
Darel sudah duduk di meja makan. Para pelayan belum menyiapkan hidangan untuk makan malam karena biasanya tuan mereka tidak makan malam dirumah.
Darel membuka ponsel dan melihat beberapa email yang belum sempat dia lihat sedari tadi.
Pesan dari Jack? apa isinya?
Dar membuka pesan yang dikirim Jack tadi. Terlihat sebuah video dilayar ponselnya. Setelah didownload, Darel membuka video tersebut.
Isi rekaman itu adalah...
"Nah, Zen, apa kau tidak berpikir kau berhutang penjelasan pada kami semua?" tanya Arul menatap Zen juga.
"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya. Ini dimulai ketika....."
*Flashback On*
Disebuah mall ternama, tepatnya di kedai makanan, seorang wanita cantik bertubuh ideal dengan rambut terurai lurus dan diwarnai dengan warna hijau muda, membuatnya semakin cantik. Dia memakai dress ketat sepaha dan atasan berbentuk kotak membuat payudaranya sedikit telihat.
"Hallo, apa kau memiliki obat per*****ng?" tanya Pretty dalam telepon.
"Tentu saja aku punya banyak, kau mau berapa?"
"Sisakan satu saja untukku, pembayarannya akan aku transfer nanti! kau kirim saja ke rumahku!"
"Tentu saja, akan segera aku kirim, setelah kau mentransfer uangnya!"
"Baiklah!"
Pretty mentransfer sejumlah uang dari ponselnya.
"Bagaimana, sudah masuk belum?" tanya Pretty.
"Hahaha, sudah! aku akan kirim sekarang juga! senang berbisnis denganmu nona!" mematikan ponselnya.
"Aku akan menjadikan kamu milikku seutuhnya, Darel. Setelah itu aku akan menghancurkan hidupmu dan membuatmu bangkrut, hahahaha!" Pretty tertawa licik.
Pretty pergi dari kedai itu. Tanpa dia sadari ada seseorang yang mendengar obrolannya di telpon sedari tadi. Dia adalah Zanuar Shatara.
Sudah aku duga, dia bukan wanita yang baik seperti yang dikatakan Dwi! aku harus menghentikan niat buruknya itu kepada Dwi!
"Selamat siang, tuan Zanu!" sapa pak penjaga.
"Siang! apa Rohan ada dirumah?" tanya Zanu.
__ADS_1
"Ada, tuan. Silahkan masuk saja!" jawab penjaga dengan senyum ramahnya.
"Baiklah!"
"Sudah kuduga kau ada disini!" ucap Zanu langsung duduk disofa dekat Rohan.
"Ada apa kau mencariku?" masih fokus pada tulisan dihalaman buku.
"Si Pretty, dia merencanakan sesuatu untuk Dwi, dan aku yakin kalau itu adalah hal buruk!" ucap Zanu serius.
"Darimana kau tahu?" tanya Rohan penasaran.
"Aku sudah sering memperingati Dwi kalau Si bang*at itu bukan wanita yang baik untuknya, tapi dia sudah sangat dibutakan cintanya pada si Pretty tu! dasar tuan muda bucin!" menyenderkan kepalanya dikursi dengan kasar.
"Kau tahu kan sifat Darel, Zen! lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Rohan.
"Aku rasa Dwi tidak boleh tahu soal ini!"
"Apa kau yakin, Zen?"
"Ya, aku sangat yakin. Karena jika kita memberitahu hal ini padanya dia tidak akan percaya. Jadi lebih baik dia tidak tahu saja."
"Lalu apa rencanamu sekarang?"
"Apa kau gila? bagaimana kalau dia melukai Darel?" sedikit emosi.
"Kau tenang saja dulu, aku punya rencana yang bagus, kita biarkan Pretty menjalankan permainannya dan kita akan mengalahkannya dalam permainannya sendiri!" ucap Zanu yakin.
"Apa kau yakin? apa ini tidak terlalu beresiko?" Rohan Khawatir.
"Tidak! aku sangat yakin, Pretty itu memang cantik, body nya bagus, tapi hatinya tidak secantik wajahnya. Cih wanita murahan!" ucap Zanu
"Aku sendiri bahkan sebelumnya pernah 2 atau 4 kali melihatnya keluar masuk hotel ku dengan pria yang berbeda." tambahnya kesal mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu.
"Oh, apa karena itu kau tidak menyukainya? kau dan Bagas yang sama sekali tidak suka dengan hubungan Darel dan Pretty bukan? apa Bagas juga.."
"Tidak, Bagas tidak tahu soal ini. Aku juga tidak tahu kenapa dia tidak menyukai si Pretty, tapi aku yakin dia tahu sesuatu yang buruk tentang wanita jal*ng itu!"
Zanu pun menceritakan rencananya pada Rohan.
"Tidak! aku tidak setuju! ini terlalu beresiko padamu! bagaimana kalau terjadi perkelahian antara kau dengan Darel nanti? kau tahukan Darel, kalau sudah menyangkut orang yang dia sayang seperti apa sikapnya? apalagi baginya Pretty lebih dari hidupnya! tidak, aku tidak akan setuju!" ucap Rohan berdiri dari sofa nya.
Zanu ikut berdiri.
__ADS_1
"Hanya ini satu-satunya rencana yang paling baik untuk kita! apa kau mau Darel yang terluka? kalau aku sih tentu saja tidak! ayolah, hanya kau yang bisa aku andalkan sekarang, please!" bujuk Zanu dengan tangan disatukan didepan memohon.
"Kau tahu aku tidak bisa mendengar sahabatku mengatakan itu, dan kau gunakan kelemahan ku itu ya?" menatap tajam Zanu.
*Flashback off*
"Tunggu! jadi kau sudah tahu Rohan?" tanya Arul dengan menatap Rohan.
"Aku sudah tahu dari awal, makanya aku membela Zen mati-matian waktu itu. Tapi Darel sudah sangat marah hingga dia tidak mau mendengarkan penjelasan Zen ataupun aku!" ucap Rohan menundukkan kepalanya.
Rohan merasa gagal menjaga persahabatan mereka. Meskipun dia tahu kebenarannya, dia tetap tidak bisa melakukan apa-apa ketika Darel mengusir Zanu dari kota ini.
"Dan Bagas?" tanya Tomi.
"Setelah 3 tahun kejadian itu, Rohan menghubungiku dan menceritakan semuanya. Saat peristiwa itu, aku tidak yakin kalau Zen tega melakukan itu pada Darel makanya aku ikut memberi penjelasan padanya, tapi itu tidak membantu!" jelasnya.
"Jika kalian sudah tahu kenapa tidak memberitahu kami sebelumnya? setidaknya kami akan ikut membantu membujuk Darel saat itu dan kami tidak akan salah paham pada Zen!" kesal Tomi.
Zanu hanya diam saja.
"Apa kalian mendengar ucapan ku waktu itu? jangankan mendengar penjelasan ku, kalian bahkan tidak ingin mendengar nama Zen disebut!" ucap Rohan sedikit kesal.
"Zen kenapa kau diam saja! jelaskan pada mereka!" ucap Rohan mengagetkan Zanu.
"Zen? Zen?" memanggil nama Zanu beberapa kali.
"Apa yang harus aku jelaskan? Dwi... Dwi bahkan tidak mau mendengar penjelasan ku! lalu untuk apa aku menjelaskan semuanya pada kalian!" teriak Zanu histeris.
Semua orang terdiam mendengar kalimat Zanu. Penderitaan yang dia tahan selama 5 tahun terakhir ini kini keluar dalam bentuk air mata dan penyesalan yang tidak ada ujungnya.
"Seandainya.... seandainya aku mendengarkan Rohan waktu itu, mungkin tidak akan seperti ini jadinya! hiks......hiks......hiks..... aku...aku...aku hanya ingin menyelamatkannya saja dari wanita ular seperti Pretty, tapi aku tidak tahu kalau akan seperti ini jadinya!" ucap Zanu sambil menangis histeris.
Rohan dan Bagas mengusap pundak Zanu. Zanu tidak kuat menahan beban emosional nya lagi dan dia pun terjatuh ditanah. Tubuhnya sangat lemah.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit! Rohan bantu aku bawa!" ucap Tomi.
Rekaman berakhir.
"Zen!! tidak! apa yang sudah aku lakukan? aku harus menelpon Jack!" ucap Darel langsung berdiri ketika rekaman itu menunjukkan Zen yang tiba-tiba pingsan.
Nomor yang anda tuju sedang sibuk! ulangi beberapa saat lagi!
"Hais dimana bocah tengik itu?" kesal Darel.
__ADS_1