Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 101


__ADS_3

Darel terus berada disamping Mentari yang masih belum sadarkan diri sambil sesekali mengelus pelan perut Mentari.


Apa benar aku terlalu agresif semalam? apa karena dia masih perawan ya makanya seperti ini? batin Darel.


Samar-samar Darel melihat Mentari yang mulai bangun. Raut wajahnya yang semula khawatir, merasa bersalah seketika berubah seperti Darel biasanya angkuh, dingin, dan sombong.


"Ekmm...." Mentari mulai sadar.


"Jangan bangun dulu, kau harus banyak beristirahat! kenapa kau bangun tadi? bukannya aku menyuruhmu untuk tiduran saja?" tanya Darel.


"Aku habis sholat tadi, dan entah mengapa tiba-tiba perutku rasanya sakit sekali dan aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu." jawab Mentari lemas.


"Hem, kau istirahat saja dulu, aku akan buatkan bubur!" ucap Darel hendak melangkah.


"Kau tidak akan mencampurkan racun didalam buburnya kan?" tanya Mentari yang membuat Darel berhenti melangkah.


"Hemmm, ide bagus! tapi sayangnya aku belum bisa melakukan itu sekarang karena kau anak kesayangan orang tua ku, emmm mungkin nanti baru bisa aku melakukan itu!" ucap Darel enteng.


"Kau!!! aww.....!!"


Darel langsung mendekati Mentari yang terlihat menahan sakit diperutnya, lebih tepatnya sakit dibagian sensitifnya.


"Sudah ku bilang jangan banyak bergerak!" bentak Darel.


"Kapan kau bilang begitu?" tanya Mentari.

__ADS_1


Mentari ingat betul kalau Darel sama sekali tidak memperingatkan dirinya untuk tidak banyak bergerak.


"Tadi!"


"Kapan?" tanya Mentari.


"Ah, sudahlah, aku mau buat bubur saja, dan kau tiduran saja jangan banyak bergerak!" perintah Darel kemudian keluar kamar menuju dapur.


"Dan kau tiduran saja jangan banyak bergerak, huhhh!! emangnya aku anak kecil apa?!!" kesal Mentari yang mengulangi perintah Darel barusan.


Eh tapi kenapa bisa sakit banget gini ya? kayaknya kalau datang bulan belum waktunya deh? batin Mentari.


Tidak lama kemudian Darel datang dengan membawa semangkuk bubur ayam yang masih panas.


"Ini! langsung dihabiskan setelah itu minum obat lalu tidur!" ucap Darel sambil menyendok kan sesuap bubur ke mulut Mentari.


Kenapa dia jadi berbeda begini? atau hanya perasaanku saja? batin Mentari.


Kenapa aku sangat peduli padanya? batin Darel.


********


Disisi lain, di markas Darel...


Byurrrrr......

__ADS_1


Adi mengguyurkan segayung air ke wajah wanita penyusup itu.


"Bangun!!! cepat katakan pada kami apa yang kau cari di perusahaan ha!!!" teriak Adi.


"Ak....aku....aku....aku tidak tahu...maafkan aku...." ucap wanita itu dengan bibir yang lebam.


Adi dan Harri sangat geram pada wanita itu, jelas mereka tahu kalau informasi penting sudah wanita itu dapatkan namun informasi apa itu hanya wanita ini yang tahu.


Semenjak penangkapannya, wanita itu terus disiksa dan ditanyai oleh Adi dan Harri. Bahkan wajahnya sekarang sudah lebam akibat tamparan keras yang dia dapatkan dari Adi.


"Jawabbb!!! atau kau akan menemui ajalmu dengan sangat menyakitkan kalau kau tidak mengatakan yang sebenarnya!!!" gertak Adi.


Harri hanya diam dan menyaksikan sahabatnya itu beraksi. Ngeri dan tidak tega sebenarnya melihat seorang wanita diperlakukan dengan kasar seperti itu. Namun apalah daya jika dia melakukan hal yang tidak pantas untuk seorang wanita lakukan bukankah kekerasan juga adalah hukumannya?


"Harri, kenapa kau diam saja? apa kau sudah menelpon tuan? apa katanya?" tanya Adi yang melihat rekannya ini tengah duduk santai dipojok ruangan.


"Tuan akan pulang besok! kau lanjutkan saja aksimu aku akan melihatnya dengan senang hati, hehehe!" ucap Harri cengengesan.


"Kau ini ya!! kau urus anak buah Drago Mark saja kalau begitu! wanita ini biar aku yang mengurusnya!" ucap Adi membuat wanita itu ketakutan.


"Ah, kau ini tidak asik sekali!! aku kan baru mau santai!!" keluh Harri.


"Kau mau santai? boleh saja! aku akan mengatakannya pada tuan biar kau bisa beristirahat SELAMANYA!!" ucap Adi sambil menekankan kata selamanya.


"Ah, tidak-tidak, tidak usah repot-repot. Aku masih sayang nyawaku! baiklah aku akan mengurus mereka!" ucap Harri sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Adi hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap Harri yang terkadang seperti anak kecil namun itulah yang membuatnya merasa terhibur dengan ulah sahabatnya.


__ADS_2