
Mentari tiba dirumah menjelang sore. Setelah meletakkan tas selempang miliknya, Mentari langsung menyambar handuk dan langsung mandi.
Seperti biasa Mentari akan menghabiskan banyak waktunya didalam kamar mandi. Hampir satu jam Mentari baru keluar.
Tubuhnya yang semula lengket dan gatal, kini kembali segar dan wangi. Setelah berganti pakaian Mentari memutuskan untuk membuat makan malam.
"Oh iya kue tadi!" ucap Mentari mengingat masih ada sisa kue dimotornya.
*Dasar Mentari suka lupa😂#authorPOV
Setelah mengambil beberapa bingkisan yang masih tersisa itu, dia meninggalkan satu bingkisan untuk dirinya, dan sisanya dia bagikan kepada tetangganya.
"Permisi, bu!" ucap Mentari dirumah bu Joko.
"Eh mbak Tari, masuk dulu mbak!" ucap bu Joko dari dalam rumah sembari berjalan keluar.
"Tidak usah bu, saya hanya ingin memberi ini saja kok!" ucap Mentari sambil memberikan bingkisan kepada bu Joko.
"Wah, ini pasti kue dari toko mbak Tari ya, tadi saya juga sudah mencicipi dan rasanya itu enak mbak. Makasih loh mbak, dapet rejeki nomplok kaya gini, hahaha!" ucap bu Joko.
"Hahaha, bu Joko bisa aja. Tadi bu Joko datang? kok saya tidak lihat?" tanya Mentari.
Memang semua tetangga Mentari juga ikut diundang agar mereka juga turut merasakan kebahagiaan yang Mentari rasakan.
"Enggak mbak, saya dan pak Joko tidak bisa hadir tadi soalnya ada kerabat yang meninggal. Eh pas pulang dikasih sama bu Santi. Pokoknya kuenya mbak Tari the best deh kalau anak-anak gaul sekarang bilang, hahaha!" jelas bu Joko.
Mentari juga ikut tertawa mendengar ucapan bu Joko. Setelah berbincang cukup lama, Mentari pun akhirnya pulang.
Sesampainya dirumah, Mentari terkejut karena ada seorang wanita duduk dikursi depan dengan wajah yang ditekuk. Mentari pun menghampiri wanita itu.
"Sudah lama kamu disini, Niar?" tanya Mentari pada Daniar.
Ya, wanita itu adalah Daniar, sahabat Mentari.
"Kamu lama banget sih keluarnya, makanan aku sampai dingin nih!" ucap Daniar pura-pura merajuk.
"Utututu, maaf ya soalnya tadi aku bagiin bingkisan dulu ke tetangga. Lagian kenapa nggak masuk?" tanya Mentari sembari membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.
"Ish, tau gitu tadi aku masuk aja dulu. Mana tau juga aku kalau pintunya nggak dikunci!"
Mentari hanya menggelengkan kepalanya saja. Mereka pun masuk dan langsung menuju dapur.
"Apa ini mama yang masak?" tanya Mentari saat Daniar membuka rantang yang dia bawa.
__ADS_1
"Iyalah siapa lagi! mama tuh paling cerewet kalau menyangkut kamu. Mama bilang kamu tuh kasian udah seharian sibuk ngurus perayaan. Terus mama bilang kalau kamu pasti belum makan!" jelas Daniar sambil menghangatkan makanannya yang sudah dingin.
"Hehehe mama nih tau aja kalau aku lagi laper. Baru aja aku mau masak buat makan malam, eh udah ada yang dateng bawa makanan." ucap Mentari sembari cengengesan.
"Sudah-sudah mending kamu bantuin aku hangatin makanan ini, daripada diem gitu!" ucap Daniar.
"Iya-iya!" jawab Mentari.
Mentari pun ikut menghangatkan makanan yang dibawa Daniar. Tidak butuh waktu lama, makanan itu sudah siap dinikmati.
Daniar dan Mentari meletakkan makanan itu dipiring dan membawanya didepan televisi. Tidak lupa juga mereka membawa nasi.
Makanan yang dibawa Daniar terlihat sederhana namun sangat nikmat, ada oseng kentang dan hati ampela, ada bakwan jagung manis, dan ada rendang. Rendang buatan mama Daniar memang paling enak, maka dari itu mama Daniar membawakan lebih banyak dari yang lain.
"Ayo makan!" ucap Daniar.
"Aku ambil minum dulu, sama buah-buahan. Kamu mau minum apa?" tanya Mentari sambil berdiri.
"Makan rendang enaknya minum yang seger-seger kan?" tanya Daniar sambil memainkan kedua alisnya memberi kode.
Mentari paham yang dimaksud Daniar, dia langsung kembali ke dapur mengambil buah-buahan yang sudah dicuci sebelumnya dan mengambil minuman berupa es lemon tea.
"Wahh, cocok nih! tau aja kamu?" ucap Daniar melihat es lemon tea yang dibawa Mentari.
"Iya dong aku kan peka, hehehe!" jawab Mentari sambil bercanda.
Mereka pun mulai makan malam, ditemani televisi yang menyiarkan kartun favorit mereka.
Sama halnya Mentari, Daniar lebih suka kartun dari pada sinetron. Menurutnya sinetron itu terlalu rumit alurnya.
"Eh, Tar, kamu tau nggak aku udah kerja loh sekarang." ucap Daniar disela makannya.
"Oh iya tadi mama sama papa kamu udah bilang makanya kamu nggak bisa dateng. Kamu kerja dimana sekarang?" tanya Mentari.
"Diperusahaan Sanjaya Group!" ucap Daniar.
Mentari tersedak saking terkejutnya.
"Uhuk...uhuk...uhukkk...."
"Aduh Tar, pelan-pelan dong makannya, nih minum dulu!" ucap Daniar sambil menyodorkan minuman ke Mentari.
Mentari menerima minuman itu dan langsung meminumnya rakus.
__ADS_1
"Alhamdulillah!" ucap Mentari setelah hilang batuk-batuknya.
"Kenapa sih? kok kamu kayak gimana gitu pas aku bilang Sanjaya Group?" tanya Daniar penasaran.
Mentari menghela nafas sebentar.
"Sebenarnya Sanjaya Group itu adalah perusahaan milik Darel!" ucap Mentari.
"Apa? kok bisa? namanya kan Darel bukan Sanjaya? apa nama panjangnya ya?" tanya Daniar semakin penasaran.
Mentari pun Menceritakan semuanya kepada Daniar, mulai saat dia pertama kali bertemu anak buah tuan Sanjaya hingga perjodohannya yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.
Daniar terkejut dengan penjelasan sahabatnya itu. Bagaimana kabar sebesar ini dan dirinya tidak tahu apa-apa? sahabat macam apa dia ini, mungkin itu yang ada dibenak Daniar.
"Jadi gitu ceritanya!" ucap Mentari mengakhiri ceritanya.
"Jadi kamu bakal nikah sama tuan sombong itu? 4 hari lagi pula! kamu tuh waras nggak sih Tar?" ucap Daniar sedikit kesal.
Dia tidak terima jika sahabatnya itu dijodohkan sama orang yang sombong dan angkuh seperti Darel.
"Tapi orang tuanya itu baik, Niar. Aku tidak tega jadinya." jawab Mentari sambil menundukkan kepalanya lesu.
"Tar, kamu itu mau nikah sama anaknya bukan sama orang tuanya. Nggak mungkin juga kan kamu kalau udah menikah nanti tinggal sama mertuamu? pastinya Darel punya rumah sendiri kan orang dia itu kaya raya gitu kok, mana tau aja kalau pas lagi sendiri kamu bakal disiksa sama dia kayak di film-film yang ditonton mama!" jelas Daniar parnoan sendiri.
Mentari berpikir sejenak. Mungkin saja hal itu akan terjadi padanya mengingat Darel yang kerap kali menghina harga dirinya, tanpa Darel tahu apapun tentang Mentari sebelumnya.
Apa mungkin yang dikatakan Niar itu benar?
"Kamu tenang aja, aku bisa jaga diri kok. Lagian aku yakin kalau dia tidak seperti yang kita lihat. Memang dari luar dia terlihat kasar dan angkuh..." terpotong.
"Jangan lupa sombong juga!" ucap Daniar memotong perkataan Mentari.
"Iya, juga sombong. Tapi aku yakin dari dalam dirinya itu dia baik. Buktinya dia bersikap seperti manusia biasa saat bersama orang tuannya, berarti kan dia punya sisi baiknya." jelas Mentari.
"Iya, tapi kan Tar..." terpotong.
"Sudahlah jangan dibahas lagi. Nih liat makanannya jadi dingin." ucap Mentari berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya ampun rendangku yang berharga jadi dingin kan!" ucap Daniar sambil memasukkan sepotong rendang ke mulutnya.
Mentari tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
Semoga itu hanya prasangka burukku saja! batin Daniar.
__ADS_1
Semoga tidak seperti yang dikatakan Daniar nanti! batin Mentari.
Mereka pun melanjutkan makan malam yang sempat tertunda tadi.