Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 152


__ADS_3

Setelah berbelanja baju, nyonya Ardi membawa Mentari ke salon milik temannya.


"Tolong buat dia secantik mungkin ya!" ucap nyonya Ardi.


"Okeyy, sistahh!" ucap pria setengah wanita itu.


"Emm, tapi ma..." hendak menolak.


"Sudah sana nurut aja!" tersenyum bahagia.


********


"Dimana sih dia kok udah tiga jam loh belum pulang-pulang juga!" ucap Darel khawatir.


Darel terus menggenggam ponsel ditangannya, berharap ada balasan pesan dari Mentari. Namun ternyata nihil. Spam chat yang Darel kirim kepada Mentari tidak satupun di balas.


"Adi, telpon Lukas! tanyakan dimana mereka sekarang! Cepatt!!!" perintah Darel.


"Baik tuan!" ucap Adi.


Ketika Adi hendak pergi, mereka mendengar suara langkah kaki mendekat kearah mereka. Seseorang yang muncul membuat ketiga orang itu terpana.


"Maaf aku pulang telat!" ucap Mentari dengan penampilan baru.


Darel, Adi, dan Harri memperhatikan penampilan barunya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"K....K...kamu....kok!!" ucap Darel tidak tahu lagi harus ngomong apa.


Rambut yang dibuat bergelombang, riasan make up tipis yang menambah kesan elegannya, dress selutut berwarna navy yang tidak terlalu ketat dengan high heels berwarna hitam semakin menambah kesan cantiknya ciptaan Tuhan ini.


"Hei, singkirkan pandangan kalian dari istriku!" bentak Darel ketika melihat Adi dan Harri tidak berkedip menatap Mentari.


"Eh, emm maaf tuan!" ucap keduanya yang langsung pamit pergi.


"Kok kamu?"


"Mama yang mendandaniku seperti ini!" ucap Mentari.


"Mama? kau kerumah mama dan tidak mengajakku?" tanya Darel.


Hei, itukan rumahku seharusnya kau membawaku kalau memang ingin kesana!


"Aku sedang marah aja sama kamu!" ucap Mentari berlalu menuju kamarnya.


"Marah? marah kenapa? aku salah apa sampai kau marah begitu?" tidak mengerti.


"Cukup ya Darel! aku sudah tahu semuanya! kau bertemu dengan Pretty kan? mantan kekasihmu itu disebuah cafe shop? sambil berpegangan tangan lagi!" marah Mentari karena Darel berpura-pura tidak tahu apa-apa.


"Apa? kau tahu itu?" terkejut.


"Tidak lama setelah kau pergi aku meminta kak Lukas mengantarku ke toko, dan diperjalanan pulang secara tidak sengaja aku melihat suamiku bermesraan di depanku sendiri! jika itu ku lakukan padamu, bagaimana perasaanmu?" tanya Mentari dengan nafas ngos-ngosan seperti sudah berlari jauh.

__ADS_1


"Mentari tidak begitu, kau salah paham! aku datang kesana untuk memperingati dia agar tidak mengganggu atau bahkan menyentuhmu. Dan soal pegangan tangan itu, aku langsung menepisnya. Lagipula tanganku terlalu bersih jika harus bersentuhan dengan tangannya yang kotor." jelas Darel.


"Ohhh, gitu ya!" merasa bersalah.


"Makanya kalau ada apa-apa itu dibicarakan baik-baik, jadi salah paham kan kalau gini!" memeluk Mentari.


"Tapi kau terlihat sangat cantik mengenakan pakaian seperti ini! aku jadi ingin memakanmu lagi!" ucap Darel yang tanpa aba-aba menggendong Mentari menuju kamar.


Saat sudah sampai dikamar, Mentari meminta Darel menunggu sebentar sedangkan dia berganti baju dinasnya yang sudah dibelikan nyonya Ardi tadi.


"Sayang!" panggil Mentari ketika keluar dari ruang ganti.


"Wowww!"


Darel beberapa kali menelan ludahnya, tidak sabar ingin mencicipi hidangan lezat nan memabukkan didepannya. Baju yang dipakai Mentari saat ini melekat pas ditubuhnya yang ramping. Ditambah lagi payu***a nya semakin membesar karena ulah tangan Darel setiap hari.


Darel mendekati Mentari, mencium bibirnya sambil merapatkan Mentari ke dinding kamar.


"Kau benar-benar sexy, honey!" ucap Darel parau.


Yah, sekali lagi adegan penuh cinta mereka habiskan dikamar yang menjadi saksi penyatuan mereka. Bahkan baju yang baru saja melekat ditubuh Mentari, dilepas begitu saja dan tidak terpakai lagi.


********


Dikantor, Daniar berusaha memperingati Wanda betapa berbahayanya pria bernama Broto itu. Namun lagi-lagi Wanda tidak menggubris peringatan Daniar dan malah mengacuhkannya.


"Daniar, udahlah biarin aja senior Wanda. Kamu kan tahu sendiri dia orangnya kayak gimana? jangan dinasehatin kalau nggak mau." ucap Rasya.


"Tapi kan gimana lagi, Zanu yang nyuruh aku buat memperingati senior Wanda. Meskipun aku rada jengkel juga sih karena kan senior Wanda orangnya nyebelin! tapi karena Zanu ya aku mau-mau aja!" ucap Daniar.


Wanda, gadis cantik, tinggi ideal, tubuh sexy dengan rambut lurus yang menambah kesan elegan. Namun sayang, karena kecantikannya ini malah dia manfaatkan untuk menarik pria-pria kaya agar bisa memenuhi keinginannya yang mewah.


"Om, om beneran kaya kan? bukan hasil dari menipu kan?" tanya Wanda ditelepon.


Wanda saat ini tengah berada ditoilet, mendengar peringatan Daniar tadi membuat Wanda sedikit was-was dengan Broto.


"Ya, iyalah sayang! hartaku ini walau tujuh turunan pun tidak akan bisa habis dibelanjakan!" sombong.


"Tapi om, temenku..."


"Temenmu yang mana? yang katamu anak baru itu ya? berani-beraninya dia ya, anak baru sudah bikin onar! harus diberi pelajaran kalau kayak gini caranya!" kesal Broto.


"Hah, iya! aku setuju! dia emang harus diberi pelajaran biar tahu sopan santun!" ucap Wanda mengingat sikap membangkang Daniar padanya.


"Kamu tenang aja sayang, aku akan bereskan semuanya!" ucap Broto.


Sambungan telepon pun ditutup. Mendengar kata-kata Broto, Wanda tidak berpikir apa yang akan dilakukannya pada Daniar. Yang jelas posisinya sebagai ketua akan lebih mudah jika tidak ada Daniar.


********


Siang itu Arul dan Anisa pergi untuk fitting baju. Harusnya mereka kesana pagi tadi, namun karena Anisa waktunya pemeriksaan kesehatan akhirnya mereka pun ke rumah sakit lebih dulu.

__ADS_1


"Wahh, pengantin wanitanya cantik sekali! gaunnya juga pas melekat ditubuh nona!" puji pemilik butik.


"Siapa dulu calon suaminya!" bangga Arul.


"Ishhh, kau ini! jangan membuatku malu!" ucap Anisa lirih sembari memukul pelan lengan Arul.


"Bagaimana, mau pakai yang ini atau coba yang lain dulu?" tanya pemilik butik.


"Bagaimana?" tanya Anisa pada Arul.


"Cantik sih, tapi ada yang kurang. Emmm....." mulai mengedarkan pandangan mencari gaun yang sesuai untuk Anisa.


"Nah, coba pakai yang ini!" mengambil sebuah gaun lalu memberikannya kepada Anisa untuk dicoba.


"Okey!" menuju ruang ganti.


Beberapa menit kemudian, Anisa datang dengan baju pilihan Arul yang terlihat sangat indah dibandingkan yang sebelumnya. Bahkan saking terkesimanya, Arul sampai tidak berkedip menatap wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


"Bagaimana?" tanya Anisa berlenggak-lenggok didepan kaca.


"Bagus tidak?" tanya Anisa lagi namun belum ada jawaban dari Arul.


"Sayanggg, bagaimana cantik tidak?" tanya Anisa sedikit kesal karena merasa diacuhkan Arul.


"Eh, cantik kok cantik! cannnntikkkkk sekali calon istriku ini!" mendekat lalu memeluk Anisa dari belakang.


"Kau seperti bidadari yang diturunkan Tuhan hanya untukku!" bisik Arul membuat Anisa tersipu malu.


"Emm, mbak! kita pakai yang ini aja ya!" ucap Arul.


"Baik tuan!" ucap pemilik toko.


Setelah fitting baju, Arul mengantarkan Anisa pulang karena Anisa terlihat sudah kelelahan. Ketika sampai dirumah Anisa, ayah Anisa juga sudah menunggu mereka dari tadi. Anisa hanya tinggal bersama ayah dan seorang pembantu setia mereka, mbok Iyem.


Ibu Anisa sudah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu sebelum Anisa kembali ke Indonesia karena kecelakaan beruntun antara satu truk kontainer, empat mobil dan tujuh sepeda motor. Ada sembilan orang meninggal akibat kecelakaan itu dan salah satunya adalah ibu Anisa yang tengah mengendarai mobil pribadinya sendirian.


"Wahhh, bagaimana fitting bajunya?" tanya ayah Anisa.


"Sudah siap dong yah!" ucap Arul terasa sangat akrab.


"Hemm, jadi tidak sabar melihat putri ayah ini menjadi seorang istri!" menggoda putrinya.


"Ayahhh!!!" terlihat malu-malu kucing.


"Oh iya, undangannya sudah disebarkan semuanya apa belum?" tanya ayah Anisa.


"Sudah semuanya kok pa, sekarang tinggal WO sama ketering aja yang belum." ucap Arul.


"Yah, bagus kalau begitu." ucap ayah Anisa lega.


Kau lihat putri kecil kita, sekarang dia akan menjadi seorang istri dari laki-laki yang dia cintai, Norma! andai kau ada disini bersama kami!

__ADS_1


__ADS_2