
Dirumah Daniar, mama Daniar terlihat mondar-mandir sambil terus menatap ke gerbang depan harap-harap cemas dengan keadaan Daniar dan yang lainnya.
"Sudahlah ma, palingan mereka juga lagi keliling-keliling dulu cari angin! masih muda biar dihabiskan waktunya senang-senang." ucap papa Daniar yang tengah duduk di teras rumah sambil menyeruput teh hangat.
"Aduh paa, matahari udah tenggelam ini loh tapi anak-anak belum pulang juga! mama khawatir sama mereka!" ucap mama Daniar gelisah.
"Sudahlah, sini minum teh hangat ini biar lebih rileks!" ucap papa Daniar.
"Ish papa ini! mama lagi serius pa, kok malah dibercandain!" ucap mama Daniar kesal.
"Kan... nah itu mereka!" ucap papa Daniar melihat sebuah mobil memasuki halaman rumah mereka.
"Alhamdulillah, syukurlah mereka tidak apa-apa!" ucap mama Daniar lega.
Tapi, loh!
Mentari keluar dari mobil diikuti yang lain. Wajah mereka terlihat bersedih kecuali Daniar yang terlihat marah sekaligus sedih. Dan Mentari....ah sepertinya dia habis menangis. Matanya terlihat sedikit membengkak.
"Tari...Daniar...Anisa...Angel...Shiren..kalian tidak apa-apa kan? mama cemas kalian belum pulang-pulang dari tadi!" ucap mama Daniar mendekati kearah mereka disusul papa Daniar.
Tidak ada tanggapan dari mereka. Bungkam, tidak ada yang berani berbicara. Sekilas mama Daniar melihat kearah Mentari.
"Tari, kamu kenapa? kamu habis menangis hemm? mata kamu bengkak loh, nak! ada apa? cerita sama mama!" tanya mama Daniar masih tidak ada respon dari Mentari.
Mama Daniar yakin kalau ada sesuatu yang buruk terjadi kepada Mentari. Namun sesuatu itulah yang belum ada yang mau membicarakan kepadanya.
"Tari, apa ada yang menyakitimu? bilang sama papa! biar papa hajar orang itu! ayo bilang Tari!" ucap papa Daniar.
Mama Daniar menatap anaknya memainkan isyarat untuk mengetahui apa yang terjadi. Cukup lama ibu ada anak itu beradu pandang namun mama Daniar masih belum juga paham apa titik masalahnya.
"Boleh aku masuk dulu? aku sangat letih!" ucap Mentari lirih.
__ADS_1
Dari suaranya yang serak seolah menahan tangis membuat mama Daniar semakin yakin dengan perasaannya bahwa Mentari tidak sedang baik-baik saja.
"Ah, kamu letih ya nak! ayo-ayo masuk dulu, kalian juga masuk ya sudah malam!" ucap mama Daniar mengajak mereka semua masuk.
Mentari berjalan didepan. Tatapannya masih kosong seolah hanya raganya saja yang ada disana namun jiwanya entah berkelana kemana. Daniar tentu saja sedih melihat Mentari seperti itu, ingin membantu juga tidak tahu harus berbuat apa.
Brakk....
Mentari menutup pintu kamar dengan cukup keras membuat mereka terkejut.
"Niar, katakan apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kalian pulang-pulang sedih gitu?! terus itu, Mentari kenapa?" tanya mama Daniar tidak bisa menahan perasaannya lagi untuk tidak bertanya.
"Ma, pa? Niar boleh tanya?" tanya Daniar menatap kedua orang tuanya sendu.
Daniar mewakili yang lain untuk berbicara kepada orang tuanya. Bungkam dan menyembunyikan masalah ini dari mereka pun percuma sekarang.
"Silahkan!" ucap papa Daniar sambil membenarkan posisi duduknya bersandar di kursi.
"Jika anak kalian mendapatkan kesakitan dari seorang pria, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Daniar menunduk namun tatapannya entah kemana.
Entah karena rasa penasarannya yang terlalu tinggi atau karena Daniar dan yang lain tidak ingin berbicara, yang jelas mama Daniar tengah kesal sekarang.
"Tentu saja papa tidak akan tinggal diam! anak yang papa besarkan, papa rawat, papa bahagiakan dia semampu papa, dan papa didik dia menjadi anak yang papa banggakan tidak akan papa biarkan orang lain menyakitinya dengan mudah!" ucap papa Daniar.
"Jika itu anak orang lain?" Daniar menatap penuh arti kepada papanya.
Mata mereka beradu pandang cukup lama. Ada banyak pertanyaan yang tersirat dari tatapan anak perempuannya itu. Untuk sesaat papa Daniar tahu masalah mereka.
"Apa Darel melakukan sesuatu kepada Mentari lagi?" tanya papa Daniar tiba-tiba.
"APA? apa yang dilakukan Darel kali ini Niar? kalian juga kenapa diam saja? jawab mama apa yang dilakukan Darel?" tanya mama Daniar panik.
__ADS_1
"Ma, tenang dulu! mereka semakin takut bicara nanti!" ucap papa Daniar tenang.
Daniar tahu papanya ini tengah geram kepada Darel. Namun karena belum tahu kejadiannya, papa Daniar memilih menahan emosinya lebih dulu.
"Bagaimana mama bisa tenang pa? Mentari itu sudah seperti anak kita sendiri! bukan sekali ini loh Darel menyakiti Mentari." ucap mama Daniar marah.
"Iya papa tau! tapi mereka akan takut bicara kalau mama seperti ini! sudah diam dulu! biar papa yang bicara!" ucap papa Daniar tenang namun tegas.
"Jadi?" tanya papa Daniar mengalihkan pandangan kepada ke arah Shiren, Daniar, Anisa, dan Angel.
Wanita-wanita itu tidak ada yang berani berbicara, atau lebih tepatnya takut salah bicara. Mereka kompak menundukkan kepala.
"Jadi tadi itu...."
Daniar mulai menceritakan semua kejadian saat awal bertemu dengan Pretty, mantan kekasih Darel hingga pengakuan Pretty mengenai Darel yang membelikannya apartemen dan memberi kartu kredit ditambah pembenaran Aqis yang bertugas menjaga Pretty atas perintah Darel.
"Astaghfirullah hal'adzim! Darel kejam sekali! kurang apa Mentari sama dia? bisa-bisanya dia berbuat sekeji itu kepada Mentari!" ucap mama Daniar setelah mengetahui semua ceritanya.
"Setelah bertemu Aqis, Mentari jadi seperti ini! aku yakin kalau Mentari sangat kecewa kepada Darel saat ini. Bagaimana tidak?! kejadian dahulu terulang kembali dan sekarang justru lebih parah!" ucap Angel.
"Papa benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Darel. Mentari itu tidak kurang apapun, dia cantik, mandiri, dan pintar tapi Darel malah memilih mantannya yang jelas-jelas mura*an! mata Darel pasti sudah buta hingga dia berani melepaskan berlian demi menggenggam sebuah batu jalanan!" ucap papa Daniar geram.
Bagaimana tidak, Mentari sudah menjadi bagian dari keluarganya, salah satu anak perempuannya. jika dia bisa memasang badan untuk melindungi Daniar, putri kandungnya, dia juga tidak segan melawan satu dunia untuk membela putri angkatnya.
********
Disisi Mentari saat dia memasuki kamar. Tangisnya pecah begitu saja. Ingin teriak, namun dia tidak bisa. Ingin marah namun tidak bisa. Kecewa, terluka, hanya itu yang menggambarkan perasaannya sekarang.
Mentari terduduk dibawah bersandar ditepi ranjang. Begitu sesak dadanya sekarang hingga untuk berpura-pura tegar dihadapan orang tua Daniar saja di tidak sanggup. Bukan tidak menghargai pemilik rumah ini, namun jika Mentari tetap bersama mereka tadi bisa jadi mereka akan melihat betapa rapuhnya dia sekarang.
"Kenapa kau jahat sekali Darel? aku kurang apa padamu? kau meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahanmu yang dulu tapi...." ucap Mentari tercekal.
__ADS_1
"Tapi kau kembali bersama wanita mur*han itu! kenapa Darel....KENAPAAAAA!!!!" teriak Mentari sambil membekapkan wajahnya ke sebuah guling agar suaranya tidak terdengar dari luar.
"Kau jahat Darell!!! aku benci!! aku sangat benciii!!!! kau terlalu melukaiku! sangat melukaiku...Darell!" ucap Mentari menangis histeris.