harusnya kamu menghormati saya sebagai tetua di bagian ini!" ucap Wanda emosi.


Mendengar ucapan Wanda, Daniar justru berjalan mendekat kearah Wanda, menatapnya tajam.

__ADS_1


"Senioorrr!! kalau senior mau dihormati, senior juga harus menghormati orang lain dulu! karena untuk dihormati oleh orang lain itu tidak dengan cara meminta." berhenti sebentar.


"Kalau senior meminta saya untuk menghormati senior, itu tandanya senior sedang mengemis kepada saya. Senior bukan seorang pengemis kan??" ucap Daniar.


Wajah penuh amarah terlihat jelas diwajah Wanda saat ini. Ucapan Daniar padanya barusan bak panah yang mengenai tepat pada sasarannya. Menusuk begitu dalam hingga membuatnya terluka begitu parah.


Wanda pergi dengan amarah yang memuncak diikuti Santi. Tentu saja Wanda tidak akan melupakan penghinaan dirinya yang dilakukan oleh Daniar tadi. Wanda pasti akan membalas semua penghinaan yang dia dapatkan dari Daniar.


Sedangkan Daniar yang melihat seniornya itu berjalan menjauhinya dengan wajah merah padam merasa puas karena berhasil membungkam mulut lemes atasannya itu. Yah, Wanda memang dikenal lemes dan menyusahkan karyawan baru dibawahnya. Bahkan banyak karyawan yang bekerja dibagian yang sama dengan Wanda mengundurkan diri karena tidak tahan dengan sikap Wanda yang mengintimidasi mereka.


********


Darel dan Mentari sampai didepan mall itu. Decak kagum terus saja keluar dari mulut Mentari melihat kemegahan mall ini.


"Bolehkah aku melihat-lihat mall ini? boleh ya, boleh yaa!!!" bujuk Mentari.


"Tidak! kau harus selalu di sampingku, tidak boleh kemana-mana!" ucap Darel tegas.


Darel melakukan itu karena khawatir akan keselamatan Mentari juga calon anak diperut Mentari.


"Kami akan baik-baik saja kok! aku hanya melihat-lihat saja, lagian kamu juga pasti akan dikerubungi banyak orang nanti!" ucap Mentari.


"Haihhh, Adi, Harri! kalian jaga Mentari jangan sampai terjadi apa-apa dengannya mengerti?" perintah Darel.


"Baik tuan!!" ucap Adi dan Harri.


Adi dan Harri mengikuti kemanapun kaki Mentari melangkah, sedangkan Darel ditemani anak buahnya yang lain untuk melindunginya kalau-kalau ada bahaya yang mendekat.


Mentari berjalan berkeliling mall dengan sangat bahagianya. Es krim di tangannya yang tadi dia beli sudah hampir mencair namun Mentari tetap tidak terlihat kelelahan padahal Adi dan Harri sudah terlihat letih mengikutinya sedari tadi yang keluar masuk toko.


Nona, kau itu sedang hamil!!! kenapa energimu tidak seperti ibu hamil pada umumnya sih??? batin Harri.


Dari yang aku baca, wanita hamil apalagi yang hamil anak pertama itu sangat mudah letih, tapi kenapa nona berbeda yaa? batin Adi.


Disisi lain, Galih yang berada di lantai 2 mall itu melihat Darel tersenyum bangga dengan pencapaiannya. Rasa iri pun muncul dihati Galih membuat Galih berniat melakukan hal buruk terhadap Darel. Ketika hendak berjalan di eskalator, tanpa sengaja Galih menabrak seseorang hingga jatuh berguling-guling disana.


"Aaaaaaaa!!!!!!" teriak wanita itu.


Waktu itu eskalator tersebut dalam keadaan sepi, tidak ada orang lain yang menaikinya. Semua mata tertuju kearah wanita yang terjatuh tadi, darah segar terlihat berceceran dari pahannya. Sontak saja hal itu menarik banyak wartawan yang memotretnya.


Darel yang juga melihat kegaduhan itu mempunyai firasat buruk, dia pun menerobos lautan manusia dan menemukan seorang wanita berbaring tidak sadarkan diri dengan darah terus mengalir dari ujung pahanya.


"Mentariiii!!!!" teriak Darel.

__ADS_1


__ADS_2