
Sudah satu minggu sejak kejadian itu, kini Mentari terlihat tidak seceria dahulu. Meskipun bibir mungilnya tersenyum, namun senyum itu terasa getir bagi Darel. Bukan senyum tulus yang mampu melelehkan hatinya, namun senyum yang dipaksakan. Darel dan Iwang sudah mencoba berbagai cara untuk mengembalikan keceriaan Mentari namun tetap saja, dihadapan mereka Mentari seolah tertawa namun saat tidak ada mereka air mata itu jatuh kembali.
Hari ini nyonya Ardi ingin mengunjungi Mentari. Sudah lama sekali rasanya dia tidak mengunjungi menantu keduanya dan juga cucu yang ada diperut Mentari. Dia sudah membelikan banyak barang untuk Mentari. Sekalian nyonya Ardi ingin membagi cerita dengan menantunya itu mengenai keanehan suaminya akhir-akhir ini.
"Loh, pak, kenapa berhenti?" tanya nyonya Ardi pada sopir pribadinya.
Mobil yang dia kendarai tiba-tiba berhenti tepat didepan gerbang rumah Darel.
"Maaf, nyonya, tapi penjaga itu menghentikan kita." jawab sopir.
"Penjaga?" tanya nyonya Ardi menatap kearah depan.
Terlihat olehnya dua penjaga yang memberhentikan mobilnya. Nyonya Ardi pun turun dari mobil dan menghampiri dua penjaga itu.
"Maaf nyonya, anda tidak boleh masuk kedalam." ucap penjaga 1.
"Loh kenapa? saya ini mamanya Darel! masa mamanya sendiri mau mengunjungi anaknya tidak boleh?" tanya nyonya Ardi.
"Maafkan kami, nyonya! tapi ini perintah langsung dari tuan Darel sendiri. Anda bisa menanyakan langsung pada tuan kalau anda tidak percaya." ucap penjaga 2.
"Yasudah biar saya telepon!" ucap nyonya Ardi langsung mencari ponselnya yang berada di dalam tas.
Tutt.....tuttt....tutt....
"Hallo?" tanya Darel dari sebrang telepon.
"Darel, kamu nih apa-apaan sih? masa mama mau masuk ke rumah kamu mengunjungi Mentari dilarang sama anak buah kamu?" kesal nyonya Ardi.
"Maaf, ma! aku nggak bisa memperbolehkan istriku dikunjungi sembarang orang untuk saat ini." ucap Darel.
"Memangnya kenapa? toh mama bukan orang luar, Darel!" ucap nyonya Ardi.
"Maaf, ma, Mentari tengah sakit. Aku takut nanti mama membawa virus dari luar dan memperburuk penyakitnya." jawab Darel asal.
"Lah, kamu kan juga dari luar?! kenapa kamu boleh masuk sedangkan mama nggak boleh? pokoknya mama mau masuk! biar sekalian mama yang jaga Mentari!" ucap nyonya kekeh.
"Duhh, maa! aku nggak bisa membiarkan sembarang orang masuk. Emang mama mau terjadi apa-apa pada menantu dan calon cucu mama? enggak kan?" ucap Darel.
"Enggak, mama nggak mau Mentari dan cucu mama kenapa-kenapa! ya sudah mama nggak jadi masuk! tapi nanti kalau Tari udah sembur ajak main ke rumah yaa." ucap nyonya Ardi.
"Iyaa, maa, nanti kalau Tari udah sembuh kita main kerumah!" ucap Darel tidak bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Yasudah!"
Tutt...
Panggilan diakhiri oleh nyonya Ardi.
"Yasudah saya nggak jadi masuk! tapi makanan dan barang-barang ini tolong kasih ke menantu saya, yaa!" ucap nyonya Ardi kecewa.
"Baik, nyonya!" ucap dua penjaga itu bersamaan.
Akhirnya nyonya Ardi memutuskan untuk pulang tanpa bertemu menantunya.
********
Di kantor Darel, untung saja tadi mamanya percaya kalau Mentari tengah sakit. Bukan Darel ingin durhaka karena berbohong pada mamanya, namun ini demi kenyamanan istrinya. Darel tahu benar kalau saat ini Mentari masih kecewa dan bersedih atas pengakuan papanya tempo hari. Mungkin dengan adanya mamanya, Mentari akan semakin mengingat pengakuan dan kesakitannya dahulu.
Darel tadi juga telah menghubungi Daniar dan juga Zanu agar mereka berdua menginap dirumah Darel selagi Mentari dalam kondisi seperti ini. Zanu dan Daniar juga mengiyakan permintaannya dan selama beberapa minggu kedepan Daniar serta Zanu akan menginap dirumahnya. Mungkin dengan adanya Daniar didekatnya, Mentari bisa dengan leluasa menceritakan keluh kesahnya, dimana hal itu tidak bisa dibagi dengannya, mungkin.
"Tuan, untuk anak dari wanita yang mengolok-olok nona. Sepertinya dia juga memiliki sifat yang sama dengan ibunya." ucap Adi.
"Apa dia pernah mengganggu Mentari selama menikah denganku?" tanya Darel.
"Pernah, tuan! beberapa hari yang lalu dia datang memaki nona karena telah menjebloskan ibunya ke penjara. Namun nona membalas setiap makian itu hingga membuat dia pergi dari rumah." ucap Adi.
"Benar tuan! maaf karena baru melaporkan hal ini kepada anda. Sebenarnya sudah sejak beberapa hari yang lalu saya menerima kabar ini, namun karena saat itu kondisi nona sedang buruk jadi saya menunda mengatakannya." ucap Adi.
"SIALL!!! DASAR KELUARGA PARASITT!!!" maki Darel.
"Cari tahu informasi mengenai anak wanita itu!" ucap Darel emosi.
"Saya sudah mencarinya tuan, dia tengah berkuliah di Universitas Indonesia, fakultas hukum. Nilai IPK nya tidak sampai 2.35. Dia masuk ke universitas itu hanya karena gengsi ibunya. Dia juga sering bolos saat jam kuliah." jelas Adi.
Adi telah mencari semua data dari keluarga Surti. Semuanya!
"Keluarkan dia dari universitas itu dengan kekuatan relasi kita atau aku hancurkan universitas itu dengan tanganku sendiri!!" ucap Darel dengan sorot mata tajam.
"B...baik tuan! saya akan mengeluarkan dia dari universitas itu!" ucap Adi yang takut melihat sorot mata tuannya.
"CEPATTT!!!" teriak Darel.
Adi dengan tergesa-gesa keluar dari ruangan Darel untuk menuntaskan tugas dari tuannya itu.
__ADS_1
"Kau telah salah memilih lawan untuk bermain anak muda!! ku pastikan masa muda akan penuh dengan duri! dan aku yang akan menjadi duri itu. Akan ku buat hidupnya menderita karena telah menyenggol kehidupanku!!" Darel bermonolog.
********
Lukas sampai di panti asuhan. Sejak dua hari ini, Lukas diminta untuk mengatur panti asuhan ini. Tentu Amira sangat keberatan, terlebih Adi pernah mengatakan padanya bahwa Lukas tidak akan mengganggunya disini. Namun Lukas bilang Adi tengah sibuk mengurus banyak hal maka dari itu dirinyalah yang diminta untuk mengawasi panti asuhan ini.
"KAKK LUKASSS!!" teriak anak-anak panti saat melihat Lukas turun dari mobilnya.
Lukas membawa banyak snack untuk anak-anak panti. Dengan penuh kegembiraan anak-anak panti itu langsung menghampiri dirinya.
"Haii!!! kalian selalu bersemangat yaa! lihat ini kakak bawa apa untuk kalian?!" ucap Lukas menunjukkan dua buah kardus berisi snack untuk anak-anak panti.
"Sana, dibagi rata yaa!" ucap Lukas memberikan kardus itu pada anak-anak.
Setelah menerima kardus dari Lukas, anak-anak itu berlari ke arah gazebo lalu membagi snack itu dengan rata.
Lukas yang melihat Amira tengah memperhatikannya dari jauh pun mendekatinya.
"Mira!" panggil Lukas.
Tidak ada sahutan dari Amira.
"Maaf!" ucap Lukas.
"Untuk apa? semua telah terjadi! perkataanmu, janjimu hanya sekedar penenang. Nyatanya kau meninggalkanku disaat aku sangat membutuhkanmu!" jawab Amira tanpa menoleh kearah Lukas yang menatapnya sendu.
"Andai saat itu sekali saja! sekali saja kau menoleh kebarahku, mungkin saat ini anak kita masih ada disini! bersamaku!! tapi apa?! kau bahkan tidak menoleh bahkan untuk satu detik pun!" ucap Amira.
Masalalu! membahas masalalu dengan Lukas selalu membuatnya emosional. Dia senang bertemu dengan Lukas namun dia juga sedih bertemu dengan Lukas. Dia mencintai Lukas, namun dia juga membenci pria itu.
"Maaf!" ucap Lukas untuk kesekian kalinya.
Hanya kata itu yang bisa dia ucapkan sekarang. Nasi sudah menjadi bubur. Andai dia bisa kembali ke masalalu, ingin rasanya Lukas kembali pada hari itu lalu menoleh kearah Amira dan menolongnya. Mungkin Amira benar, andai dia menoleh hari itu, Amira pasti tidak akan keguguran dan anak mereka pasti masih ada ditengah-tengah mereka.
"Maafmu tidak bisa mengembalikan anakku, Lukas! dia pergi karena keegoisan mu! kau meninggalkan kami, lalu kau ingin kembali? heh!" Amira tersenyum getir.
"Apa tidak ada kesempatan kedua untukku, Amira?" tanya Lukas menatap nanar ke arah wanita yang paling dia sayangi itu.
"Aku tidak tahu, Lukas! mengingatmu sama saja dengan membuka luka lama ku! aku membencimu, tapi aku juga sangat mencintaimu. Aku ingin kau menghilang dari hidupku tapi aku juga tak sanggup tanpamu! sihir apa yang kau gunakan padaku hingga aku seperti ini, Lukas?" tanya Amira.
Setitik air mata jatuh ke pipi mulus Amira. Wanita itu telah menahan air matanya sedari tadi agar tidak jatuh, namun hanya sia-sia saja karena pada akhirnya air mata itu jatuh juga.
__ADS_1
"Cinta! sihir itu adalah cinta, Amira!" jawab Lukas.