Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 193


__ADS_3

"Bukankah ini di pulau tuan Zanu?" tanya Jack setelah berhasil melacak titik terakhir keberadaan Suli.


"Mana-mana?" ucap Harri berusaha melihat apa yang Jack katakan.


"Wah benar! ini kan pulau tuan Zen!" ucap Harri sedikit berteriak.


"Pulauku?" tanya Zanu yang tidak sengaja mendengar ucapan Harri.


"Ada apa dengan pulau Zen?" tanya Darel.


"Ini loh tuan, titik terakhir si Suli!" ucap Harri.


Para tuan muda itu langsung mendekat kearah komputer Jack dan memang benar apa yang dikatakan Harri kalau Suli terakhir terlihat saat berada di pulau pribadi milik Zanu.


"Wah, Zen dia ada di rumahmu tapi kau tidak menyadari itu?" tanya Tomi.


"A...aku tidak tahu! bagaimana dia bisa ada di rumahku?" tanya Zanu bingung.


Sepintas Rohan menjadi teringat kepada Ratna. Wanita bercadar yang dia temui di rumah Zanu dulu. Bayangan matanya selalu mengganggu pikiran Rohan.


"Apa yang kau pikirkan Rohan?" tanya Darel yang melihat ekspresi aneh dari salah satu sahabatnya itu.


"Emm, tidak ada! hanya sesuatu yang tidak penting mungkin!" ucapnya kelabakan.


"Oh ya apa ada foto Suli?" tanya Rohan tiba-tiba.


"Hei tunggu dulu! kenapa kau terlihat lebih penasaran daripada kami?" tanya Arul.


"E....e...aku...aku...aku cuma..." tergagap mencari alasan.


"Sudahlah, aku yakin itu pasti sangat penting dan mungkin dengan melihat fotonya bisa menghilangkan kecurigaannya!" ucap Darel.


"Hah, darimana kau tau?" tanya Rohan terkejut.


"Aku mengenal kalian sejak lama, sudah pasti aku tau sifat dan karakter kalian. Kecuali kau, Zen! maaf soal yang dulu!" ucap Darel tiba-tiba meminta maaf kepada Zanu.


Bukan hanya Zanu, bahkan semua orang disana terkejut karena seorang Darel mengucapkan kata yang paling dia benci, "Maaf!".


"Wowww, sepertinya kita banyak melewatkan sesuatu tentang tuan muda keras kepala kita ini ya tidak!?" ucap Arul.


"Apa sih!" ucap Darel ngedumel.


"Tidak apa-apa, yang penting kau sudah tahu semuanya! oh ya dan Pretty? kau masih belum mengusirnya dari apartemen mu? ini sudah terlalu lama Darel, jangan sampai Mentari tahu hal ini lalu dia salah paham lagi padamu!" ucap Zanu memperingati.


Pretty! yah, wanita itu hampir saja dilupakan oleh Darel. Setiap hari ada saja pengeluaran yang dilakukan oleh Pretty dan jumlahnya bisa dibilang cukup fantastis.


"Aku belum memikirkan tentang dia lagi! selagi rencanaku masih aman dan Mentari belum tahu dimana dia, semua akan baik-baik saja!" ucap Darel yakin.


"Kau jangan terlalu percaya padanya, aku sebagai sahabatmu hanya bisa memberitahumu, selebihnya ya itu tergantung kepadamu!" ucap Bagas.


"Ini tuan Rohan! foto dari Suli!" ucap Jack setelah menemukan beberapa foto Suli.

__ADS_1


Mereka semua kembali mendekat menatap foto itu dengan seksama.


"Bagaimana Rohan, apakah sesuai dengan pemikiran mu?" tanya Bagas menatap kearah Rohan.


"Kalau untuk wajahnya aku belum yakin seratus persen! tapi matanyaaa....." berpikir.


"Begini saja, Jack cetak foto itu dan kita bawa sekalian kesana, bagaimana?" usul Arul.


"Ide yang bagus!" ucap Darel.


"Siap tuan-tuan muda!" ucap Jack.


Tidak berselang lama beberapa cetak foto Suli pun sudah tercetak dengan rapi.


"Baiklah besok pagi kita bertemu di rumahmu saja Darel, kita bisa naik helikopter pribadimu!" saran Tomi.


"Boleh saja, tapi kenapa tidak dirumah Daniar saja? tanah lapang di depan rumahnya cukup luas untuk dua helikopter? lagi pula aku harus mengantarkan Mentari kesana bukan?" tanya Darel.


"Dua? siapa saja yang ikut kesana?" tanya Bagas.


"Tentu saja kita berenam, ditambah Jack, Adi, Harri. Jack sudah pasti harus ikut karena kita membutuhkannya untuk meretas disana, sedangkan Adi dan Harri, mungkin kita butuh tenaga tambahan nantinya untuk menangkap wanita itu!" ucap Darel.


"Begitu juga boleh!" ucap Zanu yang setuju dengan pertimbangan Darel.


"Baiklah semuanya sudah kita putuskan! sekarang kita bisa pulang ke rumah masing-masing!" ucap Tomi melangkah pergi.


"Tunggu dulu! jangan pergi dulu!" cegah Rohan.


Bagas, dan Arul menahan tawa melihat ekspresi pasrah Tomi.


"Sebaiknya kita membawa senjata untuk berjaga-jaga kalau ada masalah disana!" usul Rohan.


"Benar juga!" ucap Jack yang reflek mengatakannya.


Semua mata tertuju kepada Jack membuat Jack salah tingkah sendiri.


"Ehh, lanjutkan tuan, hehehe!"


"Kalau masalah itu serahkan saja pada anak buahku disana! semuanya sudah lengkap kok!" ucap Zanu.


"Baguslah kalau begitu! kita boleh bubar sekarang!" ucap Rohan.


"Asikkkk, Shirennn i'm coming!!!!" teriak Tomi girang.


"Dasar tuan muda baru jatuh cinta ya begitu tuh, norak!" ejek Jack.


"Ilihhh, bilang aja kamu iri Jack!" goda Arul.


"Ohhh tidak bisaaa! seorang Jack iri karena masih sendiri? tidak akan pernah terjadi! lagian banyak kok yang mau sama saya tuan! saya kan tamvan, cerdas juga!" ucap Jack berbangga diri.


"Tampan sih tapi jomblo!" ucap Darel spontan.

__ADS_1


Bak anak panah yang tepat mengenai sararannya, begitu juga dengan ucapan Darel yang tepat menusuk hati Jack.


"Ya Tuhan, tuan! bicaramu sedikit tapi pedas juga yaa!" ucap Jack bertingkah seolah tersakiti sambil memegang dadanya.


"Tampan sih, tapi sadboy!" tambah Zanu.


"Ampun suhuuuu!" mengatupkan kedua tangannya keatas seperti sedang menyembah kearah Zanu.


"Kalian ini para tuan muda mulut lemes yaa, abis makan cabe berapa kilo tuh! pedes amat perasaan tuh mulut!" gerutu Jack.


"Sudahlah! ayo kita pergi!" ucap Bagas.


Mereka pun menyusul Tomi yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka kembali ke rumah masing-masing.


********


"Sayang!!! aku pulanggg!" teriak Arul setelah sampai dirumahnya.


"Aku disini sayanggg!" teriak Anisa dari ruang keluarga.


"Lagi ngapain?" tanya Arul yang sudah berbaring di paha istrinya.


"Lagi liat kartun! kamu udah makan?" tanya Anisa masih fokus pada layar televisi dan memasukkan buah strawberry ke mulutnya.


"Belum! strawberry nya enak nggak?" tanya Arul.


"Enak kok! agak masam tapi seger, mau coba?" menyodorkan wadah berisi strawberry segar.


"Mau!" ucap Arul sembari mengambil satu buah.


Arul langsung melahap habis buah strawberry itu yang berukuran cukup besar. Setelah beberapa kali gigit, wajah Arul memperlihatkan ekspresi lucu.


"Mas...sammmmm!!" ucap Arul dengan ekspresi yang sangat lucu.


"Hahaha, sayang itu lucu sekaliii!" tawa Anisa kegirangan.


"Blahhh, kamu kok bisa sih makan masam kayak gini? kan yang manis banyak di gudang?" ucap Arul masih merasakan sedikit masam dimulutnya.


"Iya, aku sengaja nyari yang masam, soalnya anak kamu nih maunya makan yang masam-masam terus!" ucap Anisa mengelus perutnya yang masih rata.


Dirumah Arul memang ada sebuah ruangan yang digunakan untuk menyimpan berbagai buah-buahan, baik impor maupun yang lokal, dari yang pasaran maupun yang langka. Ruangan itu biasa disebut Arul dengan gudang buah.


"Tauk lah, aku mau ambil yang digudang aja yang maniss, kayak kamuuu!" menoel dagu Anisa gemas.


"Ihhh, jangan pegang-pegang!!! kamu kan belum mandi, bau tauk!" omel Anisa.


"Yailah sayang, dikit doang masa nggak boleh! lagian aku keluar juga cuma sebentar tadi nggak keringetan juga!" gerutu Arul.


"Nggak, pokoknya mandi dulu! udah sana mandiii!" usir Anisa.


"Ya-ya ini mau mandi!" pasrah Arul.

__ADS_1


Gini amat punya bini hamil! reportnya minta ampun! batin Arul ngedumel.


__ADS_2