
Keesokan harinya, Mentari tengah mengunjungi Iwang ditemani oleh Darel setelah sarapan. Adi dan Harri juga ikut satu mobil dengan Darel dan Mentari, sedangkan Lukas beserta tiga anak buahnya berada di mobil lain.
"Permisi! nek?!!!" panggil Mentari didepan pintu rumah Iwang.
"Mereka kemana ya? kok tidak ada jawaban?" tanya Mentari kepada Darel.
"Iwang kan lagi sekolah sayang. Kalau nenek mungkin dia tengah istirahat atau entahlah. Kau kan tau pendengaran nenek juga kurang baik." ucap Darel menenangkan istrinya.
Darel tahu kalau Mentari saat ini sedang gelisah. Lukas dan Adi pun mulai mendobrak pintu sedangkan Harri dan anak buah Lukas asik melihat mereka berusaha membuka pintu.
"Woi kenapa kau cuma lihat aja?! ayo bantuin!" ucap Adi.
"Ah tidak perlu, lagian tenaga Lukas saja sudah lebih dari cukup kan?!" ucap Harri seenaknya.
"Cih dasar!" ucap Lukas.
Setelah perjuangan yang cukup melelahkan mereka akhirnya bisa memasuki rumah Iwang. Suasana terasa sangat sepi.
"Nek?! nenek!!!!??? nenekkkk?!!!" teriak Mentari memanggil nenek Iwang.
"Nenek?! nenek dimana, nek?!" panggil Mentari sembari mencari ke setiap sudut rumah.
Darel mengikuti langkah Mentari sedangkan Adi, Harri, dan juga Lukas beserta anak buahnya berpencar mencari nenek Iwang.
"TUANNNN!!!!! KEMARI CEPATTTT!!!!" teriak Lukas.
Darel dan Mentari yang berada tidak jauh dari lokasi Lukas bergegas menuju ke sumber suara.
Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat nenek Iwang berbaring tidak sadarkan diri dilantai dapur. Beberapa sayuran dan bumbu-bumbu berserakan di dapur, sepertinya nenek Iwang hendak memasak namun ada sesuatu yang membuatnya sampai tidak sadarkan diri.
"NENEK?!!!" teriak Mentari terkejut.
"Kalian cepat bawa nenek ke ke dalam mobil, kita bawa dia ke rumah sakit, sekaranggg!!" perintah Darel.
Anak buah Lukas segera menggotong nenek Iwang dan membawanya ke mobil Darel. Mereka bergegas menuju rumah sakit.
"Nek, bertahanlah aku mohon!!! ingat Iwang nek! nenek jangan tinggalkan Iwang ya! bertahanlah demi Iwang!" ucap Mentari selama perjalanan menuju rumah sakit.
Setibanya dirumah sakit, Bagas dan Angel langsung turun tangan menangani nenek Iwang. Dia dibawa ke UGD dan mendapat penanganan disana.
__ADS_1
"Tenanglah, sayang! nenek pasti akan baik-baik saja, percayalah padaku! Bagas dan dokter lain sedang menanganinya!" ucap Darel berusaha menenangkan Mentari.
"Hiks....hiks....hiks....aku takut sayang! aku takutttt!!! aku sudah menganggap nenek seperti nenekku sendiri, aku....aku merasakan kasih sayang seorang ibu darinya....aku...aku tidak bisa melihatnya seperti ini...hiks...hiks!" menangis pilu.
Darel langsung merengkuh tubuh Mentari membawanya kedalam pelukannya yang hangat. Darel tahu maksud perkataan Mentari tadi, dia sangat paham apa yang Mentari rasakan. Itu jugalah yang membuat hubungan Mentari dengan nenek dan Iwang sangat erat meskipun mereka tidak saling mengenal satu sama lain pada awalnya.
"Husttt...jangan berpikir yang aneh-aneh! kita berdo'a saja agar nenek baik-baik saja yaa!" ucap Darel.
Yah, selama ini Darel sudah mulai mendekatkan dirinya dengan Sang Pencipta. Berkat dukungan dan bimbingan Mentari, Darel sedikit demi sedikit sudah berjalan kembali ke jalan yang benar.
"Aku sangat takut!" ucap Mentari lirih.
"Sudah, tidak akan terjadi apa-apa kepada nenek!" hibur Darel.
********
Siang itu seperti biasa Zanu hendak menjemput Daniar untuk makan siang bersama. Zanu sudah menunggu Daniar lima menit sebelum waktunya makan siang. Begitu terlihat olehnya sosok yang dia tunggu-tunggu dari kejauhan tengah menghampirinya, senyumnya langsung mengembang sempurna.
"Lama ya? maaf ya, soalnya tadi ada berkas yang harus aku serahkan kepada pak Wisnu!" ucap Daniar setelag berada dihadapan Zanu.
"Tidak kok, aku akan senang hari menunggumu bahkan sampai sepuluh tahun pun aku rela kalau untuk melihat kecantikanmu, Niar! kau selalu bisa membuatku kagum setiap detiknya!" ucap Zanu sambil menatap kagum wanita dihadapannya ini.
Daniar tersipu malu mendengar pujian Zanu. Pipinya sangat merah sekarang hingga dia tidak berani menatap wajah calon suaminya itu.
"Terimakasih ayangg!" ucap Daniar.
"Apa?" tersenyum malu.
"Terimakasih?!"
"Bukan yang itu, tapi setelahnya!" mencoba membuat Daniar mengulang kata ayang.
"Ayang?!"
"Nah itu, tumben panggil dengan nama sayang? biasanya juga nama aja?"
"Kenapa? tidak suka ya? ya sudah kalau...." terpotong.
"Tidak....tidak....tidak! aku sangat suka panggilan itu! kau boleh memanggilku apapun yang kau suka, oke!" ucap Zanu menempelkan dagunya di kaca mobil yang berbuka.
__ADS_1
"Sudah masuklah nanti hitam loh! kan sayang sudah ganteng gini masak jadi hitam!" ucap Daniar.
"Biarin yang penting kamu sayang aku terus!" goda Zanu lalu mengitari mobil dan mulai memasuki mobil.
"Dasar kamu ya, udah pinter ngegombal sekarang!" ucap Daniar setelah Zanu memasuki mobil.
"Oh tidak! aku tidak sedang ngegombal kok, ini murni dari dasar hatiku!" ucap Zanu sembari memasang sabuk pengaman lalu menatap kearah Daniar dengan tatapan genit.
Mereka pun mulai melakukan mobil menuju restoran langganan mereka. Sesampainya mereka di restoran, mereka langsung mencari tempat duduk yang kosong dan memesan makanan. Beberapa menit kemudian, pelayan pun datang membawa makanan pesanan mereka dan mereka mulai menyantap makan siang mereka.
"Oh ya sayang, aku akan pergi bersama Darel dan yang lain selama beberapa hari. Dan emm istrinya Arul, Anisa dia akan menginap dirumahmu ya selama kami pergi." ucap Zanu membuka percakapan.
"Boleh saja, tapi kenapa mendadak?" tanya Daniar yang sebenarnya tidak rela Zanu pergi apalagi waktu pulangnya tidak pasti.
"Iya karena kami menunggu Rohan menyelesaikan tugasnya. Mungkin tiga hari lagi kami berangkat. Oh ya dan Mentari juga akan tinggal dirumahmu ya, kau kan tahu kalau mama dan papa Darel sedang ada di luar negeri untuk urusan bisnis jadi Darel juga takut kalau Mentari akan kesepian nanti begitu juga dengan Shiren." jelas Zanu.
"Iya tidak masalah kok! lagian aku juga senang kalau mereka menginap jadi aku ada teman mengobrol nantinya. Oh ya nona Angel tidak menginap juga? kan biar seru?" tanya Daniar.
"Tidak! jarak rumah Angel dengan rumah sakit lebih dekat daripada jarak rumahnya ke rumah sakit, jadi Angel memutuskan untuk tinggal dirumahnya saja." jawab Zanu.
"Ouh!" mengangguk patuh.
"Kau tidak apa kan kalau aku tinggal?" menatap wanita dihadapannya dengan tatapan penuh arti.
"Tidak apa! pergilah!" mencoba baik-baik saja.
Aku tidak bisa Zanu! aku tidak bisa! tapi aku harus bagaimana? aku tidak bisa mau mencegahmu tapi disisi lain aku juga tidak mau kau meninggalkanku tanpa waktu yang jelas! aku terlalu takut jika kau meninggalkanku, Zanu! aku sangat takut akan hal itu!
"Ayo dihabiskan! waktunya tinggal tiga puluh menit lagi!" ucap Zanu.
"Ah iya!" ucap Daniar mulai menyantap lagi makanannya.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Hai para reader! hari ini author update tiga episode ya, semoga kalian suka dengan alurnya☺️ terimakasih juga atas komen positif dari para reader, karena dengan membaca komentar-komentar positif kalian itu sangat membantu buat author untuk mengembalikan mood😁😅 jangan lupa juga dukung author dengan like, komen, share+tips supaya author semakin semangat update nya🥰❤️