Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
SEASON 2 episode 59


__ADS_3

"LEPASKAN AKUUUU?!!! MAU BAWA AKU KEMANA KALIANN?!!!" teriak Zoe.


Mereka telah sampai. Tempat ini masih sama seperti dulu. Sudah puluhan tahun lamanya Darel tidak berkunjung ke tempat ini. Menghirup nafas dalam-dalam. Darel menyesap aroma yang masih sama seperti dulu. Mengingatkannya akan sosok Darel yang dingin dan kejam.


Benar. Saat ini Darel membawa Zoe ke markas lamanya. Rangga juga telah dibawa ke sini oleh Harri dan beberapa anak buahnya tadi. Markas ini memang tidak lagi Darel gunakan, namun tempat ini masih digunakan oleh Yuda dan ketua kelompoknya yang lain untuk sekedar mengenang masa-masa bersama mereka. Darel bisa saja ikut, Namun dia telah berjanji pada Mentari dulu bahwa dia akan meninggalkan dunia bawah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Saat Darel telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, sayangnya istri tercintanya itu tidak ada disisinya.


"Bawa dia masuk!" titah Darel.


"Baik tuan!" jawab Adi dan Lukas bersamaan.


"LEPASKAN AKUUU!!!!! LEPASKAN AKUUUU!!!!" teriak Zoe.


Zoe dibawa ke sebuah ruangan. Diatas ruangan itu terdapat sebuah lampu sebagai pencahayaan.


"SAYANGG?!!" teriak Zoe saat menyadari Rangga juga berada ditempat itu.


Rangga sendiri tidak sadarkan diri setelah mendapatkan pukulan dari Harri dan beberapa anak buahnya yang bertugas membawa Rangga tadi. Rangga juga sempat melakukan perlawanan dan terjadi perkelahian antara Rangga dan Harri. Namun karena kalah jumlah, Rangga pun babak belur hingga pingsan.


"Kalian sudah ku beri kesempatan untuk pergi. Namun kau justru kembali membuat ulah. Putriku telah berbesar hati menolong putrimu, namun kau justru menuduhnya sebagai pembunuh." ucap Darel tajam menatap ke arah Zoe.


Zoe semakin takut dengan Darel. Dia berkali-kali menelan salivanya dengan susah payah.


"Wah...wah...wah!!! lihat siapa yang kembali!!!" ucap seseorang yang baru datang menghampiri Darel.


Darel memicing menatap tajam orang yang baru datang itu.


"Ngapain kalian disini?!" tanya Darel dengan nada tidak suka.


"Tenanglah, Darel! Si tuan Darel Dwi Sanjaya telah kembali! Masa kami hanya diam saja, tidak menonton. Kan rugi!" celetuk Arul.


"Benar tuh! Lagian aku juga geram dengan mereka. Paling tidak, melihatmu menyiksa mereka itu sudah mengurangi rasa geramku!" ucap Tomi.


Arul, Tomi, Jack, dan Zanu datang bersamaan ke markas Darel. Entah siapa yang memberitahu tapi Darel yakin kalau Jack lah pelakunya. Pasalnya, Jack bisa saja memata-matainya atau putra-putrinya. Buktinya, sahabatnya sampai tahu apa yang terjadi dalam keluarganya.


"Dasar bocah tengik!!! Kau memata-mataiku?!" bentak Darel menatap tajam ke arah Jack.


Jack yang ditatap begitu pun langsung terkejut dan bersembunyi dibalik tubuh Tomi.


"Bukan kok! Orang saya tahu dari internet. Kan sudah viral!" ucap Jack.

__ADS_1


Memang tidak salah apa yang diucapkan Jack ini. Lebih tepatnya dia sudah tahu sebelumnya karena Tomi khawatir terhadap keluarga Darel. Semenjak kejadian Alvaro dan Hyuna dulu, Tomi menjadi was-was dan meminta Jack meretas cctv di rumah Darel. Tomi yakin Darel bisa mengatasi masalahnya sendiri, namun Tomi tidak yakin Darel mau berbagi masalahnya dengan sahabatnya. Dari Jack yang meretas cctv dirumah Darel itulah Tomi jadi tahu bahwa selama ini, sebelum tidur dan setelah bangun tidur. Berangkat kerja dan pulang kerja, Darel selalu berbicara dihadapan sebuah lukisan. Lukisan Mentari. Tidak jarang Darel bercerita sampai menitihkan air mata.


Tentu saja tidak ada yang tahu hal itu karena setiap ditanya bagaimana perasaan Darel, Darel akan mengatakan dia baik-baik saja. Nyatanya Darel tidak baik-baik saja. Dia masih merindukan Mentari. Wanita itu begitu dalam bersemayam di hati Darel. Hingga kematian pun tidak bisa melunturkan cinta Darel pada Mentari.


"Sekarang, mau kita apakan mereka?" tanya Tomi.


"Kita buat menderita dulu." ucap Darel menyeringai.


Sangat menyeramkan bagi Zoe.


Adi datang membawakan sebuah pisau daging. Darel berjalan mendekat ke arah Zoe. Semakin dekat. Semakin dekat.


Tap...tap...tap....


"JANGAN MENDEKAT!!!! TOLONGG!!! SIAPAPUN, TOLONG AKUUU!!!" panik Zoe.


Zoe semakin mundur sedangkan Darel semakin berjalan mendekat.


Bruk...


Zoe terjatuh.


Darel memoto** kakinya kirinya sampai ke betis. Dara* mengucur deras membasahi lantai. Zoe menjerit kesakitan, berteriak meminta tolong namun tidak ada yang mau menolongnya.


"Aauu!!!"


Rangga terbangun dari pingsannya.


"Z...ZOE?!!!"


Rangga menoleh ke arah Zoe dimana kaki kirinya yang telah terpoto**. Rangga syok apalagi darah itu mengalir sampai mengenai kakinya.


"AKKHHHHH!!!! MATAKUUUU!!!!" teriak Rangga kesakitan.


Rangga tersungkur sambil memegangi matanya kanannya yang terlepa*. Dara* segar mengucur deras dari mat* Rangga. Dara*nya bercampur dengan dara* Zoe membuat lantai semakin basah oleh dara*. Darel tersenyum seolah ini adalah permainan yang paling menyenangkan.


Sementara yang lain hanya diam menatap apa yang Darel lakukan. Beberapa dari mereka bahkan tersenyum seolah menemukan harta Karun yang telah lama tersembunyi.


"DAREL IS BACK!!" gumam Tomi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Bawa mereka pergi! Pisahkan mereka. Pastikan mereka tetap hidup dalam menyiksaan. Siksa mereka sampai mereka memohon untuk mati, namun kematian pun enggan menjemput mereka." perintah Darel.


"Baik tuan!" ucap Adi dan Lukas.


Anak buah Adi dan Lukas membawa Zoe dan Rangga. Mereka akan diasingkan ke luar negeri. Zoe sangat menyayangi Naruka. Darel tahu itu. Dengan Zoe berpisah dengan Naruka, batin Zoe akan terluka. Darel ingin membalaskan sakit batin kakaknya yang terluka akibat perselingkuha* Zoe dan Rangga. Sedangkan Rangga. Darel memisahkannya dari Zoe karena rupanya cinta Rangga jauh lebih besar untuk Zoe daripada untuk Randita, kakaknya yang notabenenya adalah wanita yang telah menemaninya puluhan tahun. Puluhan tahun pula mereka bersama-sama, satu atap, satu ranjang, namun dengan mudahnya kakaknya itu tergantikan oleh orang baru.


********


Sementara itu, dirumah sakit. Hyuna menatap cemas ke arah pintu . Sejak kepergian Darel tadi, Hyuna menjadi sangat khawatir.


"Duduklah disini!" ucap Kaj mendudukkan Hyuna di sofa yang ada di kamar VIP.


"Tapi papi. Aku cemas sekali dengan keadaan papi. Dia pergi dengan keadaan marah tadi." ucap Hyuna.


"Iya aku tahu! Tapi papi mu bukan anak kecil yang perlu dikhawatirkan. Dia pasti lebih bisa menjaga dirinya sendiri. Kita tunggu saja disini." ucap Kaj menghibur Hyuna.


Ceklek....


Hyuna dan Kaj menoleh ke arah pintu yang terbuka. Hyuna mengira itu Darel, namun rupanya....


"Hyuna?!!"


"Tante Daniar?!"


Daniar datang bersama dengan mama dan papanya juga Alvaro. Daniar langsung menghampiri Hyuna, memeluknya bahkan mencium kening dan kedua pipi Hyuna berulang kali.


"Kamu nggak apa-apa kan, sayang? Tante cemas sekali saat Darel bilang kamu dirumah sakit. Tante pikir kamu yang sakit tapi rupanya Naruka. Ada apa dengan Naruka? Kenapa dia sampai berbuat nekat begini?" tanya Daniar tanpa memberi jeda sedikitpun.


"Niar, tanya satu-satu. Hyuna jadi bingung ingin menjawab pertanyaanmu yang mana dulu!" tegur papa Daniar.


"Maaf, pa!" ucap Daniar.


Kondisi papa Daniar sudah lebih baik. Namun karena usianya yang telah senja, tubuhnya menjadi mudah sakit dan sering keluar masuk rumah sakit. Sekarang pun dia berjalan dibantu dengan sebuah tongkat.


Hyuna tersenyum melihat kekhawatiran Daniar. Sejak dulu Hyuna selalu ingin tahu bagaimana kasih sayang dan kehangatan seorang ibu. Melalui Daniar, Hyuna jadi tahu rasanya pelukan seorang ibu. Hyuna juga jadi tahu bagaimana rasanya kasih sayang seorang ibu. Hubungan Hyuna dengan Daniar sempat merenggang pasca kejadian Alvaro waktu itu ditambah lagi Daniar yang sibuk mengurusi papanya yang sering keluar masuk rumah sakit. Daniar sendiri malu jika harus bertemu Hyuna, namun rasa khawatirnya mengalahkan rasa malunya. Hyuna telah dia anggap sebagai putrinya sendiri.


Hyuna pun menceritakan semuanya kepada Daniar dan orang tuanya. Mereka semua syok saat mengetahui bahwa Naruka mencoba mengakhiri hidu*nya karena kesuc*annya telah diambil oleh seorang pria.


Setelah mendengar cerita Hyuna, Alvaro tidak menyangka bahwa Naruka akan senekat ini setelah kejadian malam itu. Rasa penyesalan pun mulai menghantui Alvaro.

__ADS_1


Sorry!!! batin Alvaro menatap sendu ke arah ranjang tempat Naruka berbaring.


__ADS_2