
Darel merebahkan tubuh Mentari yang tertidur dikamar tamu, dia menatap wajah polos Mentari cukup lama.
Dia cantik juga kalau lagi tidur! puji Darel tanpa sadar.
"Apa yang kau katakan Darel!!" ucap Darel tersadar.
Darel keluar dari kamar itu setelah memakaikan selimut ke tubuh Mentari.
"Siapa wanita yang digendong tuan tadi?" tanya Lukas pada Adi dan Harri.
"Ya itu dia, wanita yang berani berdebat dengan tuan Darel! bahkan hari ini mereka bertengkar lagi." jawab Harri spontan.
"Dia wanita yang dijodohkan tuan dan nyonya besar untuk tuan Darel!" jelas Adi.
"Apa?!! jadi wanita itu yang kalian bicarakan? dan bagaimana tuan dan nyonya besar bisa mengenal wanita itu?" tanya Lukas penasaran.
"Kami juga belum tahu alasan itu, yang jelas aku rasa akan ada pertikaian setiap harinya kalau mereka jadi menikah, hehehehe!" ucap Harri sambil bercanda.
PLETAKKK.....
Darel menjitak kepala Harri dari belakang.
"T..tuan Darel?" tanya Harri gugup.
"Apa kalian tidak ada pekerjaan sampai-sampai harus bergosip disini? aku menggaji kalian bukan untuk bergosip dirumahku ataupun tentang kehidupanku!!" dengus Darel.
Wajah mereka bertiga terlihat pucat, bingung ingin menjawab bagaimana.
"Masuk keruangan ku sekarang!" perintah Darel datar.
"Ngapain tuan?!" tanya Harri dan Adi bersamaan.
Lukas hanya diam tidak berani berkata apapun.
"Apa kalian sudah pikun sekarang? atau perlu aku mengganti posisi kalian, ha?" tanya Darel ketus.
Adi dan Harri tidak mengerti ucapan Darel.
"Bukankah kau bilang ada sesuatu yang harus kita bicarakan tadi di mobil?" tanya Darel mengulang kalimat Adi saat dimobil tadi.
"Ohh, iya,Di! hahaha kau sudah pikun ya!!" ucap Harri sambil tertawa.
__ADS_1
Darel menaikkan satu alisnya melihat tingkah Harri.
"Maaf tuan!" ucap Harri yang sadar akan tatapan Darel.
Enak saja ngatain pikun emangnya aku udah tua apa?!! batin Adi sambil menatap tajam kearah Harri.
"Ayo masuk!" ucap Darel kemudian berjalan menuju ruangannya diikuti Harri, Adi, dan Lukas.
Didalam ruangan Darel.
"Katakan apa ada perkembangan dari mata-mata kita?" tanya Darel yang kini duduk disofa miliknya.
Lukas, Adi, dan Harri berdiri dihadapan Darel sambil meletakkan tangannya dibawah perut.
"Mata-mata kita yang ada di bar XXX melihat kedatangan Erik dan Ozan tuan. Mereka mendengar pembicaraan mereka dan akan mengirim rekaman suara nanti." jelas Adi mengingat apa yang dikatakan mata-matanya tadi.
"Hem, sudah aku duga! awasi mereka terus aku yakin bukan hanya mereka saja yang terlibat dalam pemberontakan ini! awasi juga kelompok Drago Mark !" ucap Darel.
"Drago Mark? kenapa tuan?" tanya Harri tidak mengerti.
"Hais, kau ini! tinggal ikuti saja susah amat sih!!" protes Adi.
Darel dan Lukas hanya menggeleng kepala dengan ulah mereka berdua.
"Ya sudah kalau begitu, kalian boleh pergi sekarang!" perintah Darel sambil berdiri.
"Baik tuan!" ucap ketiga anak buah Darel kemudian membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan.
Darel masih tinggal diruangannya untuk beberapa saat kemudian memutuskan untuk kekamarnya.
********
Daniar berjalan keluar rumah menuju jalan raya yang lumayan jauh dari rumahnya. Dia ingin membeli sate untuknya. Tiba-tiba dua buah motor masing-masing 2 orang berhenti menghentikan jalannya.
"Cantik mau kemana!!" tanya salah satu pria yang dibonceng.
"Apaan sih! minggir nggak!" bentak Daniar.
"Jangan galak-galak dong manis! nanti Abang marah loh!" ucap salah satu pria ingin mengusap pipi Daniar.
"Jangan pegang-pegang ya!!" menepis tangan pria itu.
__ADS_1
"Boleh juga nih!" ucap pria itu tersenyum penuh arti.
Daniar mulai ketakutan. Dia mendorong salah satu pria untuk bisa kabur.
"Kejar dia!!" teriak pria yang didorong Daniar.
Jalanan hari itu cukup sepi. Daniar terus berlari dan keempat pria itu mengejar dengan menggunakan motor.
Tin....tin...tin....
Daniar terkejut. Hampir saja sebuah mobil menabraknya karena melihat kearah belakang.
"Apa kau sudah gila? kalau mau mati jangan disini dong!" ucap pria dari dalam mobil.
"Mas, mas tolong saya! mereka.....mereka mau melecehkan saya, tolong sayaaa!!!" Daniar memohon sambil menangis.
"Masuk sekarang!" ucap pria itu yang melihat 2 motor mengejar Daniar.
"Makasih!!" ucap Daniar kemudian masuk ke mobil dikursi depan. Pria itu menancapkan gas kemudian meninggalkan jalanan sepi menuju jalanan ramai. Ke dua motor tadi tidak berani mengejar mobil mereka lagi ketika melihat arah tujuan mereka.
"Sial!!! lepas deh!!" ucap salah satu pria.
"Cabut aja yuk!!" ucap rekannya.
Mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu juga.
Didalam mobil.
"Mereka itu siapa kamu?" tanya pria itu.
"A...aku nggak tau!" ucap Daniar.
Citttt......
Mobil berhenti dipinggir jalan yang ramai pedagang kaki lima.
"Turunlah, kau mau beli sesuatu kan?" ucap pria itu.
Daniar menatap pria yang sudah menolongnya itu kebingungan.
"Apa? aku tahu dari arahmu berlari tadi, kalau kau tidak ingin kesini pasti arah mu berlari kearah sebaliknya!" jelas pria itu.
__ADS_1
"Hemm, benar juga sih!" ucap Daniar yang merasa penjelasan pria itu masuk akal.
Daniar dan pria asing itu turun dari mobil, menghampiri warung sate dan memesan dua bungkus sate untuk Daniar.