
Setelah kepergian Amanda, kini tinggallah Alvaro dan Hyuna yang masih berada didepan ruangan kelas Alvaro.
"Pagi kak, ini aku buatin sandwich spesial buat kakak." ucap Hyuna menyodorkan kotak bekal miliknya.
Alvaro menatap sekilas kotak bekal itu.
"Lo tuh nggak paham bahasa manusia apa gimana sih?!! gue udah terang-terangan nolak lo!!! nyuruh lo buat jauhin gue, tapi apa?! lo malah semakin berusaha buat deketin gue! gue tuh risih sama lo, gue benci sama lo! harus pakai cara gimana lagi buat lo sadar dan jauhin gue?!" ucap Alvaro.
Lagi. Lagi-lagi seperti ini. Kata-kata ini lagi yang terucap dari bibir Alvaro. Hyuna yang buta cinta itu dengan bodo* nya menerima semua kesakitan atas jatuh cintanya. Berulang kali dia merasakan jatuh yang teramat dalam tanpa pernah merasakan cinta dari seorang Alvaro.
"Aku cuma mau buatin bekal buat kakak, itu aja kak! lagian kita udah dijodohin, aku yakin kalau kakak bakal luluh sama semua kebaikan aku ke kakak!" ucap Hyuna.
"Harusnya setelah kemarin lo tuh sadar kalau bukan makanannya yang gue tolak, tapi lo! gue nggak mau berurusan sama apapun itu yang berhubungan dengan lo!" ucap Alvaro.
"Kenapa sih kak?! aku salah apa sama kakak? sampai-sampai kakak sebenci itu sama aku?" tanya Hyuna.
"Lo tuh beban! orang tua gue aja lebih sayang sama lo daripada gue yang anak kandungnya. Gue benci sama lo, sampai mati pun gue nggak bakal pernah lihat lo! jadi gue mohon, jauh-jauh dari gue!" ucap Alvaro menekankan kalimat terakhirnya.
"Varo!!!" teriak Raisa.
Raisa tau kalau sahabatnya ini akan berbuat bodoh lagi. Mengejar pria yang tidak tahu caranya membalas cinta sebesar cinta Hyuna.
"Lo tuh cowok bukan sih?! kalau lo nggak suka sama dia, paling nggak hargai usaha dia! lagian lo juga pakek acara terima perjodohan ini yang membuat Hyuna semakin berharap sama lo! sama aja lo tuh brengse* karena lo ngasih harapan terus lo juga yang nyakitin dia. Pikir kek pakek otak lo itu! emang ada cewek yang cinta sama lo sebesar cinta Hyuna buat lo?! gue rasa nggak bakal ada!!" ucap Raisa menatap mata Alvaro.
Raisa berdiri tepat di hadapan Hyuna.
"Kalau lo perduli banget sama nih cewek! lo suruh dia buat jauhin gue karena itu akan jauh lebih baik buat dia dan buat gue! kalau soal perjodohan itu, gue terima karena nyokap gue yang memohon sama gue, jangan berharap lebih!" ucap Alvaro.
Alvaro pergi dari tempat itu. Hyuna menangis dipelukan Raisa.
"Na, lo dengerin gue sekalii ini aja!! jauhin dia!" ucap Raisa.
"Sa...."
__ADS_1
"Gue nggak mau denger lagi lo bela cowok itu ya!! gue udah muak liat dia nyakitin lo, semena-mena sama lo cuma gara-gara dia tau lo secinta itu sama dia! cinta itu harus dari dua arah, Hyuna! kalau cuma satu arah yang ada malah sakit nanti!" ucap Raisa.
Hyuna terdiam beberapa saat sampai akhirnya bel tanda masuk berbunyi.
********
Dua minggu sudah Hyuna tidak mengganggu Alvaro. Mungkin itu adalah hal yang paling membahagiakan bagi Alvaro, namun bagi Hyuna?! itu terasa begitu berat.
Sore ini, Daniar mengundang keluarga Darel untuk datang ke rumahnya. Acara hari ini adalah makan malam sekalian peresmian perjodohan Alvaro dan Hyuna karena Hyuna sudah naik ke kelas 3 SMA.
Hyuna, Daniar, dan mama Daniar sibuk di dapur menyajikan beragam masakan. Sedangkan Zanu, Darel, dan yang lain berada diruang tamu berbincang-bincang. Hanya Alvaro yang tidak ada dengan alasan ada kerja kelompok. Hyuna tahu itu hanya sebuah alasan. Nyatanya Alvaro enggan dijodohkan dengannya, namun Alvaro tidak bisa menolak. Sedangkan Hyuna juga tidak bisa menolak karena jujur saja masih ada cinta untuk Alvaro dihatinya.
"Nah, itu kayaknya suara motornya Varo! bentar tante lihat dulu yaa!" ucap Daniar saat mendengar suara motor kesayangan milik putranya.
Benar saja, saat Daniar berjalan ke ruang tamu, dia berpapasan dengan Alvaro yang hendak naik ke kamarnya. Rumah Daniar sudah banyak dirombak oleh Zanu. Zanu menggunakan uangnya untuk membangun sebuah perusahaan tambang sehingga kekayaannya bertambah. Beberapa rumah yang Zanu miliki dahulu masih terawat meskipun dia sudah tidak pernah ke rumah itu lagi dan memilih menetap dirumah Daniar.
"Sayang, kamu baru pulang? cepat mandi dan bersiap ya, semuanya sudah menunggu kamu!" ucap Daniar.
"Iya, mi!" jawab Alvaro lalu menaiki tangga menuju kamarnya.
Alvaro berjalan begitu saja tanpa melirik ke arah Hyuna sedetikpun.
"Hyuna sayang, sini!" panggil Daniar saat Hyuna baru sampai di ruang tamu.
Hyuna meletakkan nampan berisi kue lapis legit lalu duduk di samping Daniar sedangkan Alvaro duduk di dekat Zanu.
"Baiklah, Darel, bagaimana kalau kita mulai saja perjodohan ini?" ucap Zanu.
"Boleh saja!" ucap Darel.
"Hyuna, kami ingin meminta kamu untuk menjadi bagian dari keluarga kami, menjadi menantu kami, apa kamu bersedia?" tanya Zanu.
Hyuna menatap Alvaro yang duduk di samping Zanu, namun pria itu seolah enggan menatapnya.
__ADS_1
"Saya bersedia!" ucap Hyuna.
"Alhamdulillah!! tunggu kamu lulus SMA lalu kita akan mengadakan pertunangannya, bagaimana Darel?" tanya Zanu.
"Aku setuju saja!" ucap Darel.
Mereka pun berbincang-bincang sambil menikmati camilan sore sebelum jam makan malam.
********
Alvaro telah lulus dari SMA, dia memilih melanjutkan kuliah di Universitas Bima Nusantara dengan mengambil jurusan bisnis karena suatu saat perusahaan Zanu akan dikelola oleh Alvaro dan Alvaro harus siap oleh itu.
Setelah acara makan malam kemarin, Alvaro langsung pergi ke basecamp dan tidur disana. Teman-teman Alvaro tidak ada yang tahu kalau dirinya dijodohkan oleh Hyuna. Entah mengapa Alvaro merasa malu jika hubungan itu diketahui banyak orang.
Pagi itu, Alvaro terbangun karena ada panggilan masuk ke ponselnya.
"Hallo?!" ucap Alvaro belum membuka matanya.
Ponsel itu diletakkannya di telinga, sedangkan dirinya terlelap lagi.
"Kak, kakak kemana?! mama Daniar khawatir sama kakak!"
Alvaro langsung membuka matanya kala mendengar suara itu. Matanya langsung menatap layar ponsel yang menampilkan siapa penelepon itu.
"Berisik lo!! gue keluar dari rumah juga gara-gara lo! kenapa sih lo harus terima perjodohan ini!! gue benci sama lo dan selamanya akan tetap begitu bahkan akan semakin besar rasa benci gue sama lo!!" maki Alvaro.
Sudah tidak terhitung berapa banyak makian yang dilontarkan Alvaro untuk Hyuna, tapi gadis itu tetap saja tidak bisa pergi darinya.
"Maaf kak! aku cuma khawatir aja sama kakak soalnya ponsel kakak nggak aktif sejak semalam. Mama Daniar juga khawatir banget sama kakak." ucap Hyuna.
"Jangan panggil nyokap gue itu mama lo ya, bangsa*!!! dia mami gue!! bukan mami lo!! lo tuh nggak punya mami jadi jangan ngaku-ngaku mami orang lain itu mami lo!!!" marah Alvaro.
Tidak ada sahutan dari Hyuna, Alvaro pun mematikan panggilan dengan amat kesal dan membanting ponselnya ke kasur yang tidak terlalu tebal itu.
__ADS_1
Disisi Hyuna. Hyuna kehilangan kata-kata saat Alvaro membahas maminya yang telah tiada. Hyuna memang kurang kasih sayang seorang ibu, tapi bukan berarti dia akan merebut ibu orang lain. Semalam Daniar sendiri yang meminta Hyuna untuk memanggil mama dan Hyuna patuh saja.
"Kenapa sih, rasanya sakit banget jatuh cinta masa kamu kak?! aku cuma ingin dicintai juga, aku kurang apa?! kenapa hati ini tidak bisa berhenti walau telah dilukai berkali-kali?! Raisa benar, aku memang bodoh, tapi aku tidak bisa berhenti mencintai kak Varo!!" Hyuna bermonolog.