
Darel terus memohon didepan pintu kamar tempat Mentari bersembunyi dari dunia luar. Rapuh. Satu kata itu sudah lebih dari cukup mewakili dirinya sekarang. Hilang sudah harapannya, keinginannya, semangatnya, bahkan cintanya. Terlintas dibenak Mentari untuk pergi meninggalkan Darel. Lelaki yang tidak setia dan tidak cukup dengan hanya satu wanita seperti Darel sudah pasti tidak akan pernah bisa berubah.
Apa aku harus pergi dulu dari kehidupanmu baru kau mau berubah, Darel? ku akui aku sangat mencintaimu! namun luka yang kau goreskan di hatiku terlalu dalam hingga menyembunyikannya aku tidak mampu. Kau terlalu menyakitiku, bukan hanya kali ini saja. Bahkan dengan masalah yang hampir sama rumah tangga kita berada diujung tanduk. Sekarang pun kau mengulanginya lagi. Aku sudah tidak percaya dengan mulut manismu itu, Darel. Semua yang kau katakan hanya omong kosong! semuanya palsu! Aku benci, tapi aku juga cinta! aku bingung Darel. Aku bingung! bertahan denganmu seperti aku meminum racun untuk kedua kalinya yang bisa membuatmu mati, namun jika menjauh darimu aku bisa lebih cepat mati!!!
Lagi dan lagi, air matanya jatuh tanpa permisi. Sesak di dadanya. Mentari menguatkan dirinya untuk berbicara kepada Darel. Namun hatinya masih terlalu sakit jika mengingat semua itu. Kenapa harus berbohong? kenapa juga harus Pretty? yang tidak lain dan tidak bukan adalah mantan kekasih Darel?
Di luar kamar.
"Sudah!!!! baiknya kau pergi dari sini! jangan injakkan kakimu di rumahku lagi ataupun meminta untuk bertemu dengan Mentari. Tidak akan aku biarkan dia kembali pada lelaki sepertimu!" bentak papa Daniar mengusir Darel.
"Pa, tunggu dulu! beri aku waktu untuk berbicara dengan Mentari, pa! pa sebentar saja! berikan aku waktu sebentar saja!!" ucap Darel terus memohon.
Sekarang Darel sudah berada diambang pintu, dengan sekuat tenaga papa Daniar mendorong tubuh Darel menjauhi pintu lalu menguncinya. Tidak perduli berapa kali Darel berteriak untuk memberikan kesempatan untuk berbicara kepada Mentari atau meminta untuk dibukakan pintunya tetap tidak membuat amarah mereka mereda.
Papa berjalan mendekati pintu dimana Mentari ada didalamnya. Selain Darel, sahabat Darel yang lain masih ada disana. Hanya Darel sendiri yang diusir secara paksa.
"Tari!!" panggil papa Daniar dengan lembut menempelkan wajahnya ke daun pintu.
"Tenangkan dirimu dulu, nak! biarkan pikiranmu jernih dulu baru pikirkan apa yang akan kau lakukan. Jika berpisah dengan pria bre*gsek itu adalah jalan yang terbaik, papa akan mendukungmu!" ucap papa Daniar.
"Nak, mama tidak setuju dengan sikap Darel kepadamu. Tapi tolong pertimbangkan lagi keputusanmu. Jangan mengambil keputusan dikala hati tengah marah atau pun sedih karena itu termasuk bujuk rayu setan!" jelas mama Daniar penengah permasalahan Darel dan Mentari.
Disini mama Daniar berusaha untuk bersikap adil tanpa memihak meskipun dia sangat tidak suka cara Darel untuk membalas dendam. Mengapa harus dengan melibatkan perasaan putrinya jika niatnya hanya untuk membalas dendam? istri manapun pasti akan berlaku seperti Mentari sekarang karena merasa tidak dihargai sebagai istri juga merasa dikhianati. Namun kembali lagi, mama Daniar tidak meminta Mentari menceraikan Darel, namun secara tidak langsung dia setuju jika Mentari melepaskan Darel. Ibaratkan jika ada duri yang menancap di tangan, akan lebih sakit jika membiarkan duri itu tetap disana. Mencabutnya adalah solusi terbaik, lalu mengobatinya.
Karena merasa tidak enak dengan Darel, sahabatnya yang masih ada didalam pun meminta ijin untuk pamit termasuk Zanu.
Ceklekk.....
"Pa, apa aku boleh masuk?!" tanya Darel cepat.
Tidak disangka Darel masih ada disitu.
"Tidak ada kesempatan lagi untukmu! kau sudah terlalu banyak membuat putriku menangis. Jika anak kandungku saja yang menyakitinya tidak bisa aku terima, apalagi kamu yang hanya orang luar!" ucap papa Daniar sinis.
Benar juga. Galih adalah anak kandung di keluarga Daniar namun dia seolah seorang penjahat yang sudah melihat anggota keluarga mereka. Bahkan sekarang Galih terasa diasingkan dari keluarganya sendiri.
"Buat apa lagi kau masih disini??! cepat pergi!!!" usir papa Daniar.
__ADS_1
"Pa, sudah! beri Darel kesempatan untuk menjelaskan kepada Mentari. Mungkin ini hanya salah paham." ucap Zanu berusaha menengahi.
"Kamu membelanya, Zanu? kamu tidak memikirkan perasaanku karena sudah membantu orang yang menyakiti sahabatku? aku pikir kau lebih dewasa dari itu, ternyata aku salah!" ucap Daniar.
Sorot matanya menunjukkan kekecewaan kepada calon suaminya.
"Bukan begitu Niar. Aku cuma..." ucap Zanu terhenti karena Darel menghentikannya.
"Sudahlah Zanu, ini masalahku! jangan ikut campur karena itu bisa membawamu kedalam jurang yang dalam." ucap Darel datar namun sungguh menyesakkan.
"Maafkan aku atas semua kesalahanku! tapi aku tidak akan pergi dari tempat ini sebelum bertemu dan menjelaskan semuanya kepada Mentari!" ucap Darel datar namun menyakinkan.
"Terserah kau saja!" ucap papa Daniar memasuki rumah diikuti Daniar.
"Maaf Darel, kami tidak bisa membantu kali ini." ucap Rohan tidak enak.
"Tidak apa, ini bukan salah kalian! sebaiknya pulanglah! aku akan tetap disini!" ucap Darel menatap jauh ke depan.
"Lalu kau?" tanya Zanu.
"Aku akan disini sampai Mentari keluar dan menemuiku! ucap Darel masih dalam posisi yang sama.
Sekejap Darel mengangkat kedua bahunya.
"Aku tidak tahu!" ucap Darel pasrah.
"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu!" ucap Zanu yang dibalas anggukan kepala singkat oleh Darel.
Darel terus berdiri didepan rumah Daniar. Sesuai janjinya dia akan menunggu sampai Mentari keluar dari rumah dan bersedia mendengarkan penjelasannya.
Hari semakin siang. Bahkan hingga sore hari pun Darel masih setia berdiri di sana. Sangatlah tidak beruntung Darel saat ini karena tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Agak sedikit khawatir dengan kondisi Darel apalagi yang harus terus berdiri ditengah derasnya hujan ditambah dia pasti belum makan apapun dari pagi.
"Nak, boleh buka pintunya sebentar? mama mau bicara?" tanya mama Daniar mengetuk pintu kamar Mentari.
Ceklekkkk.....
Astaga?!!!!
__ADS_1
Mata bengkak, pipi sembab, kondisi acak-acakan. Sungguh perih hati mama Daniar melihat kondisi Mentari. Hatinya ikut teriris. Bagaimana jika Daniar yang ada diposisi Mentari saat ini, pasti dia juga sama tidak terimanya seperti sekarang.
"Nak, maafkan mama yang tidak bisa melindungi mu!" ucap mama Daniar spontan sembari membawa Mentari kedalam pelukannya.
Hangat! seperti pelukan ibu kandung Mentari sendiri.
"Bukan salah mama kok! jangan minta maaf lagi! Mentari tidak suka itu!" ucap Mentari.
"Maaf mengganggu waktu ibu dan anak!" ucap papa Daniar dari arah belakang.
"Eh papa!" ucap mama Daniar menyeka air matanya.
"Nak, Darel masih berdiri didepan! hari sedang hujan dengan derasnya takutnya dia sakit nanti terlebih pasti dia belum makan dari pagi. Apa tidak sebaiknya kalian bicarakan masalah ini baik-baik?" tanya papa Daniar setelah agak meredam emosinya.
Tentu papa Daniar tidak ingin Mentari melihat kekecewaan dan kekesalannya kepada Darel.
"Biarkan sajalah dia seperti itu dulu. Mentari tidak ingin melihat wajahnya untuk saat ini!" ucap Mentari datar.
Rasa sakit itu masih hinggap dihatinya membuat otaknya terkalahkan dengan rasa sakit hatinya.
"Tapi..."
"Ma, sudahlah! jika Mentari bilang tidak ingin bertemu dengan Darel ya jangan dipaksa! lagian cowok kok nggak punya kata cukup saja. Sudah diberi istri cantik alami, pintar menjaga uang, mandiri ehhh malah milih cewek spek lo*te" ucap Daniar ketus.
"Husttt, Niar! nggak boleh ngomong gitu! mama nggak pernah ajarin kamu ngomong begitu!" ucap mama Daniar.
"Ma, coba mama lihat Mentari. Perempuan yang rela suaminya punya hubungan gelap dengan mantan kekasihnya? apalagi sampai diberikan fasilitas mewah seperti itu. Jangan hanya karena kaya uang lalu seenak jidatnya dia memperlakukan Mentari! aku tidak terima ya dia berbuat seperti itu kepada Mentari. Jika bukan karena ada mama dan papa juga ada Zanu tadi sudah aku cakar-cakaran tuh si Darel! gemes banget deh sama tuh orang! apalagi si nenek lampir tuh! udah jelek sok cantik lagi. Cihhh!" ucap Daniar lagi
*
*
*
*
*
__ADS_1
Hallo para reader setia novel SUAMIKU MR MAFIA! terimakasih atas dukungan dan komentar positif kalian. Hari ini khusus author update extra part biar kalian pembaca setia semakin puas dengan alurnya. Tetap dukung author dengan like, komen, share+tips agar author lebih semangat lagi update nya 🥰🥰