Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 180


__ADS_3

Mentari duduk ditepi ranjang, pikirannya entah melanglang buana kemana. Darel yang saat itu baru saja selesai mandi menghampiri Mentari dengan rambut yang masih basah dan handuk yang masih melilit di pinggangnya.


"Apa semua baik-baik saja?" tanya Darel.


"Ah tidak kok!" ucap Mentari berusaha tersenyum.


"Jangan berbohong! kau tahukan kalau kau tidak pandai dalam hal itu!" ucap Darel lembut.


"A...aku...aku cuma..." tergugup.


"Aku tahu kok!"


"Hah?! kau tahu apa?" menatap kearah Darel dengan bingung.


"Kau pasti memikirkan tentang Anisa yang tengah mengandung bukan?" tebak Darel.


"B...bagaimana kau tahu hal itu? aku...aku kan tidak mengatakan apapun!" menyembunyikan wajahnya sedihnya.


Darel menarik lembut wajah Mentari yang berusaha dia sembunyikan darinya hingga menatap kearahnya.


"Mata ini!" menatap lekat kedua mata Mentari.


"Mata ini tidak bisa berbohong Mentari. Matamu bersinar ketika mengelus perut Anisa tadi, dan kau terlihat sedih saat mengusap perutmu sendiri. Tanpa kau sadari, aku juga merasakan apa yang kau rasakan itu." jelas Darel sembari membawa Mentari kedalam pelukannya.


"Maafkan aku.... hiks...hiks...hiks...karena aku kita kehilangan calon anak kita!!!" menangis pilu didalam pelukan Darel.


"Shhtttt, sudahlah jangan pikirkan masalah itu lagi! itu bukan kesalahanmu!" ucap Darel berusaha menenangkan Mentari.


"Andai aku mendengarkan perkataanmu waktu itu, pasti anak kita masih ada sampai sekarang. Mungkin dia sudah menendang-nendang didalam perutku. Mungkin kita akan menjadi orang tua yang bahagia menyambut kedatangannya....hiks..hiks...maafkan akuuu!!!"


Berulang kali kata itu keluar dari mulut Mentari membuat hati Darel ikut tersayat.


Bukan kau yang salah Mentari, tapi aku yang lalai. Andai aku tidak lalai dalam menjaga kalian, mungkin calon anak kita masih ada sekarang! batin Darel yang tanpa sadar meneteskan air mata.


Secepat kilat Darel langsung menghapus air matanya agar Mentari tidak tahu kalau dia juga menangis.


"Jangan menangis lagi okey? kita bisa berusaha lebih keras mulai dari sekarang!" ucap Darel berusaha mencairkan suasana.

__ADS_1


"Jangan mulai lagi deh! kau selalu seperti itu!" menghapus air matanya.


"Hahahaha, bagaimana lagi kau kan istriku jadi sudah seharusnya aku meminta jatah darimu. Apa kau mau aku meminta jatah dari wanita lain?" goda Darel.


"Coba saja kalau kau berani! jangan harap kau bisa selamat setelah itu!" ucap Mentari datar namun menyeramkan.


"Wow....wow...wow...wow!!! istriku ini sudah mulai posesif ya sekarang!!!" menoel dagu Mentari gemas.


"Sudahlah, cepat sana pakai baju!" usir Mentari.


"Kenapa pakai baju? kita kan harus bekerja ekstra bukan?" mengedipkan matanya dengan genit.


"Ihhh dasar tuan muda mesum!" malu Mentari.


Aktivitas panas mereka pun dimulai kembali.


********


Disisi lain Bagas dan Angel terkejut bukan main ketika melihat hasil pemeriksaan Wanda. Dimana Wanda mendapatkan sebanyak seratus luka disekujur tubuhnya. Dari bekas luka itu Bagas menyimpulkan bahwa luka itu akibat cambukan.


"Lagi pula, bukankah para tahanan ini tidak menggunakan ikat pinggang atau sejenisnya pada bajunya? lalu darimana luka ini berasal?" cecar Bagas.


Angel berdiam diri di belakang Bagas. Dia membiarkan Bagas yang menjelaskan apa yang terjadi kepada Wanda. Sedangkan polisi wanita yang ikut bersama Rohan dan Abu berdiri disamping Abu dengan gelagat aneh.


"Kau benar! tidak masuk akal jika dia dibuli dan mendapat luka cambuk sebanyak itu." ucap Rohan berjalan kearah Abu dan polisi wanita.


"Abu kau cari tahu akar masalah ini, biar aku yang menyelesaikan kasus pembunuhan keluarga Wanda. Oh ya suruh bawahanmu untuk menangkap ibu tiri Wanda dan membawanya ke pengadilan untuk diadili!" tegas Rohan.


"Siap, pak!" ucap Abu.


"Dan kau, tugasmu adalah menjaga Wanda sekarang. Jika ada kelalaian dalam tugasmu kau tahu kan konsekuensinya?" ucap Rohan kepada polisi wanita itu.


"I...iya pak!" ucapnya gugup.


"Bagus!" ucap Rohan kemudian berlalu pergi.


Rohan meninggalkan rumah sakit. Entah kemana tujuannya sekarang hanya dia dan Tuhan yang tahu. Abu segera kembali ke kantor polisi setelah mendapat perintah dari Rohan.

__ADS_1


Begitu sampai di kantor polisi, Abu langsung menuju ruang keamanan untuk mengecek melalui CCTV.


"Cepat perlihatkan CCTV di lorong 2!" perintah Abu yang berdiri dibelakang petugas keamanan.


"Emm, maaf pak! sepertinya ada yang menghapus rekaman di lorong 2!" ucap petugas itu sembari memperlihatkan tampilan layar komputer yang hanya hitam.


"Ah, sial!!! tugasmu apa saja sampai ada yang menyabotase CCTV?" marah Abu.


"Mm....maaf pak! saya tadi diperintahkan untuk makan siang dulu, maafkan saya pak!" ucap petugas itu memohon.


"Siapa yang memerintahkanmu?" selidik Abu.


"Emm....bu...bu Riya, pak!" ucap petugas itu.


"Riya? apa setelah kau pergi dia memasuki ruangan ini?" selidik Abu.


"Em, saya... saya tidak pasti pak. Tapi sepertinya iya!" ucap petugas itu berusaha mengingat-ingat.


"Ah, sial!!! baiklah begini saja! minta semua petugas untuk berkumpul di lapangan sekarang juga, jika ada yang tidak hadir siap-siap mendapat sanksi yang tegas dari pak Rohan!" perintah Abu.


"Siap pak!" ucap petugas itu lalu segera berlari untuk membunyikan lonceng disiplin yang ada di lapangan.


Setiap anggota yang mendengar lonceng tersebut bunyi langsung berlari ke sumber suara dengan tergesa-gesa. Satu hal yang mereka yakini, bunyi lonceng kali ini pasti menandakan keadaan darurat.


"Silahkan kalian berbaris! ini perintah pak Abu!" teriak petugas keamanan ketika semua polisi sudah berkumpul.


Didetik berikutnya Abu datang bersama dengan keempat bawahannya. Dengan wajah serius Abu berdiri didepan menatap setiap anggotanya dengan selidik.


"Baiklah, sekarang aku minta kalian menjadi 2 kelompok! pria disebelah kiri dan wanita disebelah kanan! CEPATTT!!!!" teriak Abu.


Mereka berlari kesana-kemari mengikuti arahan dari Abu hingga akhirnya terbentuk dua kelompok besar yaitu kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Abu dan bawahannya mulai memeriksa setiap orang yang memakai ikat pinggang rusak. Namun mereka lebih terfokuskan kepada kelompok wanita.


Cukup lama mereka mengecek namun tidak ada satu orang pun yang memakai ikat pinggang yang telah rusak. Abu mulai frustasi. Bagaimana dia melaporkan hal ini kepada Rohan nantinya? apa yang akan dia katakan saat Rohan bertanya nanti?


Karena tidak menemukan pelakunya, Abu pun membubarkan kerumunan itu. Ditengah kerumunan, seorang wanita menyeringai puas. Yah, dia adalah Riya. Dia tahu kalau Rohan akan mengusut masalah Wanda dan menukar ikat pinggangnya yang telah rusak dengan yang baru lalu menyembunyikan yang lama didalam lokernya.


Untung saja aku punya otak yang pintar!! uhhhh, selamat! batin Riya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2