Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 235


__ADS_3

Sesampainya dirumah sakit, Darel langsung dilarikan di UGD dan tidak lama berselang dokter terbaik disana pun datang menangani Darel. Mentari masih saja menangis sedari tadi.


"Sabar, Tari!" ucap Shiren menghibur Mentari sambil memeluknya.


"Aku takut, Shiren!!" ucap Mentari menangis diperlukan Shiren.


Tadi saat hendak menuju ke rumah sakit, Jo memerintahkan anak buahnya membersihkan tempat itu terlebih dahulu. Sisa-sisa tubuh Dendi yang berserakan juga dikumpulkan untuk dikuburkan secara layak.


"Emm...." Jo mulai bersuara.


Semua orang memandanginya, mungkin ada rasa kesal dihati mereka karena tentu saja Darel tidak akan sampai seperti ini kalau bukan karena ulah Jo dan Dendi.


"Aku minta maaf mewakili diriku sendiri juga anak buahku yang sudah menyerang kalian dan membuat tragedi ini terjadi. Dan terimakasih karena sudah mempertemukan aku dengan adikku." ucap Jo tulus.


"Dengar yaa, kalau sampai ada apa-apa dengan Darel, kami semua tidak akan memaafkanmu!" ucap Arul emosi.


"Tenang dulu!" ucap Zanu dan Rohan menenangkan Arul.


"Bagaimana aku bisa tenang?! kau tahu kan Darel itu tidak mudah dikalahkan? tapi dengan siasat licik si Dendi itu dia harus sampai masuk rumah sakit!" ucap Arul masih emosi.


"Aku tahu aku salah! tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa! perjanjian ku dengan Dendi...." terpotong.

__ADS_1


"Sebelum kau membuat perjanjian, selidiki dulu kebenarannya! yang awalnya kesalahpahaman mu kepada Suli membuat banyak orang menanggung akibatnya, kau tahu ituuu!!" kini Rohan lah yang bersuara.


Rohan tidak membenci Jo, dia hanya tidak habis pikir dengan pria yang terlihat cerdas ini namun cetek akal.


"Kau pria yang pintar, Jo! kau seorang mafia yang memiliki banyak koneksi! bahkan jika kau mau, kau bisa mencari seluruh rahasia dimuka bumi ini melalui anak buahmu yang handal! tapi kenapa masalah salah paham ini kau tidak bisa menyelesaikannya? Suli tidak bersalah! dia tidak mengambil apa yang kau tuduhkan padanya! Aku sebagai jaminannya kalau Suli tidak berbuat demikian!" ucap Rohan bersungguh-sungguh.


Jo bisa melihat bahwa Rohan berbicara apa adanya. Mungkinkah selama ini dia yang salah kira? ucapan Rohan pada Jo membuat Jo berpikir sejenak. Tamparan telak bagi otak Jo yang selama ini hanya terfokus untuk mencari Sharina, adik perempuannya.


"M...maaf!" ucap Jo.


"Ahh, sudahlah! muak aku mendengar permintaan maafmu! kau pikir dengan minta maaf, Darel bisa langsung sehat kembali begitu? kau pikir dengan minta maaf, semuanya bisa kembali seperti semula begitu?!" cerca Arul.


"Tuan...." kali ini Shiren yang membuka suara.


"Aku mewakili kakakku ingin meminta maaf atas kesalahannya. Mungkin ini terlambat, tapi siapa tahu dengan saling memaafkan hati kita menjadi lebih tenang." ucap Shiren.


"Sharina, kamu apa-apaan sih! jangan mau ditindas oleh mereka! kamu pulang sekarang ikut kakak! dan jangan pernah berhubungan lagi dengan mereka!" ucap Jo hendak menarik paksa Shiren.


Buk.....


Satu bogem mentah Tomi berikan tepat di pipi Jo membuat Jo tersungkur di lantai.

__ADS_1


"Siapa kau berani-beraninya menyentuh calon istriku!" bentak Tomi menatap tajam ke arah Jo.


Tomi menggenggam erat tangan Shiren lalu membawanya di belakangnya sebagai bentuk perlindungan untuk sang kekasih.


"Aku kakaknya! aku lebih berhak atas dia daripada kau!" ucap Jo yang sudah berdiri.


"Kau hanya kakak biologisnya saja! kau bukan orang yang menemani masa kecilnya! bukan orang yang menemani disaat terpuruknya! bukan orang yang menemani disaat susah dan senangnya! bukan orang yang menyelamatkannya saat dia ketakutan karena nyawanya terancam akibat mantan pacarnya yang toxic!" ucap Tomi penuh amarah.


Tentu saja Tomi marah kepada Jo, terlepas dari siapapun Jo itu yang jelas jika ada orang yang menyakiti wanitanya maka Tomi akan berdiri di garda terdepan untuk melawannya. Tindakan Jo yang menarik paksa Shiren juga ucapannya yang memerintahkan Shiren untuk menjauhinya sangat tidak bisa Tomi terima. Dia yang selama ini menjaga Shiren, mencintainya, menjadikannya ratu di dunia kecilnya, melindunginya dari siapapun yang ingin melukainya bahkan jika itu adalah dirinya sendiri. Lalu sekarang dengan hanya mengandalkan fakta bahwa Shiren adalah adik kandung Jo, maka bisa dengan mudah Jo mengendalikan Shiren? tentu tidak bisa!


"A....aku...." Jo tergagap.


Tomi benar. Jo hanya sebatas kakak biologis bagi Shiren saja tidak lebih. Dia tidak menemani Shiren saat pertama kali berjalan. Dia tidak ada disaat Shiren pertama kali bisa berbicara. Dia tidak ada disaat Shiren pertama kali mendapatkan datang bulan dimana setiap wanita yang sudah dewasa sebagian besar mengalami datang bulan.


"Apa kau tahu warna favoritnya? makanan favoritnya? minuman favoritnya? kau tahu dia paling suka bunga apa? apa kau tahu dia alergi terhadap apa saja? apa kau juga tahu wanita ini ini begitu rapuh bahkan jika kau hanya menggoreskan sedikit saja, sedikittt.... saja luka di tubuhnya maka bekas itu akan selalu dia ingat seumur hidupnya? kau tahu betapa rapuhnya wanita ini? yang selalu tersenyum saat dihadapan banyak orang, namun menangis sendirian dipojok kamar atau datang memelukku dengan segala air mata yang membendung di pelupuk matanya? kau kakaknya bukan? kau bilang kau berhak atasnya karena statusmu itu! ya, kau memang akan menang dalam hal itu. Tapi jangan lupa, kau bahkan orang asing baginya bahkan sampai detik ini pun kau adalah orang asing, yang tidak sengaja darahmu dengan darahnya mengalir satu darah yang sama!" ucap Tomi penuh emosional.


Shiren terkejut sekaligus terharu mendengar penuturan Tomi ini. Bahkan puisi cinta pun kalah romantisnya dengan perkataan Tomi. Tomi tahu begitu banyak hal tentang Shiren bahkan saat Shiren hanya diam saja. Begitu dicintai oleh Tomi hingga untuk memegangnya saja Tomi harus penuh kehati-hatian. Wanita akan menjadi ratu ditangan pria yang tepat, dan Shiren sudah mendapatkan pria yang tepat itu. Dia adalah Tomi. Kekasihnya.


"Kak, tidak salah jika kita meminta maaf terlebih dahulu. Baik saat kita salah maupun saat kita benar sekalipun. Meminta maaf tidak akan membuatmu hina, namun malah sebaliknya. Hina dihadapan manusia namun mulia dihadapan Sang Pencipta. Lagi pula memang kakak yang salah disini, jadi memang harus minta maaf. Dan kalau reaksi mereka seperti itu, ya itu resiko kakak yang telah membuat kekacauan ini. Ini konsekuensi yang harus kakak dapatkan ." jelas Shiren yang sudah berada di samping Tomi.


"Kakak minta maaf! kakak khilaf!" ucap Jo tertunduk malu.

__ADS_1


"Bukan padaku, tapi pada mereka. Khususnya kak Mentari!" ucap Shiren.


Jo melihat sebentar ke arah Mentari. Mentari tengah berdiri didepan pintu ruang UGD mengintip dibalik kaca bundar yang ada disana. Mentari bisa melihat berbagai alat yang terpasang di tubuh Darel dengan para dokter bekerja menyelamatkan Darel. Air matanya tidak henti-hentinya menetes, batinnya terus melafalkan doa-doa untuk keselamatan Darel.


__ADS_2