
Mentari duduk termenung. Nasi di piringnya bahkan belum tersentuh sama sekali. Entah dimana pikirkannya bermain sekarang.
"Tari?!" panggil mama Daniar.
Beberapa kali panggilan itu dilayangkan untuk Mentari.
"Eh, iya ma?" tanya Mentari tersadar dari lamunannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan? berbagilah dengan kami untuk mencari solusi masalahmu, nak. Jangan dipendam sendiri!" ucap papa Daniar.
"Haihhhh!" Mentari menghela nafas panjang.
"Ma, aku ingin berpisah dengan Darel!" ucap Mentari pelan namun masih didengar semua orang termasuk Daniar.
"Sungguh?!" tanya Daniar dengan senyum sumringah.
Mamanya langsung menyikut lengan Daniar membuat Daniar langsung merubah mimik wajahnya.
"Ehemm, emm maksudmu...apa kau yakin?" tanya Daniar.
Mentari menunduk mendengar pertanyaan Daniar.
"Tari, jangan ambil keputusan disaat marah! berpikirlah dengan jernih dulu, baru bicarakan baik-baik dengannya!" ucap papa Daniar.
Papa Daniar mengerti kegundahan Mentari saat ini. Disaat Mentari mengatakan ingin berpisah, sorot matanya mengatakan hal yang berbeda.
"Jika kamu belum yakin dengan keputusanmu, sebaiknya jangan gegabah dalam melangkah, Tari!" ucap mama Daniar menasehati.
"Maafkan Tari, tapi Tari tidak bisa jika disini terus! menatap Darel seolah membuka penyakit lama. Apa aku salah jika aku kecewa dengannya karena tidak jujur padaku?" tanya Mentari mulai berlinang air mata.
"Tidakk!!! kamu tidak salah kok sayang!!! kamu benar jika kecewa karena kamu istrinya dan Darel wajib memberitahumu semuanya tentang dia tanpa ada yang ditutup-tutupi!" ucap mama Daniar.
Daniar hanya menyimak saja, takut salah bicara lagi. Membahas kelakuan Darel selalu menyulut emosi dari Daniar.
"Begini saja, habiskan dulu sarapanmu, setelah ini kita kerumah Darel untuk menyelesaikan masalah ini!" ucap papa Daniar.
"Aku ikut papa saja, bagaimana baiknya!" ucap Mentari pasrah.
Meski tidak nafsu makan, Mentari tetap memasukkan makanan dipiringnya kedalam mulutnya. Dengan malas dia mengunyah makanan itu lalu menelannya.
********
Di apartemen Pretty.
"Da... Darel?!" tanya Pretty memegangi pipinya yang panas akibat tamparan Darel.
Darel mencengkeram dagu Pretty dengan kuat.
"Kau berani sekali mengatakan hal itu kepada istriku!!!" ucap Darel tenang namun berhasil membuat Pretty ketakutan.
"A....apa...maksudmu, sayang!!??" tanya Pretty gugup.
"Ikat dia!!" perintah Darel.
Beberapa anak buah Aqis kembali mengikat Pretty pada tiap ujung ranjangnya. Posisi Pretty sekarang seperti membentuk huruf X.
"Berikan!" perintah Darel sambil menengadahkan tangannya.
Adi yang mengerti maksud tuannya ini bergegas mengambil apa yang Darel minta.
__ADS_1
"Ini tuan!" ucap Adi sembari memberikan sebuah cambuk kepada Darel.
Plasss.....plasss.....plasss.....
Plasss.....plasss.....plasss.....
Darel mulai mencambuk tubuh Pretty dengan sangat kuat membuat bekas cambukan ditubuhnya.
"Aahhh, ampunn Darelll!!!! akhhhh!!!!! sakitttt!!!!! Akhhhhh tolonggggg.....akhhhhh!!!!!" teriak Pretty kesakitan saat cambuk itu mendarat mengenai tubuhnya.
Karena kaki dan tangannya terikat membuat Pretty tidak bisa melawan apa yang dilakukan Darel. Lagi-lagi Darel dengan sangat kuat mendaratkan cambuk itu ke tubuh Pretty.
Sudah hampir setengah jam Darel mencambuk tubuh Pretty membuat tubuh Pretty lemas seketika dengan tubuh penuh luka. Bahkan cambuk yang ada ditangan Darel pun sampai rusak karenanya.
"Hah.....hah....buka pakaiannya!!" perintah Darel.
"Baik tuan!" ucap salah satu bawahan Aqis.
"Tua!?" ucap Aqis tidak berani melanjutkan perkataannya karena tangan Darel lebih dulu menghentikannya.
"Cepat telan*angi dia!!" perintah Darel.
"Aku tahu kau pasti tergoda dengan tu*buhku kan Darel sayang? mari, biar aku pu*skan kamu malam ini!" ucap Pretty tersenyum menggoda.
Darel menatapnya tidak bergeming sedikitpun. Kini, bawahannya sudah melepaskan semua pakaian Pretty tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya.
"Kau percaya diri sekali yaa kalau aku akan menyentuhmu? cuihhh!" Darel meludah ke samping bawahannya.
"Jangan mimpi!!! kalian?! apa kalian tidak ingin merasakan kepu*san dari wanita ini? aku yakin servisnya sungguh luar biasa!" ucap Darel memancing anak buahnya.
Empat orang anak buah Aqis menatap kearah Pretty dengan tatapan penuh nafsu.
"Hah, kalian bebas menikmatinya! oh ya jangan sungkan untuk mengeluarkannya didalam! dia tidak akan bisa hamil!" ucap Darel.
Darel berjalan menuju sofa dikamar Pretty sambil menikmati minumannya.
"Darel hentikan mereka!!! Darel jangan seperti ini....Darelllll!!!!" ucap Pretty sangat ketakutan.
Kini keempat anak buah Aqis sudah mulai menggerayangi tubuh Pretty. Ada yang memainkan pay*daranya, ada yang menjil*ti bagian intinya, ada yang langsung memasukkan senjatanya ke mulut Pretty, dan ada juga bermain di wajah dan leher Pretty.
"Akhhhh!!!! Darelll hentikan merekaaa!!!!!" aakkhhhhh....." des*han mulai keluar dari mulut Pretty.
"Puaskan saja nafsu kalian pada wanita itu! mau seberapa lama pun tidak masalah!" perintah Darel semakin menyulut gai*ah bawahannya.
Tidak perduli dengan penolakan Pretty, mereka tetap memaksa Pretty melayani naf*u mereka. Secara bergantian mereka mendapatkan kepuasan, baik melalui mulut ataupun inti tubuh Pretty.
Darel, Adi, Lukas, Dan Aqis masih setia menonton mereka. Sesekali mereka menelan ludah karena rangs*ngan didepan mereka. Tentu saja mereka tergoda. Mereka lelaki normal.
Hampir satu jam lamanya, permainan itu sudah selesai. Meninggalkan sisa-sisa cairan mereka diatas ranjang. Keempat bawahan Darel terkulai lemas disamping tubuh Pretty. Sebelum pergi Darel dihentikan oleh Pretty yang juga kelelahan melayani keempat bawahannya.
"Kenapa kau lakukan ini Darel?!" tanya Pretty dengan suara lirih.
Bagian bawahnya sudah sangat perih akibat permainan yang kasar dari bawahan Darel juga karena ukuran senjata mereka berbeda. Bahkan tadi Pretty merasakan ada benda besar melesak masuk ke inti tubuhnya membuatnya semakin meringis kesakitan.
"Karena dengan ini aku bisa membalaskan sakit hatiku. Dulu, juga sekarang! satu hal yang perlu kau tahu. Aku membawamu kedalam kemewahan ini bukan untuk memanjakanmu namun untuk menghancurkanmu! tanpa kau sadari aku telah menyuruh Aqis diam-diam memberimu pil yang bisa merusak rah*m mu, dan membuatmu tidak bisa hamil! katakanlah aku kejam karena berbuat demikian! namun itu hal yang sepadan dengan apa yang sudah kau lakukan sekarang!" jelas Darel panjang lebar.
Ucapan Darel membuat Pretty menangis sejadi-jadinya. Bagaimana bisa pria yang dulu begitu mencintai dan memujanya sekarang justru menghancurkannya.
Mentari. Ini semua karena Mentari! jika saja dia tidak hadir didalam hidup Darel, Darel tidak akan mungkin berlaku sekejam ini kepadaku!!! aku membencimu, Mentari!! aku bersumpah akan menghancurkan rumah tanggamu!!!! batin Pretty dengan mata memerah.
__ADS_1
Pretty akhirnya tertidur saking lelahnya dia. Tidak perduli dengan para pria di sampingnya ini.
********
Darel baru saja sampai dirumahnya. terlihat ada beberapa orang yang sangat dia kenali. Yah, kedua orang tuanya, adik dan kakak serta kakak iparnya. Tidak lupa juga ponakannya yang ada dalam gendongan sang papa.
Plakkkk....
Belum juga Darel berkata, sebuah tamparan mengenai wajahnya dengan sangat keras.
"Pa, tahan emosi papa dulu!" ucap nyonya Ardi menenangkan.
"Dimana otakmu itu kau letakkan haa!! kau menyia-nyiakan berlian hanya untuk memungut batu jalanan?! apa kau buta HAAA!!" maki tuan Ardi.
"Sayang, bawa Arya ke kamar dulu!" perintah Randita kepada suaminya.
Rangga membawa putra mereka menuju kamar dan menguncinya agar Arya tidak melihat pertengkaran itu.
"Darel, kau itu kerasukan apa sih? kakak nggak habis pikir sama kamu! kau rela meninggalkan bidadari untuk mengejar lontong sate itu?!!! kamu ini gila apa gimana sih?!" ucap Randita tidak habis pikir dengan jalan pikiran adik sulungnya ini.
"Benar itu kak! apa sih kurangnya kak Mentari! dia itu baik loh! dibandingkan dengan wanita ular itu, kak Mentari jauhhhhh.....jauh....jauh diatas wanita itu!!! mikir napa kak!!!" sekarang Juna pun ikut berbicara.
"Maaf, tapi aku melakukannya untuk menghukumnya!" ucap Darel.
"Kau itu seorang mafia, Darel!!! kau bisa saja mengurungnya dimarkasmu atau dimana pun! kau bisa menyiksanya, bukan dengan kemewahannn!" ucap tuan Ardi mulai tersulut emosi.
"Bukan seperti ini cara seorang mafia menghukum musuhnya! kalau seperti ini ya pastilah Mentari tidak akan percaya!!!" ucap tuan Ardi lagi.
Darel menunduk. Dia tahu letak salahnya. Bukannya memberikan kesengsaraan secara nyata, dengan bodohnya Darel malah memberikan kesenangan untuk Pretty.
"Tuan, nona Mentari, juga nona Daniar dan kedua orang tuanya datang!" ucap Joni.
Joni dan Marish sedari tadi duduk di depan pintu sembari berjaga dan sesekali berbincang dengan Lukas dan Adi.
"Baguslah, biarkan mereka masuk!" ucap tuan Ardi.
Joni pun keluar, tidak lama berselang Mentari dan yang lain mulai masuk kedalam rumah itu.
"Sayangg!!" panggil nyonya Ardi sembari mendekati Mentari lalu memeluknya sebentar.
"Ya ampun, kamu makin kurus aja!! tunggu bentar!" ucap nyonya Ardi setelah melepaskan pelukannya kemudian berjalan mendekati Darel.
"Aduhhh...aduh....aduh....maa...sakitttt....." ucap Darel mengaduh.
Nyonya Ardi menarik telinga Darel lalu membawanya kehadapan Mentari.
"Nih, dia ada di hadapanmu sekarang! ayo pukul, sayang!!" perintah nyonya Ardi membuat Mentari dan kedua orang tua Daniar juga Daniar melotot terkejut.
"Tapi..."
Nyonya Ardi menarik tangan Mentari lalu mengarahkannya kepipi Darel.
Plak....plak....plak....
Beberapa tamparan dilakukan tangan Mentari atas arahan tangan nyonya Ardi.
"Anak nakal ini memang harus diberi pelajaran!! kalau dengan kata-kata tidak bisa, jangan sungkan untuk main fisik!" ucap nyonya Ardi.
"Ma, sudah!" ucap Mentari melepaskan tangannya dari tangan mama mertuanya.
__ADS_1