
Daniar dan Zanu asyik duduk ditaman depan rumah Sanjaya. Tanpa mereka sadari sedari tadi ada sepasang mata yang menatap kearah mereka.
Bagaimana bisa Zanu dan nona Daniar seakrab itu? apa mereka berpacaran? batin Bagas.
Ya orang itu adalah Bagas. Sejak pertemuan pertama Bagas dengan Daniar membuat Bagas merasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun karena kebodohan Darel waktu itu yang mengatakan hal buruk tentang Mentari, membuat Bagas tidak bisa meminta nomor telepon Daniar.
Bagas yang merasa tidak kuat untuk terus berada disana pun memutuskan untuk pergi. Hatinya sangat sakit bagai tersayat pisau hingga berdarah dan perih. Dia pun meninggalkan tempatnya dengan lesu.
Harusnya aku bisa mendapatkan nomornya waktu dicafe itu! huhh! batin Bagas sambil menghela nafas kasar.
Tanpa sengaja Bagas melihat Adi yang sedang berlari menuju rumah. Wajahnya juga terlihat sedikit panik. Hal itu membuat Bagas menjadi penasaran. Dia pun mengikuti langkah Adi yang ternyata menemui Darel.
Didalam rumah....
Darel sedang berbincang-bincang dengan kolega bisnisnya saat Adi datang menemuinya. Adi langsung membisikkan sesuatu kepadanya. Mendengar bisikan dari Adi, wajah Darel yang awalnya sedikit tersenyum kini kembali dingin. Raut wajahnya juga menunjukkan kekesalan dan amarah.
"Kau pergilah dulu, aku akan menyusul!" ucap Darel pada Adi.
"Baik tuan muda!" jawab Adi.
Adi pun langsung pergi meninggalkan Darel. Tuan Ardi, nyonya Ardi, Mentari, dan orang tua Daniar melihat gelagat aneh pada Darel, terlebih setelah Adi datang.
Apa yang dibisikkan Adi sampai wajahnya terlihat sangat marah seperti itu? apa ada masalah yang terjadi? batin Mentari.
Tuan Ardi pun mendekati Darel.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya tuan Ardi sambil berbisik.
"Anak buah musuhku yang ada dimarkas lolos pa, aku bahkan belum mengorek informasi dari mereka!" ucap Darel menahan emosinya.
"Lalu kau akan pergi sekarang? ini acaramu Darel!" ucap tuan Ardi.
"Tidak ada pilihan lain pa, aku akan pergi sekarang!" ucap Darel langsung pergi.
Tuan Ardi menggerakkan kepalanya. Nyonya Ardi yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari mereka pun menghampiri suaminya bersama Mentari.
"Ada apa pa? kenapa Darel pergi tergesa-gesa? apa semua baik-baik saja?" tanya nyonya Ardi dengan wajah khawatir.
Sama halnya dengan Mentari, dia juga terlihat khawatir entah pada Darel atau pada yang lain. Yang jelas dia sangat khawatir saat ini.
"Ah, tidak apa-apa kok ma, hanya ada urusan yang mendadak tadi!" ucap tuan Ardi berbohong.
Mereka pun memutuskan untuk kembali menikmati pesta.
__ADS_1
Semoga dia baik-baik saja apapun yang terjadi saat ini! batin Mentari.
Tomi dan Arul yang sedang menikmati minuman mereka juga sangat penasaran ketika melihat Adi mendekati Darel. Wajah Darel yang langsung berubah itupun sukses membuat Tomi dan Arul semakin bertanya-tanya.
"Tuan, markas tuan salju diserang, semua tawanan kabur!" ucap Jack yang baru datang.
"Apa? kenapa bisa?" tanya Tomi.
"Jack, kau lebih baik cari informasi tentang penyerangan itu, siapa dalang dari penyerangan itu, dan apapun yang terjadi dimarkas itu! dan kau Arul cari Zen dan beritahu dia bahwa kita butuh pelacak handalnya. Mungkin dia bisa membantu Jack dalam pencarian ini!" ucap Tomi memberi arahan.
Arul dan Jack pun menjalankan sesuai arahan. Arul segera mencari Zanu, dan Jack segera mengambil alat peretasnya yang berada di kamar tamu tempatnya tadi.
Zanu, dia memang tidak lagi menggeluti dunia mafia, namun dia tetap pemimpin dari salah satu kelompok yang sama besar dengan Arul, Tomi, dan Darel. Bahkan anak buah Zanu lebih besar dari Darel yang memang memiliki banyak pengikut. Tak heran jika banyak hacker yang berada di pihaknya meski tidak seahli Jack, namun skill mereka juga tidak bisa diremehkan.
Zanu dulu pernah ingin memberikan beberapa orang hacker kepercayaannya untuk membantu jika ada hal sulit. Namun Darel menolaknya. Zanu pun tidak bisa memaksa Darel dan memutuskan untuk sedia kapan saja Darel butuhkan.
Arul berlari kesana-kemari untuk mencari Zanu. Saat berlari kearah taman, tanpa sengaja matanya mengarah pada sosok yang dia cari. Dia pun berhenti berlari dengan nafas ngos-ngosan.
Bisa-bisanya dia berpacaran disaat seperti ini. Aku bahkan mencarinya diseluruh rumah dan dia enak-enak disini! dasar! batin Arul.
Setelah mengatur pernafasannya, Arul pun Mendekati Zanu yang sedang bersama Daniar.
"Zen, kita harus bicara!" ucap Arul langsung to the point.
"Ada apa?" tanya Zanu saat mereka sudah sangat jauh dari Daniar.
"Markas Darel diserang, tawanannya lepas, kau hubungi hacker terhandalmu dan meminta mereka datang kemarkas Darel!" ucap Arul serius.
"Apa, baiklah aku akan menelpon orangku sekarang juga!" ucap Zanu langsung mengambil ponselnya yang berada disaku kanan celananya.
"Hallo, iya, aku butuh hacker paling handal yang kita miliki sekarang! aku akan share lokasinya!" ucap Zanu pada seseorang ditelepon.
Tidak lama panggilan pun berakhir. Zanu membuka aplikasi hijaunya dan mengirim alamat markas utama Darel kepada Hasan, tangan kanannya yang selama ini menjadi pemimpin kedua saat Zanu sedang dalam masa pengasingan.
Zanu sangat percaya pada Hasan, maka dari itu dia mengangkatnya menjadi tangan kanannya. Terbukti dari kinerja Hasan yang terus melaporkan apapun yang terjadi dan yang akan terjadi pada Zanu, dan semua yang berkaitan dengan kelompok mereka. Zanu pun tinggal beres karena semua sudha dilakukan oleh Hasan, Zanu hanya bertugas memberi arahan saja dan Hasan yang menjalankannya.
Zanu dan Arul kembali ke tempat Daniar. Daniar merasa ada yang tidak beres terjadi, terlebih saat melihat raut wajah Zanu yang terlihat sangat tegang.
"Hem, Daniar maaf ya, aku harus pergi sekarang juga!" ucap Zanu setelah berada dihadapan Daniar.
"Kau mau pergi kemana? apa semua baik-baik saja?" tanya Daniar pada Zanu dan kemudian menatap Arul seolah meminta penjelasan.
"Semua baik-baik saja kok, kamu tenang saja. Hanya ada hal yang perlu kami urus!" ucap Zanu menjelaskan agar Daniar tidak khawatir.
__ADS_1
"Oh baiklah, hati-hati ya!" ucap Daniar sambil tersenyum sangat manis.
Deg.....
Jantung Zanu berdetak sangat cepat melihat senyuman itu. Dia pun mengeluarkan keringat dingin.
Kenapa aku sangat gugup begini saat dia tersenyum? tidak, aku tidak mungkin jatuh cinta padanya kan? batin Zanu.
Zanu dan Arul pun memutuskan untuk segera pergi sebelum jantung Zanu keluar dari tempatnya saking gugupnya. Mobil Tomi juga sudah menunggu mereka dengan Jack sebagai supirnya.
Mobil Tomi pun melesat meninggalkan rumah Sanjaya.
Didalam mobil Darel...
"Bagaimana bisa ada penyerangan disana? bahkan tawananku lolos semua! apa yang kalian lakukan saat itu ha?" bentak Darel.
Emosi Darel tidak bisa ditahan lagi saat ini.
"Maaf tuan, tapi jumlah penyerang lebih banyak dari anak buah kita, dan kita kalah, lalu membawa tawanan kita!" jelas Adi.
Adi tahu hal ini akan semakin membuat Darel bertambah marah, namun dia tidak ingin menyembunyikan hal ini dari tuannya.
"Apa? bukankah sudah kubilang untuk menjaga setiap tempat penting kita saat acara ini berlangsung? kenapa kau sangat ceroboh Adi! jika itu Harri aku akan memakluminya, tapi ini kau!" ucap Darel berapi-api.
"Aku bahkan belum sempat mengorek informasi dari mereka, dan sekarang mereka malah lepas! akhhhh sial!" ucap Darel memukul kursi penumpang disebelahnya.
Luapan emosinya tidak terkendali saat ini. Wajahnya menjadi merah padam hingga seperti gunung berapi yang siap memuntahkan lahar panasnya.
Aku yakin ini perbuatan Drago Mark, aku tidak akan mengampuni mereka jika itu benar! batin Darel sambil mengepalkan tangannya.
Tanpa disadari Darel, mobil Tomi sudah berada dibelakang mereka. Bahkan sekarang jarak kedua mobil itu tidak jauh.
Smeoga dengan ini hubungan kami kembali membaik! batin Zanu.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Mohon maaf ya kak, karena episode sebelumnya ada masalah, makanya aku ganti lagi episodenya🙏 jangan lupa dukungannya ya😉😊