
Hyuna kembali ke meja makan setelah menenangkan dirinya. Kembali dicampakkan oleh Alvaro membuat hati Hyuna merasa sakit. Dia hanya ingin berteman dengan Alvaro, namun bocah itu seperti enggan menatapnya, bahkan mungkin mendengar namanya saja Alvaro enggan.
"Hyuna, sayang!! kamu kemana ajaa? tante cariin loh dari tadi." ucap Daniar yang melihat kedatangan Hyuna.
"Hyuna tadi ke taman sebentar, tante." jawab Hyuna.
"Ya sudah ayo sini makan! duduk di samping tante." ucap Daniar menyiapkan tempat duduk Hyuna berada di sampingnya.
"Makasih, tante!" ucap Hyuna.
Hyuna pun mulai duduk di kursi yang sudah disiapkan Daniar. Dan sialnya, lagi-lagi dihadapannya adalah Alvaro. Bocah itu sama sekali tidak mau menatap ke arah Hyuna walau hanya satu detik pun membuat hati Hyuna kembali teriris.
********
SEPULUH TAHUN KEMUDIAN.....
Hyuna telah beranjak dewasa. Usianya telah mencapai delapan belas tahun. Dia tumbuh menjadi remaja yang sangat cantik namun sedikit tomboy. Tidak ada pakaian wanita feminim didalam kamarnya, hanya ada kaos dan hoodie oversize dan juga celana. Tidak ada rok didalam kamarnya selain rok sekolah.
Seperti hari ini, Hyuna bangun terlambat. Dia harus pergi ujian hari pertama sekolah. Hyuna telah bersiap dengan seragamnya, menenteng tas hitam miliknya lalu pergi ke garasi.
Hyuna memilih mengendarai motor sport berwarna merah miliknya ketimbang mobil mewah yang dibelikan oleh Darel, papinya. Sejak masuk SMA ini, Hyuna tidak lagi satu sekolah bersama Shaki dan Kaivan. Hyuna memilih sekolah lain. Dan bisa kalian tebak ada siapa di sekolah itu?! yah, tentu saja Alvaro. Alvaro juga bersekolah di sekolah yang sama dengan Hyuna. Lebih tepatnya, Hyuna yang memilih sekolah dimana Alvaro sekolah.
Bel tanda masuk sekolah telah berbunyi ketika Hyuna baru sampai di parkiran sekolah. Dia bergegas berlari menuju ke ruangannya untuk memulai ujian hari ini.
********
Bel telah berbunyi tanda ujian hari ini telah usai. Hyuna berjalan ke meja guru untuk menumpuk hasil ujiannya lalu mengambil tasnya dan keluar kelas.
"Hyunaaaa!!!" panggil Raisa.
Raisa juga bersekolah di sekolah ini. Sejak SMP, mereka telah bersepakat untuk terus bersama dan bersekolah di sekolah yang sama.
"Duhh, capek banget otakku!! rasanya mau meledakk!!" keluh Raisa yang telah berdiri di hadapan Hyuna.
"Yaelah, baru segitu doang juga!!" ucap Hyuna.
"Yeee, lo mah enak! udah pinter, cantik pula! lah gue?!" ucap Raisa.
"Hahaha..."
Tawa Hyuna tiba-tiba berhenti. Raisa yang kebingungan pun menatap ke arah tatapan mata Hyuna.
"Lo masih suka sama dia?!" tanya Raisa.
__ADS_1
"Tentu saja! dan selamanya akan begitu!" ucap Hyuna tidak mengalihkan pandangannya.
"Dih bestie!! lo itu udah ditolak berulang kali sama dia, mending cari yang lain aja lahh!! banyak kok cowok-cowok yang suka sama lo, ehh lo nya malah suka sama cowok yang nggak suka sama lo!" ucap Raisa.
"Eh, gue pergi dulu yaa, byeee!!!" ucap Hyuna langsung berlari meninggalkan Raisa yang memakinya.
Di tempat parkiran. Hyuna menghampiri Alvaro yang berkumpul bersama teman-temannya.
"Kak!!!" panggil Hyuna dengan senyum lebar.
"Duhhh, lalat datang lagiii!!! nggak capek apa lo ditolak mulu sama Varo??" sindir Amanda, salah satu cewek populer disekolah ini.
"Tau tuh!! udah putus yaa urat malunya sampai-sampai ngejar-ngejar Varo padahal udah ditolak berulang kali sama dia?!" tambah Nadia, satu geng dengan Amanda.
Dalam geng Amanda, ada lima orang. Amanda, Nadia, Vanesa, Oliv, dan Sabrina. Mereka semua adalah cewek-cewek populer di sekolah ini. Sedangkan geng Alvaro ada delapan orang. Alvaro, Alex, Aldian, Angga, Byran, Farel, Ali, dan Jeremy.
Grup Amanda bergabung ke grup Alvaro karena menurut kabar yang beredar, Amanda menyukai salah satu cowok di geng Alvaro, namun tidak tahu siapa itu.
"Aku nggak ada urusannya sama kalian!" ucap Hyuna menatap mata Amanda.
"Lo berani nantangin gue?!" kesal Amanda.
"Kak..." ucap Hyuna tidak menghiraukan perkataan Amanda.
"Hahahaaa, kasiannn dibentakkk sama Varoo!!!" cibir Amanda.
"Tau tuh, dasar nggak punya maluu hahahaa!!!" tawa geng Amanda yang lain mengejek Hyuna.
"Maaf kalau gitu, Hyuna pergi dulu!" ucap Hyuna.
"Sana pergi jauh-jauh!! husss....huss..." usir Amanda sambil mengibaskan tangannya.
Hyuna menuju ke motornya, lalu pergi secepatnya. Hyuna tidak langsung pulang, melainkan pergi ke suatu tempat. Disana Hyuna bisa merasa sangat nyaman dan damai. Hyuna pergi ke bukit favoritnya. Tempat yang begitu sejuk dan penuh dengan pepohonan hijau yang mampu meluruhkan semua kesedihannya.
"Mami, andai mami masih ada disini!! Hyuna pasti bisa bercerita sama mami soal kak Varo!! Hyuna takut kalau cerita sama papi, atau sama kakak. Mereka cowok, Raisa bilang hanya wanita yang mengerti isi hati wanita lain kan??" Hyuna bermonolog.
Hyuna menatap ke hadapannya. Sedihnya perlahan mulai menghilang. Semilir angin siang itu merasuk sampai ke tubuh Hyuna. Udara yang masih sangat segar, tanpa adanya polusi.
********
Hyuna kembali ke rumahnya menjelang maghrib. Darel dan semua orang dirumah sangat mencemaskan Hyuna karena saat Darel menelepon tadi, wali kelas Hyuna bilang kalau sekolah sudah usai sejak pukul sebelas siang tadi.
Begitu Hyuna memasuki rumahnya, dirinya disambut dengan tatapan cemas dan penuh selidik dari papi dan kakak-kakaknya.
__ADS_1
"Hyuna, kamu kemana aja sih?! jam segini baru pulang? papi cemas dari tadi nungguin kamu!!" omel Darel.
"Maaf papi, tadi Hyuna ke makam mami!" ucap Hyuna.
Memang tidak bohong, Hyuna tadi sempat mampir ke makam milik Mentari. Darel yang mendengar jawaban itu mendadak surut emosinya, begitu juga dengan Iwang, Shaki, dan Kaivan.
"Hyunaa, lain kali kalau mau pergi bilang dulu sama papi atau sama kakak yaa?! papi takut kejadian dulu terulang lagi sayang!! papi nggak mau kehilangan kamu!!" ucap Darel.
"Papii, Hyuna bisa kok jaga diri Hyuna! Hyuna sekarang udah besar papiii!!" jawab Hyuna.
"Bagi papi, kamu dan kakak-kakak kamu masih seperti bayi yang harus papi jaga. Pokoknya papi nggak mau ada alasan lagi, setelah ini kalau mau kemana-mana harus memberi kabar, oke?!" ucap Darel.
"Oke papii!! yaudah Hyuna ke kamar dulu, mau mandi!" ucap Hyuna.
"Ya sudah sana, nanti langsung ke meja makan yaa!" ucap Darel.
"Wokee papii!!" jawab Hyuna.
Hyuna berjalan menuju kamarnya. Tanpa dia sadari, bahwa Iwang mengikuti langkahnya.
"Darimana tadi?" tanya Iwang saat sudah berada didepan kamar Hyuna.
Hyuna menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan dari kakak pertamanya itu.
"Aku kan tadi udah bilang kak, aku dari makam." jawab Hyuna setelah berbalik menatap kakaknya.
"Darimana tadii??" tanya Iwang mengulangi pertanyaannya.
"Huftt, iya-iya, tadi habis dari bukit!!" jawab Hyuna pasrah.
Memang tidak ada yang bisa berbohong kepada Iwang. Kakak pertama Hyuna itu lebih teliti daripada Darel kalau soal perasaan. Bahkan sifat Iwang yang begitu diturunkan kepada Shaki. Hingga Hyuna tidak akan bisa berbohong kepada dua orang itu.
"Kenapa ke bukit? ada masalah? biasanya kalau kamu kesana selalu lagi dalam masalah?! terus kenapa tadi bohong sama ayah?" tanya Iwang.
Iwang meletakkan kedua tangannya di dada semakin membuat Hyuna menunduk. Gestur tubuh Iwang yang begitu terlihat menakutkan bagi Hyuna, apalagi ditambah tatapan mata yang tajam itu. Ihhh, ngeriii!!!!
"Tadi lagi kangen aja sama mami, Hyuna kan juga pengen curhat sama mami kayak Raisa dan teman-teman Hyuna yang lain!" ucap Hyuna sambil menundukkan kepalanya.
Iwang terlihat menghela nafasnya. Membahas Mentari selalu membuat air matanya menggenang. Kalau berbicara tentang rindu, Iwang pun juga rindu kepada Mentari. Namun apalah daya, sekarang hanya kenangan saja yang dia punya.
"Kan masih ada ayah, ada kak Iwang, kak Shaki, dan kak Ivan?!" ucap Iwang mulai melunak.
"Itu bedaa!!! Kalian kan laki-laki, Hyuna perempuan!! kalian aja nggak tau gimana rasanya datang bulan. Dulu waktu aku datang bulan untuk yang pertama kalinya aja kalian nggak tau harus ngapain, untung masih ada mbok yang membantu aku. Raisa juga gitu waktu datang bulan pertama, dia ada ibu yang memberitahu banyak hal tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat datang bulan. Hyuna juga mau kak, Hyuna iriii!!" ucap Hyuna menatap mata Iwang dengan mata yang telah mengembun.
__ADS_1