Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 222


__ADS_3

Darel termenung menatap kearah langit melalui jendela kamarnya. Sunyi, sepi, tidak ada satu bintang pun yang muncul di langit malam ini. Seperti hatinya saat ini mungkin.


"Tari, kau baik-baik saja kan? apa kau merindukanku disana? aku sangat merindukanmu! aku berjanji tidak akan mengulangi kebodohan itu lagi, Tari! sayang, apa kau juga disana menatap langit yang sama? kau tahu. Aku sudah kembali ke perusahaan. Anisa sudah melahirkan seorang anak laki-laki, dia sangat tampan. Wisnu dan Nurul akan menikah tiga bulan lagi. Daniar dan Zen juga akan menikah dua hari lagi. Kau akan datang kan ke pernikahan Daniar, sayang? Daniar kan sahabatmu! juga bagian dari keluargamu, tidak mungkin kau tidak datang?! sekali saja, tunjukkan dirimu di hadapanku agar aku yakin kau baik-baik saja dimana pun kau tinggal. Aku janji, hanya sekali saja, ijinkan aku melihatmu sekaliii saja! rindu ini semakin menggunung kala mengingatmu! mengingat kenangan kita! papa, mama, bahkan kakak dan adikku tidak bisa menyembuhkan rasa kesepianku walau mereka ada disini. Walau ada banyak orang disekelilingku, tidak bisa mengusir kegundahan dihati ini! aku hanya mau kau kembali, sayang! ku mohon kembalilah!" ucap Darel sendu.


Air matanya menetes begitu saja saat dia berbicara kepada langit seakan bercerita kepada Mentari. Rasa rindu ini begitu menyiksa Darel, semakin bertambah rindu setiap harinya.


Di tempat lain, Mentari juga tengah memandang langit yang polos tanpa ada satu bintang pun. Mentari menopang dagunya di atas tangannya yang terlipat diatas jendela.


"Aku rindu! apa mungkin Darel disana bersenang-senang tanpaku? bagaimana kalau dia bahagia tanpaku? mungkinkah dia merindukan aku juga seperti aku merindukannya?" ucap Mentari memandang ke langit.


Semilir angin malam menyapa wajah Mentari, menerbangkan sebagian rambutnya.


"Kata orang, angin bisa membawa pesan rindu untuk seseorang yang disayang. Bisakah angin membawa rinduku sampai kepada Darel?"


Tok....tok....tok....


"Tari?" panggil Candra dari luar kamar.


"Eh, iya kak! masuk saja tidak dikunci!" ucap Mentari.


Candra mulai memasuki kamar Mentari. Dilihatnya wanita itu termenung didepan jendela.


"Apa yang kau risaukan?" tanya Candra begitu saja.


"Apa?" tanya Mentari tidak menoleh ke arah Candra yang kini sudah berada disampingnya ikut menatap ke langit.


"Wajah itu! posisi itu! dan..." ucap Candra terhenti.


"Dan???" tanya Mentari memandang pria dihadapannya itu.


Untuk sesaat pandangan mereka bertemu. Ada getaran aneh yang kembali Candra rasakan untuk Mentari. Getaran yang sama seperti saat dia mencintai Mentari. Mungkinkah rasa itu kembali muncul? tidak bohong, selama ini Candra menjaga jarak dari semua wanita kecuali Mentari. Menurutnya hanya wanita itu sajalah yang berhasil mengetuk pintu hatinya dan bertahta disana. For your information, Candra belum pernah menyentuh wanita manapun. Prinsip hidup Candra, selagi belum ada ikatan pernikahan jangan sampai melakukan hal diluar batas kewajaran. Berpacaran boleh saja asal tahu batasan.


"Dan, ekspresi itu! kau selalu melakukannya saat kau risau atau ada yang tengah kau pikirkan. Apa kau memikirkan pria itu?" tanya Candra.


Yah, Candra memang banyak tahu soal Mentari. Bahkan sifat-sifat Mentari pun dihafalnya diluar kepala. Bahkan mungkin Candra jauh lebih mengenal Mentari dari pada Darel, suaminya sendiri.


"Kakak sok tau!" ucap Mentari bercanda.


"Bukan sok tau! tapi memang tahu! oh ya bagaimana kabar keluarga Daniar? mereka baik-baik saja kan? aku dengar dari Sasa Galih ditahan di kantor polisi ya?" tanya Candra.

__ADS_1


"Mereka baik-baik saja kak! tadi kemarin aku mendapat kabar kalau Daniar akan menikah dua hari lagi! dan untuk kak Galih dia berada dipenjara karena menyabotase pesawat pribadi yang aku dan suamiku tumpangi juga dia tanpa sengaja menabrak ku hingga membuatku keguguran." jelas Mentari.


"Oh!" ucap Candra ber oh saja.


Sebenarnya Candra sudah tahu dari awal. Namun dia ingin Mentari yang mengatakannya langsung kepadanya.


"Jadi?" tanya Candra.


"Aku bingung!" ucap Mentari kembali menopang dagunya.


Seolah mengerti maksud Candra, Mentari terlihat berpikir keras.


"Daniar itu sahabatmu! keluarganya juga keluargamu! mungkin kau harus datang apalagi itu hari spesialnya!" jelas Candra memberi pengertian.


"Tapi kak..." terpotong.


Mentari menatap Candra dengan tatapan sendu. Candra tahu ini ada sangkut pautnya dengan Darel, suami Mentari.


"Tapi apa?" tanya Candra.


"Aku belum siap bertemu suamiku!" jawab Mentari lirih.


"Maksudnya?" tanya Mentari tidak paham.


"Aku tadi sudah bilang sama Sasa kalau kita akan ke sana tapi setelah semua orang pergi. Sebelum itu kita bisa tinggal di rumahku untuk dua hari lalu kembali lagi ke sini." jelas Candra.


"Tapi....tapi....kerjaan kakak gimana?" tanya Mentari ragu.


"Kan ada Alfi yang mengurus! dia bisa kok menghandle semuanya! lagian Rio juga tinggal disini, tidak ikut kita kembali!" ucap Candra.


"Apa kakak yakin?" tanya Mentari.


"Hahaha, harusnya kakak yang bertanya hal itu padamu! apa kau yakin akan kembali ke sana?" tanya Candra diselingi gelak tawa karena ekspresi Mentari yang menurutnya menggemaskan.


"Baiklah! tapi janji ya kita akan kesana kalau udah tidak ada orang?!" ucap Mentari menyodorkan jari kelingkingnya.


"Janji!" ucap Candra menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking milik Mentari.


"Kak, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Mentari melepaskan kaitan kelingking mereka.

__ADS_1


"Tentu saja!"


"Kenapa kakak sepertinya tidak suka dengan kak Alfi? dia terlihat baik, cantik, dan menarik! apa jangan-jangan kakak ho*o yaa!" goda Mentari.


"Hustt! ngawur aja! gini-gini kakak masih suka cewek yaa! kalau untuk masalah Alfi, yaa nggak suka aja! emang kenapa sih?" tanya Candra memicingkan matanya.


"Nggak pa-pa! lagian kalau kakak sama kak Alfi kan kelihatan serasi nanti!" ucap Mentari tersenyum manis.


"Kalau yang kakak mau orang lain bagaimana?" tanya Candra.


Secara tiba-tiba Candra mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Mentari membuat Mentari refleks condong kebelakang.


"Kakak apa-apa sih! emang ada yang mau sama kakak?! tapi aneh deh kak!"


"Aneh apa lagi sih?"


"Ya aneh aja! kenapa kakak kalau sama cewek lain tuh cuek gitu tapi kalau sama aku lembutt banget! jangan-jangan kakak suka yaa sama akuu, hahaha!" goda Mentari.


"Enak aja! siapa juga yang suka sama bocil pendek kayak kamuu hahaha!" goda Candra sukses membuat Mentari memanyunkan bibirnya kesal.


Sebenarnya memang iya, Tari! aku mencintaimu dan akan selalu begitu! meskipun nanti bukan namamu yang menjadi jodohku, tapi tatap ada ruang tersendiri untuk namamu dihatiku!


"Kakak nih! tau lah aku ngambek!" ucap Mentari berpura-pura marah.


"Ciee marah nih ceritanya? emmm yaudah deh aku pergi aja mau cari makanan yang eenakkk!" ucap Candra hendak pergi.


"Eh kak, aku nggak diajak?!"


"Kan kamu masih marah!" goda Candra lagi.


"Ihhh kan aku mau ikut! aku juga laper tau!" ucap Mentari kesal.


Ekspresi wajah Mentari yang menggemaskan justru membuat Candra semakin menyukainya. Candra tertawa didalam hati melihat betapa menggemaskannnya wanita dihadapannya itu.


"Kalau mau ikut ya ayoo!" ucap Candra berjalan pergi.


"Eh tapi kan aku belum ganti bajuu! kakak tungguuu!!" teriak Mentari yang langsung berlari mengejar langkah Candra.


Mentari yang hanya memakai hoodie oversize yang panjangnya sampai ke lutut dengan lengan yang menelan habis tangannya hingga tidak terlihat itu pun pergi dengan Candra mencari makanan.

__ADS_1


Kamu seperti anak kecil Tari! bodoh sekali pria yang telah menyakitimu! kalau aku yang kamu pilih, tidak akan aku sia-siakan cintamu itu! batin Candra yang sudah berada di mobil bersama Mentari.


__ADS_2