Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 88


__ADS_3

"Kita kerumah sakit milik Darel sekarang! entah apa yang dilakukan Tomi sampai Jack menyuruh kita datang kesana sekarang juga!" ucap Arul sambil memasukkan ponselnya dalam saku.


Mobil yang ditumpangi mereka bertiga pun memutar arah menuju rumah sakit Darel. Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpangi mereka bertiga sampai dirumah sakit Darel. Diluar rumah sakit sudah ada Tomi dan Jack yang menunggu sedari tadi.


"Ada apa ini? kenapa Jack meneleponku dan menyuruhku kemari segera? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Arul setelah keluar dari mobil diikuti Adi dan Harri.


"Kau lihatlah sendiri didalam!" ucap Tomi.


Mereka pun mengikuti langkah kaki Tomi hingga berhenti disebuah kamar VVIP. Arul yang saat itu masih tidak mengerti pun dibuat bertanya-tanya.


Siapa yang sakit? bukankah Darel sedang bulan madu? batin Arul penasaran.


Tomi membuka pintu ruang perawatan itu, dan betapa Arul terkejut saat melihat orang yang tangah berbaring diruangan tersebut dengan alat bantu memenuhi tubuh wanita itu.


"Dia!!???"


Arul sangat terkejut bahkan mengusap matanya beberapa kali memastikan kalau penglihatannya memang menangkap seseorang yang sangat dia kenali.


Anisa? dia...dia kembali? tap...tapi kenapa banyak alat bantu disekelilingnya? batin Arul masih terkejut.


Anisa yang saat itu tengah beristirahat sama sekali tidak mendengar suara bising disekitarnya. Dia tetap pulas menikmati sisa hidup yang hanya tinggal dua minggu saja.


Sebenarnya Bagas dan Angel sudah membuat janji kepada dokter spesialis kanker, namun hasilnya tetap nihil. Jalan buntu mereka dapatkan setelah sang dokter ahli kanker mengatakan bahwa umur Anisa kurang dari dua minggu dikarenakan kanker yang dideritanya sudah merajalela didalam tubuh Anisa.


Anisa tahu kalau umurnya tidak lama lagi, namun Bagas tidak tega untuk mengatakan kebenarannya kepada Anisa. Selama ini yang Anisa tahu bahwa ada secercah harapan yang muncul saat bertemu dengan sahabat kecilnya itu, terlebih sekarang Bagas sudah menjadi dokter yang handal dan terkenal. Namun itu semua tetap saja tidak membuatnya sembuh dari penyakit mematikan yang dia derita.


Anisa pasrah, dia siap kapanpun Tuhan akan menjemputnya. Yang Anisa inginkan sebelum kematiannya adalah, Arul. Yah, Anisa kembali ke Indonesia hanya untuk bertemu dengan Arul menyampaikan perasaan yang sedari dulu dia pendam.


Perasaan yang bahkan sebelum berlabuh harus terpaksa ditenggelamkan dan sekarang menyatakan perasaan itu adalah keinginannya yang mungkin untuk terakhir kalinya.

__ADS_1


"Dia? kenapa dia ada disini? mana Bagas? hah, Bagas! mana Bagas!" ucap Arul kalang kabut.


Khawatir, senang, takut, sedih menjadi satu. Hal itulah yang dirasakan Arul saat ini. Bagas yang saat itu sedang menuju kamar Anisa hendak memeriksanya pun mempercepat langkah kakinya saat mendengar suara Arul.


"Kalian sudah sampai?" tanya Bagas setelah melihat kedua sahabatnya.


"Kau? sejak kapan dia dirawat disini? kenapa kau baru memberitahu ku ha?" tanya Arul dengan nada tinggi.


Tentu saja dia emosi karena Bagas merahasiakan kembalinya orang yang pernah ada dihatinya dan sekarang orang itu tengah berjuang antara hidup dan mati melawan penyakitnya.


"Maafkan aku! Aku hanya ingin Anisa mendapatkan kebahagiaannya disaat-saat terakhirnya!" ucap Bagas lirih.


Wajah tampannya sekarang berubah menjadi sendu. Arul yang syok mendengar kalimat 'saat-saat terakhirnya' pun berjalan mundur dengan gontai.


Saat-saat terakhir? apa...apa yang terjadi padanya? batin Arul syok.


"Anisa, bangunlah! ak...aku...aku ada disini!" ucap Arul lirih.


Anisa yang samar-samar mendengar suara yang amat dia rindukan pun mulai mengerjapkan matanya.


"A.. Arul?" tanya Anisa lirih.


Arul hanya menganggukkan kepalanya cepat. Senyum manisnya mulai terukir dibibirnya saat melihat wanita yang dia cintai memanggil namanya lagi.


"Kau kembali Nisa! kau kembali! tapi kenapa kau kembali dengan keadaan seperti ini? kenapa Nisa?" tanya Arul tanpa terasa air mata menetes dipipinya.


Tomi, Bagas dan yang lain memilih keluar dari ruangan dan membiarkan Arul dan Anisa berbicara dari hati ke hati.


"Aku tidak bisa menerima kenyataan kalau kau pria brengsek! aku pergi dari sini membawa luka, dan aku kembali juga membawa luka! aku tau meskipun Bagas tidak mengatakannya padaku, tapi aku yakin bahwa umurku tidak lama lagi hikksss...hikss...hikss.. aku..aku kembali hanya untuk bertemu denganmu, aku...aku hanya ingin menatap wajahmu untuk yang terakhir kalinya dalam hidupku.." ucap Anisa tersendat-sendat.

__ADS_1


Air mata Anisa kini sudah membanjiri pipinya, kebahagiaan yang dia rasakan saat bertemu Arul sekarang menjadi ketakutan akan kehilangan orang itu untuk selama-lamanya.


Ya Tuhan bolehkah aku egois sekarang? aku hanya ingin bersamanya Tuhan, beri aku kesempatan kedua agar aku bisa bersamanya. Tolong jangan kau jemput aku sekarang, aku...aku ingin bersamanya untuk yang terakhir kali!


"Maafkan aku Nisa! aku terlalu kotor untuk bersanding dengan wanita suci sepertimu! kau tidak pantas bersanding dengan pria brengsek sepertiku!" ucap Arul menatap wajah pucat Anisa.


Bukan malah menenangkan Anisa, justru perkataan Arul barusan bak pisau yang menyayat habis hati Anisa hingga menyisakan potongan-potongan kecil.


"Kau tahu aku...aku tidak bisa melupakanmu? kenapa kau seperti itu dulu? tahukah kau kalau aku sangat terluka?" ucap Anisa dengan air mata terus mengalir dipipinya.


"Aku... aku.... terlalu mabuk saat itu, ak...aku ti..tidak bisa mengendalikan diriku hingga aku melakukan kesalahan besar. Kesalahan yang akhirnya membawamu menjauh dariku!"


Kini mata Anisa dan Arul saling bertemu, tidak ada obrolan setelah itu hanya tatapan mata hangat yang mereka rasakan seolah mata itu yang saat ini sedang mengatakan banyak hal.


"Akhh!" jerit Anisa memegangi perutnya.


"Nisa? Nisa..kau kenapa? Nisa!! Bagas!!! Bagas!!! Nisa bertahanlah kau akan baik-baik saja!" ucap Arul.


Kepanikan jelas terasa saat ini. Arul terus memanggil Bagas dengan tangannya menggenggam tangan Anisa. Anisa sudah tidak sadarkan diri sekarang setelah meraung-raung kesakitan hingga membuat Arul semakin panik.


Untungnya Bagas dan yang lain segera masuk setelah Arul berkali-kali memanggilnya.


"Kenapa dengan Nisa? kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Bagas pada Arul.


"Tolong dia? aku tidak tahu kenapa tapi tadi dia sangat kesakitan!" ucap Arul sangat panik.


Bagas, Angel dan dokter spesialis kanker memeriksa keadaan Anisa, sedangkan Arul dan yang lainnya disuruh menunggu diluar ruangan.


Kau harus sembuh Nisa! berapapun biayanya apapun akan aku lakukan untuk kesembuhanmu! batin Arul yang melihat Anisa sedang ditangani tiga dokter termasuk Bagas dan Angel melalui kaca bulat dipintu.

__ADS_1


__ADS_2