Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 290


__ADS_3

Apa-apaan ini? mengapa jadi begini? papa?! apa papa dalang dibalik terbunuhnya kedua orang tua Mentari??!! batin Darel.


Darel terkejut mendengar fakta mencengangkan ini. Bahkan dia sampai ngebleng beberapa saat hingga akhirnya pak Bayu melanjutkan ceritanya.


"Dulu, saya dengan pak Supri mantan kepala bagian keuangan saat itu tengah menyalin rekapan data yang akan diberikan kepada tuan Sanjaya, papa anda. Saat kami berada didepan pintu ruangannya, tanpa sengaja kami mendengarkan obrolannya dengan seorang wanita. Wanita itu bilang agar tuan Sanjaya menjauh dari kehidupannya dan jangan pernah mengganggu rumah tangganya. Saat itu saya dan juga pak Supri hanya bisa mematung di depan pintu karena tidak berani masuk, pergi pun juga entah mengapa enggan rasanya." ucap pak Bayu.


"Lalu?! bagaimana anda bisa yakin kalau itu adalah ibu mertua saya?!" tanya Darel mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Awalnya saya tidak tahu siapa wanita itu, hingga pada akhirnya wanita itu berlari keluar dengan linangan air mata. Dan saya tahu persis itu adalah nyonya Maya. Bahkan tuan Sanjaya juga mengejarnya dengan memanggil nama Maya, namun terlambat karena nyonya lebih dulu masuk ke dalam lift." jelas pak Bayu.


"Saya juga sempat mendengarkan percakapan mereka mengenai janin yang digugurkan. Saya kurang mengerti maksudnya, tapi saya rasa ini ada hubungannya dengan hubungan terdahulu mereka. Beberapa minggu setelahnya, tuan Mario dikabarkan menghilang dan semua dana investasi yang telah tuan Mario berikan untuk perusahaan di masukkan kedalam kas perusahaan atas perintah tuan Sanjaya sendiri. Saat itu saya dan pak Supri yang mengerjakan pemindahan dana ke kas karena memang itu tugas kami sebagai kepala bagian pengarsipan dan kepala bagian keuangan." jelas pak Bayu.


Penjelasan pak Bayu sangat jelas, namun entah mengapa sulit dicerna oleh otak Darel.


"Ini!" ucap pak Bayu memberikan beberapa amplop yang telah usang.


"Apa ini, pak?" tanya Darel menerima amplop itu.


"Itu adalah salinan pemindahan investasi tuan Mario ke kas perusahaan. Saya menyimpannya sebagai bukti karena saya yakin menghilangnya tuan Mario ada sangkut pautnya dengan papa anda. Bukan maksud menuduh, tapi mungkin begitu adanya. Lalu beberapa minggu kemudian saya mendengar bahwa tuan Mario beserta istrinya telah meninggal karena diamuk masa. Entah apa yang menyebabkannya. Namun menurut kabar yang beredar, tuan Mario dituduh menggelapkan uang perusahaan dan juga dituduh menjadi ketua mafia penjahat di sana."


Darel menghela nafas beratnya berkali-kali. Sulit sekali menerima semua pernyataan yang dilontarkan pak Bayu tadi. Apa benar papanya sejahat itu?! apa papanya yang memang memfitnah papa mertuanya hingga terusir dari kampung dan meninggal dengan mengenaskan? apa sikap baiknya kepada istrinya itu hanya sebuah kedok untuk menutupi kejahatannya dimasa lalu?! akhh, Darel pusing sendiri memikirkan semua teka-teki ini.


Tapi tunggu! bukankah ayah Tia bernama Mario?! apakah Tia itu adalah Mentari?! Tia kecilnya yang sangat dia sayangi melebihi adiknya sendiri?! apakah Mentari itu Tia dan Tia adalah Mentari?! bukankah nama panjang Mentari memiliki nama Tia dibelakangnya?!


Ya Tuhan!!! jadi....selama ini, aku telah menemukan Tia ku?! Tia ku...adalah istriku?! batin Darel.


********


Mentari duduk di kursi sambil menonton televisi. Para pekerja tengah mempersiapkan kamar bawah yang menjadi gudang untuk dijadikan kamar bayinya. Sebenarnya Mentari tidak terlalu terburu-buru dengan kamar bayi ini. Tapi semua ini adalah keinginan suaminya, Darel. Tentu saja Mentari tidak mau merusak keinginan suaminya ini. Apapun jika itu baik untuk bayinya, Mentari akan patuh pada Darel.


"Kalian pindahkan ini ke gudang baru yaa!" ucap mbok Tini memerintahkan pelayan untuk memindahkan barang-barang di gudang lama ke gudang baru.


Gudang lama ini berisi barang-barang Mentari saat awal-awal menikah dahulu. Mulai dari baju, aksesoris, dan masih banyak lagi.

__ADS_1


"Eh, tunggu mbokkk!" panggil Mentari saat melihat koper lama miliknya.


"Iya, non? anda membutuhkan sesuatu?" tanya mbok Tini.


"Aku hanya ingin mengenang kehidupanku dahulu. Letakkan saja disini!" ucap Mentari duduk dilantai.


"Eh, non, jangan dilantai!! mbok ambilkan kursi yaa! cepat ambilkan kursi kecil dan meja untuk nona!" ucap mbok Tini.


Pelayan pria pun berhamburan mengambilkan apa yang diperintahkan mbok Tini.


"Silahkan duduk, nona! anda tidak boleh duduk di lantai, dingin!" ucap mbok Tini menata tempat duduk Mentari.


"Makasih mbok, anda terlalu berlebihan!" ucap Mentari.


"Mentari pun duduk dengan koper lamanya yang berada dihadapannya.


Perlahan Mentari membuka koper itu. Berdebu! karena memang sudah lama tidak di sentuh dan dibersihkan.


"Wahhh, ini baju-baju ku dulu, sekarang sudah tidak muat!" ucap Mentari mengambil beberapa helai baju-baju lamanya lalu mengepaskannya ke tubuhnya yang sudah semakin gemuk.


"Ini juga, tas kesayanganku!" ucap Mentari mengambil tas selempang favoritnya.


Brak....


Sebuah benda jatuh saat Mentari mengangkat sebuah baju dari dalam kopernya. Mentari mengambil benda itu.


"Kalung kerang ini..... ternyata ada disini?! aku mencarinya kemana-mana!! aku pikir hilang!!" ucap Mentari memeluk kalung pemberian seseorang namun Mentari lupa namanya.


"Tiaaa!!!" teriak Darel saat memasuki rumah.


Mentari menoleh kearah Darel yang berlari menuju kearahnya.


"Tia!!! ini kamu!! kenapa aku tidak sadar kalau selama ini kau ada di dekatku!!" ucap Darel memeluk Mentari dengan erat.

__ADS_1


Semua orang yang melihat itu terheran-heran termasuk juga Iwang. Bukannya setiap hari bertemu yaa?! tapi dari cara tuan mereka memeluk Mentari, sepetinya mereka baru bertemu setelah sekian lama tidak jumpa, pikir mereka.


"Sayang kamu nih kenapa sih?! kita kan tiap hari ketemu!!" ucap Mentari melepaskan pelukan suaminya.


Mata Darel terfokus pada kalung kerang yang berada di tangan Mentari.


"Kalung ini...." Darel menunjuk pada kalung yang digenggam Mentari.


"Sayang dengarkan dulu penjelasan ku! aku tidak selingkuh, kalung ini sudah lama bersamaku. Aku sendiri lupa dari siapa kalung ini, percayalah!" ucap Mentari.


Mentari berpikir Darel salah paham dengan mengira bahwa kalung itu diberi oleh selingkuhannya.


"Kalung itu dariku, sayang!" ucap Darel berbisik tepat disamping telinga Mentari.


Deg....


Mentari berdiam diri sejenak, mencoba mencerna kata-kata suaminya barusan.


"Kau....kau?!"


"Ya, aku yang memberikan kalung itu sebelum aku pindah, kau ingat kan?!" tanya Darel berlinang air mata.


"J...jadi, selama ini...aku sudah menemukanmu!!" ucap Mentari ikut menangis.


Mereka pun kembali berpelukan namun kali ini pelukan mereka terlibat sangat lama.


"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu pergi!!" ucap Mentari ditengah pelukannya.


"Tidak akan!!! aku tidak akan meninggalkanmu sekarang!!" ucap Darel lalu mengecup gemas kening, kedua mata, kedua pipi, hidung dan terakhir bibirnya dalam waktu yang lama dengan sangat gemas.


Saat cium** itu mendarat di bibir Mentari, refleks Adi menutup mata Harri dan Lukas yang menganga, sedangkan mbok Tini spontan menutup mata Iwang agar tidak melihat adegan berbahaya itu. Beberapa pelayan juga ikut menutup mata karena malu melihat aksi itu, namun tak jarang dari mereka yang melongo dengan aksi tersebut.


"Kau takkan aku lepaskan malam ini!" bisik Darel mengakhiri cium**nya.

__ADS_1


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan! aku adalah milikmu seutuhnya!" ucap Mentari dengan nada menggoda.


__ADS_2