Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 289


__ADS_3

Abdulah menghampiri Surti di kantor polisi. Begitu sampai disana, pemandangan pertama yang dia lihat adalah istrinya, Surti meronta-ronta meminta untuk di bebaskan. Persis seperti orang gila saja kondisinya sekarang.


"Sur!" panggil Abdulah mendekati istrinya.


"Mas!! mas bilang sama mereka buat bebasin aku, mas!!!! atau...atau bujuk Tari buat bebasin aku, mas!! cepet, mas!! aku nggak mau masuk penjara!" rengek Surti.


"Ayo masukkan dia ke dalam sel!" perintah seorang polisi wanita.


Dia orang polisi pun membawa Surti ke dalam sel dengan paksa.


"Tunggu! biarkan saya berbicara sebentar dengan istri saya!" mohon Abdulah.


"Baiklah! sepuluh menit!" ucap polisi wanita itu.


Surti pun didudukkan di tempat biasa orang menjenguk tahanan disana.


"Mas, aku nggak mau dipenjara, mass!! bantu aku, mas!! bujuk Tari, suruh dia buat bebasin aku!!" ucap Surti.


"Kenapa aku harus bebasin kamu, Surti!! ini semua kan karma dari ulahmu sendiri! puas sekarang kamu karena terus mengolok-olok Mentari?! bukan hanya kamu dipenjarakan tapi juga aku kehilangan pekerjaanku! mau dengan apa aku bebasin kamu sekarang?! mikir, Surti! mikirr!!! dan lagi!" ucap Abdulah mengeluarkan selembaran yang tadi diberikan oleh Darel.


"Baca ini!" ucap Abdulah memberikannya pada Surti.


"Ap...apa ini mas?!" tanya Surti dengan mata yang membelalak.


"Hutangmu pada Mentari! tuan Darel memintaku membayar semua itu kalau ingin kau bebas. Tapi jika aku tidak berniat membebaskanmu maka dia akan tetap menagih hutang ini!" ucap Abdulah nampak frustasi.


"Apaa?! tapi...tapi ini banyak sekali!!" ucap Surti melihat nominal akhir di kertas itu.


"Maka dari itu dulu aku bilang! sudah cukup!! cukuppp!!! tadi pun aku bilang cukuppp!! tapi kau?! sekarang rasakan saja kau disini!" ucap Abdulah pergi.


"Mas!! kamu mau kemana, mas?! masss!!! bebasin aku dulu, mass!!!" panggil Surti.


Dua polisi wanita pun membawa Surti yang masih terus memanggil suaminya. Sesampainya didalam sel, dua polisi itu mengunci sel agar Surti tidak bisa kabur.


"Tega kamu, mas ninggalin aku ditempat seperti ini!!!" teriak Surti sambil mencengkram jeruji besi.


"Woii! jangan teriak-teriak!!" ucap salah satu tahanan.


Surti menoleh ke belakang. Ada empat orang lagi didalam sel itu. Tiga orang berbadan gemuk dan bertampang sangar membuat Surti merinding ketakutan. Sedangkan yang satu lagi, wajahnya terlihat lembut. Mungkin dia bisa bersahabat dengan napi yang satu itu, pikir Surti.


"Wanda! sini, jangan dekat-dekat orang gila!!" ucap salah satu napi yang paling sangat menarik tangan Wanda agar duduk didekat mereka saat Surti hendak duduk disampingnya.


Wanda pun hanya diam dan menatap Surti dengan pilu. Mungkin Wanda merasakan apa yang Surti rasakan dulu. Ya, dia adalah Wanda yang sama yang pernah berniat buruk dengan Daniar. Kini Wanda menjadi pribadi yang lebih baik. Setiap hari, Wanda juga melaksanakan sholat lima waktu dan diakhir sholatnya dia selalu meminta pengampunan atas dosa-dosanya dahulu, juga kebaikan untuk orang-orang yang telah dia sakiti. Wanda ingin sekali bertemu dengan Daniar dan meminta maaf secara langsung, namun itu adalah hal yang mustahil dia dapatkan.


"Ayoo, waktunya kerjaa!" ucap polisi wanita yang tadi membawa Surti.

__ADS_1


Semua napi didalam sel mulai keluar satu persatu pun dengan Surti. Disini ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh napi. Misal, ada yang memasak dan menyajikan makanan untuk napi lain. Ada yang menjahit seperti Wanda dan juga beberapa napi lain. Dan masih banyak lagi hal positif lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengasah skill mereka nanti jika sudah keluar dari penjara agar mereka tetap bisa bertahan di dunia yang keras ini.


Wanda dan beberapa rekan tahanan yang ikut kelas menjahit saat ini tengah mempersiapkan spanduk besar untuk di pasang di depan kantor polisi karena yang lama telah usang. Semoga saja polisi mau menerima spanduk yang mereka jahit ini. Hanya tinggal menyelesaikan separuh lagi dan hanya membutuhkan lima hari lagi untuk menyelesaikannya.


"Wan!" sapa Abu.


"Hai!" sapa Wanda tersenyum ke arah Abu.


Semenjak Wanda menjadi pribadi yang lebih baik, dia dikabarkan dekat dengan salah satu polisi yaitu Abu. Entah apa yang Abu pikirkan, yang jelas Wanda tidak berani berharap banyak.


"Apa sudah selesai?" tanya Abu basa-basi.


"Belum! tinggal separuh. Mungkin lima hari lagi sudah jadi." ucap Wanda masih menjahit bagiannya.


"Aku lihat kau banyak perubahan ya sekarang! tapi perubahan yang positif!" ucap Abu.


"Alhamdulillah! semoga aku Istiqomah!" ucap Wanda tersenyum manis.


********


Di tempat Mentari. Semenjak kepulangannya dari rumah Daniar, Mentari terlihat murung. Darel merasa ini ada kaitannya dengan Surti.


"Sayang! kenapa? kok murung terus dari tadi?" tanya Darel.


"Apa nggak terlalu berlebihan hukuman yang diterima bibi?" tanya Mentari.


"Aku jadi merasa bersalah sama bibi! tapi dia juga sudah kelewatan!" ucap Mentari.


"Kamu kasihan sama dia?! dia udah nyakitin kamu, fitnah kamu loh!" ucap Darel.


"Aku ngerasa nggak enak aja!" ucap Mentari.


"Sudah jangan pikirkan itu! oh ya aku ada urusan sebentar, kamu tunggu dirumah aja yaa!" ucap Darel.


"Kemana?!"


"Ada urusan dengan Adi dan yang lain!" ucap Darel.


Darel mengecup kening Mentari sebelum pergi. Darel sengaja tidak memberitahu kemana tujuannya pergi. Dia pergi untuk menemui kepala bagian pengarsipan.Alamat yang didapatkan Adi, Harri dan Lukas tempo hari adalah alamat lama. Sejauh ini sudah lima alamat yang Darel kunjungi namun masih belum membuahkan hasil. Terakhir anak buahnya bilang alamatnya ada di kota Magelang, kabupaten Candimulyo. Semoga saja alamat ini membuahkan hasil.


Mereka bergegas menuju alamat yang telah didapatkan. Butuh waktu enam jam hingga sampai ke Candimulyo. Darel sampai disana waktu hari sudah malam.


Tok...tok...tok...


"Ya, cari siapa?" tanya seorang wanita yang hanya mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit.

__ADS_1


"Kami mencari pak Bayu, apa beliau ada?" tanya Darel.


"Maaf, tidak ada!" ucap wanita itu buru-buru menutup pintunya.


"Tunggu, bu! saya hanya ingin menanyakan perihal ayah mertua saya!" ucap Darel.


Cukup lama tidak ada reaksi apapun dari dalam rumah. Hingga saat Darel dan yang lain hendak pergi.


Kriettt....


Pintu yang telah usang itu dibuka dari dalam.


"Silahkan masuk!" ucap wanita tadi.


Mereka pun masuk kedalam rumah yang sangat sederhana dan masih bergaya Tajug klasik.


"Saya pak Bayu. Ada perlu apa kalian mencari saya?" tanya bapak-bapak yang mengaku bernama pak Bayu.


"Apa bapak tahu siapa tuan Mario?" tanya Darel.


Pak Bayu terlihat tercangang dengan pertanyaan Darel. Ditatapnya Darel dari atas sampai bawah dan dari bawah sampai ke atas.


"Kalian ini siapa?" tanya pak Bayu menatap penuh selidik kearah mereka.


"Istri saya, anak dari tuan Mario! kami hanya ingin mencari penyebab kematian beliau. Dan mungkin saja anda tahu sesuatu mengenai beliau!" ucap Darel.


"Siapa nama anda?" tanya pak Bayu.


"Darel! Darel Sanjaya!" jawab Darel.


Setelah memperkenalkan dirinya, pak Bayu terlihat menyunggingkan senyumnya seolah mengejek kepada Darel dan yang lain.


"Untuk apa anda capek-capek melakukan perjalanan sejauh ini, tuan muda?"


Darel tidak mengerti apa maksud perkataan pak Bayu.


"Maksud bapak?" tanya Darel.


"Harusnya anda pada papa anda, tuan Sanjaya! mengapa anda susah-susah mencari saya?!" ucapnya tersenyum meremehkan.


"Aku yakin walaupun kalian bertanya mengenai tuan Mario, papa mu, tuan Sanjaya tidak akan mau buka mulut mengenai apapun yang terjadi padanya dan tuan Mario." ucap pak Bayu semakin membuat Darel kebingungan dan tidak mengerti.


"Tuan Mario dan papamu, tuan Sanjaya adalah seorang sahabat. Mereka sangat akrab bahkan hingga ke istri-istri mereka. Namun aku mengetahui fakta bahwa tuan Sanjaya dulunya pernah memiliki hubungan dengan istri tuan Mario. Yah, tentu saja aku tidak sengaja mengetahuinya." ucap pak Bayu.


"Maksud anda? papa saya pernah menjalin hubungan dengan mama Maya, mertua saya?!" tanya Darel yang dibalas anggukan kepala dari pak Bayu.

__ADS_1


Darel begitu terkejut dengan fakta ini. Begitu juga Lukas, Adi dan Harri. Mereka sama terkejutnya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


Apa-apaan ini? mengapa jadi begini? papa?! apa papa dalang dibalik terbunuhnya kedua orang tua Mentari??!!


__ADS_2