Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EXTRA PART VI


__ADS_3

Hyuna, Shaki, Kaivan dan Iwang berjalan ke taman belakang dimana anak-anak lain bermain. Hyuna terus memandang kepada bocah laki-laki dengan kaos hitam bercelana selutut berwarna senada. Rambut yang terlihat acak-acakan namun sangat stylish itu membuat Hyuna tertarik setiap kali melihatnya.


Bocah laki-laki itu adalah Alvaro, putra Daniar dan Zanu. Tatanan rambut Alvaro yang seperti bad boy itu entah mengapa begitu menarik bagi Hyuna.


"H...hai, kak Varo!" sapa Hyuna saat didekat Alvaro.


Alvaro menoleh ke arah Hyuna sedetik lalu kembali bermain bersama dengan Farel. Mereka tengah bermain catur.


"Kak..." panggil Hyuna lagi.


"Diamlah Hyuna! aku sedang fokus ini!" ucap Alvaro sedikit membentak.


Ketidaksukaan bocah laki-laki itu terlalu kentara. Hyuna terpaku ditempatnya. Lalu pergi ke arah Zaheera yang saat itu tengah bermain masak-masakan.


"Hai, Heera!" sapa Hyuna saat berada disamping Zaheera.


"Kak, Hyuna!!! lama sekali datangnya!! aku udah nungguin dari tadi nih! ayo main masak-masakan! restorannya udah penuh nih!!" ucap Zaheera mengajak Hyuna bermain.


"Oke, ayoo!" sambut Hyuna dengan bersemangat.


Sekilas, Hyuna menoleh ke arah Alvaro yang sama sekali tidak menatap ke arahnya.


"Kak Hyuna, ayo mulai masak! ini pelanggannya udah berdatangan nihh!" ucap Zaheera membuyarkan lamunan Hyuna.


"Eh, iya-iya! maaf kakak lupa!" ucap Hyuna.


Mereka pun bermain masak-masakan seolah-olah mereka adalah seorang koki dari restoran terkenal.


Disisi Alvaro dan juga Farel. Farel yang sedari tadi memperhatikan ekspresi Hyuna menjadi sangat tidak enak dengannya akibat ulah Alvaro.


"Ro, kayaknya kamu udah kelewatan deh!" ucap Farel.


"Kelewatan gimana? biasa aja kok!" ucap Alvaro cuek.


"Itu Hyuna sampai sedih gitu loh wajahnya!" ucap Farel.


"Udahlah jangan bahas dia! males tau nggak! mending fokus sama permainan ini aja!" ucap Alvaro seolah tidak suka saat Farel Membicarakan Hyuna.


Farel hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dengan perkataan Alvaro barusan.


Pukul empat sore mereka semua baru pergi dari rumah Darel. Mereka menghabiskan waktu kali ini dengan bercengkrama penuh canda dan tawa. Sedangkan anak-anak mereka asyik bermain dihalaman rumah Darel. Walaupun mereka memberikan fasilitas ponsel kepada anak-anak mereka, namun mereka tetap membatasi penggunaan ponsel itu.


Sama seperti Darel, Darel juga hanya memberikan waktu kepada putra-putrinya. Terkhusus untuk Iwang. Karena dia telah besar dan bisa membedakan mana yang benar dan tidak, Darel memberikan fasilitas itu sepenuhnya namun masih bisa Darel pantau melalui sebuah aplikasi yang terinstal di ponsel Iwang dan ponselnya. Jadi, melalui aplikasi itu, Darel bisa tahu apa saja yang Iwang gunakan dengan ponsel tersebut.


"Papi-papi!!" panggil Hyuna saat Darel mendandani gadis cilik itu.


"Iya, princess nya papi! kenapa hemm?" tanya Darel sambil mengepang dua rambut lurus Hyuna.

__ADS_1


"Hyuna sayang sama papi!" ucap Hyuna membuat Darel menghentikan aktivitas nya.


"Papi juga sayanggg banget sama Hyuna!" ucap Darel.


"Papi-papi!" panggil Hyuna lagi.


"Iya sayang!" jawab Darel.


"Dimana nenek Hyuna?" tanya Hyuna sambil bermain bonekanya.


Darel terdiam membisu mendengar pertanyaan Hyuna. Rumi! dimana wanita itu sekarang. Bagaimana keadaannya. Darel sendiri tidak tahu kabar mamanya setelah kejadian dulu.


"Kan ada uti sama kakek." jawab Darel.


Yang dimaksud uti dan kakek itu adalah orang tua Daniar.


"No! itu kakek dan neneknya kak Alvaro, papi! bukan kakek dan nenek Hyuna!" ucap Hyuna memanyunkan bibirnya.


Darel sangat gemas dengan ekspresi itu membuatnya mengingat betapa imutnya Mentari saat membuat ekspresi serupa. Darel mencubit pipi Hyuna dengan gemas.


"Ihhh, papiii!!! jangan ditarik-tarik dong pipi Hyuna!!" protes Hyuna membuat Darel terkekeh geli.


"Iya-iya sayang, maafin papi yaa! habisnya kamu imut banget sih!" ucap Darel.


"Hyuna kan emang imut!" puji Hyuna kepada dirinya sendiri.


"Hahaha, iya-iya! princess papi yang paling imuutttt sedunia!" ucap Darel sambil mengangkat Hyuna ke udara lalu berputar.


"Papi-papi!" panggil Hyuna saat Darel sudah menurunkannya.


"Iya, sayang!!" ucap Darel.


"Kenapa tadi papi datang terlambat! hampir aja Hyuna marah sama papi karena nggak datang!" ucap Hyuna mengerucutkan bibirnya.


Sekali lagi, Darel teringat Mentari saat Hyuna melakukan ekspresi yang menurut Darel sama persis seperti Mentari. Memang ya, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Dengan kehadiran Hyuna, setidaknya rindu Darel bisa terobati terhadap Mentari.


"Maaf ya, papi sibuk sekali tadi, sampai-sampai hampir saja papi lupa. Untung uncle Wisnu mengingatkan papi." ucap Darel.


"Papi mah gitu!! Hyuna ngambek sama papi!" ucap Hyuna merajuk.


"Jangan marah dong, princess nya papi! gini deh, Hyuna mau apa, nanti papi belikan, oke?" tawar Darel.


"Beneran ya papi?" tanya Hyuna.


"Iya dong sayangg!!" ucap Darel.


"Hyuna rindu sama mami! Hyuna pengen ke makam mami, papi!" ucap Hyuna.

__ADS_1


"Besok saja ya ke makam nya! ini udah mau malam." ucap Darel.


"Yahhh, nggak apa-apa deh. Janji yaa besok!" ucap Hyuna.


"Janji!" ucap Darel.


Mereka pun saling menautkan jari kelingkingnya tanda membuat perjanjian.


"Sekarang, ayo kita ke bawah! semuanya pasti sudah menunggu dirumah uti!" ucap Darel.


Hari ini mereka tidak makan malam dirumah. Daniar tadi mengundang mereka untuk makan malam dirumahnya. Katanya mama dan papanya rindu dengan Hyuna dan yang lainnya.


Pukul enam lebih seperempat sore, mereka pun menuju rumah Daniar. Tidak lupa juga beberapa buah tangan untuk keluarga Daniar. Hubungan keluarga Darel dengan keluarga Daniar masih membaik sampai sekarang. Walaupun sempat dulu mama Daniar kecewa terhadap Darel karena merasa dia dan keluarganya lah penyebab kematian Mentari. Namun akhirnya mama Daniar luluh juga karena kehadiran malaikat-malaikat kecil ini.


********


Mobil Darel baru saja sampai di pekarangan rumah Daniar. Rumah ini masih sama seperti dahulu walaupun sudah dirombak menjadi lebih besar. Namun kenangan dirumah ini masih seperti dulu.


"Papi, ayo masuk!" ucap Hyuna membuyarkan lamunan Darel.


"Ah, iya! ayo!" ucap Darel.


Hari ini Darel sendiri yang menyetir mobil. Sengaja dia melakukannya agar anak buahnya juga bisa menghabiskan waktu bersama keluarga kecil mereka. Disini hanya Adi saja yang masih belum menikah. Sedangkan Lukas dan Harri sudah menikah.


Harri menikah dengan Laila, karyawan Mentari dan memiliki seorang putri yang baru berusia dua tahunan. Sedangkan untuk Lukas putranya baru berusia 2 bulan karena baru satu tahunan ini menikah bersama Amira.


Nakala masih ada dirumah Darel dan Adi juga sering terlihat pdkt kepada Nakala. Darel tahu asal-usul Nakala, oleh sebab itu dulu dia mempekerjakan Nakala. Darel juga ingin anak buahnya bahagia seperti dirinya.


"Sayanggg!!!! cucu utiii!!! lama sekali sampainyaaa!!" ucap mama Daniar yang langsung menyambut hangat mereka dengan pelukan.


"Maaf, tadi kami mampir beli oleh-oleh dulu!" ucap Darel.


"Kenapa harus bawa oleh-oleh sih, kayak sama siapa saja! ayo masuk, makanannya sudah siap!" ucap mama Daniar mengajak mereka masuk.


"Hyunaaa!!" panggil Daniar saat mereka memasuki rumah Daniar.


Hyuna langsung disambut pelukan hangat dari Daniar. Pelukan yang membuat Hyuna seolah-olah dipeluk oleh Mentari. Sangat hangat.


"Tante, kita juga mau dipeluk bukan cuma Hyuna aja!" protes Kaivan.


Kaivan langsung mendapat tatapan tajam dari sang kakak membuat Kaivan cengengesan.


"Oh iya, tante lupa! sini tante pelukk!" ucap Daniar.


Daniar memeluk Kaivan juga Shaki secara bergantian.


"Ayo kita makan! nanti makanannya dingin jadi nggak enak!" ucap mama Daniar.

__ADS_1


Hyuna, Shaki, Kaivan, juga Iwang memeluk papa Daniar sebelum mereka ke meja makan. Hyuna duduk berseberangan dengan tempat duduk Alvaro. Nampak sekali bahwa Alvaro cuek kepada Hyuna. Bahkan saat mereka datang pun, Alvaro seperti enggan menyapanya.


Hyuna terus memperhatikan Alvaro. Namun sedikit pun Alvaro tidak menoleh ke arahnya membuat Hyuna patah hati.


__ADS_2