
"Aku sudah mengatakannya padamu bukan, pindahkan saja aku keruangan biasa. Tapi kau yang memaksaku untuk dirawat disini, dan sekarang kau bilang kalau aku cewek matre?" teriak Mentari marah.
Kehormatannya sebagai wanita baik-baik dipertanyakan saat ini. Prinsip hidup yang dia pegang teguh selama ini sedang dipertanyakan.
"Jika aku memang tidak mengenalmu kau mau apa? jika aku memang tidak sengaja bertemu denganmu kau mau apa? tapi bukan berarti kau bisa merendahkan ku semaumu ya! aku masih punya harga diri dan aku yakin harga dirimu masih jauh lebih terhormat darimu!" sinis Mentari.
Daniar memasuki ruangan Mentari dan melihat keadaan sudah menjadi tegang.
"Ada apa ini?" tanya Daniar pada Angel.
"Kau juga tidak tahu, saat kami datang mereka sudah bertengkar begini!" jawab Angel.
Daniar memperhatikan Darel dan Mentari bergantian.
Belum pernah aku melihat Mentari semarah ini! apa yang dilakukan tuan Darel padanya sebenarnya?
"Cukup!!!!!!" bentak Darel dengan suara tinggi membuat semut pun sungkan untuk berlalu diantara mereka.
"Aku membiarkan mu bicara bukan berarti kau benar! aku membiarkan mu menghinaku bukan berarti kau lebih mulia dariku! kau ini sama saja dengan wanita peng****r diluar sana! haus akan belaian!" ucap Darel.
Plakkkkkk......
Sekali lagi tangan Mentari mendarat di pipi mulus Darel.
Darel memegang pipinya kemudian menatap Mentari tajam.
"Ibumu juga seorang wanita,tuan Darel yang terhormat! aku jadi penasaran bagaimana kau memperlakukan ibumu, apakah sama seperti kau memperlakukan ku sekarang? kau ingat ini baik-baik, tidak semua wanita sama seperti yang kau pikirkan! mungkin ada beberapa wanita yang seperti itu tapi itu bukan aku!" ucap Mentari menurunkan nada suaranya namun masih menekan setiap katanya.
"Aku jadi kasihan padamu! mungkin dulunya kau adalah orang yang sangat mencintai wanitamu dan dia sudah sangat melukai perasaanmu, makanya kau jadi berpikir demikian pada semua wanita! tapi aku, aku tidak akan membiarkan orang lain menghina kepribadian dan prinsipku! termasuk juga dirimu!" tambah Mentari.
"Kau!" Darel terhenti. Tidak dipungkiri ucapan Mentari barusan memang benar adanya.
Siallllll!!!!! ini semua gara-gara wanita jal*ng itu!!!! teriak Darel dalam hati.
__ADS_1
"Niar, tolong kau kemasi pakaian ku, aku mau pergi secepatnya dari sini! aku tidak mau dicap sebagai wanita matre lagi!" ucap Mentari melirik kearah Darel.
Daniar hanya menganggukkan kepalanya, dan membereskan beberapa barang milik Mentari. Sedangkan Mentari menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Infus ditangannya juga sudah dia lepas dari tadi.
Aku sangat tidak mengharapkan kalimat itu darimu! aku pikir kau orang yang baik meskipun kau terkesan cuek, tapi aku yakin kau masih memiliki rasa kemanusiaan! tapi aku salah, salah besar!!!! batin Mentari ketika didalam kamar mandi.
Mereka semua keluar dari ruangan itu.
Tomi menghampiri Darel dan mengajaknya duduk.
"Kau ini, seharusnya kau mencari kebenaran dari apa yang dikatakan Bagas barusan! ini tidak! kau malah memilih mencari seseorang sebagai pelampiasan dan itupun seorang wanita? dan parahnya lagi kau mempertanyakan kehormatannya man! itu tidak baik!" ucap Tomi berbisik.
"Diamlah kau, Tom! kepalaku sudah sangat pusing, kau jangan menambah pusing lagi!" bentak Darel.
Tidak berselang lama, Mentari dan Daniar keluar dari ruangan. Membawa tas kecil yang dicopet dulu dan sebuah kantong paperback berisi sepasang pakaiannya kotor karena darah yang berceceran dan bajunya yang sudah sobek.
Mentari menatap Darel kecewa dan Darel membalas tatapan Mentari. Diam, tidak bereaksi sedikitpun baik menyesal atau angkuh seperti tadi.
Tadi dia seperti orang kesetanan, dan sekarang dia diam seperti tidak punya salah! batin Mentari kesal.
Bagas dan Angel mengangguk bersamaan.
"Harri, Adi, terimakasih sudah menjaga saya selama saya dirawat disini!" ucap Mentari mengalihkan pandangannya kepada Adi dan Harri.
"Sama-sama Mentari, kau mau aku antar?" tawar Adi.
"Tidak usah Adi, Daniar sudah memesan taxi online untuk kami. Kalau begitu kami permisi dulu!" Ucap Mentari berlalu meninggalkan mereka.
"Kami permisi!" ucap Daniar menyusul Mentari.
Sebelum Daniar pergi, dia berhenti dihadapan Darel, menatapnya sebentar dan kemudian menggelengkan kepala kecewa.
Memang apa salahku, orang aku benar kok! dia aja yang sensi! batin Darel mencoba mengalihkan rasa bersalahnya.
__ADS_1
Sebelum pergi, Mentari dan Daniar mampir ke meja admistrasi, membayar semua tagihannya selama dirawat dirumah sakit itu.
Mereka pun menuju pinggir jalan raya setelah membayar tagihan. Menanti taxi online pesanan Daniar datang.
Aku harus tetap semangat, uangku sudah berkurang sangat banyak karena membayar tagihan rumah sakit tadi. Mentari kau harus tetap semangat, masih ada toko kue yang kau miliki. Dan itu tempat penghasilan yang kamu punya! batin Mentari menyemangati dirinya sendiri.
"Apa kau baik-baik saja, Tar?" tanya Daniar yang merasa khawatir akan psikis sahabatnya itu.
Bagaimana tidak, tagihan rumah sakit sendiri saja mungkin bisa membeli pulau pribadi. Dan tabungan Mentari sekarang hanya cukup untuk sehari-hari saja, sedangkan pengeluarannya juga lumayan banyak.
"Aku baik-baik saja kok,Biar. Terimakasih sudah bertanya!" ucap Mentari lembut.
Tidak lama kemudian taxi yang mereka tunggu sampai. Taxi itu pun melaju meninggalkan rumah sakit.
Tidak disadari mereka dari tadi ada sepasang mata melihat mereka dari balik jendela atas. Tempat Mentari dirawat memang berada dilantai 2 rumah sakit. Setelah kepergian Mentari tadi Darel melihat mereka dari balik jendela. Entah kenapa hatinya merasa aneh saat Mentari hendak pergi tadi. Tapi hatinya dikalahkan oleh egonya sehingga dia diam saja.
Apa yang aku rasakan ini sebenarnya? saat Pretty berselisih paham denganku dulu tidak terasa sesakit ini! kenapa rasanya getir sekali!
Dari arah belakang, Tomi menepuk pundak Darel pelan.
"Kau seharusnya tidak mengatakan itu, man! tidak semua wanita seperti Pretty, jadi janganlah kau lampiaskan amarahmu itu pada wanita lain! apalagi aku lihat wanita tadi terlihat tulus dan jujur , tidak seperti Pretty dan temannya dulu itu yang menggodaku!" ucap Tomi panjang lebar.
Darel tidak menghiraukan perkataan Tomi, dia memilih pergi dan kembali ke rumahnya diikuti Harri dan Adi dibelakangnya.
Kapan kau akan berubah, man! sudah bertemu wanita yang baik malah kau hina-hina! dulu bertemu dengan wanita kotor malah kau puja-puja dia bahkan kau menghormatinya seperti dewa saja! batin Tomi.
"Sudahlah biarkan dia tenang dulu! ayo kita ke barku, dan kau Jack cari informasi tentang Pretty dan peristiwa 5 tahun yang lalu, aku mau semua dan sedetail-detailnya. Mengerti?!" perintah Arul pada Jack.
Jack mengangkat tangannya seperti orang sedang menghormati bendera ketika kengibaran bendera sambil sesekali senyum mengejek.
"Bocah ini, masih saja membuatku kesal!" ucap Arul menahan emosi melihat ekspresi Jack.
"Yah, setidaknya aku lebih bisa mengendalikan emosiku daripada pak salju itu!" ucap Jack santai.
__ADS_1
Tomi dan Arul memandang Jack sinis, dan Jack pun tertawa cengengesan.