Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 176


__ADS_3

Dirumah sakit.


"Mah!" teriak Daniar menghampiri mamanya.


"Niar! papa...papa kamu!!!!" isak tangis mama Daniar.


Daniar langsung memeluk mamanya, berusaha menenangkannya. Mentari juga ikut memeluk mereka. Mereka juga bagian dari keluarga Mentari.


"Gimana keadaan papa, ma?" tanya Daniar melepaskan pelukan mamanya sembari mendudukkannya ke kursi.


"Katanya serangan jantung!" ucap mama Daniar kembali menangis.


"Mama takut, Niar! mama takut! saat mengunjungi kakakmu tadi, papa sempat marah-marah dan saat di mobil dia terkena serangan jantung." jelas mama Daniar.


"Kalau papa kenapa-kenapa gimana, Niar?!!" menangis histeris.


"Keluarga pasien?" tanya dokter yang baru saja memeriksa keadaan papa Daniar.


"Hah, saya istrinya dok!" berlari mendekati dokter diikuti semua orang.


"Keadaan pasien sudah mulai membaik. Emm kalau bisa jauhkan dia dari hal-hal yang membuat pasien panik karena itu bisa memicu serangan jantung. Saya sudah menuliskan resep obat pasien, mohon ditebus di apotek ya!" jelas dokter sembari memberikan selembaran resep obat.


"Biar saya saja yang menebus obatnya, tante!" ucap Zanu.


"Terimakasih nak Zanu, maaf merepotkan!" ucap mama Daniar masih terlihat syok.


Daniar menatap kearah Zanu dengan tatapan penuh arti. Zanu yang mengerti arti tatapan Daniar mengangguk tulus seolah berkata semua akan baik-baik saja. Setelah mendapat resep dokter, Zanu langsung menebus obat itu di apotek.


Sementara itu, mama Daniar dan Daniar menjenguk papa Daniar. Dokter mengatakan pasien hanya boleh dijenguk maximal dua orang.


"Pa, gimana keadaan papa?" tanya mama Daniar sambil duduk di kursi samping tempat tidur suaminya.


"Maaf sudah membuat kalian khawatir!" ucap papa Daniar lemah.


"Papa jangan bicara seperti itu, yang penting papa harus sembuh dulu!" ucap mama Daniar.


"Niar, ma? boleh panggilkan Mentari? papa ingin berbicara padanya!" ucap papa Daniar dengan susah payah.


Sambil menyeka air matanya, mama Daniar dan Daniar keluar dari ruangan. Begitu mereka keluar, orang pertama yang menghampiri mereka adalah Mentari. Dia terlihat begitu khawatir terhadap papa Daniar yang sudah dia anggap sebagai papanya sendiri.


"Ma, gimana keadaan papa?" tanya Mentari khawatir.


"Dia baik-baik saja. Masuklah nak, papa ingin bertemu denganmu!" ucap mama Daniar membelai lembut pipi Mentari.

__ADS_1


Mentari menatap kearah mama Daniar dan Daniar kemudian menatap suaminya seolah meminta ijin. Darel mengangguk pelan mengiyakan isyarat istrinya. Mentari tersenyum mendapat balasan dari Darel. Dia pun mulai melangkahkan kakinya memasuki ruangan.


"Pa?!" panggil Mentari sembari berjalan mendekati pria yang menggantikan sosok ayah di hidupnya itu.


"Nak, kemarilah!" mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Mentari.


Mentari menyambut hangat uluran tangan itu, dia duduk di kursi yang ada disamping ranjang.


"Nak, papa tau ini berat untukmu. Tapi sebagai orang tua, papa ingin minta maaf atas nama Galih! papa sudah gagal mendidik dia..hiks....hiks...hiks...maafkan papa!!!" menangis.


"Pa, jangan bicara seperti itu! aku sudah memaafkan kak Galih. Lagi pula ini semua sudah takdir, pa! papa harus sembuh biar bisa gendong cucu dari anak-anak papa nanti, ya!" ucap Mentari.


"Sungguh mulia hati kamu nak, papa yakin orang tua kamu pasti orang baik hingga bisa melahirkan anak seperti dirimu! aku bangga bisa menjadikanmu salah satu keluargaku!" tersenyum tulus.


"Pa, aku sudah menganggap papa seperti papa kandungku sendiri! tentu aku akan sangat terluka jika papa meminta maaf atas kesalahan yang bukan papa perbuat! aku sudah mengikhlaskan semuanya." ucap Mentari tersenyum tulus.


"Terimakasih nak!" menggenggam tangan Mentari.


"Yasudah kalau begitu Mentari keluar dulu ya pa, pasti mama dan Daniar ingin berbicara dengan papa!" ijin Mentari.


Papa Daniar mengangguk mengiyakan perkataan Mentari. Setelah Mentari keluar dari ruangan, mama Daniar kembali memasuki ruangan hingga suster datang memberitahu agar papa Daniar beristirahat.


Kecemasan mereka perlahan menghilang seiring kembali stabilnya kesehatan papa Daniar.


"Tidak-tidak, aku juga mau menemani papa!" tolak Mentari.


"Tapi sayang..." ucap Darel terpotong.


"Aku mohon biarkan aku menemaninya, aku tidak mau kehilangan dia!" bujuk Mentari dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Daniar mengerti perasaan Mentari. Mentari sama khawatirnya dengan dirinya jika mengenai keluarganya. Daniar bangkit dari duduknya dan menghampiri Mentari.


"Tar, sebaiknya kamu istirahat saja dirumah. Nanti jika ada apa-apa aku akan langsung hubungi kamu kok!" ucap Daniar.


"Tapi, Niar!"


"Aku tahu kamu khawatir, tapi kamu tenang saja! ada aku dan Zanu juga mama disini! pulanglah, semua akan baik-baik saja!" bujuk Daniar.


Daniar langsung memeluk Mentari dengan sangat erat.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan keluargaku, Tari!" ucap Daniar sendu.


Mentari ikut memeluk Daniar. Terlihat sekali mereka berusaha saling menguatkan satu sama lain.

__ADS_1


"Baiklah aku akan pulang, kalau ada apa-apa langsung kabari aku ya!" ucap Mentari sebelum akhirnya dia pulang.


Mereka pun pulang meninggalkan mama Daniar, Daniar dan Zanu yang menjaga papa Daniar. Zanu duduk didekat Daniar, berusaha menguatkan wanitanya sambil berkata "Semua akan baik-baik saja!".


Mentari dan Darel sudah sampai dirumah. Rencana liburan yang mereka buat harus tertunda karena hal yang sangat tidak mengenakkan.


Mentari mandi lebih dulu, menyegarkan tubuhnya kemudian berganti dengan Darel. Setelah mandi, Darel melihat Mentari yang tengah melamun. Darel pun mendekatinya.


"Ada apa, hem? apa yang kau pikirkan?" tanya Darel lembut.


"Tidak ada! hanya teringat papa saja!" ucap Mentari mengalihkan kesedihannya.


"Papa Daniar akan baik-baik saja, kau tenanglah!" ucap Darel.


"Bukan, tapi papa kandungku! aku rindu kedua orangtuaku!"


"Kenapa tiba-tiba kau membicarakan orangtuamu?" tanya Darel.


"Aku tidak tahu! hanya rindu saja!" meletakkan kepalanya diatas paha Darel.


Darel mengelus lembut rambut Mentari.


"Tidak biasanya, apa terjadi sesuatu?" tanya Darel.


Mentari menggelengkan kepalanya, tatapannya masih kosong entah apa yang dia pikirkan saat ini.


"Tidurlah! kau pasti lelah!" ucap Darel.


Mentari mulai terlelap dengan posisi yang masih sama.


Derttt.....derttt....derttt....


Sebuah panggilan masuk ke ponsel Darel. Darel mengangkat panggilan itu dengan hati-hati karena tidak ingin membangunkan Mentari yang baru saja tertidur.


"Apa?" ketus Darel.


"Tuan, nona Pretty membelanjakan kartu kredit anda dengan tidak aturan. Sehari saja dia menghabiskan ratusan juta!" ucap Aqis.


"Ah, shitt!! biarkan dia menikmati kehancurannya. Jangan lupa terus kasih obat itu kalau perlu tambah dosisnya! aku ingin melihat dia hancur!" ucap Darel.


Kehancuran? obat? pembelanjaan kartu kredit hingga ratusan juta? siapa yang dibicarakan Darel? obat apa yang dia berikan? dan kepada siapa kartu kredit itu diberikan? kenapa Darel tidak pernah mengatakannya padaku? batin Mentari.


Tanpa diketahui Darel, Mentari mendengar apa yang dia bicarakan kecuali saat Lukas mengatakan bahwa Pretty menghabiskan uang ratusan juta dalam satu hari. Namun Mentari tetap berpura-pura tertidur agar Darel tidak curiga dan membiarkan Darel sendiri yang mengatakannya kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2