
Diruangan kepala sekolah. Darel duduk di sofa dan dihadapannya sudah ada semua guru di sekolah tempat putra-putrinya bersekolah.
"Saya tidak perlu menjawab berbagai pertanyaan yang ada di kepala kalian semua. Cukup kalian diam dan tutup mata kalian dari apa yang telah kalian lihat hari ini!" ucap Darel.
"T...tapi tuan..." ucap kepala sekolah hendak menyanggah.
"Kau bude* apa gimana?! saya bilang lupakan ya lupakan!!!" bentak Darel.
Darel tidak ingin Hyuna mendapat masalah karena hari ini. Jujur dia reflek saja tadi saat mendengar Hyuna mendapat tema ibu. Kata-kata yang dia ucapkan tadi juga keluar begitu saja dari mulutnya. Sialnya, dia menyesali keputusannya tadi. Tentu saja hal itu mengundang pertanyaan dibenak orang-orang mengenai identitas Hyuna yang sebenarnya. Dan bisa jadi, karena kecerobohannya itu, Hyuna bisa dalam masalah.
"Kalau kalian masih tetap ingin mengajar disini, lebih baik kalian lupakan masalah tadi dan jangan pernah ungkit kejadian hari ini, paham!" ucap Darel.
Darel pun keluar dari ruangan itu diikuti anak buah kepercayaannya, Adi dan Hari.
********
Didalam mobil, Hyuna nampak murung setelah acara tadi. Hal itu membuat semua yang ada di mobil juga ikut sedih. Hyuna adalah pusat keceriaan mereka. Saat Hyuna tertawa, mereka juga secara otomatis akan ikut tertawa. Dan saat Hyuna bersedih, mereka pun aka ikut bersedih.
"Eh, pi, ada es krim baru loh. Ayo kita beli!!" ajak Shaki.
Hyuna memang paling suka dengan es krim. Dia selalu saja tahu jika ada es krim varian terbaru. Dia juga akan meminta Darel untuk membelikannya.
"Oh, iya! Harri, kita ke Indomar** dulu, beli es krim!" ucap Darel.
"Baik tuan!" ucap Harri.
Mobil mereka memasuki area parkir salah satu supermarket itu.
"Hyuna, ayo turun!" ajak Kaivan.
"Hyuna disini saja!" ucap Hyuna lesu.
Darel, Shaki, dan Kaivan yang mendengar itu langsung menatap Hyuna dengan tatapan sedih.
"Hyuna!" panggil Darel.
Hyuna yang semula menundukkan kepalanya langsung mendongak menatap Darel. Matanya berkaca-kaca, entah karena apa.
"Kenapa Hyuna nggak mau turun? biasanya kalau mau beli es krim, Hyuna yang paling bersemangat." ucap Darel.
"Hyuna nggak mau es krim papi!" ucap Hyuna sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Darel.
__ADS_1
"Hyuna capek papi, Hyuna tunggu disini saja." ucap Hyuna.
Darel tahu kalau itu hanyalah alasan Hyuna. Namun mereka tetap membiarkan Hyuna berada di mobil bersama Harri.
"Harri, aku titip Hyuna! jaga dia!" ucap Darel sebelum pergi.
"Siap tuan!" ucap Harri.
Darel, Shaki, dan Kaivan pun memasuki supermarket itu. Mereka mengambil satu troli belanja. Darel memborong semua es krim varian terbaru itu. Tidak lupa juga, Darel membeli berbagai macam camilan lain yang disukai oleh Hyuna.
Setelah membayar, Darel pun kembali ke mobil dengan dua orang pegawai supermarket itu membantu membawakan belanjaan Darel yang memang banyak itu.
"Kita kembali ke rumah! tadi Iwang bilang sudah pulang!" ucap Darel.
"Baik, tuan!" ucap Harri.
Mobil pun mulai melaju lagi menuju ke rumah Darel.
********
Sesampainya dirumah, ternyata ada beberapa mobil mewah yang terparkir dihalaman rumah Darel. Darel tahu benar siapa yang datang bertamu itu.
"Assalamualaikum!" sapa Darel saat memasuki rumahnya.
"Wa'alaikumsalam!!" sapa semua orang.
"Hyuna!!" ucap Daniar berjalan memeluk Hyuna.
Daniar memang sebegitu menyayangi Hyuna.
"Bagaimana kabar kamu, nak?" tanya Daniar sambil memeluk Hyuna.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Daniar, Hyuna malah semakin mengeratkan pelukannya membuat Daniar kebingungan. Dia menatap ke arah Darel seolah bertanya ada apa. Darel hanya diam saja tanpa menjawab.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Daniar.
Iwang yang semula duduk bersama Arul itupun langsung mendekati Hyuna.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Iwang.
"Tante, biarkan Hyuna memeluk tante lebih lama! Hyuna hanya ingin merasakan pelukan seorang ibu, walaupun itu bukan ibu Hyuna! rasanya sangat hangat tante!" ucap Hyuna.
Semua orang yang mendengar itu merasa sesak. Darel bahkan berkaca-kaca mendengarnya. Jujur saja, jika menyangkut anak-anaknya, Darel akan lemah. Ternyata ini yang dipikirkan putrinya sedari tadi. Iwang juga ikut berkaca-kaca. Dia juga sangat merindukan ibunya.
__ADS_1
"Iya sayang!! kamu boleh peluk tante kapanpun kamu mau!! anggap saja tante ini ibu kamu, yaa!" ucap Daniar.
Hyuna menganggukkan kepala didalam pelukan Daniar. Pelukan yang sangat hangat. Bagi Hyuna, pelukan Darel juga sangat hangat. Tapi pelukan seorang ibu jauh-jauh lebih hangat.
Hampir lima belas menit Hyuna memeluk Daniar hingga akhirnya dia melepaskan pelukan itu.
"Makasih, tante! Hyuna tadi sangat merindukan mami, maaf karena membuat tante kesusahan!" ucap Hyuna memperlihatkan senyum manisnya.
Entah mengapa Daniar merasa miris dengan senyum itu. Senyum yang sama dengan Mentari saat dia menyembunyikan lukanya. Senyum itu bukanlah senyum tulus yang dimiliki oleh Hyuna. Daniar tahu itu.
"Sayang!" panggil Daniar lembut seraya menyelipkan rambut Hyuna ke belakang telinganya.
"Jika kamu butuh pelukan lagi, datanglah ke rumah tante ya! jangan sungkan-sungkan sama tante. Anggap saja tante ini ibu kamu!" ucap Daniar.
"Makasih tante!" ucap Hyuna.
Daniar menganggukkan kepalanya.
"Iwang, bawa adek-adek mu ke atas ya. Lukas, bawa ini dan minta pelayan menata di kulkas anak-anak!" ucap Darel memberikan tas belanjaan pada Lukas.
Iwang pun membawa adek-adeknya ke atas.
"Apa yang terjadi, Darel? kenapa tiba-tiba Hyuna seperti itu?" tanya Daniar sepeninggal anak-anak.
Darel pun menceritakan semuanya.
"Aku rasa kau harus mencarikan seorang ibu untuk anak-anak mu, Darel!" usul Arul.
"Tidak akan! Ibu mereka adalah Mentari. Jika Mentari tidak ada, aku bisa menjadi keduanya, kami tidak memerlukan ibu pengganti Mentari!" ucap Darel menolak.
"Tapi pikirkan anak-anak mu, Rel! pikirkan Hyuna. Perasaan wanita lebih sensitif, dia merindukan kasih sayang ibunya." ucap Tomi.
"Tidak akan!! aku tidak akan menggantikan posisi Mentari!" tolak Darel.
"Sudahlah! jika Darel tidak mau, jangan dipaksa. Jika Hyuna ingin merasakan kasih sayang seorang ibu, aku akan memberikannya." ucap Daniar.
"Hyuna sudah seperti anak kami sendiri! tidak masalah jika Hyuna memintanya padaku, aku akan senang hati memberikannya pelukan!" ucap Daniar lagi.
"Terimakasih, Daniar! oh ya dimana putramu?" tanya Darel.
"Dia tengah bermain bersama anak-anak yang lain." ucap Zanu.
Putra Zanu bernama Alvaro Fattan Shaquille. Putra Tomi baru berumur tujuh tahun bernama Farel Haedar Kalandra. Bagas dan Angel juga telah memiliki seorang putra berumur hampir tujuh tahun bernama Leandra Prathama. Rohan dan Suli juga telah menikah dan memiliki seorang putri bernama Belleza Varuni Zaheera.
__ADS_1
Memang di taman belakang rumah Darel, ada beberapa permainan untuk anak-anak kecil. Sehingga jika sahabatnya berkunjung, anak-anak mereka bisa bermain di sana.
Setelah berganti pakaian, Hyuna, Shaki, dan Kaivan turun untuk ikut bermain bersama anak-anak lain di taman belakang. Pakaian yang dipilih Hyuna saat ini adalah celana kulot panjang dengan kaos oblong yang dimasukkan kedalam celananya.