Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 288


__ADS_3

Surti kembali duduk ditempatnya tadi sambil terus melirik tajam ke arah Mentari yang saat itu tengah makan ditemani Randita.


"Nggak bantu apa-apa, datang-datang langsung makan! enak bener yaa hidupnya!!" cibir Surti.


"Ya wajar dong, bu! orang Mentari kan lagi hamil juga. Toh suaminya kan juga orang kaya pastinya sibuk makanya datang terlambat. Sampean itu jadi orang jangan suka kikir napa! ndak baik, buu..buu! cepet tua nanti!" timpal salah satu dari mereka.


"Aku ini kan ngomong apa adanya! cewek udah nikah kok nggak punya malu deket-deket sama cowok lain, sok tebar pesona!" ucap Surti.


"Hoalah, buu! mending smn pulang aja sana! daripada disini nyebar fitnah aja bisanya!" usir ibu-ibu tadi.


"Lah ini kan rumahnya ponakanku, harusnya kalian-kalian ini yang pergi!" ketus Surti.


"Uwes to, Surrr!! uwesss!! tak lihatin sampean ki dari tadi ngomongin Mentari yang endak-endak aja!! nanti kalau balik lagi ke kamu emangnya kamu mau!" tegur nek Murti.


Rupanya sedari tadi nek Murti memperhatikan Surti yang terus mengolok-olok Mentari. Tidak tahan lagi dengan mulut pedas menantunya adiknya itu, nek Murti pun menghampiri Surti.


"Saya tuh bener lo, nek!"


"Siapa yang benar dan siapa yang salah itu bukan kamu yang menentukan! sudah! daripada kamu ngegosip disini lebih baik cuci piring dibelakang sana!"


"Huh...pasti kalian ini udah dipelet sama Mentari makanya bisa tunduk begitu!" ucap Surti hendak pergi.


"Anda ini siapa yaa!" tegur nyonya Ardi.


Nyonya Ardi tadi diberitahu salah satu ibu-ibu disini saat ngobrol kalau ada yang berbicara buruk mengenai Mentari. Karena penasaran dia pun datang kesini untuk mendengarkan langsung apa yang dikatakan oleh Surti.


Mati akuuu, ini kan nyonya Sanjaya!! mamanya tuan Darel!! batin Surti ketakutan.


"Saya tanya anda ini siapa?! kenapa berbicara hal buruk mengenai menantu saya?! asal anda tahu yaa! saya saja sebagai ibu mertuanya tidak pernah sedikitpun melontarkan kata-kata pedas seperti yang anda katakan tadi. Anda mau saya tuntut atas pencemaran nama baik dan juga atas tindakan kurang mengenakkan?!" ancam nyonya Ardi.


"Ehh, t..tidak, nyonya!! B...bukan begitu maksud...s...saya!!"


"Meneng too!! mau nyacat waeee!!" cibir ibu-ibu tadi.


"Ada apa, ma?" tanya Randita.


Randita datang bersama Mentari, Darel dan yang lain. Abdulah pun ikut mendekat karena dia merasa Surti tidak mengindahkan ancamannya tadi.


"Surti! apa yang udah kamu buat sekarang haa?! kamu masih tetap mengolok-olok Mentari?!" bisik Abdulah sambil mencengkram lengan Surti.


"Aku...aku...aku cumaa...emm..."

__ADS_1


"Anda suaminya?!" tanya nyonya Ardi.


"B..benar, nyonya! apa istri saya berbuat ulah lagi?" tanya Abdulah mendadak gugup.


Hilang sudah pekerjaanku....


"Tolong anda jaga mulut istri anda yaa! jangan seenaknya mengomentari menantu saya apalagi memfitnahnya yang tidak-tidak! sebagai ibunya saya tidak terima! Darel! laporkan wanita ini ke kantor polisi!" ucap nyonya Ardi.


"Ma, ini ada apa?" tanya Mentari bingung.


"Mentari sayang! tadi mama dengar dia memfitnah kamu yang tidak-tidak hanya karena kamu berbicara kepada pria ini!" ucap nyonya Ardi menatap ke arah Candra yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Apa?! bi, bibi tuh nggak kapok-kapok yaa! masih mending Mentari mau membujuk Darel buat mempekerjakan paman lagi! coba kalau tidak, kalian mau makan apaa! bukannya berterimakasih malah semakin menjadi-jadi! bener yaa kata pepatah, kalau dasarnya orang udah iri dengki mau sebaik apapun kita ya tetap aja iri dengki!" ucap Daniar.


"Bi, bibi kok tega sih sama Tari! Tari salah apa sama bibi?! selama ini Mentari udah coba berbuat baik sama bibi walaupun bibi udah sering kali jahatin Tari! Tari juga selalu sabar saat bibi mengolok-olok Tari, bahkan memfitnah Tari! apa selama ini kebaikan Tari nggak cukup buat melunakkan hati bibi?!" ucap Mentari tidak habis pikir.


"M...maafkan bibi, Tari! bibi...bibi khilaf!" ucap Surti berdrama.


"Jadi kamu sering diperlakukan seperti ini sayang?" tanya nyonya Ardi.


"Iya ma, maka dari itu aku tidak mengijinkannya pergi tadi! dan benar kan apa yang aku takutkan!" ucap Darel menatap tajam ke arah Surti dan Abdulah secara bergantian.


"Sayang, tenang yaa! jangan emosi, nggak bagus buat kandungan kamu!" ucap nyonya Ardi mengusap punggung Mentari untuk menenangkannya.


"Hallo, Rohan! ya, datang kerumah Daniar sekarang! aku ingin membuat laporan atas pencemaran nama baik dan juga tindakan kurang mengenakkan yang dialami oleh istriku! aku harap kau bisa datang secepatnya! aku tunggu!" ucap Darel menelepon Rohan.


"Tuan Darel! saya mohon jangan masukkan istri saya ke penjara, tuan! saya janji akan memarahinya, tuan!" ucap Abdulah memohon.


"Kau sudah aku peringatkan bukan! sekali istrimu menyentuh istriku, maka akan aku pastikan hidup kalian tidak akan tenang!" ucap Darel menatap tajam ke arah Surti membuat Surti gelagapan.


"Dan kau! mulai sekarang kau dipecat secara tidak hormat!" ucap Darel pada Abdulah.


"Adi, beritahu semua perusahaan baik perusahaan besar atau perusahaan kecil sekalipun! siapa saja yang mempekerjakan pria ini, akan berurusan denganku!" ucap Darel menekankan setiap katanya.


"Tuan jangan tuan!! jangan lakukan itu, tuan!! saya mohon, kasihanilah kami tuannn!" rengek Abdulah berlutut di kaki Darel.


"Tuan Darel, saya minta maaf atas apa yang telah saya katakan tuan!! saya mohon maafkan saya!" ucap Surti yang juga berlutut di kaki Darel.


"Tari!! Tari, maafkan bibi, Tari!! bibi khilaf!! maafkan bibi!! bibi tau kau orang baik, tolong maafkan bibi!!!" ucap Surti berlutut di hadapan Mentari.


"Maaf bi! ini semua diluar kendali Tari! semoga saja dengan adanya kejadian ini, bibi menjadi sadar agar menjaga mulut bibi untuk tidak berbicara buruk tentang orang lain." ucap Mentari datar.

__ADS_1


"Kamu ini anak tidak tahu diuntung, ya Tari!!! sia-sia saja keluarga saya membesarkan kamu hingga kamu dinikahi oleh orang kaya-raya kalau kamu tidak bisa membantu saya!!!" ucap Surti marah.


Plakk....


Randita menampar Surti dengan sangat keras hingga memberikan bekas merah di pipinya.


"Jaga sopan santun anda pada adik ipar saya!! jika tidak, maka saya tidak segan-segan untuk merobek mulut anda ituu!!" ucap Randita murka.


Keluarga Daniar hanya melihat saja tanpa ingin membantu. Menurut meraka, Surti menang lantas mendapatkan semua ini. Dari semua keluarga Daniar, mama Daniar terlihat tidak ada diantara kerumunan itu.


Tidak berselang lama, mobil polisi datang untuk membawa Surti. Mereka memborgol tangan Surti di belakang lalu memasukkannya kedalam mobil polisi membuatnya seolah-olah seperti penjahat.


"Darel!" panggil mama Daniar.


"Iya ma!"


"Ini adalah total tagihan yang dipinjam Surti dari Mentari! semua ini mama catat siapa tahu suatu hari nanti berguna! mintalah hak istrimu, Darel!" ucap mama Daniar memberikan selembaran kertas.


"Terimakasih ma! aku akan mengambilnya untuk Mentari!" ucap Darel.


Mama Daniar memang sengaja mencatat setiap uang yang dikeluarkan Mentari untuk Surti. Meskipun Surti adalah keluarganya sendiri, namun sikapnya jelas tidak dia suka. Apalagi Surti selalu memojokkan Mentari namun jika membutuhkan uang, Mentari jugalah tempatnya meminjam. Terhitung ada sebanyak seratus juta rupiah uang yang dipinjam Surti dari Mentari.


"Tuan tolong lepaskan saya tuann!! saya janji saya tidak akan mengulangi hal ini lagiii!!! pakk, tolong aku pakkkk!!! jangan masukkan aku kepenjara, pakkk!!!" teriak Surti.


"Tuan, saya mohon lepaskan istri saya tuan!!! saya mohonn maafkan diaa!!" mohon Abdulah.


"Baiklah!" ucap Darel membuat Abdulah sumringah.


"Tapi dengan satu syarat!"


"Apapun itu tuan!! saya pasti akan memenuhinya, asalkan istri saya bebas!" ucap Abdulah.


"Bayar semua hutang-hutang mu pada istriku!" ucap Darel menyodorkan selembaran kertas yang diberikan oleh mama Daniar.


"S...seratus jutaa?! dapat darimana saya uang sebanyak ini tuan?!" tanya Abdulah melebatkan matanya saat melihat nominal di kertas itu.


"Aku tidak peduli! jika semuanya telah lunas, maka akan aku cabut tuntutanku atas istrimu! semakin lama kau membayar hutang ini, semakin lama pula istrimu mendekam di penjara!" ucap Darel.


Abdulah menelan ludah dengan susah payah. Tabungan direkeningnya saja tidak sampai segini banyaknya. Lalu harus dengan apa dia membayar hutang-hutangnya?! terlebih sekarang dia telah dipecat dan dipastikan dia akan kesulitan mendapatkan pekerjaan.


Surti! lihat ulahmu!! kau telah sangat menyusahkan ku!!

__ADS_1


__ADS_2