
Pukul 21.00, Mentari dan Darel memutuskan pulang dari rumah utama Sanjaya. Sepanjang perjalanan, suasana terlihat sangat canggung dan hening. Entah apa saja yang. sedang mereka pikirkan saat ini.
5 hari lagi? kenapa sangat mendadak? aku kan belum siap! batin Mentari.
Yaa sebenarnya makan malam itu hanya alasan untuk bisa mengatakan rencana pertunangan yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Mentari terlihat sangat gugup.
Flashback saat makan malam....
Mereka mulai makan malam itu dengan tenang. Tidak ada yang bersuara selain dentingan sendok dan garpu.
"Mentari!" panggil tuan Ardi.
"Iya pa?" jawab Mentari cepat.
"Lima hari lagi kalian akan melangsungkan pertunangan. Kami sudah menyiapkan semuanya, besok kalian pergilah ke butik untuk membeli gaun yang indah untuk acara pertunangan dan pernikahan sekaligus!" jelas tuan Ardi datar namun terlihat sangat serius.
"A...apa? secepat itu? kenapa?" tanya Mentari yang merasa tidak siap.
Darel yang sudah mengetahui rencana ini terlihat biasa saja. Yah walaupun dia sendiri sebenarnya juga merasa tidak setuju dengan rencana ini.
"Sayang, niat baik itu harus dilaksanakan secepatnya. Lagian apa kata masyarakat sekitar nanti kalau kalian sering bersama tanpa ada ikatan?" ucap nyonya Ardi penuh pengertian.
Siapa sih yang tidak gugup jika mendekati acara penting seperti itu? semua orang pasti merasa gugup dan belum siap. Hal itu yang dipikirkan nyonya Ardi. Dia berpikir Mentari belum siap dengan kedua acara yang sangat sakral itu terlebih waktu yang tersisa sangat singkat.
"Tapi..." ucap Mentari terpotong.
"Sudahlah, kau ikuti saja! jangan banyak komentar!" ucap Darel yang seperti tahu jalan pikiran Mentari.
"Tapi maaf pa, aku tidak bisa mengunjungi butik besok. Aku ada urusan!" ucap Mentari mengurungkan niatnya untuk berkomentar dan memilih untuk mengatakan hal lain.
"Hemm, itu terserah saja! kalian bisa mengunjungi butik lusa!" ucap tuan Ardi.
********
"Apa yang sedang otak kecilmu itu pikirkan?" tanya Darel pada Mentari.
Mentari langsung menatap kearah sampingnya.
"Ak...aku...aku belum siap!" jawab Mentari lalu menunduk.
Darel melihat jelas raut wajah Mentari yang gugup dan entah apa saja yang dia rasakan saat ini.
"Semua akan baik-baik saja!" ucap Darel menenangkan Mentari sambil mengelus punggungnya.
Mentari mendongakkan kepalanya, menatap mata Darel. Matanya kini berkaca-kaca.
"Terimakasih!" ucap Mentari langsung memeluk Darel.
__ADS_1
Darel sebenarnya ingin menepis tubuh yang memeluknya ini. Tapi melihat berapa terkejutnya Mentari dengan kabar ini membuatnya mengurungkan niatnya itu.
Sepertinya dia sangat terguncang mendengar hal ini. Tapi kenapa sampai seperti ini? haih, aku benar-benar tidak mengerti! batin Darel.
Jika aku bertunangan lalu menikah, siapa yang akan menjadi waliku? siapa yang akan ada dipihakku? sedangkan mama dan papa Darel pasti lebih memilih menjadi wali anaknya bukan? batin Mentari.
Setelah cukup lama memeluk Darel, Mentari akhirnya menjadi sedikit tanang.
"Sudah?" tanya Darel.
"Heem!" jawab Mentari menghapus air matanya.
"Kau ini, lihat ulahmu! jasku basah semua kan!" ucap Darel mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya-iya aku yang salah! maaf!! dan terimakasih!" ucap Mentari tersenyum.
"Untuk apa?" tanya Darel mengernyitkan dahinya.
"Untuk pelukanmu! itu sangat membantu!" jawab Mentari.
"Hah, tapi itu tidak gratis ya! kau harus membayarnya!" ucap Darel.
"Apa? hanya memelukmu saja harus membayar? tidak adil!" ucap Mentari kesal.
"Kapan lagi kau bisa memeluk pria tampan seperti ku ini, ha? sudah tampan, kaya raya juga, siapa yang tidak ingin mendapat pelukan dariku? dan kau malah dengan seenaknya saja memelukku, mana kau juga membasahi jasku lagi!" jelas Darel sedikit sombong.
Darel menaikkan sekat antara kursi depan dan belakang dengan remote control. Saat sudah tertutup, Darel langsung mendorong tubuh Mentari ke ujung pintu mobil.
"Ap...apa yang kau lakukan?" tanya Mentari gugup.
"Aku ingin mengambil bayaranku!" jawab Darel.
Entah mengapa berada didekat Mentari membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Darel pun tersadar dan menjauhkan dirinya dari Mentari dengan segera.
Sial, kenapa bisa aku tertarik dengan wanita ini! sial!! batin Darel.
Mentari pun sama terkejutnya, dia langsung duduk ke ujung kursi, menjaga jarak dari Darel.
Darel pun menurunkan sekat yang tadi.
Adi dan Harri menyangka tuannya ini sedang 'bersenang-senang' dengan Mentari. Apa lagi melihat wajah canggung diantara keduanya saat sekat itu terbuka.
"Jauhkan pikiran mesummu itu atau kalian akan aku pecat!" ucap Darel menatap anak buahnya dengan tajam.
Mentari masih diam, bingung mau bicara apa.
__ADS_1
"Hehehe maaf tuan! soalnya pikiran itu datang sendiri!" ucap Harri cengengesan.
Darel menghela nafas berat. Suasana kembali hening hingga sampai dirumah Mentari.
Mentari juga langsung turun dan masuk rumah tanpa menunggu mobil Darel pergi seperti biasanya.
Aku rasa dia marah padaku? atau karena terlalu gugup dengan rencana pertunangan itu? batin Darel.
Mereka pun meninggalkan rumah Mentari saat Mentari sudah benar-benar masuk ke dalam rumah.
Didalam rumah Mentari...
Saat sudah sampai dirumah Mentari langsung menutup pintu dengan segera.
Jantungku? kenapa deg-degan gini ya? nggak, ini nggak mungkin. A....aku nggak mungkin suka sama dia kan? batin Mentari bingung.
Saat dia berdekatan dengan Darel dimobil tadi, jantungnya berdetak sangat cepat. Mungkin itu yang membuat Mentari diam sepanjang perjalanan setelah kejadian itu.
Apa benar ini cinta? batin Mentari bertanya-tanya.
********
Mobil Darel sampai dirumah pukul 23.45.
"Harri, Adi, kalian menginap saja disini, besok pagi aku mau kekantor mengecek karyawan baru disana. Wisnu bilang mereka sudah merekrut karyawan baru." jelas Darel.
"Baik tuan!" jawab Harri dan Adi bersamaan.
Darel pun memasuki rumah, disambut oleh mbok Tini yang sedari tadi belum tidur menanti kepulangan tuannya.
"Selamat malam tuan, kenapa larut sekali pulang nya? mbok jadi cemas." ucap mbok Tini.
"Tadi mengantar Mentari pulang dulu. Oh ya kenapa mbok belum tidur? saya kan sudah bilang kalau saya pulang malam tidak usah ditungguin." ucap Darel menatap wanita paruh baya dihadapannya.
"Mbok belum bisa tidur tuan muda, makanya mbok menunggu disini!" jawab mboke Tini sambil tersenyum haru.
Tidak diduga, Darel yang sifatnya dingin dan terkadang bringas itu bisa sangat perhatian pada mbok Tini. Bagaimana tidak, mbok Tini sebenarnya pengasuh Darel, yang kemudian diutus tuan Ardi untuk menjaga Darel saat pindah dari rumah utama ke rumahnya sendiri.
Tentu saja mbok Tini dengan senang hati melaksanakan perintah dari tuan besarnya itu, mengingat dia juga sudah sangat sayang pada tuan mudanya layaknya anaknya sendiri.
"Hem, baiklah besok siapkan sarapan pagi-pagi, aku mau kekantor. Dan tolong antar Harri dan Adi ke kamar tamu ya mbok!" ucap Darel.
"Baik tuan muda!" jawab mbok Tini.
Setelah Darel naik ke lantai dua dan memasuki kamarnya, mbok Tini mengantar Harri dan Adi ke kamar tamu. Setelah itu mbok Tini kembali kerumah belakang untuk beristirahat.
Mereka pun langsung terlelap karena kelelahan.
__ADS_1