
Mentari begitu terkejut karena baru kali ini mama mertuanya itu membentak dirinya. Biasanya wanita elegan dihadapannya ini akan berlemah lebut padanya, lalu kenapa sekarang menjadi berubah hingga 360⁰? hal apa saja sebenarnya yang telah dikatakan oleh Pretty hingga mama mertuanya ini begitu amat membenci dirinya sekarang?
"Ma? kenapa mama jadi begini sama aku? aku nggak salah, ma? hari itu memang papa datang kesini, tapi aku tidak menemui papa walau hanya sebentar. Aku juga tahu dari mbok Tini yang memberitahu ku. Sebelum aku dan papa bertemu, penjaga di gerbang tidak mengijinkan papa untuk masuk." ucap Mentari.
"Janga percaya ucapannya, tante! dia itu penipu ulung. Bisa saja dia memutar balikkan fakta. Wanita kampung kan memang begitu, dia pasti telah bermimpi untuk menjadi Cinderella!" cemooh Pretty.
Srett.....
"Naka, jangan!!!" cegah Mentari.
Nakala yang tidak tahan dengan cemoohan dari Pretty itu pun menarik pisau kecil miliknya. Sontak saja Pretty yang melihat nyawanya hampir saja melayang menelan ludahnya dengan susah payah, berusaha mengatur nafasnya agar tidak panik.
"Kamu apa-apaan!!! berani sekali kamu mengangkat senjatamu pada calon menantuku?!!!" bentak Sandra sambil menghempaskan tangan Nakala yang masih berada tepat didepan leher Pretty.
"Nyonya besar, saya menghormati anda karena anda adalah ibu dari tuan saya. Namun jika anda berani menyakiti nona Mentari, maka saya akan melupakan fakta itu dan bertindak layaknya anda adalah musuh saya. Saat ini kedudukan nona Mentari lebih penting dalam hidup tuan muda, terlebih ada anak yang tengah dikandung oleh nona. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya mohon untuk anda segera pergi dari sini." ucap Adi.
Adi juga begitu geram kepada Pretty dan Sandra. Tebakannya tepat lagi. Sandra pasti akan berbuat ulah. Bodohnya dulu mengapa Pretty tidak langsung dihabisi saja. Adi menyesali perbuatannya yang membiarkan Pretty lepas begitu saja tanpa pengawalan. Dia kecolongan lagi dan lagi. Selalu aja nona yang menjadi sasaran bagi mereka yang serakah, egois, serta iri dengki.
"Jaga mulutmu itu, Adi!! aku bisa saja meminta Darel untuk membunu* mu sekarang juga karena telah lancang mengusir mamanya! dan apa yang kamu bilang tadi? posisi Mentari jauh lebih unggul dariku? aku?! ibu yang telah melahirkan dia? yang mempertaruhkan nyawa demi kelahirannya?! heh, dia akan tetap kalah jika bersaing denganku. Darel akan terus memihak padaku, bukan pada wanita pembunuh ituu!!" tunjuk Rumi kepada Mentari.
"Ma....aku bukan pembunuh! aku bukan pembunuh!!!" ucap Mentari.
"Alahh, kalau pembunuh ya pembunuh aja, nggak usah ngeles!!" cerca Pretty.
Mentari menatap Pretty dengan tatapan garang. Entah keberanian dari mana, Mentari langsung mendekati Pretty yang tertawa mencemooh dirinya. Ditariknya rambut Pretty dengan sangat kuat hingga Pretty menjerit kesakitan.
"Lepas, bangsa*!!! aakhhh, nenek tolongggg!!! wanita ini telah gila, nekk!!! Tante tolonggg!!!" teriak Pretty kesakitan.
Tidak mengindahkan teriakan Pretty, Sandra maupun Rumi, Mentari terus menarik rambut Pretty dan membawanya ke kolam renang. Mentari mendorong tubuh Pretty hingga tersungkur ke lantai. Sekali lagi, Mentari menarik kuat-kuat rambut Pretty lalu menenggelamkan wajah Pretty ke dalam kolam renang.
__ADS_1
"Ahhh!!! bggsisbgn!!" ucap Pretty yang tidak jelas karena Mentari kembali menenggelamkan wajahnya kedalam kolam.
Begitu seterusnya hingga Pretty sangat lemah karena kekurangan oksigen. Rumi dan juga Sandra berusaha untuk menghentikan aksi Mentari yang brutal itu namun dihalangi oleh Adi, Nakala, dan Lukas. Mereka bertiga menghentikan langkah Rumi dan Sandra tepat di pintu menuju kolam renang dengan mengunci pintu itu. Ketiga orang itu berada di sisi kolam renang, sedangkan Rumi dan Sandra berada sisi lain di balik pintu.
"Tari, hentikan Tari!!! dia bisa mati!!!" teriak Rumi yang samar-samar terdengar karena terhalang oleh pintu.
Mentari terus saja menenggelamkan wajah Pretty lalu menariknya ke atas, kembali dibenamkan lalu diangkat lagi. Begitu seterusnya hingga Pretty benar-benar lemas. Mentari langsung menghempaskan tubuh lemah Pretty. Sekujur tubuh Pretty telah basah oleh air. Nafasnya tersengal karena kekurangan oksigen.
Tidak berhenti sampai disitu saja, Mentari berjalan mendekati Pretty lalu menampar wanita itu hingga berulang kali. Kuku Mentari yang sedikit panjang itu mencakar-cakar wajah Pretty. Pretty berteriak kesakitan karena ulah Mentari, namun sedetik kemudian Pretty mendorong tubuh Mentari hingga Mentari terdorong jauh ke belakang.
"Nona!!! anda baik-baik saja?" tanya Nakala yang berhasil menangkap tubuh Mentari yang terdorong oleh Pretty.
"Aku baik-baik saja! terimakasih telah menolongku! wanita itu akan aku beri pelajaran!" ucap Mentari menatap Pretty dengan tatapan tajam.
"Tidak, nona! anda disini saja! biarkan saya yang membalaskannya. Jangan kotori tangan anda yang suci itu dengan tubuhnya yang penuh kotoran. Kalau saya mah, sudah tugas saya!" ucap Nakala.
Kretek....
"AKHHHH!!!! sakitttt!!!!! hentikannn!!!! hentikannn!!!! akhhhhh!!!!" teriak Pretty kesakitan.
Nakala menginjak kaki kanan Pretty dengan begitu kuat. Bahkan Lukas dan Adi yang melihat itu sampai bisa merasakan ngilunya.
"Ckckck, pasti sakit kan, Di, digituin? apalagi sampai bunyi tadi tulangnya!" ucap Lukas lirih.
"Pastilah! paling ringan yaa patah tu tulangnya!" jawab Adi.
"Ini, akibat telah menghina nona saya!" ucap Nakala yang semakin kuat menginjak kaki Pretty membuat Pretty semakin kesakitan.
Nakala tidak berhenti sampai disitu. Dia menarik kerah Pretty lalu membangunkan Pretty kemudian meninju perut wanita itu dengan sangat keras.
__ADS_1
"Ini, karena telah memfitnah nona saya!" ucap Nakala setelah meninju perut Pretty.
"Tolong, ampun!! hentikann!!" mohon Pretty.
"Hentikan?! heh, oke, aku akan memberimu dua pilihan. Mati disini, atau mati di rumah sakit?!" tanya Nakala yang telah menyiapkan sebuah bogem mentah ke arah Wajah Pretty.
Pretty tersungkur di lantai dengan wajah lebam dan mengeluarkan darah. Nakala tidak puas apalagi mengingat penghinaan yang telah Mentari dapatkan akibat ulah wanita ular itu.
Sekali lagi, Nakala menendang tubuh lemah Pretty hingga Pretty meringkuk agar tendangan Nakala tidak terlalu mengenai perutnya.
"BERHENTIIII!!!" teriak Sandra.
Rupanya, Sandra dan Rumi berhasil memecahkan pintu yang memang terbuat dari kaca itu. Sandra yang melihat Pretty dianiaya langsung mendekati Pretty dan Nakala lalu mendorong Nakala hingga terjatuh kedalam kolam renang.
"MIGUELAAA!!!" teriak Adi saat melihat Nakala terjatuh ke dalam kolam renang.
Tanpa pikir panjang, Adi langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam renang untuk menolong Nakala. Adi tahu benar kebiasaan Nakala. Selalunya Nakala akan mengalami keram pada kakinya jika berenang tanpa pemanasan. Satu tahun bersama Nakala dahulu telah membuat Adi begitu mengenal wanita itu.
"Kamu!!! berani-beraninya kamu menganiaya calon menantu sayaaa!!!" marah Sandra.
Sandra langsung menyerang Mentari dengan mencekik leher Mentari lalu mendorongnya ke dinding.
"Jdhhevsjaiabb!" ucap Mentari yang tidak jelas karena tenggorokannya yang tercekik.
Mentari berusaha tetap bernafas walaupun cekikan pada tenggorokannya begitu kuat hingga udara yang dia hirup begitu sedikit. Lukas yang melihat hal itu langsung mendorong tubuh Sandra hingga Mentari terbebas dari cekikan Sandra. Lukas langsung memegang nonanya itu yang terlihat sangat lemah karena kehabisan oksigen. Mentari mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya setelah terbebas dari cekikan Sandra.
"Berani kamu mendorong sayaaa!!!" bentak Sandra pada Lukas.
"Apa? anda mau saya menggusur perusahaan anda yang kecil itu?! jangan lupa siapa saya dan nona Mentari. Sekali nona memberi perintah, maka tuan Darel pun akan memenuhi perintah itu. Akan sangat mudah baginya untuk meratakan perusahaan tungau mu itu!!" ancam Lukas.
__ADS_1