Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 314


__ADS_3

"Nggak!!"


"Iya!!"


Adi dan Nakala menjawab pertanyaan Lukas secara bersamaan. Namun Nakala menjawab tidak kenal sedangkan Adi menjawab kenal membuat Lukas semakin memicingkan matanya kearah mereka.


"Kita perlu bicara!" seret Lukas.


Lukas menyeret lengan Adi dan meninggalkan Nakala yang tetap berdiri di depan kamar Mentari. Nakala menghela nafas panjang karena Adi bisa segera pergi darinya atau jika tidak getaran di dadanya akan semakin kencang.


Lukas menyerat Adi hingga ke pojok ruangan.


"Apa sihh?!" tanya Adi.


"Apa kau mengenali wanita itu?" tanya Lukas.


"Ya!" jawab Adi singkat.


Lukas membelalakkan matanya tidak percaya. Selama ini dia berpikir bahwa Adi tidak normal karena belum pernah sekalipun dia melihat Adi tertarik kepada seorang wanita. Namun saat bertemu Nakala, Adi terlihat sangat berbeda. Lukas bisa merasakan hal itu.


"Apa?! kapan?! dimana?" tanya Lukas penasaran.


"Apa kau lupa pada gadis kecil yang dulu sangat cengeng?" tanya Adi.


Masa remaja Adi, Harri, Lukas dan juga beberapa rekannya memang dihabiskan disini, menemani Darel dan berjanji untuk selalu setia pada dirinya.


"Dia?!!" tanya Lukas seolah mengingat sesuatu.


"Nakala! dia adalah Nakala itu. Gadis cengeng yang terjatuh dari pohon kala mengambil layangan. Ironis memang seorang wanita bisa memanjat pohon yang tinggi apalagi hanya untuk mengambil sebuah layang-layang." ucap Adi lalu terkekeh.


# Flashback Pertemuan Pertama Nakala dan Adi #


Kala itu, matahari lagi terik-teriknya. Adi yang saat itu berusia delapan belas tahun baru kembali setelah mengantarkan Darel latihan memanah bersama paman Merish. Karena Darel juga lagi mempersiapkan ujian, maka Adi dan dirinya diminta untuk tidak mengganggu Darel sampai belajarnya selesai. Adi yang bosan pun memilih berjalan ke gerbang depan dimana Harri dan Lukas telah disana lebih dulu.


Memang sudah biasa mereka nongkrong di pos penjaga gerbang depan untuk bersenda gurau dengan penjaga yang usianya lebih tua dari mereka sambil menikmati camilan dan secangkir kopi panas.


Krek....krekk...


"Eh, suara apa tuh?!" lirih Adi yang mendengar suara asing ditelinga nya. Adi pun menuju ke sumber suara, dimana suara itu datang dari luar gerbang.


"Eh, Adi! mau kemana?!" panggil Harri yang melihat Adi berlari keluar gerbang.


Karena penasaran, Harri dan Lukas pun menyusul Adi berlari keluar gerbang.

__ADS_1


"Di, ngapain sih disini?" tanya Harri yang telah berhasil mengejar Adi.


Adi berdiri di bawah pohon besar yang berada di depan rumah Darel. (Saat ini pohon itu telah ditebang dan diganti dengan lampu jalanan)


"Tuh!" tunjuk Adi melalui sorot matanya.


Harri dan Lukas seketika mendongak menatap arah yang ditunjuk Adi. Terlihat seorang gadis cilik bertubuh kecil namun tinggi itu tengah meraih sesuatu. Begitu dilihat lebih jeli, ternyata gadis itu tengah berusaha mengambil sebuah layang-layang yang menyangkut diantara dahan pohon. Tanpa kenal takut, gadis itu terus merangkak sambil tangannya terulur agar bisa menggapai layang-layang itu.


Krek....


Suara itu muncul kembali. Adi bisa melihat bahwa dahan pohon tempat gadis itu berada telah retak. Suara-suara tadi berasal dari sana.


"Woii!! cepat turunn!!! dahannya mau patah!!!" teriak Adi.


Karena terkejut melihat ada tiga orang remaja pria di bawahnya, gadis itu pun terkejut lalu tangannya terpeleset dan hampir terjatuh. Namun rupanya gadis itu masih bisa meraih dahan pohon lain sehingga tubuh kurusnya tidak sampai terjatuh dari ketinggian.


"Tolonggggg!!!!" teriak gadis itu.


"Bertahanlah!!" teriak Adi.


Tanpa pikir panjang, Adi langsung naik ke atas pohon dan begitu sampai di samping dahan tempat gadis itu bergelantungan, Adi pun mengulurkan satu tangannya.


"Ulurkan tanganmu!!!" teriak Adi.


"Nggak!!! nggak mauuu!!! tolonggg!!!" teriak gadis itu.


"Nggakkk mauu jatuhhh!!"


Dengan terpaksa gadis itu pun menerima uluran tangan Adi. Adi yang saat itu ikut bergelantungan pun mendekap pinggang gadis itu.


"Tutup matamu!!" perintah Adi.


"Hah?!!" gadis itu membulatkan matanya.


"Tutup aja!!! ribet banget sih!!!" perintah Adi lagi.


Gadis itu pun menutupkan matanya, lalu perlahan Adi melepaskan tangannya yang memegang dahan pohon. Dia menjatuhkan dirinya dari atas pohon dengan posisi memeluk gadis asing bak adegan-adegan romantis di sinetron.


Bukkk....


Adi dan gadis itu selamat sampai ke bawah, namun gadis itu yang begitu erat memeluk Adi sampai tidak menyadari bahwa mereka telah turun dengan selamat.


"Hei nona kecil, tolong lepaskan teman kami!" ucap Lukas.

__ADS_1


"Eh, maaf!!" ucap gadis itu yang langsung menjauhkan dirinya dari Adi.


"A....aku harus pergi!!" ucap gadis itu dengan tergesa-gesa.


Disela lariannya, gadis itu berbalik lalu berteriak mengucapkan terimakasih kepada Adi membuat Adi terkekeh geli.


# Flashback Off #


"Jadi kalian bertemu lagi setelah kejadian itu?!" tanya Lukas.


"Hem! lebih tepatnya tidak sengaja! dia menjadi salah satu anak buah dari musuh yang aku tangani dulu. Setelah pemimpin dan anak buah kelompok itu ditahan oleh tuan Darel, aku meminta untuk dirinya agar tidak dihukum. Awalnya tuan heran kenapa aku melakukan itu, namun aku berbohong dengan mengatakan bahwa aku mengenali wanita itu dan tuan pun melepaskan dia. Sebelum pergi, dia memperkenalkan dirinya sebagai Nakala. Itulah kali pertama aku mengetahui namanya. Nakala!" cerita Adi.


"Lalu?!" tanya Lukas lagi.


"Lalu tiba-tiba ada sebuah nomor asing mengirimiku pesan meminta untuk bertemu dan mengaku namanya Nakala. Kami bertemu di salah satu restoran milik tuan, jadi kalau terjadi apa-apa denganku, tuan bisa tahu siapa yang harus dia temui."


"Dia mengajakku bertemu hanya untuk mengucapkan terimakasih. Dan kami pun semakin akrab sejak hari itu. Dia juga mengungkapkan nama yang jarang diketahui oleh orang banyak." ucap Adi.


"Siapa?" tanya Lukas penasaran.


"Miguela. Nama itu jarang sekali orang tahu karena menurutnya terlalu feminim. Hanya aku dan beberapa orang saja yang tahu, selebihnya, orang mengenalinya dengan nama Nakala." ucap Adi.


"Berarti anda spesial, hehe!" celetuk Lukas.


"Lalu?" tanya Lukas.


"Di tahun ke tiga kami berteman, dia tiba-tiba menghilang. Aku tidak bisa melacak jejaknya. Dia lenyap begitu saja. Lalu akhirnya aku tahu kalau dia berada di Cina. Aku meminta seorang mata-mata untuk mengikutinya dan melaporkan kesehariannya padaku." cerita Adi.


Lukas sampai kehabisan kata-kata. Dia bahkan tidak menyangka bahwa Adi bisa sampai berbuat sejauh itu demi seorang gadis.


"Apa dia menghindari anda?" tanya Lukas.


"Mungkin! tapi entah apa yang menyebabkan hal itu, aku juga belum tahu." ucap Adi.


"Sudahlah, ayo kita kembali!" ucap Adi.


Mereka kembali ke Nakala yang saat itu tengah berdiri didepan pintu kamar Mentari. Tanpa ekspresi, dan tanpa reaksi kala Adi dan Lukas datang menghampirinya.


"Duduklah!" ucap Adi yang menyodorkan sebuah kursi pada Nakala.


"Tidak usah, terimakasih!" tolak Nakala.


Adi tidak kehabisan akal. Dia berjalan ke hadapan Nakala kalau memegang pundak wanita itu. Nakala yang mendapat serangan mendadak itu pun terkejut apalagi saat tempat sengaja mata mereka saling bertatapan. Adi membawa Nakala ke arah samping lalu mendudukkannya di kursi yang telah dia bawa tadi.

__ADS_1


"Aku bilang duduk, ya duduk!!!" ucap Adi yang menatap lekat mata Nakala sedangkan wajah wanita itu terlihat jelas olehnya tengah sangat gugup.


Tanpa disadari pipi Nakala memerah karenanya. Entah karena marah atau karena malu yang jelas itu membuat Adi semakin gemas.


__ADS_2