Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 301


__ADS_3

Mentari baru mulai siuman saat sudah malam hari.


"A... anakku.." kata pertama yang dia tanyakan kepada orang disekelilingnya.


"Mereka baik-baik saja, sayang!" jawab Darel.


Darel tidak kuasa menahan tangisnya, matanya sampai bengkak karena sedari tadi menangisi istrinya yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.


"Kenapa kamu menangis? kami baik-baik saja kan? sudah jangan menangis." ucap Mentari dengan suara lemah.


"Aku...aku...takutt!!" jawab Darel lirih.


"Sebaiknya kami keluar dulu, Darel, Mentari!" ucap papa Daniar.


Mereka pun satu persatu keluar dari ruangan. Orang terakhir yang keluar adalah Daniar dan Zanu. Daniar seolah enggan pergi dari ruangan itu. Dia menatap sendu ke arah sahabatnya.


"Kamu pasti lelah ya? maaf ya, telah membuatmu khawatir." ucap Mentari membelai lembur wajah suaminya.


"Maafkan aku!" ucap Darel semakin terisak.


"Untuk?" tanya Mentari.


"Untuk papa! untuk kesalahannya, dan untuk aku yang tidak memberitahumu masalah ini hingga semua ini terjadi. Aku hanya tidak ingin kau kenapa-kenapa setelah mengetahui semuanya. Aku takut kau meninggalkanku lagi dan membenciku karena hal ini." akui Darel.


Mentari menatap lembut suaminya. Memang dia sempat marah kepada suaminya, namun dia juga harus menempatkan diri jika diposisi Darel, dan Mentari mengerti mengapa Darel memilih merahasiakan hal ini darinya. Tidak sepantasnya Mentari membenci Darel karena bukan dia yang salah.


"Hei! lihat aku!" ucap Mentari mendongakkan wajah Darel yang sedari tadi tertunduk.


"Aku mengerti posisimu! maaf karena aku hubunganmu dengan papa harus hancur." ucap Mentari.


"Tidak! kau tidak salah! jangan meminta maaf!!" ucap Darel.


"Sini, tidur disini!" ucap Mentari menggeser tubuhnya agar Darel bisa berbaring disampingnya.


Darel mematuhi ucapan Mentari lalu perlahan menaiki ranjang dan berbaring di samping istrinya. Darel membenamkan wajahnya di dada Mentari. Isak tangisnya kian deras. Darel benar-benar takut. Dia takut kalau-kalau Mentari meninggalkannya lagi. Tidak bisa Darel bayangkan hidupnya tanpa ada Mentari lagi. Kehangatan yang mampu diberikan Mentari tidak bisa dia gantikan dengan wanita manapun. Mungkin banyak wanita cantik diluar sana, bahkan yang jauh lebih cantik dari Mentari pun jumlahnya tak terhitung. Namun yang setulus, dan yang mampu memberikan kenyamanan serta kehangatan bagi Darel hanya bisa dilakukan oleh Mentari. Hanya Mentari seorang, tidak ada yang lain.


"Cup..cup...cup!! sudah, jangan nangis lagii!" ucap Mentari.


Mentari menenangkan Darel seperti ibu yang menenangkan anaknya kala menangis.


"Jangan pergi! jangan tinggalkan aku!! aku takut sendirian!" ucap Darel menatap binar mata istrinya.


"Aku tidak akan pergi! tenang saja!" ucap Mentari tersenyum.


Cup....


Sebuah kecupan diberikan Mentari kepada Darel.


"Kok cuma sebentar!" keluh Darel membuat Mentari tertawa geli.


Cup...cup...cup....

__ADS_1


Tiga kecupan diberikan Mentari dengan waktu cukup lama.


"Sudah?" tanya Mentari.


"Belum!!" ucap Darel yang tiba-tiba melum** bibir Mentari.


Hal itu berlangsung sangat lama dan semakin panas.


"Kamu mau makan apa? kamu pasti lapar kan?" tanya Darel saat dia ingat Mentari belum makan malam.


"Aku mau bubur ayam sama sate." ucap Mentari.


"Bubur ayam? jam segini?" tanya Darel dan dibalas anggukan kepala oleh Mentari.


"Ya sudah aku cari dulu yaa! kamu istirahat aja disini!" ucap Darel.


Sebelum pergi, Darel mengecup singkat kening Mentari.


"Loh, Darel, mau kemana?" tanya mama Daniar saat melihat Darel keluar dari ruangan.


"Mau cari bubur ayam, ma! Mentari pengen makan itu." jawab Darel.


"Nih! udah gue bawain!" ucap Arul yang baru datang bersama Anisa.


Tidak hanya Arul, sahabat Darel yang lain juga berdatangan untuk menjenguk istrinya.


"Lo tuh gimana sih? ada kejadian besar kayak gini malah nggak ngasih tau kita-kita?" tanya Tomi kesal.


"Sorry, aku nggak mau ganggu bulan madu kalian!" jawab Darel.


"Ini, buburnya!" ucap Arul membelikan bubur ayam.


Tadi saat menuju kesini, Anisa meminta mampir ke bubur ayam langganan mereka untuk dibawa ke rumah sakit.


"Makasih yaa!" ucap Darel menerima bubur ayam itu.


"Oh, ya, ini tadi Daniar pengen makan sate ayam sama jeroannya. Terus sekalian beliin buat Mentari!" ucap Zanu.


"Wahh, makasih yaa! aku nggak perlu keluar deh!" ucap Darel.


"Udah gin, siapin dulu noh bini lo! kasian laper banget pasti." ucap Arul.


"Biar mama aja yang menyuapi Mentari, Darel! kamu duduk dulu aja disini. Kamu kelihatan capek banget." ucap mama Daniar.


"Nggak ngerepotin, ma?" tanya Darel.


"Enggak lahh!" ucap mama Daniar.


"Makasih ya ma!" ucap mama Daniar.


"Sayang, aku ikut mama ke dalam yaa!" ucap Daniar.

__ADS_1


Daniar dan mamanya pun masuk kedalam, diikuti Anisa, dan Suli. Angel tadi ingin menjaga Mentari namun karena masih ada pasien yang harus dia tangani akhirnya dia tidak jadi ikut menemani Mentari.


********


Di rumah tuan Ardi. Dia menyesali perbuatannya dimasa lalu. Harusnya dia tidak melakukan itu. Harusnya dia tidak terbawa nafsu. Harusnya dia tidak memfitnah keluarga Mentari. Dan banyak lagi harusnya yang ada dipikiran tuan Ardi. Nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan memang selalu datang diakhir. Kini tuan Ardi menjadi tidak tenang, terlebih melihat reaksi Mentari tadi, pastinya menantunya itu tidak akan bisa memaafkan kesalahannya.


"Pa!" panggil nyonya Ardi.


"Eh, iya, ma?" tanya tuan Ardi.


"Papa kenapa? kok kayaknya murung gitu?" tanya nyonya Ardi mendekati suaminya.


"Enggak! papa nggak apa-apa kok!" jawab tuan Ardi berbohong.


"Kalau ada apa-apa cerita, pa! aku kenal papa bukan baru satu atau dua tahun loh, tapi udah bertahun-tahun." ucap nyonya Ardi.


"Maaf, ma! tapi papa belum bisa cerita sekarang." ucap tuan Ardi mengalihkan pandangan matanya kearah lain.


Nyonya Ardi menghela nafas panjang. Suaminya ini memang keras kepala. Kalau sudah memutuskan sesuatu akan sangat sulit dibantah.


"Ya sudah! tapi jangan murung gitu terus! nanti papa bisa sakit." ucap nyonya Ardi.


"Iyaa ma!" ucap tuan Ardi.


********


Di kantor polisi. Aziz tengah mengunjungi ibunya di penjara. Tentu saja tanpa sepengetahuan Abdulah.


"Bu, kenapa ibu bisa dijebloskan ke penjara? aku malu tau bu, kalau sampai temen-temen ku pada tahu. Mau ditaroh dimana muka akuu?!!" ucap Aziz.


"Jangan salahkan ibu! ini semua karena si Mentari itu!! lagaknya sudah kayak nyonya besar aja diaa!" ucap Surti.


Bahkan dikondisi seperti ini pun Surti masih tidak sadar akan kejahatannya kepada Mentari.


"Terus uang seratus juta itu ibu pinjam dari Tari buat apa, buu?" tanya Aziz.


"Ya buat kebutuhan kamu dan kebutuhan keluarga kita lah! pakai nanya lagi! kamu pikir buat menghidupi kamu sehari-hari itu uang darimana? gengsi kamu itu besar, Aziz!! gaji bapakmu aja nggak cukup buat memenuhi gengsimu itu!!" omel Surti.


"Kok ibu malah jadi nyalahin aku sih?! kan salah ibu sendiri, ngapain pinjam sama Mentari! sekarang bapak lagi bingung tuh mau bayarnya pakai apa?! mana bapak udah nggak kerja lagi sekarang. Terus kita mau makan apa bukkk? aku bosen tau setiap hari makannya sayuran mulu! aku kan oenengymakan seafood, ayam KFC, jalan-jalan, beli sepatu baru! ada sepatu keluaran terbaru bu, bagus banget!!" ucap Aziz.


"Kamu nih!! orang tua lagi susah bukannya bantuin mikir gimana caranya cari uang malah bahas sepatu baruu!!" omel Surti.


"Yaelah bu, orang cuma sepuluh juta aja kok!" ucap Aziz.


"Sepuluh juta cuma?! mau bayar pakai daun apa?! mikirr!! ibu udah dipenjara, bapakmu pengangguran, mau makan aja susah, jangan nambahin beban!!" ucap Surti marah-marah.


"Aku bukan beban ya bu! bukan aku yang minta dilahirkan dari keluarga kere macam kalian!! orang tua apaan, anaknya pengen beli sepatu baru aja nggak boleh! pelit!" ucap Aziz dengan lantangnya lalu pergi meninggalkan Surti yang berteriak memanggilnya.


"Azizz!!! Aziz kembali kamuuu!!! apa kamu bilang tadi haaa!!!" teriak Surti.


"Dasar anak nggak tau diuntung!! ibu sumpahin kamu bakal sengsara seumur hidup!!!" teriak Surti lagi.

__ADS_1


__ADS_2