Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 120


__ADS_3

Mentari menjadi sangat gusar setelah penjelasan Harri mengenai toko kue miliknya. Sekarang dia berada didalam kamar lama milik Darel. Mentari terus saja mondar-mandir bahkan dia tidak sadar jika sedari tadi Darel terus memperhatikannya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Darel.


Mentari terkejut dengan kehadiran Darel, dia pun langsung duduk ditepi ranjang.


"Emm, ak...aku tidak apa-apa!" ucap Mentari berbohong.


Darel tahu benar jika saat ini Mentari tengah berbohong, dia pun mendekati Mentari dan duduk di samping Mentari.


"Aku sudah memerintahkan Harri untuk mengusut masalah toko mu itu jadi kau tidak perlu khawatir lagi. Aku berjanji, aku akan secepatnya menangkap pembuat onar di tokomu dan memberikan hukuman yang setimpal untuknya!!" janji Darel bersungguh-sungguh.


Mentari menatap mata indah Darel, dia dapat melihat dengan jelas kesungguhan Darel saat ini.


Oh ya Tuhan, kenapa kau membuatku dalam posisi seperti ini? apa aku memang harus membuka hatiku untuk pria yang sudah menjadi suamiku ini? tapi bagaimana jika nanti dia mengecewakanku? aku pasti tidak akan sanggup menerima penghianatannya!! batin Mentari.


"Oh ya, dan satu hal lagi! Jack sudah meretas CCTV di tokomu dan kau tahu kan kehebatan Jack dalam meretas? sekarang jangan khawatir lagi!" ucap Darel sambil mengusap kepalanya Mentari.


Deggg. ...degggg...degggg....deggg....


Jantung Mentari berdetak sangat cepat ketika tangan Darel mengelus kepalanya dengan sangat lembut, begitu juga dengan Darel. Darel segera tersadar dan memilih untuk keluar ruangan dengan alasan ada hal penting yang harus dia bicarakan dengan sahabat-sahabatnya.


Setelah kepergian Darel, Mentari melebarkan senyumnya dan menyentuh kepala dimana sempat disentuh Darel barusan.


"Aaaa....hahahaha......!!!" teriak Mentari girang.


Pipi Mentari sekarang seperti tomat yang sudah matang, dia juga senyum-senyum sendiri seperti orang lagi kasmaran.


Begitu juga dengan Darel. Sesaat setelah menutup pintu kamar, Darel menatap tangan yang tadi dia gunakan untuk mengusap kepala Mentari.


Jangan Darel!!! jangan biarkan perasaan bodoh ini mengambil alih tubuhmu!!! sialllll!!! kenapa aku selalu kehilangan kendali saat didekatnya??? kenapa.... kenapa....kenapaaa???? batin Darel.


Darel pun segera menuju ruang rahasianya, dimana sahabatnya sudah menunggu, termasuk Zanu.


"Woiiii pengantin baru sudah datanggg!!! aku lihat sudah banyak perubahan yang terjadi disini!!" sindir Tomi ketika melihat Darel datang.

__ADS_1


"Hahaha, benar sob, kayaknya bentar lagi aku bakal jadi pamann nihhh!!" timpal Arul.


Mereka semua tertawa kegirangan karena sudah berhasil menjahili Darel dan membuat wajahnya merah karena malu.


"Sudah diamlah kalian berdua!! ini, aku ada tugas untuk kalian!" ucap Darel memberikan beberapa foto pria yang tidak asing.


"Ini kan????" tanya Rohan terpotong.


"Benar, aku curiga penculikan yang terjadi didesa yang sudah menolongku dan Mentari beberapa hari yang lalu, salah satunya adalah mereka!" ucap Darel.


Semua orang dalam mode serius sekarang tidak ada yang bercanda dan mendengarkan apa yang Darel katakan.


"Sialannn, seharusnya kita habisi saja dulu diaa. Aku sudah sangat geram dengannya!!" kesal Tomi sambil mengepalkan tangannya seolah bersiap meninju seseorang.


"Heii diamlah, ikuti saja dulu alurnya!!" ucap Arul.


"Kalau menurut kalian, diantara ketiga pimpinan mafia ini siapa yang lebih memungkinkan melakukan hal itu? Drago Mark, Geng Ular, atau yang paling tidak memungkinkan tapi masih dalam penyelidikan Geng Robert? " tanya Darel sambil menatap sahabatnya satu per satu.


"Aku rasa Geng Robert! mereka mungkin tidak tercium melakukan aktivitas beberapa tahun ini, tapi bisa jadi itu salah satu siasat mereka!" ucap Tomi.


"Tidak, kau salah besar jika hanya mengingat Robert saja! apa kau lupa dengan Andill? kaki tangan Robert dia sama cerdas dan liciknya seperti pimpinannya Robert! bisa saja dia berniat membalaskan dendamnya kepada kita kan?" ucap Tomi


Mereka mulai beropini sesuai pemikiran masing-masing kecuali Zanu dan Rohan. Keduanya terlihat sedang menimbang-nimbang sesuatu.


"Tidak!!! bukan keduanya!" ucap Zanu tiba-tiba.


Semua orang langsung menatap Zanu bingung.


"Kenapa kau mengatakan bukan keduanya?" tanya Darel.


"Apa kalian lupa bahwa Darel sudah menyelamatkan hidup Andill saat itu? aku rasa dia cukup cerdas untuk melupakan dendamnya kepada Darel karena telah membuat pimpinannya cacat seumur hidup!" jelas Zanu.


Semua orang masih mendengarkan Zanu sembari mengingat kembali kejadian beberapa tahun yang lalu.


"Dan untuk Geng Ular, setelah perjanjian kepada pimpinan Geng Ular, Jovin untuk melepaskan mereka dan sebagai gantinya mereka tidak akan melakukan kegiatan ilegal lagi, aku rasa itu bukan dia juga! terlebih kita semua tahu sifat Jovin seperti apa! dia mafia kejam namun juga memegang teguh ucapannya!" tambah Zanu.

__ADS_1


Darel menganggukkan kepalanya setuju dengan penjelasan Zanu barusan.


"Jadi, tinggal Drago Mark?!" tanya Darel sembari melihat sahabatnya.


"Kalau menurutku sih dia, kau ingat ucapannya terakhir kali ketika kalah dari kita?" tanya Zanu.


"Ohh, ya-ya aku ingat!! bedebahhhh!!! ternyata dia lagiii! harusnya aku patahkan sekalian tulang-tulangnya waktu itu!" ucap Tomi marah.


" Itu tidak penting untuk saat ini, yang terpenting adalah kita akan ke desa itu dan menangkap mafia pembuat onar sebagai balas budiku kepada mereka. Terlebih aku sudah berjanji kepada kepala desa disana bahkan aku akan membantu mereka menangkap penjahatnya!" ucap Darel.


"Kapan kita berangkat?" tanya Rohan.


"Tiga hari lagi! Sekalian aku mau mengumpulkan tenaga setelah seharian menggendong wanita gemuk itu!" keluh Darel.


"Apa??!!!" teriak yang lain.


Darel terkejut dengan teriakan sahabatnya itu.


"Kau menggendong Mentari? kenapa? kapan? bagaimana bisa?" tanya Arul.


"Ceritanya panjang!" ucap Darel cuek.


"Yah, mulai lagi dia dengan tampang sok dingin itu!" sindir Tomi.


"Darel! kau harus baik-baik menjaga Mentari! wanita seperti itu sangat jarang didunia ini. Emm, apa kau sudah memberitahunya tentang identitasmu yang asli? selain sebagai penerus perusahaan ternama?" tanya Rohan.


Semua mata menatap ke arah Darel seolah meminta penjelasan dari pertanyaan Rohan barusan. Suasana menjadi hening beberapa saat.


"Belum!" ucap Darel singkat.


"Apa? kenapa tidak kau ceritakan siapa kau ini? bagaimana jika dia tahu dari orang lain nanti?" tanya Zanu.


"Aku tidak punya keberanian untuk memberitahunya! bagaimana....bagaimana jika dia tahu siapa aku sebenarnya dan dia tidak bisa menerimaku lalu meninggalkanku?" ucap Darel terlihat frustasi.


"Tapi bukankah jujur lebih baik? akan lebih baik untukmu jika dia tahu hal ini dari mulutmu langsung dari pada dia tahu dari orang lain yang mungkin saja akan membuatnya lebih kecewa dan terluka!" saran Rohan.

__ADS_1


"Baiklah, nanti akan aku coba memberitahunya!" ucap Darel


__ADS_2