
Darel sampai di markasnya. Raut wajahnya sedari tadi sudah tidak bersahabat. Baru saja memasuki markasnya, Darel terkejut karena banyak anak buahnya yang terluka, mulai dari luka ringan bahkan sampai luka parah.
"Akkhhh, sial!!!" teriak Darel sambil menjambak rambutnya kasar.
Adi, Harri dan beberapa anak buah yang masih sehat ketakutan karena teriakan tuannya itu. Mereka merasa ini memang kesalahan mereka, karena tidak becus menjaga tawanan penting Darel.
"Adi, kau cepat retas CCTV disini! aku mau secepatnya masalah ini ditangani. Dan kalian yang tidak terluka, bawa yang lainnya kerumah sakit semua tagihan minta pada Adi!" jelas Darel menahan emosinya.
"Tidak perlu Darel!" ucap Zanu memasuki ruangan.
Zanu, Tomi, Arul, dan Jack baru saja sampai ke markas Darel.
"Kau? kenapa kau bisa disini?" tanya Darel dengan nada tidak bersahabat.
"Aku sudah tahu semua, anak buah ku juga sudah menyelidiki ini! ini semua datanya!" ucap Zanu memberikan file pada Darel.
Darel membuka lembaran demi lembaran file yang diberikan Zanu.
"Heh, sudah kuduga ini ulahnya! Adi! kau bawa anak buah kita yang masih tersisa, tangkap mereka ditempat yang ada disini!" perintah Darel sambil menunjukkan sebuah alamat yang ada dalam file tersebut.
"Segera saya laksanakan tuan! ayo Harri!" ucap Adi menyeret tangan Harri.
"Hei aku bisa jalan sendiri!" ucap Harri komplain.
"Man, harusnya kau beritahu kami kalau kau punya tawanan penting, yah setidaknya mencegah hal ini terjadi!" ucap Tomi sambil menepuk pundak Darel pelan.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Tomi membuat Darel memicingkan matanya kearah Tomi. Seketika tangan Tomi yang masih berada dipundak Darel pun dia lepaskan.
"Singkirkan tanganmu itu dari pundakku! dan kenapa kalian bisa ada disini?" tanya Darel menatap tajam kearah mereka satu persatu.
"Hei kau ini sudah dibantu bukannya terimakasih, dasar tuan pemarah!" ucap Arul tidak terima.
"Terserah, lagi pula aku tidak meminta kalian membantuku, kalian sendiri kan yang mau membantuku!" ucap Darel bergegas menuju ruangannya.
Mereka pun mengikuti langkah Darel.
"Kalian masih mengikutiku juga?" tanya Darel setelah sampai diruangannya.
"Rel, sepertinya kau harus berterimakasih pada seseorang!" ucap Arul memberi kode pada Zanu.
__ADS_1
Darel sebenarnya tahu maksud Arul, namun dia pura-pura tidak tahu.
"Siapa?" tanya Darel malas.
"Zen! bukankah kau seharusnya tidak seperti ini padanya? bukankah dia terbukti tidak bersalah saat itu? bukankah kau masih mengkhawatirkan dirinya saat dia pingsan waktu itu? apakah kau tidak rindu pada kenangan kita saat masih bersama?" tanya Arul sudah muak dengan tingkah sombong Darel.
Darel diam mendengar pertanyaan Arul barusan. Jujur saja dia memang rindu pada kebersamaan mereka, terlebih pada masakan pembantu Darel yang memang dulu Darel sering main ke rumah Zanu. Semua kenangannya bersama Zanu sering terlintas dipikirannya dan membuatnya rindu akan kenangan itu.
...Kenapa susah sekali untuknya mengakui jika memang dia salah? apa sepenting itu harga dirinya dibanding keutuhan persahabatan kami? batin Arul mulai tersulut emosi....
"Sudahlah, jika memang Dwi tidak bisa memaafkanku tidak apa-apa. Lagipula aku juga akan ke negara K. Aku juga sudah membeli rumah untukku tinggal dan ingin memulai kehidupanku disana." ucap Zanu tegar.
"Lagipula alasanku mau kembali ke negara ini juga sudah tidak ada! untuk apa aku masih disini? setidaknya aku bisa melihat pertunangannya saja, itu sudah membuatku senang. Aku pergi dulu!" ucap Zanu tersenyum tipis lalu meninggalkan markas Darel.
Darel masih tidak bergeming dari tempatnya. Ada rasa penyesalan ketika Zanu mengatakan hendak pergi meninggalkannya, lagi. Namun ego nya memaksa dia untuk tetap bersikap angkuh dihadapan Zanu yang padahal hatinya sendiri tidak menginginkannya.
Haruskah aku mengakui kesalahanku sekarang? batin Darel.
"Kau benar-benar keterlaluan Darel! kau tahu dia sudah bersusah payah membujuk dirimu agar mau menerimanya lagi. Kau memberikan tekanan mental pada orang yang tidak bersalah apakah itu adil? jika kau menganggap sikapmu seperti ini sudah benar, maka aku tidak akan mau membantumu lagi!" ucap Arul emosi.
Arul pun pergi dari markas Darel, begitu juga Tomi yang hanya menggelengkan kepalanya pelan tanda kecewa pada sikap Darel. Setelah semua orang pergi, Darel merasa benar-benar tidak berdaya.
Ditempat lain, dikediaman Sanjaya.....
Seluruh rangkaian acara sudah dilaksanakan dengan baik. Para tamu undangan juga sudah meninggalkan rumah Sanjaya. Kini tersisa Mentari, tuan dan nyonya Ardi. Mereka menunggu kepulangan Darel karena sedari tadi pergi tanpa memberitahu alasan kepergiannya.
"Pa, apa papa yakin semua baik-baik saja? tidak biasanya loh Darel seperti ini?" tanya nyonya Ardi cemas.
"Sudahlah ma, semua baik-baik saja. Mama tenang saja percayakan semua pada anak kita." ucap tuan Ardi menenangkan istrinya.
Perkataan tuan Ardi memang bisa menenangkan nyonya Ardi namun tidak dengan Mentari. Perkataan itu justru membuatnya semakin khawatir jika memang Darel ada masalah. Mentari yang memang belum tahu bahwa selain pengusaha, Darel juga sebagai pemimpin salah satu kelompok mafia pun hanya bisa menduga-duga kalau masalah ini ada kaitannya dengan bisnis yang dijalani Darel.
Semoga dia baik-baik saja, semoga Engkau selalu bersamanya Tuhan! batin Mentari.
Mentari sangat cemas. Hal itu terlihat jelas ketika dia mengaitkan jari-jari tangannya pertanya dia cemas, berbohong, takut, atau yang lainnya.
Tidak berselang lama, suara mobil pun terdengar berhenti diluar. Semua orang langsung berdiri dan raut wajah cemas pun berubah menjadi sedikit tenang.
"Nah itu pasti Darel!" ucap tuan Ardi.
__ADS_1
Mereka pun menghampiri pintu, namun mereka harus menelan pil pahit ketika bukan Darel yang datang melainkan.....
"Surprise!!!" ucap adik dan kakak Darel bersamaan.
Juna, Randita, Rangga (suami Randita), dan Arya datang bersama Frans.
"Yaampun kalian kok baru dateng? ayo masuk dulu!" ucap nyonya Ardi yang kegirangan dengan kehadiran kedua buah hatinya dan cucunya.
"Nah, kenalkan ini Mentari, calon istri Darel." ucap nyonya Ardi memperkenalkan Mentari.
"Perkenalkan saya Mentari!" ucap Mentari seraya tersenyum manis.
Wow, cantik juga calon Darel, nggak salah deh kalau dia dijodohkan sama Darel! batin Frans.
Randita menatap Mentari dari atas sampai bawah. Wajah Mentari terlihat sangat familiar dimatanya.
Sepertinya aku pernah melihat wajah ini, tapi dimana ya? batin Randita.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Randita penasaran.
Mentari merasa bingung dengan pertanyaan kakak Darel barusan. Bagaimana mungkin mereka pernah bertemu sebelumnya sedangkan ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Emm, saya rasa tidak kak!" ucap Mentari lembut.
"Oh, emm baiklah! mungkin aku salah duga. Oh ya perkenalkan ini suamiku, Rangga. Dan yang ini anakku, Arya." ucap Randita memperkenalkan keluarga kecilnya.
Mentari hanya mengangguk sopan.
"Perkenalkan aku Juna, adik Darel!" ucap Juna hendak berjabat tangan.
Namun tatapan tuan Ardi membuat Juna mengurungkan niatnya.
"Kalau aku Frans!" ucap Frans tersenyum.
Mentari membalas senyuman Frans dengan senyuman.
Mereka pun disuruh untuk meletakkan barang-barang dan berbenah diri terlebih dahulu sebelum kembali berbincang-bincang.
Sungguh keluarga yang bahagia terlebih kakak Darel yang cepat akrab dengan Mentari menambah kebahagian keluarga Sanjaya yang sebentar lagi akan bertambah personil.
__ADS_1