
Mentari berjalan menghampiri Darel dengan takut kemudian duduk dengan memberi jarak yang lumayan jauh dari Darel berjaga-jaga saja kalau tiba-tiba dirinya dimarahi Darel karena membuat kerusuhan tadi.
"Haihhh, mendekat sini! aku mau ngobatin luka kamu tuh, kalau jauh gitu mana bisa aku ngobatinnya?" ucap Darel selembut mungkin.
Mentari mendongakkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
Apa dia sedang membujukku? apa....apa dia khawatir padaku?
"Ayo sini!" ucap Darel.
Mentari pun mendekat kearah Darel, dan dengan segera Darel mengobati luka-luka yang ada di lengan dan pipi Mentari akibat perkelahian tadi.
"Katakan padaku apa ini sakit? kenapa bisa kau berkelahi seperti itu?" ucap Darel sambil melontarkan tatapan tajam pada Ratna.
Ratna menelan ludahnya karena gugup sekaligus takut jika dirinya sudah membuat masalah dengan orang yang salah.
Apa wanita jalang itu ada hubungan spesial dengan tuan muda? tapi Ruri bilang tuan masih single kok! batin Ratna.
"Tadi aku mau mengantarkan makan siang untukmu karena kata pelayan kau hanya sarapan sandwich saja. Tapi sampai disini dia bilang kau sedang sibuk dan tidak bisa diganggu, makanya aku mau pergi namun dia malah mengataiku wanita jalang. Aku tidak terima dan menjambak rambutnya saja!" jelas Mentari sambil meringis kesakitan karena lukanya masih diobati oleh Darel.
Darel mendengarkan cerita Mentari sambil dengan telaten mengobati lukanya. Setelah selesai Darel langsung berdiri dan......
PLAKKKKK.....
Ratna, Mentari, dan Wisnu terkejut dengan tindakan Darel yang tiba-tiba menampar wajah Ratna.
"Apa kau tidak bisa mengenali siapa wanita yang sedang kau lukai itu haa!" bentak Darel memenuhi ruangan.
Nyali Ratna semakin menciut mendengar suara Darel yang menggelar itu. Apalagi pipinya sekarang memerah dikarenakan tamparan keras dari Darel tadi.
"Maaf tuan, saya tidak ta..." ucap Ratna terpotong.
"Kau tidak tau? seluruh negeri juga tahu kalau aku sudah menikah dengan wanita yang bernama Mentari Angeliska Tia, dan kau bilang kau tidak tahu itu ha? apa kau selama ini tinggal di goa!" teriak Darel.
Mentari terkejut, bukan karena teriakan Darel melainkan Darel yang menyebut namanya dengan lengkap dan benar apalagi selama ini Darel tidak pernah menyebutkan namanya namun dengan sebutan wanita ular, wanita bodoh, dan lain-lain.
Kenapa dia semarah itu pada wanita itu? apa benar dia melakukan semua ini karena peduli padaku? batin Mentari.
"Jawabbb!!" teriak Darel karena pertanyaan darinya tadi tidak dijawab oleh Ratna.
Ratna semakin takut, bibirnya terasa kelu dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Saya...saya...." ucap Ratna.
__ADS_1
"Wisnu, pecat wanita ini dan pastikan tidak akan ada yang berani menerimanya untuk bekerja!" ucap Darel.
"Baik tuan!" jawab Wisnu.
"Tidak tuan, jangan! tolong ampuni saya tuan, saya...saya benar-benar tidak tahu kalau dia adalah istri anda karena teman saya bilang anda masih lajang. Maafkan saya tuan, huhuhu..." ucap Ratna memohon sambil bersimpuh dikaki Darel.
Darel sama sekali tidak bergeming. Ratna tidak kehabisan akal, dia langsung beralih ke Mentari dan langsung bersimpuh bahkan memegang erat kaki Mentari.
Mentari pun sontak terkejut dengan perbuatan Ratna padanya.
"Nona maafkan saya nona, saya benar-benar tidak tahu kalau anda istri tuan muda, maafkan saya nona!!" ucap Ratna memelas.
Mentari merasa tidak enak hati pada Ratna, dia menatap Darel memberi isyarat untuk mengasihani wanita itu.
"Untuk kali ini aku tidak akan mendengarkan mu, mengerti?" ucap Darel seolah mengerti tatapan mata Mentari itu.
"Maafkan aku, tapi aku tidak bisa mengubah keputusannya!" ucap Mentari lembut pada Ratna.
Ratna berdiri dengan air mata yang masih membasahi pipinya. Dia masih menatap Mentari seolah meminta perlindungan darinya.
"Tidak bisakah kau memberikan kompensasi padanya?" tanya Mentari yang merasa iba pada Ratna.
"Apa kau pikir aku ini orang baik ha? Kau tentu sudah ta...." terpotong.
Darel terdiam, menelaah setiap perkataan Mentari tadi.
Orang baik? apa masih pantas aku disebut orang baik? batin Darel.
"Baiklah, kau bilang temanmu mengatakan kalau aku masih lajang bukan? sekarang beritahu padaku siapa orang itu dan aku akan melepaskan mu!" ucap Darel lada Ratna.
"Di.. dia Ruri!" ucap Ratna gagap.
"Wisnu, cepat panggil orang bernama Ruri aku mau dia ada disini secepatnya!" perintah Darel pada Wisnu.
"Baik tuan!"
Wisnu segera keluar dari ruangan untuk memanggil wanita bernama Ruri. Ratna pun tetap dipecat dari perusahaan Darel dan tidak akan diterima diperusahaan manapun, hanya diperusahaan. Hal itu masih menyiksa Ratna terlebih skill yang dia miliki adalah mengelola perusahaan, namun dia tetap terima daripada di blacklist dari setiap pekerjaan dinegeri ini pikirnya.
Tidak berselang lama, Wisnu datang bersama seorang wanita bernama Ruri, teman Ratna.
"Tuan, wanita ini yang bernama Ruri!" ucap Wisnu.
Darel yang tengah duduk disofa bersama Mentari menatap tajam kearah wanita yang bernama Ruri tersebut. Bagaimana bisa karyawan lama seperti Ruri tidak tahu kalau dirinya sudah menikah dengan Mentari, terlebih semua karyawan yang sudah lama bekerja padanya diundang dalam pernikahannya kemarin.
__ADS_1
"Apa kau tahu siapa wanita ini?" tanya Darel menunjuk kearah Mentari.
"I...istri an...anda tuan!" jawab Ruri ketakutan.
"Dan apa kau diundang saat pesta pernikahan ku?" tanya Darel lagi dengan menekan emosinya.
"Ta...tahu tuan!" jawab Ruri.
Brakkkk.....
Darel memukul sofa dengan sangat keras membuat Mentari dan yang lain terkejut dengan perbuatan Darel itu.
"Lalu bagaimana bisa temanmu tidak tahu kalau aku sudah menikah ha? apa kau sedang mempermainkan kinerja perusahaan ku sekarang? apa kau memang sengaja membuatnya berpikir kalau aku masih lajang!!!" teriak Darel dengan emosi yang meledak-ledak.
Mentari bahkan sempat tidak bernafas karena ikut ketakutan dengan teriakan Darel meskipun dia kerap kali beradu mulut dengan Darel sewaktu belum menikah dulu.
Aku tidak akan bisa meredam emosinya kalau sudah begini! batin Mentari.
"Saya, saya salah tuan maafkan saya!" ucap Ruri.
"Heh katakan yang sebenarnya atau kau akan aku habisi saat ini juga!" ucap Darel dengan memicingkan matanya.
"Saya....saya sebenarnya iri pada teman saya karena dia selalu lebih unggul dari saya, dia cantik pintar dan banyak yang suka, dan saat dia melamar diperusahaan ini dan diterima saya menjadi sangat marah. Maka dari itu saya membohongi dia dengan mengatakan kalau tuan muda masih lajang agar dia menggoda tuan lalu dia dipecat dari sini! dia percaya-percaya saja dengan perkataan saya karena dia dari keluarga yang kurang mampu bahkan televisi pun dia tidak punya makanya dia tidak tahu berita saat tuan muda dan nona muda menikah!" jelas Ruri.
"Wow!!!" ucap Darel sambil bertepuk tangan.
"Cerdik sekali otakmu itu ya! dia dari keluarga yang tidak mampu sedangkan gajimu sebulan saja bisa menggaji wanita seperti dia 10 kali lipat dan kau masih iri padanya? bukankah gaji yang aku berikan pada setiap karyawan disini berkali-kali lipat dari yang diberikan perusahaan lain? kenapa tidak kau gunakan untuk mempercantik dirimu sendiri dengan uang itu?" bentak Darel.
"Kau yang salah dan kau malah menyalahkan orang lain! kau yang malas mempercantik diri dan kau malah merasa iri pada temanmu yang lebih cantik darimu!" bentak Darel.
Ruri tidak berani berbicara lagi. Dia sudah sangat-sangat ketakutan dengan amarah Darel yang terkenal tidak punya hati itu.
"Wisnu pecat dia dan blacklist namanya dari setiap pekerjaan di manapun! pastikan dia tidak menerima pekerjaan apapun bahkan jika dia merantau ke negeri orang nanti!" ucap Darel sambil menekan setiap katanya.
"Tidak tuan, saya mohon jangan, tuan....tuan....tuannnn....!" ucap Ruri semakin menghilang dikarenakan sudah diseret keluar oleh Wisnu.
Kini tinggallah Mentari dan Darel diruangan itu. Mentari masih melotot tidak percaya dengan perkataan Ruri tadi. Bagaimana bisa seorang teman menjadi musuh yang sangat mematikan untuk temannya sendiri? pikir Mentari.
"Sudah jangan pikirkan!" ucap Darel.
"Sebaiknya kita makan siang saja, aku sudah sangat lapar. Kau masak apa tadi?" tanya Darel berusaha mengalihkan topik.
"Ah, itu hanya makanan sederhana kok!" ucap Mentari.
__ADS_1
Darel mengambil kotak bekal yang terletak dimeja yang diletakkan Daniar tadi disana dan segera membuka kotak bekal itu. Begitu kotak bekal dibuka, tampaklah omelette telur dan sayuran, ayam yang disiram saus pedas manis, serta sayur bayam dan jagung.