Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 264


__ADS_3

Lamaran ini dilanjutkan dengan makan malam bersama. Hidangan yang sudah disiapkan sebelumnya dibawa menuju taman belakang. Dengan menggelar tikar mereka makan bersama dibawah sinar rembulan. Canda tawa terdengar di setiap acara ini. Mereka bersuka cita dengan kebahagiaan Rohan seolah itu juga adalah kebahagiaan mereka.


Malam semakin larut. Banyak dari mereka yang sudah tertidur. Rohan menatap ke langit-langit malam yang dipenuhi bulan dan bintang. Cahaya malam ini terasa sangat terang dengan dihiasi perhiasan malam itu.


"Apa yang kau lakukan malam-malam begini?" tanya seorang wanita dari belakang Rohan.


Rohan tersenyum mendengar sapaan itu. Suara yang sangat dia kenali. Suara yang ingin terus-menerus dia dengar disisa hidupnya. Suara milik Suli.


"Menatap indahnya bulan dan bintang! malam ini bintang terasa lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Sepertinya mereka ikut bersukacita atas kebahagiaan kita!" ucap Rohan menatap lekat wajah wanita ayu disampingnya.


"Gombal!!" ucap Suli malu-malu.


"Aku serius!" ucap Rohan.


"Oh ya, besok kita sudah pulang kan? tugas-tugas mu pasti banyak yang menumpuk?"


"Lumayan! kata Bram tidak terlalu banyak tugas saat aku tinggal."


"Ohh!"


Lama sekali keheningan menyapa keduanya. Kini hanya suara jangkrik khas pegunungan yang terdengar.


Prang....


Sebuah benda jatuh terdengar dari arah dapur. Sejenak Suli dan Rohan saling pandang hingga akhirnya mereka berlari menuju sumber suara.


Klik...


"Darel?! ngapain kamu malam-malam begini di dapur? terus itu kamu mau ngapain?" tanya Rohan setelah menghidupkan lampu dapur.


"Itu, Mentari mau jus buah naga! jadi yaaa, aku buatkan!" ucap Darel masih berkutat di depan mesin blender.


Rohan dan Suli saling memandang dengan tatapan penuh arti. Mereka mungkin berpikiran bahwa Darel tidak akan bisa melakukannya. Benar saja yang dipikirkan mereka, baru juga memasukkan buah naga kedalam blender, Darel langsung menyalakan blender itu hingga membuat suara bising. Karena penutup blender tidak dipasang, alhasil buah naga itu pun tumpah hingga mengotori banyak benda termasuk Darel yang berada didekatnya. Bodo*nya juga Darel tidak memasukkan sedikit air atau susu kedalam blender sehingga jus yang dihasilkan terlalu kental.


"Biar aku saja!" ucap Suli yang turun tangan karena Darel tidak bisa melakukannya.


"aku ini buat malu saja! masa memblender saja kamu nggak bisa!" ledek Rohan saat Darel berjalan ke dekatnya dengan baju dan wajah penuh jus buah naga.


"Diam lah kau!!" kesal Darel lalu berdiri didekat Rohan yang menertawakan kekonyolannya.


Suli mengambil alih blender yang sudah berantakan itu. Semula dia mencuci ulang blender agar bersih, lalu memasukkan susu cair, buah naga yang sudah dipotong kecil, lalu menutup blender dan akhirnya menyalakan blender itu.


"Tadi tuan Darel tidak memasukkan air lebih dulu makanya jadi seret! harus dikasih air sedikit atau susu biar lancar blendernya. Terus potongnya jangan yang besar-besar biar lebih mudah hancur!" ucap Suli.


Darel hanya mengangguk-angguk mengerti. Tidak lama berselang, Suli mematikan blender lalu menuang jus buah naga ke dalam gelas dan memberikannya kepada Darel.

__ADS_1


"Ini! lain kali kalau mau buat jus, lakukan seperti yang aku buat tadi biar tidak kemana-mana jusnya! kan mubazir jadinya!" ucap Suli.


"Iya, makasih!" ucap Darel.


Setelah mendapatkan anggukan dari Suli, Darel membawa segelas jus buah naga itu kedalam kamarnya.


"Buahahahaaa.... sayang, kamu habis perang darimana?! hahahahaa!!" ucap Mentari tertawa.


"Ini gara-gara buat jus buah naga nih, jadi belepotan kayak gini!" keluh Darel.


"Hahahaa, tapi kamu lucu lohh!! sini, aku foto dulu!!" ucap Mentari yang berdiri dari tidurnya sambil memotret Darel.


"Sayang, jangan dong!! aku kan lagi belepotan gini masa difoto sih?!" ucap Darel berusaha menyembunyikan wajahnya agar tidak bisa difoto oleh Mentari menggunakan telapak tangannya.


"Hahaha, dapettt!!!" ucap Mentari girang.


"Kamu tuh lucu banget tau kalau lagi begini! nih lihat!!" ucap Mentari memperlihatkan hasil potretnya.


"Kamu nih jail banget sih?! nih dah, cepat minum! aku mau bersih-bersih dulu!" ucap Darel memberikan segelas jus buah naga yang berada di tangannya.


"Makasih sayangkuhhh!!!" ucap Mentari menerima gelas jus buah naga.


"Kalau mau berterimakasih jangan dengan kata-kata!" ucap Darel mengerlingkan matanya nakal.


"Terus?!"


Darel kembali dari kamar mandi setelah membersihkan bekas jus buah naga tadi. Begitu keluar, Darel melihat Mentari yang telah tertidur dengan posisi meringkuk. Helaan nafas panjang keluar dari mulut Darel. Gagal sudah dirinya menjenguk dedek bayi. Darel dengan hati-hati menggeser tubuh Mentari ke posisi yang nyaman lalu ikut berbaring di sampingnya.


Setelah kecupan hangat berkali-kali diwajah dan tengkuk Mentari, akhirnya Darel pun terlalap ikut menyusul sang istri ke alam mimpi.


********


Esok paginya setelah sarapan pagi, semuanya mulai bersiap untuk kembali ke Jakarta. Semua barang bawaan mereka mereka masukkan ke dalam bagasi bus lalu menaiki bus. Setelah semuanya sudah naik ke dalam bus, mereka mulai meninggalkan villa penuh kenangan itu.


"Turun...turun...di puncak gunung....tinggi...tinggi sekaliii...."


Terdengar lagi Arya, Iwang, dan Andre yang kembali bernyanyi lagi naik-naik ke puncak gunung namun dengan lirik yang sedikit mereka ubah. Ketiga anak-anak itu terlihat ceria sekali dengan sesekali bersenandung lagu anak-anak dan bila lelah mereka akan makan atau minum camilan juga buah-buahan yang mereka panen saat di vila kemarin. Karena menempuh perjalanan yang cukup lama, mereka memutuskan untuk tidur didalam bus sedangkan anak-anak masih setia bermain.


Pukul empat sore rombongan Darel baru tiba dirumah Darel. Tadi mereka mampir dulu untuk makan siang dan membeli oleh-oleh sepanjang perjalanan juga berhenti di Magelang untuk melihat Candi Borobudur. Mereka juga mampir ke Candi Prambanan yang dijuluki Seribu Candi dan Candi Roro Jonggrang itu. Meskipun harus memutar arah cukup jauh namun mereka senang karena anak-anak juga terlihat gembira sekali.


"Kamu pulang duluan ya, Rel! kasian anak gue capek banget pasti!" pamit Arul kepada yang lain.


Anisa menggendong baby Brian yang terlelap. Bayi mungil itu semakin menggemaskan dengan pipi chubby dan rambut yang dibuat ala-ala anak jaman sekarang dimana bagian pinggir kanan kiri dan belakang dipotong habis menyisakan bagian depan dan tengah rambut. Sangat lucu sekali.


"Kami juga pulang ya! capek!" ucap Randita.

__ADS_1


"Nggak nginap disini aja, mbak?" tawar Mentari yang mendapatkan tatapan memelas dari suaminya.


"Nggak ah, takut ngganggu! liat aja tuh mata suamimu memelas begitu!" sindir Randita kepada Darel.


"Syukur deh kalau sadar diri!" ucap Darel.


"Tari, kami pulang dulu ya! kalau ada apa-apa langsung kabari mama ya, nak! jangan dipendam sendiri! ibu hamil nggak boleh stress loh!" ucap nyonya Ardi sebelum memasuki mobil.


Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan rumah Darel. Bahkan papa dan mama Daniar juga. Mereka memeluk Mentari dengan hangat sebelum akhirnya pulang dengan menaiki mobil Zanu.


"Daaa....dadaaa...." teriak Mentari saat mobil Zanu berjalan meninggalkan pekarangan rumah Darel sambil melambaikan tangannya diudara.


"Ayo masuk! nggak baik wanita hamil waktu senja di luar rumah!" ucap Darel mengajak masuk.


"Jangan genit yaaa!!" protes Mentari saat tangan Darel mulai nakal.


"Kenapa? aku kan suamimu, sayang?! nggak apa-apa dong! lagian aku kangen banget pengen jenguk dedeknya!" ucap Darel memelas.


"Nggak ah!! aku pengen mual kalau mencium bau kamuu!!! mending nanti kamu jangan deket-deket aku!" ucap Mentari menutup hidungnya.


Entah mengapa tadi Mentari rasanya ingin mual saat mencium aroma tubuh suaminya padahal itu dulu adalah hal yang sangat dia sukai. Atau mungkin bawaan hormon kehamilannya yaa?!


"Jangan gitu dong, sayangg!! masa aku tidur sendirian?! nggak dipeluk kamu mana bisa tidur akuu!!!" keluh Darel manja.


"Nggak ah, aku nggak mau deket-deket kamu!! kamu nanti tidur di kamar bawah yaa!!!" ucap Mentari sudah masuk kedalam rumah lebih dulu meninggalkan Darel yang terus merengek untuk tetap tidur bersama.


"Sayanggg!!! sayanggg!!! ishhh jangan kejam-kejam dong sama suamimu yang tampan iniii!!! sayangggg!!!! aku maunya dipeluk nanti pas tidurr!!!!" rengek Darel mengikuti langkah Mentari memasuki rumah.


"Nggak!!" teriak Mentari yang sudah lebih dulu menaiki tangga menuju kamar mereka.


"Apes banget sih gue!! udah semalam nggak dapat jatah, bikin jus buah jusnya kemana-mana, sekarang disuruh tidur sendiri pula!!! nasibbbb....nasibbb..." keluh Darel.


Dengan terpaksa Darel berjalan menuju kamar yang biasanya untuk tamu yang berada di samping kamar Iwang.


"Loh, yah, kok disini?" tanya Iwang yang baru selesai mandi.


"Disuruh ibumu tuh, katanya nggak boleh tidur sama dia, mual katanya!!" keluh Darel dengan bibir mengerucut.


"Hahahaa, kasiannya ayahku inii!!! sabar ya ayahh!!" ucap Iwang dengan tertawa cekikikan.


"Ya sudah ayah tidur sama kamu aja! boleh kan?"


"Boleh-boleh!" ucap Iwang bersemangat.


Selama ini Iwang tidak pernah merasakan rasanya kasih sayang ayah dan ibu. Dengan menjadi bagian dari keluarga kecil Darel dan Mentari, Iwang bisa mendapatkan hal itu.

__ADS_1


Ibu, ayah, aku janji akan menjadi orang sukses nanti agar kalian dan nenek bisa bangga padaku!! terimakasih sudah menerimaku menjadi bagian dari keluarga kalian! jasa kalian tidak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun! batin Iwang tersenyum menatap Darel dengan penuh kasih begitu pula dengan Darel.


Ayah dan anak itu menghabiskan sore mereka bermain bersama di kamar Iwang. Permainan yang dipenuhi tawa terdengar riuh dari luar kamar membuat pelayan dan penjaga tersenyum bahagia mendengar rumah mereka ramai oleh tawa seorang anak.


__ADS_2