
"Yah cinta sih cinta, tapi akhlaknya juga dijaga dong! masa udah punya istri masih "jajan" diluar sih!" omel Daniar.
Hatinya masih tidak rela jika Mentari berbaikan dengan Darel terlepas dengan apa yang sudah dilakukan Darel yang bagi Daniar tidak pantas dilakukan oleh seorang suami khususnya.
"Tunggu dulu!" mengingat-ingat sesuatu.
"Kau bilang Mentari berada di Korea bersama seorang pria kan?" tanya Daniar selidik.
Zanu mengangguk bingung.
"Dan pria itu bernama Galih, benarkan?" tanya Daniar lagi dan lagi-lagi dijawab anggukan kecil oleh Zanu.
"Apa? Galih? apa Galih ini maksudmu?" tanya papa Daniar terkejut sembari memperlihatkan sebuah foto keluarga.
"Iya benar Galih yang itu. Emm, jadi dia.." terpotong.
"Kenapa kakak tidak bilang sih kalau Mentari ada sama dia??" kesal Daniar.
"Mungkin Mentari sendiri yang menginginkan Galih agar tidak memberitahu siapapun." ucap Zanu.
"Sudahlah Niar, jangan marah-marah terus! nanti cepat tua loh! nih mulai ada keriput nih disini!!" sembari menunjuk beberapa guratan diwajah Daniar.
"Zanuuuu!!!!" mendengus kesal.
"Hahahahaha!!!!" papa Daniar dan Zanu tertawa senang karena berhasil menjahili Daniar.
"Sudah-sudah bercandanya, ayo makan! makanannya sudah siap!" ucap mama Daniar sembari meletakkan masakan terakhir.
********
"Ngidam? apa itu? apa sebuah penyakit?" tanya Darel polos.
Bibi dan pelayan wanita disana beserta Mentari menepuk jidat mereka tidak habis pikir dengan pertanyaan Darel.
"Emm, gimana ya menjelaskannya?" berpikir.
"Biasanya kalau ada wanita hamil terus minta sesuatu itu dinamakan ngidam, tuan muda." jelas bibi sesingkat dan sejelas mungkin.
"Ohh, ya kalau gitu buatkan BBQ! apa kau mau makan yang lain?" tanya Darel kepada Mentari.
Mentari menggelengkan kepala sembari menunjukkan raut wajah menggemaskan membuat Darel tidak tahan ingin "memakannya".
"Besok aku ada acara keluar, kau dirumah saja ya!" ucap Darel.
"Kenapa? aku juga mau ikut!" merengek seperti anak kecil.
"Disana akan ramai orang, dan aku khawatir dengan kondisimu sekarang!"
"Tidak-tidak! aku yakin kau akan menjagaku!"
"Baiklah, kalau begitu ada syaratnya!"
"Boleh!"
"Aku belum bilang apa syaratnya kok main boleh-boleh aja?" menggoda.
"Aku tahu kok kamu nggak akan menyusahkan ku! kau kan mencintaiku!" tersenyum manis.
Oh Tuhan, tuan! kami masih ada disini loh! setidaknya hormati kami yang jomblo ini. Kami kan juga mau! batin Harri.
Tutup dulu lah pintu ini atau setidaknya suruh kami keluar dulu baru kalian bermesraan sepuasnya!!!! batin Adi.
"Eh, ehem...ehem!! kalian boleh pergi dulu! siapkan makanan untuk Mentari tadi ya! dan jangan lupa tutup pintunya!" ucap Darel kikuk.
Darel lupa jika sekarang banyak mata melihat mereka. Setelah semua orang pergi, Darel melangkah mendekati Mentari, berbisik disamping telinganya.
"Aku mau tubuhmu!" sembari mengecup pelan tengkuk Mentari.
Ada sesuatu yang aneh ketika Darel melakukan itu padanya, entah kenapa Mentari merasa senang dan malu disaat yang bersamaan.
"Tapi....tapi....aku kan sedang hamil?"
"Aku akan melakukannya pelan-pelan kok, tenang saja! waktu itu kita melakukannya ketika kau tidak sadar, dan sekarang aku mau kita mengulanginya nanti malam!" tersenyum genit.
Mentari merasa malu mendengar ucapan Darel. Pipinya sudah memerah karenanya. Mentari memutuskan untuk memaafkan Darel saja, selain karena dia sedang mengandung, Mentari juga sebenarnya takut kehilangan Darel dan tidak bisa jauh dari Darel.
Baru saja henda mencium Mentari, tiba-tiba pintu diketuk dari belakang.
Ah, sial!!! jadi gagalkan mau cium Mentari!!!
__ADS_1
Darel membuka pintu dengan kasar dan terlihatlah sosok Adi dibalik pintu.
Apa aku datang disaat yang tidak tepat?
"Apa?" mendengus kesal.
Ah, aku pasti sudah datang disaat yang tidak tepat!!!
"Maaf tuan, ada telepon dari tuan besar."
"Papa? kenapa tidak langsung menelpon dinomerku?" bingung.
"Coba anda cek ponsel anda!" melirik ponsel yang tergeletak jauh di meja ruang tamu.
Darel mengambil ponselnya dan benar saja, ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari tuan Ardi. Darel pun mendekati telepon rumah dan mengangkat telepon dari papanya.
"Hallo pa??"
"Dasar anak tengik, kamu kemana aja!!!! dari tadi ditelepon nggak bisa-bisa! eh, kasihkan telepon ini ke Mentari!" ucap tuan Ardi.
"Kok Mentari? bukannya papa mau ngomong sama aku?"
"Apa nya yang ngomong sama kamu? papa sama mama mau ngomong sama Mentari! udah cepat sana kasih telponnya ke Mentari!"
Dengan lesu Darel memberikan telepon itu ke Mentari. Begitu suara Mentari terdengar oleh papa dan mama Darel, mereka langsung merasa lega.
"Mentari, bagaimana kabar kamu, nak? kami baik-baik saja kan disana?" tanya nyonya Ardi bersemangat.
"Iya ma, aku baik-baik saja kok. Lagi pula disini ada Darel yang pasti akan menjagaku." ucap Mentari sembari melihat Darel.
"Syukurlah kalau begitu. Kami semua sudah mendengarnya kabar bahwa kamu hamil. Kami semua sangat senang mendengarnya Mentari!"
Mentari bingung mendengar perkataan mama mertuanya ini, dari mana mereka tahu kalau Mentari tengah mengandung? pikirnya.
Ah, paling juga Darel sudah mengatakannya kepada semua! batin Mentari.
"Sebagai calon ibu yang hamil muda, kamu harus banyak-banyak beristirahat, jangan kecapekan, jangan angkat yang berat-berat, pekerjaan rumah biar pelayan disana saja yang mengerjakan!" ucap nyonya Ardi.
"Oh iya Mentari, apa kau sudah memaafkan Darel, nak?" tanya tuan Ardi tiba-tiba.
Mentari diam sesaat. Matanya spontan menatap ke arah Darel.
"Syukurlah kalau begitu, oh iya, kapan kalian kembali?" tanya nyonya Ardi lega.
"Mungkin 4-5 hari lagi ma!" ucap Darel begitu saja.
"Oh, iya hati-hati ya Mentari, kamu harus sehat-sehat saja. Makan makanan yang sehat terlebih lagi buah dan sayuran, kalau kamu mau cemilan, bisa menyuruh bibi untuk memotongkan buah-buahan ya nanti biar mama yang ngomong sama bibi!" jelas nyonya Ardi berusaha menjadi mertua yang baik.
"Iya, ma! lagian Darel juga tidak akan memperbolehkan aku mengangkat yang berat-berat apalagi mengerjakan pekerjaan rumah."
"Mama percaya itu, ya sudah kalau begitu, kamu banyak-banyak beristirahat ya, jaga kandungan kamu!"
"Iya ma!" sambungan terputus.
"Ayo kita makan, semuanya sudah siap!" ajak Darel.
Mentari memberikan teleponnya ke Adi yang masih diam mematung ditempatnya sedangkan Mentari menggandeng tangan Darel, bergelayutan manja.
Semoga saja semua tawa bahagia ini bertahan lama! tuan, aku turut bahagia atas kebahagiaan mu!
Dimeja makan, Mentari dengan lahap memakan BBQ buatan chef profesional dengan didampingi bibi yang sudah berpengalaman dalam melayani wanita yang sedang hamil. Chef itu memasak sesuai arahan dadi bibi,apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh Mentari yang sedang hamil.
********
Ditempat lain, Lukas juga memulai pelatihannya kembali. Hanya karena keteledorannya hingga nona mudanya berada dalam masalah dia harus mengulang kembali pelatihannya bersama Merish. Mulai dari segi bela diri sampai skill meretasnya juga ditingkatkan disini.
Dor...dor...dor... dor...
Beberapa peluru dengan tepat menembak sasaran. Lukas sangat ahli di bidang ini, kecepatan dan ketepatannya dalam menembak tidak bisa dianggap remeh.
Prokk...prokk...prokk....
"Bagus Lukas, bagus! kau memang muridku yang paling cepat menguasai materi yang aku ajarkan!" puji Merish.
"Terimakasih, paman!" ucap Lukas.
"Akan ada ujian terakhir untukmu dan aku harap kau bisa melewatinya dengan mudah, karena jika tidak, nyawamu yang akan menjadi taruhannya!"
"Paman tenang saja, aku sudah pernah melewati ujian itu dan aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menang!"
__ADS_1
"Hahahah, aku sungguh bangga padamu!! emm!" terlihat ragu.
"Ada apa paman?" tanya Lukas.
"Wanita itu!" berjalan ke depan.
"Anal buahku baru saja memberi informasi bahwa dia kembali lagi ke Indonesia!" jelas Merish.
"Apa? bagaimana mungkin?" tanya Lukas cemas.
Baru saja Darel bisa melupakan wanita itu dan dengan susah payah Darel bisa bersatu dengan Mentari dan bahkan mereka akan segera mempunyai seorang anak dan wanita itu justru kembali?
Pasti dia kembali untuk merebut tuan muda lagi! tidak akan aku biarkan dia menyentuh calon penerus Sanjaya Grup! batin Lukas.
"Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba kembali, apalagi seperti yang kita tahu tuan dan nona muda akan segera memiliki momongan dan aku yakin kehadirannya kali ini akan menghancurkan mereka berdua!" jelas Merish cemas.
"Paman tenang saja, bukankah sekarang tuan dan nona muda tidak berada di Indonesia?"
"Iya, tapi tidak menutup kemungkinan mereka akan kembali ke sini. Lagi pula semua kerabat dan sahabat nona ada disini jadi tidak mungkin mereka menetap disana dalam waktu yang lama."
"Ah, iya benar juga yaa!"
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Lukas lagi.
"Kita lihat saja nanti, aku juga belum memberitahukannya pada tuan besar mengenai hal ini." ucap Merish.
********
Sore ini Arul berencana menjenguk Anisa setelah beberapa hari dia tidak bisa menemui wanita yang dia cintai ini. Semakin hari kesehatan Anisa semakin membaik. Mungkin karena tekadnya untuk sembuh lebih besar daripada penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
"Surprise!!!!" teriak Arul memasuki ruangan Anisa.
"Arul!!! kau datang?" tanya Anisa girang.
"Tentu saja, apa kau sudah makan?" tanya Arul sembari membelai lembut rambut Anisa.
"Belum, aku tidak berselera makan makanan rumah sakit!" memanyunkan bibirnya.
"Ahaaa, sudah kuduga! taraaa!" menunjukkan sebuah kotak berisi bubur ayam.
"Bubur ayam? wah terimakasih!! kau masih ingat makanan kesukaanku?" tanya Anisa.
"Tentu saja, aku juga ingat kalau kau tidak suka makan kacang kedelai makanya aku meminta abang yang jualan tadi untuk tidak menambahkan kacang kedelai."
"Aaa terimakasih, aku jadi terharu tau!" ucap Anisa.
"Sudah cepat habiskan!" ucap Arul.
Tanpa pikir panjang, Anisa segera membuka tutup kotak itu. Aroma bubur ayam yang masih hangat dan gurih langsung menyebar ke seluruh ruangan. Anisa dengan lahap memakan bubur ayam itu.
"Wah, wah, wahhh!!!! siapa ini yang datang?" goda Bagas.
Bagas dan Angel datang berencana membawakan makanan untuk Anisa namun ternyata sudah ada Arul yang membawakannya lebih dulu.
"Aku sangat rindu padanya. Oh iya apa kau sudah dengar itu?" tanya Arul.
"Apa?"
"Mentari, dia sudah hamil loh!! wahhh, kita sekarang bakal jadi paman nih!!" ucap Arul.
"Sungguh? wah pasti mereka sangat bahagia mendengar berita ini! tapi mereka sudah berbaikan?" tanya Bagas.
Angel dan Anisa yang tidak mengetahui titik masalahnya pun hanya diam mendengarkan.
"Hem, sudah sih sepertinya. Lagi pula kau tahu Darel kan, dia akan melakukan apapun untuk orang yang dia cintai!" ucap Arul mengingat perlakuan Darel kepada mantannya yang dahulu.
"Yah, kau benar juga! oh iya Sayang! kita makan saja ini lagian Anisa juga sudah dibawakan makanan yang lebih spesial, benarkan Anisa?"
"Baiklah, daripada mubazir!" ucap Angel.
"Eh...eh...eh...aku mana?" tanya Arul.
"Kau kan bisa beli sendiri!!" goda Bagas.
"Aa tidak mau, tidak mau!! itu kan ada banyak berarti punyaku satu!!!!" main comot satu kotak makanan.
"Sudahlah kalian ini, apa tidak malu dilihat Anisa!" ucap Angel melerai.
Bagas dan Arul tertawa bersamaan, bahkan Angel dan Anisa juga ikut tertawa melihat tingkah pasangan masing-masing.
__ADS_1